Chapter Thirty Six

Hari-hari Biasa

POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Mamad, Bu Yatmi, Yuni, Kirana Jumlah kata: ±2.500


Aku ingin menulis bab ini dengan hati-hati, karena ini adalah bab yang paling sedikit terjadi apa-apa, dan karena ini adalah bab yang paling sering kubaca ulang.

Tidak ada konflik di sini. Tidak ada rahasia yang terbongkar. Tidak ada yang menangis.

Ini cuma enam minggu.

Dan aku ingin mencatatnya sedetail mungkin, karena aku sudah cukup lama hidup untuk tahu bahwa hal-hal seperti ini tidak diberikan dua kali, dan karena aku ingin bisa kembali ke sini kalau nanti aku butuh.


Yang berubah dari warung:

Warung buka jam lima pagi sampai jam dua belas malam. Bukan dua puluh empat jam lagi.

Itu keputusan yang kuambil dengan buku tulis bersampul biru, dengan tiga minggu data, dan aku menyerahkannya kepada Bimo dalam bentuk tabel karena aku tahu dia tidak bisa membantah tabel.

“Jam satu sampai jam empat pagi, rata-rata dua orang. Anak ojol yang shift malam.”

“Iya.”

“Mereka bisa datang jam dua belas.”

“Iya.”

“Dan kamu bisa tidur enam jam.”

Dia diam.

“Mas.”

“Ran.”

“Kamu udah empat tahun tidur empat jam.”

“Iya.”

“Empat tahun, Mas.”

Dan dia berdiri di sana dengan serbet di tangan, dan aku bisa melihat seluruh perhitungan berjalan di kepalanya, dan aku sudah menyiapkan lima argumen berikutnya.

Aku tidak perlu memakainya.

“Ya udah,” katanya.

Dan aku hampir jatuh dari kursiku.


Yang berubah dari dia:

Dia tidur enam jam.

Dan dalam dua minggu, lingkaran di bawah matanya hampir hilang, dan wajahnya berubah — bukan drastis, tapi cukup untuk membuat Bu Yatmi berkomentar.

“Bim, kamu keliatan lebih muda.”

“Nggak, Bu.”

“Iya. Kamu dulu kayak orang empat puluh.”

“Bu—“

“Sekarang kayak tiga puluh delapan.”

Dan aku tertawa sampai Mamad harus menjelaskan kepada pelanggan bahwa tidak ada yang salah denganku.


Yang berubah dari aku:

Aku tidur malam.

Itu hal paling aneh dari semuanya. Tiga tahun sepuluh bulan tubuhku hidup terbalik, dan mengubahnya kembali ternyata jauh lebih sulit daripada yang kubayangkan.

Dua minggu pertama aku bangun jam tiga pagi setiap malam dan tidak bisa tidur lagi.

Minggu ketiga aku mulai bisa.

Minggu keempat aku bangun jam enam pagi karena ada suara motor di gang dan aku merasa seperti orang yang baru saja menemukan negara baru.

Dan aku mulai kuliah.


Kelas karyawan. Selasa, Kamis, Sabtu. Jam enam sore sampai jam sembilan malam.

Hari pertama, aku duduk di kursi paling belakang dan aku merasa seperti penipu.

Semua orang di kelas itu berumur dua puluh sampai dua puluh lima. Mereka bekerja di bank, di kantor pajak, di perusahaan asuransi. Mereka memakai kemeja. Mereka membicarakan atasan mereka.

Dan aku duduk di sana dengan buku tulis baru dan pulpen baru dan tidak berkata apa-apa selama tiga jam.

Aku pulang malam itu dan berkata pada Bimo:

“Aku nggak cocok.”

“Kenapa?”

“Semuanya kerja kantoran.”

“Terus?”

“Terus mereka nanya aku kerja apa, Mas.”

Bimo menaruh mangkuk di depanku.

“Kamu jawab apa?”

“Aku bilang aku lagi nggak kerja.”

“Terus?”

“Terus mereka nanya kenapa.”

Dan aku menaruh sendokku.

“Aku nggak bisa jawab.”

Dan Bimo, yang sedang menyalakan kompor, berkata:

“Bilang aja kamu bantu warung.”

“Mas, itu bohong.”

Dia menoleh.

“Kamu yang megang pembukuan,” katanya. “Kamu yang ngatur jam buka. Kamu yang mutusin harga kopi tetep tiga ribu meskipun kamu nggak setuju.”

“Aku nggak dibayar.”

“Ya itu urusan lain.”

“MAS.”

“Ran.” Dia mengangkat spatulanya. “Kamu kerja di warung ini. Itu bukan bohong. Yang bohong itu kalau kamu bilang kamu cuma duduk.”


Aku memakai jawaban itu minggu berikutnya.

“Aku bantu di usaha keluarga.”

“Usaha apa?”

“Warung. Makanan.”

“Wah, keren. Omzetnya berapa?”

Dan aku menjawab dengan angka, dan orang itu mengangguk, dan percakapan berlanjut ke hal lain.

Dan aku duduk di kelas itu dengan perasaan yang butuh waktu tiga hari untuk kuberi nama.

Namanya: biasa.

Aku baru saja punya percakapan yang biasa, dengan orang asing, tentang pekerjaanku, tanpa harus memilih versi mana dari diriku yang akan kupakai.

Aku menangis di angkot pulang.

Aku menangis banyak sekali selama enam minggu itu, dan hampir semuanya karena hal-hal yang tidak masuk akal.


Daftar hal-hal tidak masuk akal yang membuatku menangis selama enam minggu:

Sikat gigi merah muda diganti ketika bulunya mekar, tanpa aku minta.

Bimo membeli sabun cuci muka. Bukan untuk dirinya. Merek yang kupakai.

Aku bangun jam tujuh pagi dan menemukan bahwa dia sudah ke pasar dan kembali dan bahwa ada teh manis hangat di meja kecil di sebelah kasur, dan bahwa gelasnya masih hangat, yang berarti dia menghitung kira-kira kapan aku akan bangun.

Mamad memanggilku “Mbak Ranti” selama empat bulan, lalu suatu hari memanggilku “Mbak” saja, tanpa nama, seperti dia memanggil kakaknya sendiri.

Bu Yatmi menyodorkan dua bungkus nasi kuning setiap pagi tanpa berkata apa-apa selama enam minggu, dan di minggu ketujuh aku menyadari bahwa aku tidak pernah membayarnya, dan waktu aku bertanya berapa, dia bilang: “Bimo udah bayar setahun di depan, Neng. Tahun lalu.”

Setahun di depan. Tahun lalu.

Sebelum dia mengenalku.

Untuk siapa pun yang butuh.


Yang terjadi antara kami:

Dan ini bagian yang paling sulit kutuliskan, karena aku tidak punya kosakata untuk hal-hal yang tidak dramatis.

Bimo tidak romantis.

Aku ingin itu jelas. Dia tidak pernah mengatakan hal-hal manis. Dia tidak pernah memberi bunga. Dia tidak pernah menulis apa pun kecuali catatan di kertas buku tulis dengan tulisan tangan yang jelek.

Yang dia lakukan adalah ini:

Dia mencium dahiku kalau lewat di belakang kursiku dan warung sedang kosong. Satu dari tiga kali. Aku masih tidak bisa memprediksi yang mana.

Dia menaruh tangannya di belakang kepalaku kalau aku sedang menghitung sesuatu dan berhenti terlalu lama di satu angka.

Dia memindahkan gelasku menjauh dari siku kalau aku sedang menulis, karena dia sudah melihatku menumpahkannya dua kali.

Dia berdiri di belakangku waktu aku mencuci piring, dan tidak melakukan apa-apa, cuma berdiri di sana selama sepuluh detik, lalu pergi lagi.

Dan sekitar minggu keempat, dia mulai melakukan sesuatu yang membuatku hampir tidak bisa berfungsi:

Kalau dia sedang memasak dan aku lewat di belakangnya, dia akan menahan pergelangan tanganku dengan tangan kirinya — tanpa berhenti memasak, tanpa menoleh — dan menahannya selama sekitar tiga detik.

Lalu melepaskannya.

Dan melanjutkan memasak.

Aku bertanya kenapa, sekali.

“Mas, kamu ngapain sih kalau aku lewat?”

“Nggak ngapa-ngapain.”

“Kamu pegang tangan aku.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Dan dia berkata, tanpa menoleh, tanpa berhenti mengaduk:

“Ngecek.”

“Ngecek apa?”

“Ngecek kamu masih ada.”

Dan aku harus keluar ke gang selama tiga menit.


Yang tidak berubah:

Gitar itu masih di sudut.

Debunya masih di sana. Kemiringannya masih sama.

Aku tidak menyinggungnya lagi setelah hari Minggu itu. Dan Bimo tidak menyinggungnya sama sekali.

Tapi ada satu hal yang berubah, dan aku memperhatikannya di minggu kelima.

Debunya lebih tipis.

Bukan bersih. Lebih tipis.

Yang berarti seseorang menyentuhnya, di suatu waktu, ketika tidak ada yang melihat.

Aku tidak mengatakan apa-apa.


Yang terjadi di minggu keenam:

Yuni datang hari Sabtu malam.

Dia sudah datang beberapa kali sejak aku berhenti, tapi malam itu dia datang dengan sesuatu di wajahnya.

“Ran.”

“Kenapa?”

“Gue mau nanya sesuatu, dan lo jangan marah.”

“Yun—“

“Lo bahagia nggak?”

Dan aku duduk di kursiku, di warung yang ramai, dengan pacarku di balik meja panjang dan buku tulis bersampul biru di depanku dan kelas kuliah hari Selasa.

Dan aku sadar bahwa aku tidak pernah menanyakan itu kepada diriku sendiri.

Sekali pun.

Selama enam minggu.

“...Iya,” kataku.

Dan Yuni memandangiku beberapa detik.

Lalu dia mengambil gelasnya dan berkata:

“Sialan lo.”

“Kenapa?”

“Nggak. Gue seneng.” Dia minum. “Gue cuma kesel karena gue bener.”


Kirana datang hari Selasa pagi.

Aku sedang di warung — aku sekarang di warung hampir sepanjang waktu — dan aku sedang menghitung stok.

Dan pintu terbuka jam tujuh pagi, dan dia masuk, dan kami saling menatap selama sekitar dua detik.

“Pagi, Mbak Ranti.”

“Pagi.”

Dan dia berjalan ke meja panjang, dan memesan sarapan seperti biasa, dan Bimo menyiapkannya seperti biasa.

Tanpa garam. Untuk bapaknya.

Dan waktu dia mau pulang, dia berhenti di dekat mejaku.

“Mbak.”

“Iya?”

“Warungnya sekarang tutup jam dua belas, ya?”

“Iya.”

“Bagus.” Dia mengangguk. “Mas Bimo keliatan lebih sehat.”

Dan dia keluar.

Dan aku duduk di sana dengan buku stok di tangan, dan aku merasakan sesuatu yang aneh — bukan bersalah, bukan menang.

Sesuatu yang lebih dekat ke hormat.


Dan yang terjadi di hari terakhir minggu keenam:

Kami sedang menutup warung. Jam dua belas malam. Mamad sudah tidur.

Aku sedang menumpuk kursi. Bimo sedang mematikan kompor.

Dan aku berkata, tanpa berpikir, sambil mengangkat kursi:

“Mas, minggu depan kita libur dua hari, ya?”

“Kenapa?”

“Aku ada UTS.”

“Oh.” Dia mematikan lampu dapur. “Ya udah.”

Dan aku menaruh kursi terakhir, dan aku berbalik, dan aku menyadari apa yang barusan keluar dari mulutku.

Kita.

Bukan “warungnya libur”. Bukan “kamu libur”.

Kita libur.

Dan aku berdiri di tengah warung yang gelap dengan tangan di sandaran kursi, dan aku merasakan sesuatu yang sangat besar dan sangat menakutkan mengembang di dalam dadaku.

“Ran?”

“Iya?”

“Kenapa berhenti?”

Dan aku menoleh ke arahnya — sosoknya, di depan pintu dapur, dalam gelap.

“Nggak apa-apa,” kataku.

Dan aku berjalan ke sana dan memeluknya, di tengah warung yang sudah tutup, jam dua belas lewat sepuluh malam.

Dan dia tidak bertanya apa-apa.

Dia cuma menaruh tangannya di belakang kepalaku dan berdiri di situ.


Aku ingin berhenti di sini.

Aku ingin sekali berhenti menulis di titik ini, dengan dua orang berdiri di tengah warung yang gelap, dan tidak melanjutkan ke bab berikutnya.

Enam minggu.

Itu yang kudapat.

Dan aku tidak akan mengeluh, karena aku sudah tiga tahun hidup tanpa satu minggu pun yang seperti itu, dan enam minggu adalah enam minggu lebih banyak daripada yang pernah kubayangkan akan kudapat.

Tapi aku harus menulis bab berikutnya.

Karena hari Kamis, jam sebelas pagi, ada mobil hitam yang masuk ke gang.

Dan berhenti di depan Warung Sembilan.

Dan tidak pergi selama dua jam.


Bersambung ke Bab 37 — “Mobil Hitam”