Chapter Thirty Four

Pagi

POV: Bimo Tokoh: Bimo, Ranti Jumlah kata: ±2.500


Warung tutup hari Minggu.

Itu keputusan yang diambil Ranti, bukan aku, dan cara dia mengambilnya sangat khas dia.

Dia datang jam empat pagi hari Kamis dengan buku tulis bersampul biru dan menaruhnya di meja panjang dan berkata:

“Mas, aku udah itung.”

“Itung apa.”

“Hari Minggu jam sepuluh pagi sampai jam sepuluh malam, pendapatan warung ini rata-rata seratus dua puluh ribu.”

“Oke.”

“Biaya bahan sama gas buat dua belas jam itu, delapan puluh ribu.”

“Oke.”

“Jadi kamu untung empat puluh ribu buat dua belas jam kerja.”

Aku mengangkat bahu. “Ada yang datang.”

“Iya. Empat orang.” Dia membalik halaman. “Aku catat tiga minggu. Rata-rata empat orang. Anak ojol yang shift siang, dan itu pun mereka biasanya bon.”

“Ran—“

“Mas.”

“Ya.”

Dan dia menutup buku tulisnya.

“Aku bukan lagi ngomongin uang,” katanya.


Jadi warung tutup hari Minggu.

Aku menempel kertas di pintu — tulisan tangan, dengan spidol, di kertas HVS. MINGGU LIBUR. Dan aku menempelkannya hari Jumat dan aku menghabiskan seluruh Sabtu merasa seperti orang yang melakukan sesuatu yang salah.

Empat tahun tiga bulan.

Ranti melihat wajahku hari Sabtu malam dan berkata, “Mas, ini cuma satu hari.”

“Iya.”

“Kamu nggak ngebunuh siapa-siapa.”

“Iya.”

“Mas.”

“Iya, Ran.”

Dan dia berjalan mengelilingi meja panjang dan berdiri di depanku dan menaruh kedua telapak tangannya di dadaku, dan berkata:

“Aku tau kamu lagi ngitung.”

Aku tidak menjawab.

“Berapa?”

“Ran—“

“Berapa, Mas?”

Dan aku berkata yang sebenarnya, karena aku sudah tidak bisa berbohong pada perempuan ini tentang apa pun sejak sekitar bulan kedua.

“Dua belas jam,” kataku. “Kali empat orang.”

“Empat puluh delapan orang-jam.”

“Iya.”

“Mas.”

“Hm.”

Dan Ranti menaruh dahinya di dadaku.

“Kamu tau nggak kamu ngitung apa sebenernya?”

Aku diam.

“Kamu nggak ngitung orang,” katanya. “Kamu ngitung berapa lama lagi kamu boleh berhenti.”


Aku tidak akan menceritakan malam itu.

Bukan karena aku malu. Karena ada hal-hal yang tidak butuh saksi, dan karena kalau aku menuliskannya aku akan merusaknya, dan karena satu-satunya orang yang berhak mengingatnya sudah mengingatnya.

Yang akan kuceritakan adalah paginya.


Aku bangun jam lima.

Itu bukan pilihan. Empat tahun bangun jam enam untuk ke pasar mengubah sesuatu di dalam tubuh yang tidak bisa dimatikan lagi, dan malam-malam terakhir aku bahkan bangun lebih awal.

Kamar belakang warung sempit. Satu kasur di lantai, satu lemari, satu jendela kecil yang menghadap tembok.

Dan pagi itu ada seseorang di sebelahku.

Aku berbaring di sana dan tidak bergerak selama mungkin sepuluh menit, memandangi langit-langit, dan aku memikirkan sesuatu yang membuatku ingin tertawa dan juga tidak.

Empat tahun aku tidur di kursi belakang.

Bukan di kasur ini. Kasur ini ada — aku membelinya tahun pertama, karena orang normal punya kasur — dan aku tidur di atasnya mungkin dua puluh kali dalam empat tahun.

Sisanya di kursi.

Karena kursi terasa sementara.

Dan aku sudah empat tahun memastikan bahwa segala sesuatu tentang hidupku terasa sementara, supaya tidak ada satu pun bagiannya yang bisa disalahartikan sebagai hidup.


Lalu aku merasakan sesuatu berubah di sebelahku.

Napasnya.

Ritmenya berubah — dari yang dalam dan lambat, jadi lebih pendek, lebih cepat. Bukan bangun perlahan.

Bangun mendadak.

Dan kemudian tubuh di sebelahku bergerak.

Cepat. Sangat cepat.

Dia duduk. Dan dalam waktu kurang dari dua detik, tangannya sudah mencari sesuatu di lantai — bajunya, aku tahu tanpa melihat — dan kakinya sudah setengah keluar dari selimut, dan kepalanya sudah menoleh ke arah jendela untuk memperkirakan jam berapa dari warna langit.

Aku pernah melihat gerakan itu.

Bukan pada Ranti. Pada seseorang yang lain, di kehidupan yang lain, di tempat yang tidak akan kuceritakan.

Itu bukan gerakan orang bangun tidur.

Itu gerakan orang yang menghitung waktu keluar.


“Kamu mau ke mana?”

Dia membeku.

Benar-benar membeku — tangannya masih di lantai, setengah memegang bajunya, punggungnya menghadapku.

“...Mas.”

“Kamu mau ke mana?”

Dan ada jeda yang sangat panjang.

“Nggak ke mana-mana,” katanya.

“Ya udah.”

Dan aku tidak menambahkan apa pun.

Aku berbaring di sana dan menatap langit-langit dan tidak bergerak, karena aku sudah cukup lama mengenal perempuan ini untuk tahu bahwa apa pun yang barusan terjadi adalah sesuatu yang tidak boleh disentuh dengan tangan.


Sepuluh detik.

Lalu selimut bergerak.

Dan dia berbaring lagi.

Bukan di posisi yang tadi. Lebih jauh. Menghadap tembok, dengan punggung ke arahku, dengan jarak sekitar setengah meter di antara kami.

Dan tidak bicara selama mungkin dua menit.

Aku menunggu.

Dan kemudian aku mendengar suaranya, sangat pelan, hampir tidak terdengar:

“Aku nggak pernah bangun di kasur orang tanpa mikirin jam berapa aku harus pergi.”


Aku tidak menjawab langsung.

Aku ingin sangat jelas kenapa, karena ini penting dan karena aku hampir merusaknya.

Ada beberapa hal yang bisa kukatakan pada detik itu.

Aku bisa berkata kamu nggak perlu pergi. Itu benar, tapi itu jawaban untuk pertanyaan yang tidak dia ajukan.

Aku bisa berkata nggak apa-apa. Itu lebih buruk, karena itu berarti aku sedang memaafkan sesuatu, dan tidak ada yang perlu dimaafkan.

Aku bisa berkata sesuatu tentang masa lalunya. Itu yang paling buruk dari semuanya, dan aku bisa merasakan kalimatnya menyusun diri di kepalaku, dan aku menahannya.

Jadi aku tidak berkata apa-apa.

Aku menggerakkan tanganku di bawah selimut, mencari tangannya, dan menemukannya.

Dan menggenggamnya.

Dan aku merasakan seluruh tubuhnya menegang selama satu detik penuh sebelum akhirnya mengendur.

“Sekarang mikirin apa?” tanyaku.

Jeda.

Dan kemudian, dengan suara yang setengah tercekik:

“Sarapan.”

“Bagus,” kataku. “Saya juga.”


Dia berbalik.

Aku merasakannya bergerak di bawah selimut — berputar, mendekat — dan kemudian ada dahi di bahuku dan tangan yang menggenggam kausku dan sesuatu yang basah di kulitku.

Dia tidak bersuara.

Itu yang membuatku hampir tidak sanggup. Perempuan ini menangis dengan cara paling jelek yang pernah kulihat — dengan hidung, dengan bahu, dengan bunyi — dan pagi itu dia tidak mengeluarkan satu bunyi pun.

Dia cuma menempel di bahuku dan bernapas dengan cara yang salah.

Aku menaruh tanganku di belakang kepalanya.

Dan aku tidak berkata apa-apa selama mungkin lima menit.


“Mas.”

“Ya.”

“Kamu tau kenapa aku bangun kayak gitu tadi?”

“Nggak.”

“Bohong.”

“...Iya.”

“Kamu tau.”

“Ran.”

“Kamu tau dan kamu nggak bilang apa-apa.”

Dan aku diam beberapa detik.

“Iya,” kataku.

Dan dia menekan wajahnya lebih dalam ke bahuku.

“Makasih,” katanya.


Aku memasak jam tujuh.

Bukan untuk warung. Warung tutup. Untuk dua orang, di dapur yang biasanya melayani empat puluh, dengan kompor yang biasanya menyala dua-duanya dan pagi itu cuma satu.

Ranti duduk di meja panjang dengan kaus abu-abu yang secara hukum sudah lama bukan milikku dan rambut yang berantakan dan wajah yang bengkak.

Dan dia memperhatikanku memasak, seperti biasa, tanpa bicara.

“Mas.”

“Ya.”

“Kamu masak apa?”

“Nasi goreng.”

“Yang biasa?”

“Bukan.”

Dia menegakkan badan.

“Yang mana?”

Aku memasukkan sesuatu ke wajan.

“Yang saya bikin kalau nggak ada yang liat,” kataku.


Aku perlu menjelaskan sesuatu tentang masakan, dan ini satu-satunya bagian dari diriku yang tidak pernah kusembunyikan tapi juga tidak pernah kutunjukkan.

Aku bisa masak.

Bukan bisa yang biasa. Tiga tahun di dapur hotel, mulai dari mengupas bawang, naik ke saus, naik lagi, sampai aku punya bagian sendiri di garde manger.

Dan aku berhenti sepenuhnya empat tahun lalu.

Bukan berhenti masak — aku masak setiap hari, dua belas jam sehari. Yang kuberhentikan adalah masak dengan benar.

Karena masak dengan benar berarti kau peduli pada hasilnya. Berarti kau mencicipi, mengoreksi, mengulang. Berarti ada bagian dirimu yang masih ingin sesuatu jadi bagus.

Dan itu terlalu dekat dengan hidup.

Jadi selama empat tahun aku memasak makanan yang enak tapi tidak pernah lebih dari cukup, dan tidak ada satu pun orang di gang ini yang tahu bedanya.

Pagi itu aku memasak dengan benar.


Ranti makan sesendok.

Dan berhenti.

Dan menaruh sendoknya.

“Mas.”

“Hm.”

“Ini apa?”

“Nasi goreng.”

“Mas.”

“Ya.”

Dan dia mengangkat kepalanya, dan wajahnya adalah wajah orang yang baru saja diberi tahu sesuatu yang mengubah urutan hal-hal di kepalanya.

“Ini bukan nasi goreng warung,” katanya.

“Bukan.”

“Ini—“ Dia mengambil sesendok lagi. Mengunyah. Menutup matanya. “Mas, ini enak banget.”

“Iya.”

“Enak banget banget.”

“Iya.”

“Kenapa kamu nggak pernah bikin yang ini di warung?”

Dan aku berdiri di balik meja panjang dengan wajan di tangan, dan aku menyadari bahwa aku tidak punya jawaban yang bisa kuucapkan tanpa menjelaskan segalanya.

“Bahannya lebih mahal,” kataku.

Bohong.

Dan dia tahu itu bohong. Aku melihatnya di wajahnya.

Dan dia memilih untuk tidak mengejarnya, seperti yang sudah dia lakukan belasan kali dalam empat bulan terakhir, dan setiap kali dia melakukannya aku merasakan sesuatu di dadaku yang tidak bisa kubayar kembali.

“Ya udah,” katanya.

Dan melanjutkan makan.


Kami tidak keluar rumah seharian.

Itu terdengar romantis. Sebenarnya membosankan.

Ranti tidur lagi jam sembilan sampai jam satu. Aku memperbaiki kompor yang seret. Aku mengganti selang gas. Aku membersihkan kipas angin yang sudah tiga bulan berdebu.

Dan sekitar jam tiga sore, aku menemukannya duduk di lantai dekat sudut ruangan.

Di depan gitar itu.

Tidak menyentuhnya. Cuma duduk, dengan lutut ditekuk, memandanginya.

Aku berdiri di ambang pintu dapur.

“Ran.”

“Aku nggak megang.”

“Iya.”

“Aku cuma liatin.”

“Iya.”

Dan dia menoleh.

“Mas.”

“Hm.”

“Boleh nanya?”

Dan aku berdiri di situ dengan obeng di tangan, dan aku tahu apa yang akan dia tanyakan, dan aku merasakan sesuatu yang dingin naik dari perutku.

“Nanya,” kataku.

Dan Ranti bertanya:

“Lagunya apa?”


Aku tidak menjawab selama mungkin sepuluh detik.

“Malam Lebaran,” lanjutnya. “Tahun pertama. Bu Yatmi denger.”

Aku menutup mataku.

“Kamu nggak nyanyi, katanya. Cuma main.” Suaranya sangat pelan. “Aku nggak nanya kenapa kamu berhenti, Mas. Aku cuma nanya lagunya apa.”

Dan aku berdiri di ambang pintu dapur, jam tiga sore hari Minggu, dengan obeng di tangan.

Dan aku menjawab.

“‘Kau Adalah’,” kataku.

“...Isyana?”

“Iya.”

Ranti menoleh ke gitar itu, lalu ke aku, lalu ke gitar itu lagi.

“Mas, itu lagu—“

“Iya.”

“Itu lagu buat—“

“Iya, Ran.”

Dan dia menutup mulutnya.

Dan aku berjalan kembali ke dapur sebelum dia sempat melihat wajahku, dan aku memperbaiki kompor yang sebenarnya sudah selesai kuperbaiki dua jam yang lalu.


Malamnya, sebelum tidur, dia berkata:

“Mas.”

“Ya.”

“Ibu kamu pasti seneng.”

Aku tidak menjawab.

“Aku serius.”

“Ran.”

“Aku tau kamu nggak mau denger, tapi aku tetep bilang.” Dia menarik selimut sampai dagunya. “Ibu kamu beliin kamu gitar. Berarti dia mau kamu punya sesuatu yang bukan buat kerja.”

Aku memandangi langit-langit.

“Dan sekarang kamu nyimpen gitar itu di sudut selama empat tahun buat ngukum diri kamu sendiri.”

“Ran—“

“Aku nggak nyuruh kamu main, Mas.” Suaranya jadi lebih kecil. “Aku cuma mau bilang: kalau ibu kamu tau, dia bakal marah.”

Dan warung itu sunyi.

Dan aku berbaring di kasur yang sudah empat tahun tidak kupakai, di sebelah perempuan yang sudah empat bulan menghancurkan setiap sistem yang kubangun dengan sangat hati-hati.

Dan aku berkata, ke langit-langit:

“Iya. Beliau bakal marah.”

Dan Ranti menggenggam tanganku di bawah selimut.

Dan tidak berkata apa-apa lagi.


Bersambung ke Bab 35 — “Dimas”