Chapter Eighteen

Demam

POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Yuni, Mamad Jumlah kata: ±2.450


Aku tidak pernah sakit.

Itu bukan kesombongan, itu keputusan. Sakit adalah kemewahan yang butuh dua hal yang tidak kupunya: waktu dan seseorang yang mengurusmu. Jadi selama tiga tahun aku tidak pernah sakit, dan kalaupun sakit, aku tidak mengakuinya, dan kalau tidak diakui berarti tidak terjadi.

Sistem itu bekerja dengan sangat baik sampai hari Kamis minggu itu.


Ini dimulai hari Selasa, dengan tenggorokan yang terasa agak kering. Aku minum air lebih banyak. Selesai.

Hari Rabu, kepalaku berat. Aku minum obat sakit kepala sebelum shift. Selesai.

Hari Kamis, aku bangun jam satu siang dan tidak bisa duduk.

Bukan tidak mau. Tidak bisa.

Aku berbaring di kasur dan mencoba bangun tiga kali, dan setiap kali dunia miring ke kiri dan ada suara berdengung di telingaku, dan yang keempat aku menyerah dan berbaring lagi dan menatap langit-langit.

Aku meraba dahiku sendiri.

Panas.

Ya udah, pikirku. Tidur aja. Nanti sore juga sembuh.

Aku tidur. Aku bangun jam enam sore. Lebih parah.

Aku mengirim pesan ke mamih — mami manajer Aurora, bukan ibuku — bahwa aku tidak bisa masuk. Dia mengirim balasan berupa satu kata dan satu emoji, yang artinya dia tidak senang tapi tidak akan mempermasalahkannya.

Lalu aku berbaring lagi.

Dan jam delapan malam aku bangun lagi, dan seprai di bawahku basah, dan aku menggigil sampai gigiku beradu meskipun aku sudah memakai dua selimut.

Aku mengambil ponselku.

Aku menatap layarnya selama mungkin dua menit.

Dan aku menaruhnya kembali.


Aku perlu menjelaskan kenapa aku tidak menghubunginya, karena ini penting.

Bukan karena gengsi.

Karena kalau aku menghubunginya, dia akan datang.

Aku tahu itu dengan kepastian yang absolut, dengan cara yang sama seperti aku tahu bahwa air akan turun kalau ditumpahkan. Kalau aku mengirim satu pesan, laki-laki itu akan menutup warungnya dan datang, dan warung itu tidak pernah tutup dalam empat tahun.

Dan begitu itu terjadi, aku akan berutang sesuatu yang tidak akan bisa kubayar seumur hidupku.

Jadi aku menaruh ponselku.

Dan aku menggigil sendirian di kontrakan yang kubayar sendiri dengan uang yang kucari sendiri, seperti orang dewasa yang mandiri, seperti perempuan yang menang secara angka.

Jam sembilan, aku muntah.

Jam sepuluh, aku menangis, dan aku tidak tahu kenapa, dan itu membuatku menangis lebih keras.

Jam sebelas, aku tertidur.


Yuni menggedor pintuku jam dua belas malam.

“RAN.”

“...Hnnh.”

“RANTI. BUKA.”

Aku merangkak ke pintu. Secara harfiah merangkak, karena berdiri bukan opsi yang tersedia. Aku membuka kuncinya dari bawah dan Yuni mendorongnya terbuka dan berdiri di sana dengan riasan lengkap dan sepatu kerja, jelas baru kabur dari shift.

Dia melihatku di lantai.

“Anjir.”

“Yun—“

“Anjir, Ran.”

Dia jongkok. Menempelkan punggung tangannya ke dahiku.

Dan langsung menariknya kembali.

“Lo panas banget.”

“Nggak apa-apa.”

“Lo bilang ‘nggak apa-apa’ sekali lagi gue tampar.”

“Yun—“

“Berapa lama?”

“...Dua hari.”

“DUA HARI?”

Yuni berdiri. Berjalan mondar-mandir di kamar sempitku selama sekitar sepuluh detik sambil mengumpat dalam tiga bahasa daerah yang berbeda.

Lalu dia mengeluarkan ponselnya.

Dan aku, dari lantai, dengan sisa tenaga yang entah dari mana, berkata:

“Jangan.”

Yuni berhenti.

“Apa?”

“Jangan telepon dia.”

Yuni menoleh perlahan.

“Ran.”

“Jangan, Yun.”

“Gue mau telepon taksi.”

“...Oh.”

“Lo pikir gue mau telepon siapa?”

Aku menutup mataku.

Dan Yuni — yang mulutnya paling kotor di seluruh Aurora, yang tidak pernah dalam hidupnya mengucapkan satu kalimat yang lembut — jongkok lagi di sebelahku dan berkata, pelan:

“Ran.”

“Hm.”

“Kenapa lo nggak telepon dia?”

Aku tidak menjawab.

“Ran.”

“Nanti dia tutup warungnya,” kataku.

Dan aku mendengar suaraku sendiri, dan suaranya seperti anak kecil, dan aku benci itu.

Yuni diam sangat lama.

Lalu dia berdiri, mengambil tasku dari meja, dan berkata:

“Gue anter lo ke klinik. Terus lo tidur. Dan besok kita ngomong.”


Aku dari klinik jam dua pagi. Infus. Obat. Diagnosis: tipes ringan, dehidrasi, kelelahan.

Dokternya, perempuan muda yang jelas juga sedang shift malam, bertanya berapa jam aku tidur sehari.

“Empat. Kadang lima.”

“Berapa lama?”

“...Tiga tahun.”

Dia menulis sesuatu dan tidak berkomentar, dan aku menghargai itu.

Yuni mengantarku pulang, membaringkanku, menaruh air dan obat di sebelah kasur, dan berdiri di pintu.

“Gue harus balik, Ran. Shift gue belum selesai.”

“Iya. Makasih, Yun.”

“Lo makan obatnya.”

“Iya.”

“Ran.”

“Iya?”

Yuni berdiri di ambang pintu dengan tangan di gagang.

“Gue nggak bilang siapa-siapa,” katanya. “Tapi kalau besok lo masih kayak gini, gue bilang.”

“Yun—“

“Gue bilang, Ran.”

Dan dia menutup pintu.


Aku bangun jam sebelas siang.

Aku merasa lebih baik. Tidak baik — lebih baik. Aku bisa duduk. Aku bisa berjalan ke kamar mandi.

Aku minum obat. Aku minum air. Aku berbaring lagi.

Dan jam satu siang, aku mendengar suara motor berhenti di depan.

Lalu ketukan.

Tiga kali. Pelan.

Aku tidak bergerak.

Ketukan lagi. Tiga kali.

Dan kemudian suara yang membuat seluruh tubuhku dingin:

“Ran.”


Aku tidak membuka pintu.

Aku duduk di kasur dengan selimut sampai dada, memandangi pintu itu, dan aku tidak bergerak sama sekali.

“Ran, saya tau kamu di dalam.”

Aku menutup mataku.

“Ran.”

Diam.

“Ya udah,” kata suara itu. “Saya taruh di depan.”

Dan aku mendengar sesuatu diletakkan. Lalu langkah kaki menjauh.

Dan aku duduk di sana selama mungkin dua menit, dengan napas yang tertahan, sampai aku yakin motornya sudah pergi.

Lalu aku merangkak ke pintu, membukanya sedikit, dan melihat ke bawah.

Ada tas plastik. Di dalamnya: termos kecil, sebungkus roti tawar, sekotak obat, dan sebotol air kelapa.

Dan sepucuk kertas dari buku tulis, dengan tulisan tangan yang jelek sekali:

Bubur di termos. Masih panas jam 1. Kalau udah dingin jangan dimakan, buang aja. Obatnya yang warna putih 3x sehari, yang kuning kalau panas aja. Air kelapa diminum sebelum obat. Jangan bales. Tidur. B.

Aku memungutnya.

Dan aku duduk di lantai depan pintu, dengan tas plastik di pangkuan, dan aku menangis dengan cara yang sangat tidak elegan selama kira-kira sepuluh menit.


Yang membuatku hancur bukan buburnya.

Yang membuatku hancur adalah jangan bales.

Karena dia tahu.

Dia tahu bahwa kalau aku harus membalas, aku akan menghitungnya. Dia tahu bahwa setiap kebaikan yang diterima olehku akan langsung masuk ke kolom utang, dan bahwa aku akan berbaring di sana dalam keadaan demam sambil menghitung berapa yang harus kubayar.

Jadi dia menutup kolomnya.

Jangan bales. Tidur.

Dua kalimat. Empat kata.

Dan aku duduk di lantai memegang termos yang masih panas dan berpikir: laki-laki ini sudah delapan minggu belajar caraku melindungi diri, dan sekarang dia sedang membongkarnya satu per satu dengan sangat sabar, dan aku tidak bisa menghentikannya, dan sebagian besar dari diriku tidak ingin menghentikannya.

Dan sebagian kecil dari diriku — bagian yang paling waras, yang paling tahu bagaimana dunia bekerja — sedang berteriak sekeras-kerasnya bahwa ini akan berakhir buruk.


Aku mengirim pesan jam empat sore.

Satu kata.

Makasih.

Balasannya datang dua menit kemudian.

Saya bilang jangan bales.

Aku tertawa. Sakit sekali di dada, tapi aku tertawa.

Aku bandel.

Iya. Saya tau.

Lalu, setengah menit kemudian:

Buburnya habis?

Setengah.

Habisin.

Nanti.

Ran.

Iya iya.

Dan kemudian tidak ada balasan lagi selama sepuluh menit, dan aku memandangi layar itu seperti orang tolol, dan aku sudah hampir menaruh ponselku ketika masuk satu pesan lagi.

Warungnya saya tutup nanti malam.

Aku duduk tegak terlalu cepat dan kepalaku berputar.

JANGAN.

Udah saya putusin.

Mas, empat tahun nggak pernah tutup.

Iya.

JANGAN DITUTUP.

Jeda panjang.

Dan kemudian:

Kamu tinggal sendirian, panas, dua hari. Yang harus dijelasin bukan kenapa saya tutup.

Aku menatap layar itu.

Terus apa?

Dan balasannya datang, dan aku membacanya sekitar dua puluh kali sebelum aku menaruh ponselku dan menutup wajahku dengan kedua tangan.

Kenapa kamu nggak bilang.


Dia datang jam delapan malam.

Aku mendengar motornya. Aku mendengar langkahnya. Aku mendengar ketukan — tiga kali, pelan.

Dan kali ini aku berdiri, berjalan ke pintu, dan membukanya.

Bimo berdiri di sana dengan dua tas plastik dan rambut yang basah karena gerimis dan wajah yang tidak menunjukkan apa-apa sama sekali.

Dia melihatku.

Melihat rambutku yang tidak disisir dua hari, wajahku yang pucat, kaus tidur yang kebesaran, mata yang bengkak.

Dan dia berkata:

“Masuk. Dingin.”

“Mas, ini kontrakan aku.”

“Iya. Masuk.”

Aku masuk.

Dia mengikutiku, menutup pintu, menaruh dua tas plastik itu di meja kecil di sudut.

Lalu dia berdiri di tengah kamarku — kamar sempit dengan satu kasur, satu lemari, satu meja, dan tidak ada tempat lain untuk berdiri — dan melihat sekeliling selama tiga detik.

“Kamu belum ganti sprei,” katanya.

“...Mas.”

“Basah dari kemarin, kan.”

Dan aku berdiri di sana, di kontrakanku sendiri, dengan seorang laki-laki yang baru kukenal delapan minggu, dan aku menyadari dengan sangat jelas bahwa aku sudah tidak punya satu pun pertahanan yang tersisa.

“Tidur,” katanya. “Sana.”

“Mas—“

“Ran.”

“Aku bisa sendiri.”

Bimo menaruh termosnya di meja.

Dan berbalik, dan menatapku, dan untuk pertama kalinya dalam delapan minggu ada sesuatu di suaranya yang bukan datar.

“Iya,” katanya. “Saya tau kamu bisa sendiri.”

Jeda.

“Tapi nggak harus.”


Bersambung ke Bab 19 — “Jam Tiga Pagi”