Chapter Thirty Eight

Ringan

POV: Ranti Tokoh: Ranti, Damar, Bimo, Mamad Jumlah kata: ±2.550


Damar menemukanku di kampus.

Itu detail yang penting, dan aku ingin mencatatnya dengan tepat, karena selama berminggu-minggu setelahnya aku terus kembali ke sana.

Bukan di warung. Bukan di gang. Bukan di tempat di mana Bimo bisa melihat.

Di parkiran kampus, hari Sabtu, jam sembilan malam, setelah kelas.

Dia sudah menunggu di dalam mobilnya, dan dia turun waktu aku lewat, dan dia memanggil namaku dengan nada seorang laki-laki yang kebetulan berpapasan dengan kenalan.

“Mbak Ranti.”

Aku berhenti.

Dan hal pertama yang muncul di kepalaku bukan takut.

Yang muncul adalah: dia tau aku kuliah di mana.


“Boleh ngobrol sepuluh menit?”

“Nggak.”

Dia tertawa. “Oke. Fair.”

Dan dia tidak mengejar. Dia berdiri di sebelah mobilnya dengan kedua tangan di saku, dan membiarkanku berjalan tiga langkah sebelum berkata:

“Dia belum cerita, ya?”

Aku berhenti.

Dan aku benci diriku sendiri karena berhenti.

“Saya nggak bakal maksa,” katanya. “Serius. Kalau Mbak jalan sekarang, saya masuk mobil, saya pulang.”

Aku tidak berbalik.

“Tapi Mbak bakal balik ke sini minggu depan,” lanjutnya. “Dan minggu depannya. Dan saya nggak bakal ada di sini.”

“Kamu ngancem?”

“Nggak.” Suaranya benar-benar tenang. “Saya cuma tau gimana rasanya nunggu orang cerita sesuatu yang dia nggak bakal ceritain.”


Aku duduk di kafe seberang kampus.

Aku memilih tempatnya. Aku memilih meja di dekat jendela, di tempat yang terlihat dari jalan. Aku memesan minumanku sendiri dan membayarnya sendiri sebelum dia sempat menawarkan.

Tiga tahun sepuluh bulan di Aurora mengajariku beberapa hal yang berguna.

“Mbak hati-hati banget.”

“Iya.”

“Bagus.” Damar duduk. “Dia juga gitu.”

“Jangan bandingin aku sama dia.”

“Maaf.”

Dan dia menaruh ponselnya di meja, layar ke bawah, dan melipat tangannya.

“Nama saya Damar Wicaksono,” katanya. “Saya co-founder sebuah perusahaan namanya Ringan.”


Aku tidak bereaksi.

Aku ingin sangat jelas soal ini, karena aku sudah memutar momen itu ribuan kali di kepalaku dan aku tidak pernah bisa memaafkan diriku.

Aku tidak bereaksi.

Nama itu masuk ke telingaku dan tidak melakukan apa-apa.

Bukan karena aku tidak mengenalnya. Aku mengenalnya. Nama itu ada di dalam diriku seperti sesuatu yang ditanam — di bawah tempat aku menyimpan bunyi motor di depan rumah, dan bunyi ibuku menutup pintu, dan wajah bapakku waktu tetangga berhenti menyapanya.

Aku mengenalnya.

Aku cuma tidak menyambungkannya.

Karena otakku sudah tiga tahun membangun tembok di antara dua ruangan, dan di satu ruangan ada gang dan warung dan laki-laki yang menyingkirkan udang dari piringku, dan di ruangan lain ada semua yang lain.

Dan malam itu, di kafe seberang kampus, tembok itu masih berdiri.

Selama dua puluh menit lagi.


“Ringan itu apa?”

“Fintech. Pinjaman mikro.” Damar mengangkat bahu. “Dulu buat pedagang kecil. Modal usaha.”

“Terus?”

“Terus jadi besar.” Dia memutar gelasnya. “Unicorn dalam tiga tahun. Itu artinya valuasi di atas satu miliar dolar.”

“Aku tau apa itu unicorn.”

“Oh. Maaf.”

“Terus?”

Dan Damar menatapku.

“Bimo yang bangun sistemnya,” katanya. “Dia CTO. Co-founder.”


Aku menaruh gelasku.

Dan aku duduk di sana selama beberapa detik, dan yang kurasakan bukan kaget.

Yang kurasakan adalah lega.

Aku ingin itu tercatat, karena ini adalah bagian yang paling memalukan dari seluruh cerita ini.

Aku lega.

Karena selama empat bulan aku membayangkan hal-hal yang jauh lebih buruk. Aku membayangkan kejahatan. Aku membayangkan orang mati. Aku membayangkan sesuatu yang membuat laki-laki itu tidak keluar dari gang selama empat tahun.

Dan ternyata dia cuma orang kantoran yang berhenti.

“Terus kenapa dia di gang itu?”

“Nah.” Damar menyandarkan punggungnya. “Itu pertanyaannya.”


Dia bercerita selama dua puluh menit.

Dan dia bercerita dengan sangat baik, dan aku akan mengakui itu, karena kalau aku tidak mengakuinya aku tidak akan bisa menjelaskan kenapa aku duduk di sana sampai selesai.

Seri C. Tekanan pertumbuhan. Dewan direksi yang menuntut angka.

Tiga fitur baru.

“Fitur apa?”

“Yang pertama, bunga harian.” Damar mengangkat satu jari. “Dari bulanan jadi harian. Secara matematis sama, secara psikologis beda — orang lihat angka kecil, jadi mau pinjam.”

Aku tidak bergerak.

“Kedua, akses kontak.”

Dan ada sesuatu yang mulai bergerak di dalam perutku.

“Ketiga,” katanya, “tim penagihan pihak ketiga.”


“Bimo nolak.”

Damar mengangguk.

“Dia nolak semuanya?”

“Nggak. Dia nolak dua.” Dia mengangkat gelasnya, lalu menaruhnya lagi tanpa minum. “Bunga harian dia oke — asal ada batas atas. Dia bikin sistemnya sendiri, dengan cap.”

“Terus dua yang lain?”

“Dia nggak mau tanda tangan rilis.”

“Terus?”

Dan Damar diam beberapa detik.

“Terus dua bulan kemudian dia keluar.”

“Dipecat?”

“Restrukturisasi.” Dia menatap mejanya. “Posisi CTO dihapus, diganti dua posisi baru. Dia nggak masuk ke salah satunya.”

“Itu dipecat.”

“Iya,” kata Damar. “Itu dipecat.”


“Kamu yang ngelakuin?”

Dan laki-laki di seberang meja itu — yang sopan, yang tersenyum bagus, yang sejak awal tidak pernah sekali pun terlihat tidak nyaman — mengangkat kepalanya.

Dan berkata:

“Iya.”

Aku menatapnya.

“Kamu ngaku?”

“Ngapain saya bohong?” Dia mengangkat bahu. “Mbak bakal tau juga.”

“Kenapa?”

“Karena kalau bukan kita yang bikin, orang lain yang bikin.” Dan dia mengucapkannya dengan sangat tenang, seperti seseorang yang sudah dua tahun mengucapkannya kepada dirinya sendiri setiap malam. “Setidaknya kalau kita yang pegang, kita bisa jaga.”

“Kamu jaga?”

Damar tidak menjawab.

“Kamu jaga apa?”

Dan dia memutar gelasnya lagi, dan tidak menatapku, dan berkata:

“Nggak ada.”


Aku ingin pulang.

Aku ingin sangat jelas tentang ini: pada titik itu, aku sudah ingin berdiri dan pulang.

Karena aku sudah tahu cukup. Aku sudah tahu kenapa Bimo di gang itu, kenapa dia tidak menyentuh uangnya, kenapa dia menjual kopi tiga ribu, kenapa dia nombok empat setengah juta sebulan.

Dia sedang membayar sesuatu.

Aku sudah tahu itu dari Bab dua belas, dari satu kata yang dia ucapkan sambil menatap kayu meja panjang.

Bayar.

Aku mengambil tasku.

“Mbak Ranti.”

“Aku udah cukup denger.”

“Satu hal lagi.”

“Nggak.”

“Mbak.”

Dan aku berdiri, dan aku sudah setengah berbalik, dan Damar berkata:

“Enam bulan setelah dia keluar, ada orang meninggal.”


Aku berhenti.

“Pedagang. Di Malang.” Suaranya berubah — untuk pertama kalinya sepanjang malam, suaranya berubah. “Pinjam tiga juta buat modal. Telat bayar. Penagih pihak ketiga nyebar foto KTP-nya ke seluruh kontak di HP-nya.”

Aku tidak bisa bergerak.

“Dua hari kemudian dia gantung diri di gudang tokonya.”

Kafe itu berisik. Ada musik. Ada mesin kopi. Ada orang tertawa di meja sebelah.

“Beritanya keluar jam sebelas malam,” kata Damar. “Bimo baca jam empat pagi.”

Dan aku berdiri di sana dengan tas di bahu.

“Minggu itu juga dia hilang,” katanya. “Dua tahun saya nggak tau dia di mana.”


Aku duduk kembali.

Bukan karena aku memutuskan untuk duduk. Kakiku yang memutuskan.

“Kamu bilang tadi kamu nemu dia tiga bulan lalu.”

“Iya.”

“Gimana?”

Damar mengambil ponselnya. Membalik layarnya. Membuka sesuatu.

Dan menggeser ponsel itu ke arahku.

Di layarnya ada foto. Buram, diambil dari jauh, dari dalam mobil.

Gang. Angka sembilan di atas pintu. Dan seorang laki-laki dengan serbet di bahu, mengangkat kursi.

“Detektif?”

“Bukan.” Damar menggeleng. “Salah satu tim legal saya tinggal di daerah situ. Dia beli kopi.”

Aku memandangi foto itu.

“Terus kamu ke sana empat bulan lalu.”

“Iya.”

“Kenapa nggak masuk?”

Dan Damar mengambil ponselnya kembali, dan menatap layarnya beberapa detik, dan berkata:

“Karena saya lihat dia jualan kopi tiga ribu.”

Dia menaruh ponselnya.

“Dan saya tau persis kenapa,” katanya.


“Kenapa kamu cari dia sekarang?”

“Karena OJK lagi periksa Ringan.”

“Terus?”

“Terus ada gugatan class action.” Damar melipat tangannya. “Dua belas ribu penggugat. Empat bulan lagi masuk pembuktian.”

“Terus kenapa kamu butuh Bimo?”

Dan laki-laki di seberang meja itu diam untuk waktu yang lama.

“Karena dia punya sesuatu,” katanya.

Aku menegakkan badan.

“Punya apa?”

“Dokumen internal. Notulen rapat. Log sistem.” Dia mengangkat bahu. “Dia CTO. Semua keputusan lewat dia dulu.”

“Kamu mau dia kasih ke kamu?”

Dan Damar tertawa — pendek, satu bunyi, tanpa humor sama sekali.

“Nggak, Mbak,” katanya. “Saya mau dia jangan kasih ke siapa-siapa.”


Aku pulang jam sebelas malam.

Aku tidak ingat perjalanannya. Aku tidak ingat naik apa. Aku ingat sampai di kontrakan dan duduk di lantai dan tidak menyalakan lampu.

Dan yang berputar di kepalaku bukan Damar.

Bukan Ringan.

Bukan dua belas ribu penggugat.

Yang berputar di kepalaku adalah tas ransel hitam di rak paling atas gudang, yang beratnya jauh lebih dari dua kilo, dan yang tidak disentuh siapa pun selama empat tahun.

Dan aku menyadari bahwa aku pernah memegangnya.

Aku pernah menarik tas itu keluar dan bertanya Mas, ini apa? dan aku melihat wajah laki-laki itu berubah jadi kosong.

Aku memegang bukti yang dicari dua belas ribu orang, dan aku menaruhnya kembali karena disuruh.


Aku tidur jam empat pagi.

Dan aku bangun jam sembilan dengan sesuatu yang mengganjal di kepala, sesuatu yang tidak nyaman, sesuatu yang tidak selesai.

Aku duduk di kasur.

Dan aku memutar ulang seluruh percakapan itu dari awal.

Fintech. Pinjaman mikro. Buat pedagang kecil. Modal usaha.

Bunga harian.

Akses kontak.

Tim penagihan pihak ketiga.

Pinjam tiga juta buat modal. Telat bayar. Penagih nyebar foto KTP-nya ke seluruh kontak di HP-nya.

Aku berhenti bernapas.


Aku mengambil ponselku.

Aku membuka galeri.

Aku menggulirnya ke bawah — jauh, jauh, jauh ke bawah, ke tahun-tahun yang sudah lama tidak kubuka — dan aku mencari satu folder yang kubuat di tahun pertama dan tidak pernah kusentuh lagi.

Namanya cuma titik.

Aku membukanya.

Ada empat belas gambar di dalamnya. Screenshot. Semuanya dari tahun yang sama.

Aku membuka yang pertama.

Foto KTP bapakku, dengan tulisan merah besar di atasnya.

Dan di pojok kiri atas screenshot itu — kecil, tapi ada, karena aku memotretnya dari layar ponsel ibuku dan aku tidak sempat memotongnya — ada notifikasi aplikasi.

Sebuah logo.

Dan sebuah nama.

Aku duduk di lantai kamar kontrakanku, jam sembilan pagi, dengan ponsel di tangan yang bergetar sangat hebat sampai aku hampir menjatuhkannya.

Dan aku menatap nama itu.

Empat huruf.

RINGAN.


Bersambung ke Bab 39 — “Tiga Juta”