Chapter Six

Kalau Merem

POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Mamad Jumlah kata: ±2.300


Ada tiga hari di mana aku memutuskan untuk tidak datang.

Ini keputusan yang matang. Aku memikirkannya dengan serius, sambil duduk di ruang ganti Aurora, sambil menghapus riasan, sambil mengulang kalimat Yuni di kepalaku sampai kalimat itu kehilangan bentuknya.

Terus masalahnya, dia nggak.

Kalau itu benar, maka yang kulakukan selama tiga minggu ini bukan bercanda. Itu namanya lain. Ada nama yang lebih jelek untuk perempuan yang menggoda laki-laki yang tidak bisa membalas dengan cara yang sama, dan aku tahu namanya, dan aku tidak mau memakainya.

Jadi: tiga hari. Istirahat. Jarak. Waras.

Hari pertama aku bertahan sampai jam lima pagi sebelum tertidur.

Hari kedua aku hampir sampai depan gang lalu berbalik.

Hari ketiga aku menyerah jam empat lewat dua puluh, berjalan cepat sekali seperti orang yang punya urusan penting, dan masuk ke warung dengan wajah orang yang sedang tidak melakukan apa-apa yang memalukan.

Warung itu kosong. Cuma Bimo, sedang mengiris kol.

Dia mengangkat kepala. Melihatku.

Dan pisau itu berhenti di udara.

Bukan lama. Setengah detik. Tapi aku hidup dari membaca jeda, dan jeda ini bukan jeda orang yang kaget ada pelanggan.

“Duduk,” katanya.

Aku duduk.

Tiga menit kemudian ada mangkuk di depanku, dan isinya soto, dan aku tahu — aku tahu, dan aku benci bahwa aku tahu — bahwa itu bukan soto yang baru dibuat malam ini.

“Mas.”

“Ya.”

“Ini soto dari kapan?”

“Tadi sore.”

“Kamu masak soto tiap sore?”

“Nggak.”

“Terus?”

Bimo kembali ke kolnya.

“Tiga hari terakhir iya.”

Aku memandangi mangkuk itu.

Tiga hari. Tiga sore. Satu panci soto yang dibuat untuk seseorang yang tidak datang, tiga kali berturut-turut, oleh laki-laki yang tidak pernah bertanya ke mana perginya orang itu.

“Mas.”

“Hm.”

“Kamu nunggu aku?”

“Nggak.”

“Bohong.”

“Bahu saya nggak naik.”

“Kamu bilang gitu tiap kali kamu bohong.”

Bimo mengangkat pisaunya, memeriksa mata pisaunya di bawah lampu seolah itu perkara mendesak, lalu meletakkannya lagi.

“Makan sotonya,” katanya.


Ada sesuatu yang berubah malam itu, dan aku tidak bisa menunjuk tepatnya di mana.

Mungkin karena warung benar-benar kosong. Mungkin karena tiga hari itu membuat semuanya terasa lebih jelas — seperti kau baru sadar berapa berisiknya kulkasmu setelah listrik mati.

Atau mungkin karena, untuk pertama kalinya, aku duduk di sana tanpa rencana.

Biasanya aku punya rencana. Aku punya kalimat pembuka, punya arah, punya target. Aku memperlakukan setiap malam di warung ini seperti permainan yang harus kumenangkan.

Malam itu aku cuma makan soto.

Dan Bimo cuma mengiris kol.

Dan tidak ada yang bicara selama mungkin dua puluh menit, dan itu adalah dua puluh menit paling nyaman yang pernah kualami di dalam ruangan bersama laki-laki.


“Mas.”

“Ya.”

“Kenapa kamu nggak nanya?”

“Nanya apa?”

“Tiga hari kemarin. Kenapa aku nggak datang.”

Bimo memindahkan kol ke baskom.

“Bukan urusan saya.”

“Tapi kamu masak soto.”

“Iya.”

“Tiga kali.”

“Iya.”

“Itu kontradiksi, Mas.”

“Iya.”

Aku meletakkan sendokku dan menatapnya, dan aku benar-benar ingin tahu jawabannya, jadi untuk pertama kalinya aku bertanya tanpa membungkusnya dengan apa pun.

“Kenapa kamu nggak pernah nanya apa-apa ke aku?”

Bimo menyandarkan pinggangnya ke meja panjang. Melipat tangan. Dan berpikir — benar-benar berpikir, cukup lama sampai aku sempat menghitung tiga putaran kipas angin.

“Karena kamu udah ditanyain terus,” katanya.

“Hah?”

“Tiap malam. Kerja apa. Umur berapa. Rumahnya di mana. Kenapa mau kerja di situ. Punya pacar nggak.”

Aku diam.

“Kalau kamu mau cerita, kamu cerita,” lanjutnya. “Kalau nggak, ya nggak.”

“Terus gimana kamu tahu soal aku?”

Dia mengangkat bahu.

“Saya lihat.”


Dan setelah itu, karena aku tidak sanggup dengan keheningan yang mengikuti kalimat itu, aku melakukan hal yang paling kukuasai di dunia.

Aku merusaknya.

“Mas.”

“Hm.”

“Kamu tuh kalau ngomong gitu, orang bisa salah paham, tau nggak.”

“Salah paham gimana.”

“Ya... salah paham.” Aku menopang dagu. “Nanti aku ge-er.”

“Ge-er kenapa?”

“Ya ge-er kalau kamu suka sama aku.”

Aku melemparnya begitu saja. Enteng. Dengan senyum yang sudah kulatih ribuan kali. Ini bukan pertanyaan sungguhan — ini umpan, dan aku sudah tahu jawabannya akan berupa bantal atau makanan atau kucing.

Bimo mengambil serbet.

Mengelap tangannya.

Dan berkata:

“Kamu cantik.”

Aku berhenti mengaduk.

Sesuatu yang bodoh dan hangat naik dari leherku ke pipi, dan aku merasakannya sampai ke telinga, dan aku benci tubuhku sendiri karena mengkhianatiku secepat itu.

Aku sudah dipuji ribuan kali. Ribuan. Setiap malam, oleh laki-laki yang membayar untuk mengatakannya. Aku punya seluruh sistem pertahanan untuk itu, dan sistem itu bekerja sempurna selama tiga tahun, dan malam itu sistem itu gagal total dalam waktu kurang dari satu detik karena satu laki-laki mengatakannya sambil mengelap tangan di serbet.

“...Mas.”

“Kalau merem.”

Sendokku mendarat di lengannya.

“MAS.”

“Aduh.”

“KAMU—“

“Sakit, Ran.”

“BAGUS.”

“Itu sendok panas.”

“AKU TAU.”

Aku berdiri, mengambil sendok itu kembali, dan memukul lengannya sekali lagi dengan tangan kosong, dan Bimo tidak menghindar sama sekali, cuma berdiri di situ menerima seluruh serangan seperti orang yang sudah memperhitungkan biayanya sejak awal.

“Aku benci kamu.”

“Iya.”

“Aku beneran benci kamu.”

“Iya.”

“Kamu jelek.”

“Iya.”

“Warung kamu jelek.”

“Iya.”

“Sotonya enak sih.”

“Iya.”

Aku duduk lagi. Wajahku masih panas. Aku mengaduk sotoku dengan kekuatan yang tidak dibutuhkan oleh soto mana pun di dunia.

Dan kemudian — sambil membalik badan ke kompor, sambil mengangkat panci, dengan suara yang terlalu pelan untuk kalimat sepenting itu:

“Padahal saya berhenti di kalimat pertama tadi.”

Aku mengangkat kepala.

“Apa?”

“Nggak ada.”

“MAS.”

“Nggak ada, Ran.”

“Kamu barusan bilang apa?”

“Sotonya keburu dingin.”

“BIMO.”

Dan itu pertama kalinya aku memanggil namanya.

Bukan Mas. Bimo.

Dia berhenti bergerak. Punggungnya masih menghadapku. Panci di tangannya, uap naik ke wajahnya.

Selama, mungkin, tiga detik penuh.

“...Iya,” katanya akhirnya.

“Iya apa?”

“Iya, saya bilang gitu.”

“Terus?”

“Terus nggak ada terus.”

“Kok nggak ada?”

Bimo menaruh pancinya. Berbalik. Dan menatapku dengan tatapan yang membuatku ingin bersembunyi di bawah meja.

“Kamu mau saya lanjutin?”

Dan aku — aku, Ranti Wulansari, dua puluh tujuh tahun, tiga tahun di Aurora, yang setiap malam mengendalikan laki-laki dua kali umurku dengan tiga kalimat dan satu senyum —

aku menunduk ke mangkukku dan berkata, “Nggak usah.”

“Ya udah.”

“Ya udah.”

Kami tidak bicara lagi selama sepuluh menit.

Aku menghabiskan sotoku dengan telinga yang panas dan senyum yang tidak bisa kutahan dan perasaan bahwa aku baru saja kalah sangat, sangat telak dalam permainan yang kubuat sendiri.


Mamad muncul jam lima kurang seperempat, seperti biasa, dengan rambut yang berdiri ke arah yang berbeda setiap hari.

Dia berhenti di ambang pintu. Melihatku. Melihat Bimo. Melihat lengan Bimo yang merah di satu titik.

“Bang.”

“Angkat kursi.”

“Bang, tangan sampeyan kenapa?”

“Kursi, Mad.”

“Kok merah?”

Kursi.

Mamad mengangkat kursi sambil menoleh terus ke arahku, dan aku mengangkat sendokku ke arahnya sebagai ancaman, dan Mamad hampir menjatuhkan kursinya ke kakinya sendiri.

“Mbak.”

“Apa.”

“Sampeyan mukul Bang Bimo?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena dia jahat.”

Mamad menoleh ke Bimo dengan wajah yang penuh pengkhianatan.

“Bang, sampeyan jahat sama Mbak Ranti?”

Bimo mengangkat kepalanya dari kompor.

Dan menjawab, dengan sangat serius, seperti orang yang sedang memberikan kesaksian di pengadilan:

“Iya.”

Mamad menatapnya.

“Bang, sampeyan tuh kalo mbak Ranti dateng jadi aneh.”

“Cuci piring, Mad.”

“Kemarin sampeyan masak soto tiga kali padahal nggak ada yang pesen—“

Cuci piring.

“Berarti bener.”

“MAD.”

Aku tertawa sampai aku harus meletakkan sendokku, dan sampai perutku sakit, dan sampai Bu Yatmi dari warung sebelah berteriak menyuruh kami diam karena ini jam lima pagi dan orang-orang normal sedang tidur.


Aku pulang jam setengah enam.

Di depan pintu, aku berhenti.

“Mas.”

“Ya.”

“Besok masak soto lagi, ya.”

Bimo mengunci pintu dapur.

“Nggak.”

“Kok nggak?”

“Besok kamu datang. Nggak perlu soto.”

Aku berdiri di ambang pintu dengan jaket abu-abu itu, dan langit di luar sudah mulai biru-tapi-bukan-biru, dan ada bagian di dalam dadaku yang selama tiga tahun terakhir kukira sudah mati ternyata tidak.

“Sombong banget kamu.”

“Iya.”

“Sok tahu.”

“Iya.”

“Aku besok nggak datang, tuh.”

“Iya,” kata Bimo. “Sampai ketemu besok.”


Aku datang besoknya.

Tentu saja aku datang besoknya.


Bersambung ke Bab 7 — “Hujan Sampai Subuh”