Chapter Fifty Six

Extra 4 — Rumah

POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Sumi, Mamad, Bu Yatmi, Bu Sri, Dimas Jumlah kata: ±2.550


Rumahnya jadi delapan bulan kemudian.

Dan aku ingin mencatat bahwa Bimo tidak membeli rumah.

Dia membeli tanah — tiga ratus delapan puluh meter dari Warung Sembilan, di gang sebelah yang lebih lebar, sudut, dua ratus lima puluh meter persegi — dan membangunnya dari nol.

Dan waktu aku bertanya kenapa tidak beli yang jadi saja, dia berkata:

“Karena yang jadi nggak ada yang cocok.”

“Cocok gimana?”

Dan dia mengeluarkan kertas HVS lagi.

Kali ini bukan daftar rumah.

Denah.

Digambar tangan, dengan pensil, dengan penggaris, dengan ukuran yang ditulis di setiap sisi.


“Mas.”

“Hm.”

“Ini apa?”

“Denah.”

“Kamu bikin sendiri?”

“Iya.”

“Kapan?”

Dan Bimo mengiris bawang.

“Empat bulan.”

“EMPAT BULAN?”

“Iya.”

Dan aku duduk di kursi kayu di warung jam sepuluh malam dan membaca kertas itu, dan aku menemukan hal-hal yang membuatku harus meletakkannya dua kali.

Dapur. Enam kali empat meter. Lebih besar dari ruang tengahnya.

Dengan catatan di margin, tulisan tangan yang jelek: kompor 4 tungku, island di tengah, jendela besar menghadap timur biar pagi terang.

Kamar utama. Dengan kamar mandi di dalam, yang tidak pernah kupunya seumur hidupku.

Kamar Sumi. Dengan catatan: jendelanya jangan yang bisa dibuka anak kecil.

Ruang kerja. Tiga kali tiga meter.

Dengan catatan: buat Ranti. Meja panjang, rak buku, jangan ada TV.


Aku memandangi kotak kecil itu di kertas.

“Mas.”

“Ya.”

“Ini apa?”

“Ruang kerja.”

“Buat siapa?”

“Ya buat kamu.”

Dan aku mengangkat kepalaku.

“Mas, aku nggak punya kerjaan yang butuh ruangan.”

Dan Bimo menaruh pisaunya.

Dan berjalan ke arahku, dan mengambil kertas itu dari tanganku, dan menunjuk kotak itu dengan jarinya.

“Ran, sembilan tahun kamu ngerjain pembukuan di meja panjang warung,” katanya. “Di antara piring kotor.”

Aku menutup mulutku.

“Terus kamu kuliah dua tahun tiga bulan, ngerjain tugas di meja yang sama, jam dua pagi, sambil nunggu warung tutup.”

Dan dia menaruh kertas itu kembali.

“Sekarang kamu punya empat warung,” katanya. “Dan kamu masih ngitung di meja yang sama.”

Dan aku tidak bisa menjawab apa pun.


Aku bertanya soal uangnya malam itu juga.

Karena aku Ranti Wulansari dan aku akan bertanya soal uang di setiap situasi sampai aku mati.

“Mas.”

“Hm.”

“Ini berapa?”

Dan Bimo menyebutkan angkanya.

Dan aku menaruh gelasku.

“Mas.”

“Iya.”

“Itu banyak banget.”

“Iya.”

“Kamu punya?”

Dan dia mengangkat kepalanya dari talenan.

“Ran.”

“Iya?”

Dan Bimo berkata:

“Kamu tau saya punya.”


Aku ingin menjelaskan ini sekali, dan setelah itu aku tidak akan membahasnya lagi.

Bimo punya uang.

Sejak dulu. Sejak sebelum aku mengenalnya. Dari penjualan sahamnya waktu dia keluar dari Ringan, di rekening yang tidak pernah dia buka selama empat tahun karena dia menganggapnya uang darah.

Dan dia sudah menyerahkan sebagian besarnya — ke yayasan bantuan hukum yang mendampingi para penggugat, dua bulan setelah putusan itu keluar, atas nama seseorang yang tidak mau disebut.

Sebagian besar. Bukan semuanya.

Dan sisanya diam di sana selama dua tahun lagi karena laki-laki itu tidak bisa menyentuhnya tanpa merasa bersalah.


“Mas.”

“Ya.”

“Kamu yakin?”

Dan Bimo mengelap tangannya di serbet.

Dan berjalan ke arahku, dan duduk di kursi di seberangku, dan menatapku.

“Ran, saya mau nanya sesuatu.”

“Nanya.”

“Kamu inget nggak, waktu Sumi demam tinggi tahun lalu?”

Aku mengangguk.

“Kita naik motor jam dua pagi ke klinik. Hujan.”

“Iya.”

“Dan kamu meluk dia di depan, di dalam jas hujan, sambil nangis.”

Aku menutup mataku.

“Mas—“

“Dan saya nyetir di belakang kamu,” katanya. “Dan saya punya uang di rekening yang cukup buat beli sepuluh mobil.”

Warung itu sunyi.

“Dan saya nggak nyentuh sepeser pun,” katanya. “Karena saya sibuk ngurusin apakah saya pantes.”

Dan dia menatapku.

“Ran, itu bukan mulia.”

Aku mengangkat kepalaku.

“Itu egois,” katanya. “Karena yang basah kuyup bukan saya. Yang demam bukan saya.”


Aku menangis di meja panjang warung jam sebelas malam.

Dan Bimo tidak berdiri untuk menghiburku.

Dia duduk di seberangku dan menunggu sampai aku selesai, seperti yang selalu dia lakukan.

“Mas.”

“Hm.”

“Kamu bilang itu ke siapa?”

Dia mengerutkan kening.

“Maksudnya?”

“Kalimat barusan.” Aku menghapus mataku. “Itu bukan kalimat yang kamu susun sendiri.”

Dan Bimo memandangi meja panjang itu.

“Bu Yatmi,” katanya.

“...Serius?”

“Delapan bulan lalu. Beliau ngomel empat puluh menit.”

“Ngomel kenapa?”

Dan Bimo mengangkat bahu.

“Karena saya bilang saya lagi mikir-mikir soal rumah,” katanya. “Terus beliau nanya mikir apa. Terus saya bilang mikir apakah pantes.”

Dan aku menutup wajahku dengan kedua tangan.

“Terus beliau bilang apa?”

Dan Bimo berkata:

“Beliau bilang: ‘Bim, anak kamu tidur di sebelah lemari yang bikin jidatnya benjol tiga kali. Kamu mikirin diri kamu sendiri terus.’”


Rumahnya selesai sepuluh bulan.

Dan aku ikut setiap tahap, karena aku tidak percaya siapa pun dengan uang sebanyak itu termasuk suamiku sendiri, dan karena ternyata aku sangat suka.

Aku suka memilih keramik. Aku suka berdebat dengan tukang soal posisi stopkontak. Aku suka berdiri di ruangan yang belum ada temboknya dan membayangkan lemari.

Dan Bimo membiarkanku memutuskan hampir semuanya.

Kecuali dua hal.

Satu: dapur. Dia mengambil alih dapur sepenuhnya dan aku menyerah setelah tiga hari berdebat tentang ketinggian meja.

“Mas, itu ketinggian.”

“Buat kamu iya. Buat saya nggak.”

“Ya berarti terlalu tinggi.”

“Ran, saya yang masak.”

Dan dia benar, dan aku membenci itu.

Dua: dan yang ini membuatku diam.

Halaman belakang.


“Mas, halaman belakangnya mau diapain?”

“Jambu.”

Aku menoleh.

“Apa?”

“Pohon jambu. Di tengah.”

“Mas, jambu itu asem.”

“Iya.”

“Sumi nggak bakal suka.”

Dan Bimo memandangi tanah kosong itu.

“Rumah ibu kamu ada jambunya,” katanya.

Dan aku berdiri di halaman belakang rumah yang belum jadi, di antara tumpukan pasir dan besi, dan aku tidak bisa berkata apa-apa selama dua menit.


Kami pindah bulan Agustus.

Dan aku ingin mendeskripsikan rumah itu, karena aku menghabiskan sepuluh bulan memikirkannya dan aku berhak.

Satu lantai. Minimalis — garis lurus, tembok putih, kusen kayu warna gelap, atap datar sebagian.

Ruang tengahnya menyatu dengan dapur, dipisahkan cuma oleh island dari beton yang dilapis kayu, yang berfungsi sebagai meja makan sekaligus tempat Bimo memotong bawang sambil mengawasi Sumi bermain di karpet.

Jendelanya besar. Semuanya. Menghadap timur, seperti yang dia tulis di margin sepuluh bulan sebelumnya, sehingga jam tujuh pagi seluruh ruang tengah berwarna kuning.

Dan tidak ada satu pun ruangan di rumah itu yang menghadap tembok bangunan sebelah.


Dan ada AC.

Aku menyebutkannya secara khusus karena aku menangis waktu tukangnya memasangnya, dan Bimo tidak mengerti kenapa, dan aku tidak bisa menjelaskannya waktu itu.

Aku bisa menjelaskannya sekarang.

Tiga tahun sepuluh bulan di Aurora, aku pulang jam empat pagi ke kontrakan yang panas dan tidur dengan kipas angin yang bunyinya seperti orang batuk.

Sembilan tahun di kamar belakang warung, aku tidur di ruangan yang jendelanya menghadap tembok dan yang tidak pernah benar-benar dingin.

Dan bulan Agustus itu, aku berbaring di kamar dengan AC menyala jam dua siang, di rumahku sendiri, dengan anak berumur tiga tahun tidur di sebelahku.

Dan aku menangis lagi.

Dan Bimo masuk dan berdiri di ambang pintu.

“Ran.”

“Nggak apa-apa.”

“Ran.”

Dan aku mengangkat tanganku.

Dan dia berjalan ke kasur dan berbaring di sisi lain, dengan Sumi di antara kami, dan menggenggam tanganku di atas anak itu.

Dan kami tidur siang bertiga di hari pertama kami di rumah itu.


Mamad datang di minggu pertama dan berdiri di ruang tengah selama lima menit tanpa berkata apa-apa.

“Mad.”

“Mbak.”

“Kenapa?”

Dan anak itu — dua puluh tiga tahun, yang lima tahun tidur di kamar belakang warung — berkata:

“Ini rumah beneran, Mbak.”

“Mad—“

“Nggak, saya bukan lagi—“ Dan dia menghapus matanya dengan lengan bajunya. “Saya seneng banget, Mbak.”

Dan Bimo, dari dapur, berkata:

“Mad.”

“Iya, Bang!”

“Kamar tamunya ada.”

Dan Mamad berbalik terlalu cepat.

“...Apa, Bang?”

Dan Bimo tidak mengulanginya.

Dia cuma menunjuk pintu di ujung lorong dengan pisaunya, dan kembali ke bawangnya.


Ibuku datang di bulan ketiga.

Dan dia berjalan mengelilingi rumah itu selama sepuluh menit tanpa berkata apa-apa, dan aku mengikutinya di belakang seperti anak kecil yang menunggu nilai ujiannya dibacakan.

Dan waktu selesai, dia berhenti di halaman belakang.

Di depan pohon jambu yang masih setinggi pinggang.

“Ran.”

“Iya, Bu?”

Dan ibuku memandangi pohon itu.

“Ibu sama bapak kamu nikah tiga puluh empat tahun,” katanya. “Rumah kami nggak pernah ada AC-nya.”

“Bu—“

“Ibu nggak lagi ngeluh.” Dan dia menoleh, dan matanya basah, dan dia tidak menghapusnya. “Ibu lagi bilang bahwa Ibu seneng banget anak Ibu punya.”

Dan aku memeluk ibuku di halaman belakang rumahku sendiri selama lima menit.


Dimas datang bulan berikutnya, dari Surabaya, dan reaksinya jauh lebih tidak sopan.

“MBAK.”

“Apa.”

“INI GILA.”

“Dim—“

“Dapurnya lebih gede dari kontrakan aku.”

“DIM.”

Dan adikku berjalan mengelilingi island dapur itu tiga kali sambil menggeleng-geleng.

“Mas Bimo.”

“Ya.”

“Mas ini sebenernya orang kaya, ya?”

Dan Bimo, yang sedang memotong bawang di island itu, tidak berhenti memotong.

“Nggak,” katanya.

“Mas—“

“Kakak kamu yang kaya,” katanya. “Dia punya empat warung.”

Dan Dimas menoleh ke arahku dengan wajah yang membuatku harus keluar ruangan.


Malam pertama kami di rumah itu, jam sebelas, Sumi sudah tidur.

Dan aku menemukan Bimo di ruang tengah.

Duduk di lantai. Bersandar ke sofa yang baru dikirim tiga hari lalu. Dengan gitar di pangkuannya.

Aku duduk di lantai di sebelahnya dan menyandarkan kepalaku ke bahunya.

“Mas.”

“Hm.”

“Kamu ngapain?”

Dan dia berkata:

“Nyoba.”

“Nyoba apa?”

Dan Bimo memandangi ruangan itu — tembok putih, jendela besar, dapur di seberang, lampu yang kupilih selama tiga minggu.

“Nyoba percaya bahwa ini rumah saya,” katanya.

Dan aku mengambil tangannya dan menaruhnya di senar.

“Mas.”

“Ya.”

“Main.”

“Ran—“

“Rumah jadi rumah kalau ada bunyinya.”

Dan dia memandangiku selama tiga detik.

Lalu dia main.


Dan di tengah lagu, pintu kamar terbuka.

Dan Sumi berdiri di ambangnya dengan rambut berdiri ke segala arah dan kain kuning di tangan.

Dan Bimo berhenti.

“Bapak.”

“Iya.”

“Bunyi.”

Dan Sumi berjalan ke arahnya dengan langkah anak umur tiga tahun yang setengah tidur, dan duduk di lantai di depan kakinya, dan berkata:

“Lagi.”


Aku duduk di lantai ruang tengah rumah kami sendiri jam setengah dua belas malam.

Dan aku menonton suamiku memainkan gitar yang dibelikan ibunya waktu dia kelas dua SMA, di depan anak perempuan berumur tiga tahun yang namanya diambil dari nama perempuan itu.

Dan aku berpikir: sembilan tahun lalu aku berdiri di ambang pintu sebuah warung jam empat pagi dengan sepatu di tangan.

Dan sekarang aku duduk di lantai rumahku sendiri.

Dan tidak ada satu pun bagian dari ini yang kudapat dengan cara yang membuatku harus menunduk.


Bersambung ke Extra 5 — “Konsultan”