Chapter Fifty Seven
Extra 5 — Konsultan
POV: Bimo Tokoh: Bimo, Ranti, Sumi, Dimas, Mamad Jumlah kata: ±2.600
Ranti yang menemukannya.
Lima belas email di folder sampah, semuanya belum dibuka, dari lima perusahaan berbeda, sepanjang dua tahun.
Dan dia menaruh laptop itu di meja makan dan memutar layarnya ke arahku.
“Mas.”
“Ya.”
“Ini apa?”
“Bukan apa-apa.”
“Mas, ini lima belas.”
Dan aku mematikan kompor, karena aku sudah sembilan tahun mengenal perempuan ini dan aku tahu percakapan ini tidak akan selesai dalam tiga menit.
Dia tidak berdebat malam itu.
Dia mendengarkan penjelasanku — bahwa setelah kasus Ringan sektor itu berubah, bahwa OJK mengetatkan aturan, bahwa sekarang ada belasan perusahaan yang mencari orang yang pernah membangun sistem penilaian kredit mikro dari nol dan yang namanya muncul di putusan pengadilan sebagai orang yang menolak menandatangani.
Dan waktu aku selesai, dia menutup laptop itu.
Dan berkata:
“Oke.”
Dan pergi tidur.
Dan aku berdiri di dapur rumah kami sendiri selama sepuluh menit dengan perasaan seperti orang yang baru saja kalah tanpa tahu di mana pertandingannya.
Dia mengangkatnya lagi delapan bulan kemudian.
Lewat adiknya.
Dimas menelepon suatu Minggu dan bicara denganku empat puluh menit tentang pekerjaannya di Surabaya, dan di menit ketiga puluh delapan dia berkata:
“Mas.”
“Ya.”
“Boleh nanya yang nggak sopan?”
“Boleh.”
Dan adik iparku berkata:
“Kalau ada anak dua puluh tiga tahun di kantorku yang lagi bikin sistem kayak Ringan sekarang, dia harus tanya siapa?”
Aku duduk di halaman belakang malam itu selama dua jam.
Dan Ranti tidak keluar.
Yang berarti dia tahu persis apa yang sedang terjadi.
Yang berarti dia yang mengatur ini.
Dan waktu aku akhirnya masuk jam satu pagi, dia sedang duduk di sofa dengan buku tulis di pangkuannya, pura-pura membaca laporan bulanan yang jelas-jelas sudah selesai dia baca tiga jam lalu.
“Ran.”
“Ya?”
“Kamu yang nyuruh Dimas?”
Dan dia mengangkat kepalanya dengan wajah paling polos yang pernah kulihat di muka bumi.
“Enggak.”
“Ran.”
“Aku cuma cerita ke dia soal lima belas email yang kamu hapus.”
“Kapan?”
“Delapan bulan lalu.”
Dan aku berdiri di ruang tengah rumahku sendiri jam satu pagi.
“Itu sama aja, Ran.”
“Iya,” katanya, sambil membalik halaman. “Itu sama aja.”
Aku membalas email keenam belas.
Dan aku menulis syaratku dengan tangan, di kertas HVS, dan menyerahkannya di pertemuan kedua.
Satu. Bukan karyawan, bukan direktur, bukan pejabat apa pun. Konsultan, kontrak per proyek, bisa diakhiri kapan saja.
Dua. Aku hadir di setiap rapat yang membahas produk pinjaman. Bukan diberi tahu hasilnya. Hadir.
Tiga. Aku punya hak menolak menandatangani, penolakanku dicatat di notulen, dan notulen itu tidak boleh dihapus.
Empat. Satu kursi tambahan di setiap rapat produk, untuk orang yang pernah jadi peminjam.
“Buat siapa, Pak?”
“Buat orang yang pernah ditagih.”
Dan dua orang di seberang meja itu saling menatap.
“Maksudnya user research?”
“Bukan.”
“Focus group?”
“Bukan.” Dan aku menaruh pulpenku. “Saya nggak minta kalian wawancarai mereka. Saya minta ada satu orang di ruangan itu, waktu keputusannya diambil, yang pernah nunggu di rumah waktu ada yang gedor pintu.”
Hening.
“Pak Bimo,” kata perempuan yang menjadi head of product itu. “Bapak punya orangnya?”
Dan aku berkata:
“Iya.”
Ranti masuk ke ruangan itu pertama kali bulan November.
Dan dia gugup di lift.
Aku tahu karena dia memegang lengan jasku dengan dua tangan dan tidak melepaskannya sampai pintu lift terbuka, dan karena dia berhenti di depan pintu ruang rapat dan menarik napas dua kali.
“Mas.”
“Ya.”
“Aku pake baju apa?”
“Kemeja.”
“Bagus nggak?”
“Bagus.”
“Mas, kamu liat aja nggak.”
Dan aku menoleh, dan melihatnya sungguh-sungguh, dan berkata:
“Bagus, Ran.”
Dan dia mencubit lenganku dan berkata “kamu jawabnya kecepetan” dan masuk ke ruangan itu.
Dia diam selama empat puluh menit pertama.
Dan di menit keempat puluh satu, seseorang mempresentasikan alur penagihan — slide rapi, ada diagram, ada tahapan, pengingat H-3, telepon di hari ketujuh, kunjungan lapangan di hari ketiga puluh.
Dan Ranti mengangkat tangannya.
“Maaf, boleh nanya?”
“Silakan, Mbak.”
“Kunjungan lapangan itu ke mana?”
“Ke alamat nasabah.”
“Rumahnya?”
“Iya.”
“Jam berapa?”
“Er... jam kerja. Delapan sampai lima.”
Dan istriku mencatat sesuatu, dan bertanya:
“Nasabahnya pedagang pasar, kan?”
“Iya.”
“Pedagang pasar jam delapan sampai jam lima ada di mana?”
Ruangan itu sunyi.
“Di pasar,” kata Ranti.
Dan dia mengangkat kepalanya.
“Jadi yang bukain pintu bukan nasabahnya. Yang bukain pintu istrinya. Atau ibunya. Atau anaknya yang lagi libur sekolah.”
Aku duduk di ujung meja itu dan tidak berkata apa-apa.
Dan aku menonton delapan orang menyadari sesuatu yang tidak ada di satu pun slide mereka.
“Mbak, kalau menurut Mbak sebaiknya gimana?”
“Datangin lapaknya.”
“Tapi itu justru lebih malu-maluin—“
“Enggak.” Dan Ranti menoleh. “Di lapak, dia bos. Ada barangnya. Ada tetangganya yang juga pedagang. Dia bisa ngomong.”
Dan dia menaruh pulpennya.
“Di rumah, dia bukan siapa-siapa. Di rumah ada ibunya.”
Aku menepi di kilometer keempat belas dalam perjalanan pulang.
Karena istriku bertanya “Mas, aku terlalu banyak ngomong ya?” dan aku hampir menabrak sesuatu.
“Ran.”
“Mas, aku serius—“
“Ran, dengerin.”
Dan aku mematikan mesin.
“Empat tahun saya di perusahaan itu,” kataku. “Dua puluh delapan orang. Semuanya pinter. Dan nggak ada satu pun yang tau bahwa pedagang pasar nggak ada di rumah jam sepuluh pagi.”
Dan aku menoleh ke arahnya.
“Termasuk saya.”
Aku menandatangani kontrak kedua bulan Maret. Yang ketiga bulan Juli.
Dan yang keempat aku tolak, karena mereka setuju dengan syarat satu, dua, dan tiga, dan menawar syarat empat.
“Pak Bimo, yang keempat ini agak sulit secara operasional—“
“Ya udah.”
“Mungkin kita bisa cari bentuk lain yang—“
“Nggak,” kataku, dan mengambil tasku. “Yang keempat itu bukan tambahan. Yang keempat itu satu-satunya alasan saya di sini.”
Aku juga menaruh uang.
Sisa dari rekening yang dulu tidak berani kubuka, dipecah ke enam perusahaan tahap awal.
Bukan yang menarik. Pembukuan untuk warung. Sistem antrean klinik. Aplikasi koperasi simpan pinjam desa. Alat kasir untuk pedagang pasar. Platform logistik untuk hasil tani.
Ranti membaca proposal ketiga dan berkata:
“Mas, ini return-nya kecil banget.”
“Iya.”
“Kamu tau?”
“Iya.”
Dan istriku menutup map itu.
“Ya udah, ambil,” katanya. “Tapi yang keempat aku yang milih.”
Dan itu bagian yang tidak kuduga.
Ranti mulai ikut.
Bukan sebagai istri yang menemani. Sebagai orang yang membaca.
Dia membaca setiap proposal yang masuk ke mejaku, dengan pulpen, dengan buku tulis bersampul hijau, dan dia menandai hal-hal yang tidak pernah kutandai.
“Mas, ini.”
“Kenapa?”
“Halaman sembilan. Mereka bilang target user-nya UMKM.”
“Iya.”
“Terus di halaman empat belas, biaya berlangganannya dua ratus ribu sebulan.”
Dan dia menaruh pulpennya.
“Mas, warung Bu Yatmi untungnya nggak sampai dua juta sebulan.”
Dan aku mengambil map itu dan membaca halaman empat belas, dan aku membaca halaman sembilan lagi, dan aku menyadari bahwa aku sudah membaca proposal itu tiga kali dan tidak menghubungkan keduanya.
Dua dari enam investasi itu jadi lumayan.
Satu jadi sangat lumayan — alat kasir untuk pedagang pasar, yang dipakai di seratus tiga puluh pasar dan yang tahun lalu diakuisisi oleh perusahaan yang jauh lebih besar.
Dan aku ingin mencatat apa yang kulakukan waktu email akuisisi itu masuk.
Aku sedang mengiris bawang di Warung Sembilan Satu, jam sepuluh pagi, hari Selasa.
Ponselku bergetar. Aku membacanya. Aku menaruh ponselku kembali ke saku.
Dan aku melanjutkan mengiris bawang.
Dan Mamad, yang sedang mencuci piring dua meter dari situ, berkata:
“Bang, kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Mukanya aneh.”
“Cuci piring, Mad.”
Aku memberi tahu Ranti malam itu.
Dan dia membaca email itu selama sekitar satu menit.
Dan menaruh ponselku.
Dan berkata:
“Mas.”
“Ya.”
“Ini beneran?”
“Iya.”
Dan istriku menatap layar itu lagi, lalu menatapku, lalu menatap layar itu lagi.
Dan kemudian dia berdiri dari kursinya, dan berjalan ke arahku, dan duduk di pangkuanku dan memegang wajahku dengan dua tangan.
“Mas.”
“Ya.”
“Kita kaya?”
Dan aku memandangi perempuan itu — yang tiga tahun sepuluh bulan menuangkan minum untuk orang di ruangan berlampu ungu supaya adiknya bisa sekolah, yang berhenti kuliah di semester lima, yang membeli lima puluh satu persen warungku dengan uang tabungannya sendiri dan menolak menerimanya sebagai hadiah.
“Iya,” kataku.
Dan Ranti menutup mulutnya dengan satu tangan.
Dan mulai tertawa.
Dan tertawanya berubah jadi menangis di tengah, dengan cara yang sudah sepuluh tahun kukenal dan yang masih membuatku tidak tahu harus berbuat apa.
Dia menghabiskan tiga hari berikutnya dengan sangat aneh.
Dia tidak membeli apa pun.
Dia cuma berjalan mengelilingi rumah dan menyentuh benda-benda.
“Ran.”
“Hm.”
“Kamu ngapain?”
Dan dia sedang berdiri di dapur, memegang gagang kulkas, tanpa membukanya.
“Aku lagi ngecek.”
“Ngecek apa?”
Dan istriku berkata:
“Ngecek apakah ini bakal hilang.”
Aku berjalan ke sana dan berdiri di belakangnya dan memeluk pinggangnya dan menaruh daguku di bahunya.
“Ran.”
“Hm.”
“Nggak bakal hilang.”
“Kamu nggak tau.”
“Iya, saya nggak tau.”
Dan aku mengeratkan lenganku.
“Tapi kalaupun hilang,” kataku, “kita udah pernah punya nol.”
Dan aku merasakan dia berhenti bergerak.
“Kamu punya nol dan kamu bikin empat warung,” kataku. “Dan saya punya nol dan saya bikin satu.”
Dan dia berbalik di dalam pelukanku dan menempelkan wajahnya ke dadaku.
Yang berubah dari hidupku, secara berurutan:
Satu. Aku ke kota rata-rata enam hari dalam sebulan.
Dua. Aku punya jas. Tiga. Dan Ranti yang memilih ketiganya dan aku tidak diberi hak suara.
Tiga. Sumi punya sepeda. Dan mainan yang jumlahnya menurutku tidak masuk akal dan menurut ibunya masih kurang.
Empat. Kami liburan setahun sekali. Dan sejak tahun kedua, kami mengajak Bu Yatmi, yang menolak selama empat hari dan kemudian ikut dan kemudian tidak berhenti membicarakannya selama delapan bulan.
Lima. Dan ini yang tidak berubah:
Aku bangun jam lima pagi. Aku ke pasar jam enam. Aku membuka Warung Sembilan Satu dan aku memasak di sana sampai jam sebelas malam, kecuali jam satu sampai jam dua, waktu aku berjalan tiga ratus delapan puluh meter pulang untuk makan siang dengan anakku.
Ranti bertanya kenapa aku tidak berhenti saja, sekali, di tahun kedua.
Dan aku berkata:
“Kenapa harus berhenti?”
“Mas, kamu nggak butuh uangnya.”
Dan aku mengangkat kepalaku dari talenan.
“Ran, saya nggak masak buat uang,” kataku. “Saya masak karena saya suka masak.”
Dan istriku memandangiku selama tiga detik.
Lalu dia berkata: “Ya udah.”
Dan tidak pernah menanyakannya lagi.
Dan ada satu hal lagi.
Setiap Kamis malam, aku menutup dapur lebih awal.
Karena hari Jumat jam empat pagi Warung Sembilan Satu buka, dan yang membukanya bukan aku.
Aku tidur waktu itu.
Ranti pernah bertanya kenapa aku tidak pernah ikut melihat.
Dan aku bilang: karena itu punya kamu.
Dan dia tidak bertanya lagi.
Sumi berumur empat tahun waktu dia menanyakan sesuatu yang membuatku menaruh pisauku.
Dia duduk di island dapur — di atasnya, yang tidak boleh, yang tetap dia lakukan setiap hari — sambil memegang wortel yang tidak boleh dia pegang.
“Bapak.”
“Iya.”
“Bapak kerjanya apa?”
Dan aku memandangi anak itu.
Dan aku memikirkan beberapa jawaban, dan tidak satu pun yang bisa dimengerti anak berumur empat tahun, dan sebagian besarnya bahkan tidak bisa kumengerti sendiri.
“Bapak masak,” kataku.
Dan Sumi mengangguk, dengan wajah orang yang sudah menduga.
“Iya,” katanya. “Bapak masak.”
Dan dia menggigit wortelnya.
Dan aku melanjutkan mengiris bawang.
Dan aku memutuskan bahwa itu jawaban yang paling benar yang bisa kuberikan, dan bahwa aku akan memakainya sampai anak itu cukup umur untuk bertanya lebih baik.
Bersambung ke Extra 6 — “Empat Warung”
- 1 Warung Sembilan
- 2 Bayar Besok
- 3 Gitar yang Tidak Ditanya
- 4 Udang
- 5 Yuni Datang
- 6 Kalau Merem
- 7 Hujan Sampai Subuh
- 8 Adik
- 9 Surat
- 10 Perempuan yang Datang Pagi
- 11 Tali Sandal
- 12 Menu yang Tidak Ada
- 13 Skincare
- 14 Jaket, Lagi
- 15 Jam Empat Pagi
- 16 Lima Puluh Dua
- 17 Ukurannya Pas
- 18 Demam
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Zirah
- 21 Senar
- 22 Api
- 23 Yuni Marah
- 24 Kalau Kamu Berhenti
- 25 Handuk
- 26 Om Hendra
- 27 Pertengkaran
- 28 Laptop
- 29 Tujuh Menit
- 30 Yang Tidak Dikatakan
- 31 Nanti Kamu Nyesel
- 32 Lima Menit
- 33 Surat Pengunduran Diri
- 34 Pagi
- 35 Dimas
- 36 Hari-hari Biasa
- 37 Mobil Hitam
- 38 Ringan
- 39 Tiga Juta
- 40 Porsi Dua
- 41 Yang Dikembalikan
- 42 Yang Aku Tahu
- 43 Bapakku Nggak Butuh Kopi Murah
- 44 Sikat Gigi
- 45 Empat Tahun Dalam Satu Tas
- 46 Setelan
- 47 Selesai
- 48 Warung Sembilan
- 49 Kampung
- 50 Pasar
- 51 Yang Ditinggalkan
- 52 Jam Empat Pagi
- 53 Extra 1 — Dua Hari
- 54 Extra 2 — Kamar 214
- 55 Extra 3 — Pulang
- 56 Extra 4 — Rumah
- 57 Extra 5 — Konsultan reading
- 58 Extra 6 — Empat Warung