Chapter Thirteen

Skincare

POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Mamad, Yuni Jumlah kata: ±2.400


Ini dimulai karena aku bosan, dan karena Bimo punya lingkaran hitam di bawah matanya yang sudah tiga hari makin parah, dan karena aku adalah orang yang tidak bisa membiarkan sesuatu begitu saja.

“Mas.”

“Ya.”

“Kamu tidur berapa jam?”

“Cukup.”

“Berapa jam.”

“Empat.”

“Empat?”

“Kadang tiga.”

Aku menaruh sendokku.

“Mas, itu nggak sehat.”

“Iya.”

“Kamu tau nggak sehat tapi tetep?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Bimo mengangkat bahu, dan mulai mengiris sesuatu, yang merupakan caranya mengakhiri percakapan sejak minggu pertama.

Jadi aku melakukan hal lain.

Aku mengeluarkan tas kecilku dan menaruhnya di meja panjang dengan bunyi yang cukup keras untuk membuatnya menoleh.

“Apa itu.”

“Duduk.”

“Ran—“

“Duduk, Mas.”


Yang perlu kau tahu adalah bahwa aku punya perlengkapan lengkap.

Bukan karena aku suka. Karena itu bagian dari pekerjaan. Wajahku adalah alat kerja, dan alat kerja harus dirawat, dan aku sudah tiga tahun merawatnya dengan disiplin seorang tentara.

Toner. Serum. Pelembap. Krim mata. Sunscreen yang tidak akan dia pakai karena dia tidak pernah keluar siang hari, tapi kubawa saja.

Aku menyusunnya di meja panjang dalam satu baris rapi.

Bimo memandanginya seperti orang memandangi peralatan bedah.

“Ini apa.”

“Skincare.”

“Buat apa.”

“Buat muka kamu.”

“Muka saya kenapa.”

“Rusak.”

Bimo menyentuh pipinya sendiri dengan punggung tangan, sekali, seperti orang memeriksa apakah kompor sudah mati.

“Nggak berasa rusak.”

“MAS.”


Dia menurut, akhirnya, dengan sikap seorang laki-laki yang sudah menghitung bahwa melawan akan makan waktu lebih lama daripada menurut.

Dia duduk di kursi. Menghadapku. Dengan tangan di paha, punggung tegak, seperti orang menunggu giliran di kantor kelurahan.

“Rileks, Mas.”

“Saya rileks.”

“Kamu duduknya kayak mau disuntik.”

“Ini gimana caranya.”

“Merem aja.”

Dia merem.

Dan aku berdiri di depannya, dengan kapas di tangan, dan tiba-tiba menyadari satu hal:

Aku belum pernah melihat wajahnya sedekat ini.


Empat minggu. Setiap malam. Dan selalu ada meja panjang di antara kami.

Sekarang tidak ada.

Aku bisa melihat bahwa ada bekas luka kecil di alisnya, sebelah kiri, sepanjang mungkin satu senti. Aku bisa melihat bahwa bulu matanya lebih panjang dari yang seharusnya dimiliki laki-laki mana pun secara adil. Aku bisa melihat bahwa lingkaran di bawah matanya bukan cuma kurang tidur — itu warna yang butuh bertahun-tahun untuk terbentuk.

Aku bisa melihat bahwa dia tidak mencukur dengan rapi hari itu, di bagian bawah rahang, di titik yang orang biasanya lewatkan.

Dan aku bisa mendengar napasnya.

“Ran.”

“Iya?”

“Lama.”

“Sabar.”

“Kamu belum ngapa-ngapain dari tadi.”

“...Iya. Bentar.”

Aku menempelkan kapas ke pipinya.

Dan seluruh tubuh laki-laki itu menegang seperti orang yang baru saja kejatuhan es.


“Mas.”

“Ya.”

“Kamu kaget?”

“Nggak.”

“Bahu kamu naik sepuluh senti.”

“Nggak sepuluh.”

“Berapa?”

“...Dua.”

Aku menggigit bibirku supaya tidak tertawa.

Aku melanjutkan. Pelan. Toner di kapas, disapukan ke pipi kiri, ke pipi kanan, ke dahi, ke hidung.

Bimo tetap merem. Tapi tangannya, yang tadi di paha, sekarang mencengkeram lututnya sendiri.

“Sakit, Mas?”

“Nggak.”

“Terus kenapa tangan kamu gitu?”

“Nggak apa-apa.”

“Mas.”

“Ran.”

“Iya?”

“Cepetan.”

Dan suaranya — suara laki-laki yang selalu datar, yang selalu pendek, yang tidak pernah dalam empat minggu ini terdengar seperti sedang meminta sesuatu — keluar dengan setengah oktaf lebih rendah dari biasanya.

Aku hampir menjatuhkan kapasnya.


Aku melanjutkan ke serum, karena aku keras kepala dan karena aku sudah terlanjur.

“Ini serum. Tiga tetes.”

“Buat apa.”

“Buat bikin kamu keliatan kayak manusia.”

“Sekarang kayak apa.”

“Kayak orang yang tidur di kursi selama empat tahun.”

“Oh.” Jeda. “Itu bener.”

Aku meneteskannya ke telapak tanganku, menghangatkannya, dan menempelkannya ke wajahnya dengan kedua tangan.

Kedua tangan. Di kedua sisi wajahnya.

Bimo berhenti bernapas.

Aku tahu karena aku bisa merasakannya di bawah telapak tanganku — bahwa dadanya yang tadi naik turun mendadak diam, dan diam itu berlangsung selama, mungkin, empat detik penuh.

“Mas.”

“...Hm.”

“Napas.”

“Iya.”

“Kamu nggak napas.”

“Iya.”

“Kenapa nggak napas?”

Dan Bimo, dengan mata masih terpejam, dengan wajahnya di antara kedua telapak tanganku, berkata:

“Nggak tau.”


Warung itu sunyi.

Kipas berputar. Kulkas berdengung. Di luar ada anjing menggonggong dua kali lalu diam.

Dan aku berdiri di sana dengan tangan di wajah seorang laki-laki, jam empat pagi, dan aku tahu — aku tahu dengan sangat jelas — bahwa aku sedang berada di persimpangan.

Aku bisa mundur. Menepuk pipinya. Bilang “udah selesai” dengan nada bercanda. Mengemasi botol-botolku. Kembali ke kursiku. Semuanya akan kembali seperti semula.

Atau aku bisa melakukan hal yang sedang diminta oleh setiap sel di tubuhku, yaitu tidak melepaskan tanganku.

Aku memilih yang ketiga, yang merupakan hal paling khas Ranti Wulansari yang pernah kulakukan seumur hidupku.

Aku menekan pipinya ke dalam, dengan kedua tangan, sampai mulutnya monyong.

“MAS BEBEK.”

Mata Bimo terbuka.

“Ran.”

“KAMU LUCU BANGET.”

“Ran.”

“Sebentar aja.”

“Lepasin.”

“Nggak mau.”

“Ran.”

“Coba bilang ‘aku bebek’.”

“Nggak.”

“Bilang.”

Nggak.

Aku tertawa sampai harus melepaskan tanganku karena tidak bisa berdiri lurus, dan Bimo menggosok pipinya sendiri dengan wajah orang yang martabatnya baru saja dihancurkan di depan umum, dan Mamad — yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu belakang entah sejak kapan — berkata:

“Bang, sampeyan kayak anak kecil dicubit ibunya.”

“Kamar mandi, Mad.”

“Bang, tapi—“

Kamar mandi.


Aku menyelesaikan sisanya dalam keadaan yang jauh lebih aman, karena aku sudah merusak suasananya sendiri dan itu memang tujuanku.

Pelembap. Krim mata.

“Ini yang di bawah mata. Pelan-pelan, jangan digosok.”

“Kenapa.”

“Kulitnya tipis.”

“Oh.”

“Nih, pakai jari manis. Yang paling lemah tenaganya.”

Bimo memakai jari manisnya. Dengan hati-hati. Dengan konsentrasi yang sama seperti waktu dia membetulkan engsel pintu kamar mandi.

Dan aku berdiri di situ, memperhatikan seorang laki-laki berumur tiga puluhan mengoleskan krim mata dengan keseriusan seorang teknisi, dan aku merasakan sesuatu di dadaku yang sangat hangat dan sangat menakutkan.

“Gini?”

“Iya. Bener.”

“Berapa lama?”

“Sampai meresap.”

“Berapa menit.”

“Mas, ini bukan resep obat.”

“Saya butuh angka.”

“YA TIGA PULUH DETIK LAH.”

“Oke.”

Dan dia benar-benar menghitung. Aku bisa melihat matanya bergerak sedikit, cara yang sama seperti waktu dia menghitung bunga majemuk Pak Har, dan aku harus berbalik dan berpura-pura mencari sesuatu di tasku supaya dia tidak melihat wajahku.


Menjelang subuh, saat aku sedang membereskan botol-botolku, Bimo berkata:

“Ran.”

“Ya?”

“Berapa.”

“Apanya?”

“Ini.” Dia menunjuk wajahnya sendiri. “Yang kamu pakai tadi. Berapa harganya.”

“Mas, ini punyaku.”

“Iya. Makanya.”

“Nggak usah.”

“Ran.”

“Nggak usah, Mas.”

Dan Bimo — yang selama empat minggu ini memberi makan aku, memberi jaket, membetulkan sandalku, memasak ikan bakar dua jam untuk orang yang belum tentu datang — berdiri di balik meja panjang dengan wajah yang sangat, sangat tidak nyaman.

Dan aku menyadari sesuatu.

“Mas.”

“Hm.”

“Kamu nggak bisa nerima, ya?”

“Bisa.”

“Bohong.”

“Bahu saya—“

“Kamu jawabnya kecepetan.”

Bimo diam.

Aku melipat tanganku di meja panjang dan menatapnya, dan untuk pertama kalinya dalam empat minggu, akulah yang punya pijakan lebih tinggi.

“Empat minggu, Mas,” kataku. “Kamu udah kasih aku makan hampir tiap hari. Kamu kasih jaket. Kamu benerin sandalku. Kamu bikin soto tiga kali buat orang yang nggak datang.”

“Itu beda.”

“Beda gimana?”

“Ya beda.”

“Jelasin.”

Bimo mengambil serbet. Melipatnya. Membuka lipatannya. Melipatnya lagi.

“Kalau saya yang ngasih, itu urusan saya,” katanya akhirnya. “Kalau saya yang nerima, itu jadi utang.”

Warung itu sunyi.

Dan aku, dengan botol serum di tangan, mendengar suaraku sendiri berkata:

“Mas.”

“Hm.”

“Itu persis yang aku bilang ke kamu tiga minggu lalu.”

Bimo berhenti melipat serbetnya.

Dia tidak menjawab. Tidak juga menatapku.

Tapi aku melihat sesuatu bergerak di rahangnya, sekali, seperti orang menelan sesuatu yang tidak enak.

“Mas.”

“Ran, jahenya udah dingin. Saya ganti.”

“Mas.”

Saya ganti.

Dan dia masuk ke dapur, dan itu pertama kalinya aku mendengar Bimo Prayoga meninggikan suaranya kepada siapa pun.


Aku pulang jam setengah enam dengan tas skincare-ku yang sudah lengkap kembali.

Kecuali satu.

Aku meninggalkan krim mata itu di meja panjang, di sebelah kaleng biskuit tempat menyimpan sendok, tanpa berkata apa-apa.

Dan tiga malam kemudian, ketika aku datang lagi, krim itu sudah tidak ada di meja.

Aku mencarinya diam-diam, sambil pura-pura mengambil tisu, dan aku menemukannya di rak kecil dekat pintu dapur, di sebelah obeng dan lampu senter dan kotak P3K.

Sudah terpakai sepertiga.

Aku tidak berkata apa-apa tentang itu.

Dan Bimo juga tidak.

Tapi lingkaran di bawah matanya berkurang sedikit selama dua minggu berikutnya, dan aku menghitung itu sebagai kemenangan terbesar dalam hidupku sejauh ini.


Bersambung ke Bab 14 — “Jaket, Lagi”