Chapter Forty

Porsi Dua

POV: Ranti Tokoh: Ranti, Mamad, Yuni, Dimas (via telepon), Bu Yatmi Jumlah kata: ±2.400


Aku tidak marah.

Aku ingin itu tercatat sekali lagi, karena semua orang yang mendengar cerita ini berasumsi bahwa aku marah, dan asumsi itu salah, dan kesalahannya penting.

Marah itu mudah.

Marah punya bentuk. Marah punya arah. Kalau kau marah, kau tahu harus berteriak ke siapa, dan setelah berteriak kau merasa lebih baik atau lebih buruk, tapi setidaknya kau merasa sesuatu yang punya nama.

Yang kualami selama dua belas hari berikutnya tidak punya nama.


Hari pertama.

Aku tidur.

Aku bangun jam dua siang, minum air, dan tidur lagi sampai jam delapan malam.

Aku bangun lagi jam empat pagi karena tubuhku masih ingat jam empat pagi, dan aku berbaring di gelap dan menatap langit-langit.

Dan aku menghitung.

Aku mencoba menghitung.

Aku benar-benar mencoba, dengan sungguh-sungguh, karena menghitung adalah satu-satunya hal yang selalu bisa kulakukan.

Kolom kiri: yang dia lakukan.

Dia membangun sistem yang membuat bapakku pinjam tiga juta.

Kolom kanan: yang dia lakukan.

Dia menolak fitur itu. Dia keluar. Dia dipecat karena menolak.

Kolom kiri:

Kalau dia tidak membangun sistemnya dari awal, tidak akan ada apa pun yang bisa diubah oleh siapa pun.

Kolom kanan:

Kalau bukan dia, orang lain akan membangunnya. Damar sendiri yang bilang.

Kolom kiri:

Dia sudah tahu sejak malam hujan itu. Dan dia diam empat bulan.

Kolom kanan:

Dia memberiku makan setiap malam selama empat bulan sebelum dan sesudah dia tahu, dengan cara yang persis sama.

Aku menghitungnya sampai jam tujuh pagi.

Dan angkanya tidak masuk ke mana pun.

Dan itu — bukan kemarahan, bukan kesedihan, tapi soal yang tidak punya jawaban — itu yang membuatku tidak bisa berdiri selama dua belas hari.


Hari kedua.

Yuni datang jam sebelas siang dengan dua kantong plastik.

Dia tidak mengetuk. Dia punya kunci cadangan sejak tahun pertama.

“Ran.”

“Hm.”

“Bangun.”

“Nanti.”

Dan dia menarik selimutku, dan aku tidak melawan, dan dia melihat wajahku dan mengumpat dalam tiga bahasa daerah.

“Apa yang terjadi.”

“Nggak apa-apa.”

“Ran.”

“Nggak apa-apa, Yun.”

Dan Yuni duduk di lantai, bersandar ke kasur, dan mengeluarkan bungkusan nasi dari kantong plastik.

“Ya udah,” katanya. “Gue di sini aja.”

Dia tinggal empat jam.

Dia tidak bertanya lagi.


Hari keempat.

Mamad datang.

Aku mendengar motornya di depan, dan aku tahu itu motor warung karena knalpotnya bunyi seperti orang batuk.

Ketukan. Tiga kali. Pelan.

Aku tidak membuka.

“Mbak.”

Aku duduk di lantai dengan punggung ke pintu.

“Mbak Ranti, saya tau Mbak di dalem.”

Aku menutup mataku.

“Saya nggak disuruh Bang Bimo,” katanya. “Sumpah. Dia nggak tau saya ke sini.”

Dan aku hampir membuka pintu.

“Mbak.”

“...Apa, Mad.”

“Oh.” Suaranya berubah, jadi lega, jadi anak sembilan belas tahun lagi. “Mbak sehat?”

“Iya.”

“Beneran?”

“Iya, Mad.”

Hening.

“Mbak.”

“Apa.”

“Saya taro di depan, ya.”

Dan aku mendengar sesuatu diletakkan di lantai, dan langkah kaki menjauh, dan motor yang bunyinya seperti orang batuk.

Aku menunggu lima menit.

Lalu aku membuka pintu.

Tas plastik. Isinya: nasi bungkus dari Bu Yatmi, sebotol air, dan sekotak obat maag.

Dan tidak ada catatan.

Tidak ada apa pun dari Bimo.

Dan itu — ketiadaan itu — adalah hal yang paling kuhargai dari seluruh dua belas hari itu, dan aku baru menyadarinya jauh kemudian.


Hari keenam.

Aku ke kampus.

Aku duduk di kelas selama tiga jam dan aku tidak menulis satu kata pun.

Dosennya membahas depresiasi aset. Metode garis lurus. Metode saldo menurun.

Dan aku duduk di kursi paling belakang dan berpikir: ada rumus untuk menghitung berapa banyak nilai sesuatu yang hilang setiap tahun karena dipakai.

Ada rumusnya.

Kenapa tidak ada rumus untuk yang lain.


Hari ketujuh.

Dimas menelepon.

“Mbak.”

“Hm.”

“Mbak kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

“Mbak nggak balas chat aku tiga hari.”

“Sori.”

Dan adikku diam beberapa detik.

“Mas Bimo?”

Aku tidak menjawab.

“Mbak.”

“Iya.”

“Dia nyakitin Mbak?”

Dan aku duduk di lantai kontrakanku dengan ponsel di telinga.

Dan aku menyadari sesuatu yang membuat seluruh dadaku sakit.

“Nggak,” kataku.

Dan itu jawaban yang jujur.

Itu jawaban yang paling jujur yang bisa kuberikan, dan itulah persis kenapa aku tidak bisa berdiri selama seminggu.

Karena laki-laki itu tidak menyakitiku.

Dia tidak berbohong tentang perasaannya. Dia tidak memanfaatkanku. Dia tidak mendekatiku karena rasa bersalah — aku tahu itu, aku tahu itu dengan pasti, karena aku sudah empat bulan membaca wajahnya dan aku tahu bedanya antara laki-laki yang membayar utang dan laki-laki yang menumpahkan air ke meja karena aku melepas ikat rambut.

Dia tidak melakukan satu pun hal yang bisa kutuntut.

Dia cuma ada di kedua sisi hidupku sekaligus.

Dan tidak ada satu pun rumus di dunia ini untuk itu.


Hari kesembilan.

Aku pergi ke gang.

Bukan ke warung. Aku berdiri di ujung gang, di seberang jalan, jam sembilan malam.

Dan aku melihat pintu warung itu terbuka, dan lampunya menyala, dan ada empat orang di dalamnya.

Aku berdiri di sana selama empat puluh menit.

Dan aku tidak masuk.


Hari kesepuluh.

Bu Yatmi menemukanku.

Aku tidak tahu bagaimana — mungkin Mamad, mungkin Yuni, mungkin perempuan itu memang tahu segalanya.

Dia mengetuk jam sepuluh pagi, dan begitu aku membuka pintu dia langsung masuk tanpa dipersilakan, dan menaruh dua bungkus nasi di meja kecilku, dan duduk di satu-satunya kursi di kamarku.

“Neng.”

“Bu.”

“Kamu udah mandi?”

“...Belum.”

“Mandi.”

Dan aku mandi, karena aku tidak bisa membantah perempuan itu.

Waktu aku keluar, dia sudah merapikan kasurku dan membuka jendela.

“Duduk.”

Aku duduk di lantai.

Dan Bu Yatmi memandangiku selama beberapa detik.

“Saya nggak tau apa yang kejadian,” katanya. “Dan saya nggak nanya.”

“Bu—“

“Tapi saya mau cerita satu hal.”

Aku diam.

“Empat tahun lalu, hari kedua dia di sini.” Bu Yatmi melipat tangannya. “Dia beli beras kebanyakan. Lima puluh kilo. Buat warung yang belum ada pelanggannya.”

“Iya, Ibu pernah cerita.”

“Yang saya nggak pernah cerita adalah kenapa.”

Aku mengangkat kepalaku.

“Saya tanya dia: ‘Mas, ini kebanyakan, nanti basi.’” Bu Yatmi menatapku. “Dan dia bilang: ‘Nggak apa-apa, Bu. Saya nggak tau berapa banyak orang yang harus saya kasih makan.’”

Kamar itu sunyi.

“Saya pikir dia bego,” kata Bu Yatmi. “Saya pikir dia nggak bisa itung.”

Dan dia berdiri, dan mengambil tasnya.

“Butuh saya empat tahun buat sadar bahwa dia bisa itung banget,” katanya. “Dan bahwa dia lagi nyoba nebak angka yang nggak mungkin ditebak.”


Hari kedua belas.

Mamad datang lagi.

Kali ini aku membuka pintunya.

“MBAK!”

“Hai, Mad.”

Dan anak itu berdiri di depan pintu kontrakanku dengan wajah yang tiba-tiba hancur, dan dia menunduk, dan dia mengusap matanya dengan lengan bajunya.

“Mad.”

“Nggak apa-apa, Mbak.”

“Mad.”

“Saya nggak nangis.”

“Iya.”

Dan dia berdiri di situ selama beberapa detik, mengusap matanya, sembilan belas tahun.

“Mbak.”

“Iya?”

Dan Mamad berkata:

“Bang Bimo tiap hari masak porsi dua.”


Aku memegang gagang pintu.

“Apa?”

“Tiap hari, Mbak.” Dia menghapus wajahnya lagi. “Jam empat sore. Dia masak dua porsi. Yang satu buat sendiri, yang satu ditaro di meja panjang.”

“Mad—“

“Dia nggak makan dua-duanya.”

Dan aku merasakan sesuatu naik ke tenggorokanku yang tidak bisa kutahan.

“Yang satu dibiarin di situ sampai jam sebelas malam.” Mamad menatap lantai. “Terus dia buang.”

“Berapa hari?”

“Dua belas hari, Mbak.”


“Mad.”

“Iya?”

“Dia bilang apa?”

Dan Mamad mengangkat kepalanya.

“Nggak bilang apa-apa, Mbak.”

“Sama sekali?”

“Sama sekali.” Dia mengusap hidungnya. “Dia nggak ngomong sama saya dua belas hari. Kecuali kalau nyuruh sesuatu.”

Aku menutup mataku.

“Mbak.”

“Iya.”

“Saya boleh nanya sesuatu?”

Aku mengangguk.

Dan anak itu — yang selama empat bulan mengomentari segalanya, yang tidak pernah dalam hidupnya menyimpan satu pun pendapat — berkata:

“Bang Bimo salah, ya?”

Dan aku berdiri di ambang pintu kontrakanku dengan tangan di gagang pintu.

Dan aku berkata:

“Aku nggak tau, Mad.”

“Mbak.”

“Aku beneran nggak tau.”

Dan Mamad mengangguk, dan menghapus wajahnya sekali lagi, dan berbalik ke motornya.

Dan sebelum dia naik, dia berhenti.

“Mbak.”

“Iya?”

“Saya nggak ngerti masalahnya apa,” katanya. “Dan saya nggak usah ngerti.”

Dia memakai helmnya.

“Tapi saya udah tiga setengah tahun sama dia,” katanya. “Dan dalam tiga setengah tahun, dia nggak pernah sekali pun buang makanan.”


Aku menutup pintu.

Aku duduk di lantai.

Dan untuk pertama kalinya dalam dua belas hari, aku menangis.

Bukan menangis yang jelek dan berisik. Bukan yang di bahu seseorang.

Aku duduk di lantai kontrakan kosong dan aku menangis dengan sangat pelan selama sekitar satu jam, dan tidak ada satu orang pun yang mendengarnya.

Dan sekitar jam empat sore, aku berdiri.

Dan aku melihat ke luar jendela — ke tembok bangunan sebelah, karena itu satu-satunya pemandangan yang punya kontrakanku.

Dan aku berkata, keras-keras, ke ruangan kosong:

“Jam empat sore.”

Dan aku melihat jam di ponselku.

Empat lewat dua.

Dan di suatu tempat, lima blok dari sini, seorang laki-laki sedang menaruh piring kedua di meja panjang untuk orang yang tidak datang.

Untuk hari ketiga belas.


Bersambung ke Bab 41 — “Yang Dikembalikan”