Chapter Twenty
Zirah
POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Mamad, Yuni Jumlah kata: ±2.500
Aku bangun jam tiga pagi karena kepalaku sudah tidak panas lagi.
Itu hal pertama yang kusadari — bahwa aku bisa berpikir jernih untuk pertama kalinya dalam tiga hari. Bantalku kering. Napasku normal. Ada rasa pahit obat di lidahku.
Hal kedua yang kusadari adalah bahwa aku tidak sendirian.
Aku duduk.
Dan aku menoleh ke bawah.
Dia tidur di lantai.
Bersandar ke dinding, di sisi kasur yang paling jauh dari kepalaku, dengan kaki ditekuk dan kepala jatuh ke belakang menyentuh tembok. Posisi yang tidak mungkin nyaman untuk siapa pun.
Tidak ada bantal. Tidak ada alas.
Cuma lantai keramik dan seorang laki-laki berumur tiga puluh empat tahun yang tertidur dengan cara yang akan membuat lehernya sakit selama tiga hari.
Dan di sebelahnya, di lantai: baskom kecil berisi air, dengan handuk kecil di dalamnya.
Kompres.
Aku menyentuh dahiku sendiri.
Masih agak lembap.
Yang terjadi berikutnya berlangsung sekitar dua menit, dan aku sudah memutar ulang dua menit itu di kepalaku lebih sering daripada apa pun yang pernah terjadi dalam hidupku.
Aku memandanginya.
Dan yang muncul di dadaku bukan hangat.
Aku ingin sangat jelas tentang ini, karena semua orang salah membayangkan bagian ini. Mereka pikir ada momen manis. Ada rasa aman. Ada perasaan diselamatkan.
Yang kurasakan adalah teror.
Dingin, tajam, naik dari perut ke tenggorokan, dengan kecepatan yang membuatku harus memegang kasur supaya tidak jatuh.
Karena aku memandangi laki-laki yang tidur di lantai kamarku, dan otakku — otak akuntansi sialan yang tidak pernah bisa berhenti — melakukan hal yang selalu dia lakukan.
Dia menghitung.
Yang dia korbankan malam ini:
Warung yang tidak pernah tutup dalam empat tahun, tiga bulan, sembilan belas hari. Tutup dua belas jam.
Pendapatan satu malam. Dia rugi setiap bulan, jadi ini menambah rugi.
Tiga puluh orang di gang itu yang datang jam sepuluh, jam dua belas, jam dua, jam tiga, jam empat — semuanya menemukan pintu terkunci.
Pak Sunar tidak dapat ubi rebusnya malam ini.
Tidurnya. Empat jam yang biasa, hilang, diganti lantai keramik.
Punggungnya. Lehernya.
Yang dia dapat:
Tidak ada.
Aku menghitungnya tiga kali. Aku mencari kolomnya. Aku mencari bagian di mana ini menguntungkannya, bagian di mana ada sesuatu yang bisa dia tagih nanti, bagian di mana aku bisa menaruh ini sebagai transaksi.
Tidak ada.
Dan begitu aku sampai di kesimpulan itu, hal berikutnya yang muncul di kepalaku bukan rasa syukur.
Yang muncul adalah:
Berapa lama lagi sampai dia sadar aku nggak sepadan?
Napasku jadi pendek.
Aku menekan mulutku dengan tangan karena aku tidak mau membangunkannya, dan aku duduk di sana di dalam gelap dan mencoba bernapas normal dan gagal.
Karena sekarang aku bisa melihat seluruh bentuknya.
Bukan cuma malam ini. Delapan minggu.
Jaket. Sandal. Minyak angin. Soto tiga kali. Ikan bakar dua jam. Kursi panjang. Selimut yang ditarik naik dua senti. Bubur. Jangan bales. Sprei yang diganti. Lantai keramik.
Semuanya menuju ke satu arah, dan arah itu punya nama, dan aku sudah tahu namanya sejak minggu lalu di antrean minimarket.
Dan sekarang aku juga tahu hal lain.
Bahwa laki-laki ini akan terus melakukannya.
Bahwa dia tidak akan berhenti sendiri.
Bahwa dia akan terus memberi, dan terus tidak menagih, dan terus tidak menghitung — sampai suatu hari nanti, entah tiga bulan atau tiga tahun lagi, dia akan berdiri di suatu tempat dengan seseorang bertanya ”itu siapa?” dan dia harus menjawab.
Dan pada hari itu, dia akan menghitung.
Semua orang akhirnya menghitung.
Dan ketika dia menghitung, dia akan menemukan apa yang sudah kutemukan bertahun-tahun lalu: bahwa angkanya tidak masuk.
Aku berbaring lagi.
Membelakanginya.
Dan aku tidak tidur sampai pagi.
Yang kuputuskan di dalam gelap itu adalah ini:
Aku tidak akan berhenti datang. Aku sudah mencoba dan aku tidak bisa dan aku sudah berhenti berpura-pura bisa.
Tapi aku akan berhenti membiarkan dirinya salah menilai.
Selama delapan minggu, laki-laki itu melihat versi diriku yang duduk di kursi kayu jam empat pagi tanpa sepatu, yang bercerita tentang bapaknya, yang tertawa dengan bunyi yang jelek.
Versi itu bohong.
Bukan bohong — tidak lengkap. Itu satu jam dari dua puluh empat jam. Itu satu ruangan dari seluruh hidupku.
Dan dia jatuh — atau apa pun namanya, apa pun yang sedang terjadi di kepalanya — dia jatuh ke versi yang tidak lengkap itu.
Jadi aku akan melengkapinya.
Aku akan menunjukkan sisanya.
Bukan untuk menyakitinya. Aku ingin sangat jelas soal ini, karena nanti akan ada bagian di mana aku terlihat kejam dan aku tidak ingin ada yang salah paham.
Aku melakukannya supaya dia bisa memilih dengan data yang benar.
Itu yang kukatakan pada diriku sendiri di dalam gelap, jam tiga pagi, sambil membelakangi laki-laki yang tidur di lantai kamarku.
Dan itu bohong.
Aku baru menyadari bahwa itu bohong sekitar sebelas bab kemudian.
Aku mulai malam berikutnya.
“Mas. Kangen, nggak?”
“Duduk.”
“Aku nanya, loh.”
“Duduk, Ran.”
Aku duduk.
Dan aku memulai.
Aku tidak akan menuliskan semuanya, karena membacanya kembali membuatku ingin menutup wajah.
Tapi ini gambarannya.
Malam pertama, aku bercerita tentang pelanggan. Bukan yang menyenangkan. Aku bercerita tentang berapa yang mereka bayar per jam, tentang bagaimana cara menghitung tip, tentang laki-laki yang datang tiap Jumat dan menyuruhku memanggilnya “Papa” dan bagaimana aku melakukannya karena tarifnya dua kali lipat.
Aku menceritakannya sambil tertawa. Aku memakai kata-kata yang paling telanjang yang kupunya.
Bimo mendengarkan sampai selesai.
Lalu berkata: “Kamu belum makan.”
Malam kedua, aku menggoda dengan cara yang berbeda dari biasanya. Bukan yang lucu. Yang lain. Yang biasanya kupakai di ruangan dengan lampu redup dan tagihan yang sudah dibayar di muka.
Aku menyebutkan hal-hal yang spesifik. Aku menggunakan kalimat-kalimat yang sudah kuhafal karena aku mengucapkannya lima kali seminggu.
Dan aku memperhatikan wajahnya sepanjang waktu, mencari sesuatu — jijik, atau lapar, atau apa pun yang akan memberiku pijakan.
Bimo menaruh gelas jahe di depanku.
“Jangan yang itu,” katanya.
“Kenapa?”
“Karena kamu nggak lagi kerja.”
Malam ketiga, aku datang langsung dari shift tanpa menghapus riasan, dengan baju kerja, dengan sepatu sembilan senti. Aku duduk di kursi paling dekat meja panjang dan aku menyilangkan kaki dan aku memperlakukan warung itu persis seperti aku memperlakukan ruangan di Aurora.
Setiap gerakan yang sudah kulatih selama tiga tahun. Semuanya.
Mamad menjatuhkan piring.
Bimo mengelap meja.
Dan menjelang subuh, dia berkata: “Sepatunya dilepas. Kaki kamu bengkak.”
Malam keempat, aku menyerang lebih keras.
“Mas.”
“Ya.”
“Kamu tau nggak, aku udah tidur sama berapa orang?”
Warung sepi. Mamad di belakang. Jam empat lewat dua puluh.
Pisau itu terus mengiris.
“Nggak.”
“Mau tau?”
“Nggak.”
“Kok nggak mau tau?”
“Bukan urusan saya.”
“Mas.” Aku mencondongkan badan. “Kamu tuh lagi suka sama aku, kan?”
Dan itu — itu — adalah kalimat paling kejam yang pernah kuucapkan kepada siapa pun seumur hidupku.
Karena aku mengucapkannya dengan nada bercanda.
Aku menaruh pertanyaan yang sudah delapan minggu menggantung di antara kami, pertanyaan yang laki-laki itu janjikan akan dia jawab kalau aku menanyakannya dengan serius — dan aku mengucapkannya seperti lelucon.
Aku merusaknya lebih dulu. Supaya jawabannya tidak bisa dianggap serius oleh siapa pun, termasuk aku.
Pisau itu berhenti.
Bimo meletakkannya.
Dan menatapku dari seberang meja panjang, dan wajahnya — untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya — bukan datar.
“Ran.”
“Iya?”
“Kamu lagi ngapain.”
“Nanya.”
“Nggak.” Dia melipat serbetnya, lalu tidak menaruhnya, cuma memegangnya. “Kamu lagi ngapain.”
“Aku bercanda, Mas. Kayak biasa.”
“Nggak kayak biasa.”
“Sama aja.”
“Ran.” Dan suaranya berubah, turun setengah oktaf, jadi suara yang kudengar cuma sekali sebelumnya — waktu ada kebakaran kecil di gang dan semua orang menurut tanpa bertanya. “Kamu nggak kayak gini.”
Aku memasang senyumku.
“Kamu nggak tau aku kayak gimana.”
“Iya.”
“Nah.”
“Tapi saya tau kamu nggak kayak gini.”
Aku pulang jam setengah enam dan menangis sepanjang lima blok, di jalan, di depan orang-orang yang sudah mulai berangkat kerja, tanpa berusaha menyembunyikannya sama sekali.
Karena aku sudah melempar semuanya.
Semua yang kupunya. Setiap versi diriku yang paling murah, paling telanjang, paling mudah dibuang. Empat malam berturut-turut, dengan seluruh keahlian yang kubangun selama tiga tahun untuk membuat laki-laki menjauh.
Dan laki-laki itu masih berdiri di sana.
Menyuruhku melepas sepatu karena kakiku bengkak.
Yuni menemukanku di ruang ganti dua hari kemudian.
“Lo kenapa lagi.”
“Nggak apa-apa.”
“Ran.”
Aku menatap cermin. Riasanku sempurna. Selalu sempurna. Aku profesional.
“Yun.”
“Hm.”
“Kalau lo mau ngusir orang, tapi orangnya nggak pergi-pergi, lo harus gimana?”
Yuni berhenti memakai anting.
“Lo mau ngusir siapa?”
“Nggak ada.”
“Ran.”
“Nggak ada, Yun.”
Yuni memutar kursinya menghadapku.
Dan dia menatapku lama sekali, dan aku bisa melihat dia menyusun sesuatu, dan aku sudah tahu bahwa apa pun yang akan dia katakan akan menyakitkan.
“Ran,” katanya. “Lo bukan lagi ngusir dia.”
“Terus?”
“Lo lagi ngusir diri lo sendiri dari dia.”
Aku membuka mulut.
“Dan itu nggak bakal berhasil,” lanjut Yuni, “karena lo nggak bisa pergi dari lo sendiri.”
Bersambung ke Bab 21 — “Senar”
- 1 Warung Sembilan
- 2 Bayar Besok
- 3 Gitar yang Tidak Ditanya
- 4 Udang
- 5 Yuni Datang
- 6 Kalau Merem
- 7 Hujan Sampai Subuh
- 8 Adik
- 9 Surat
- 10 Perempuan yang Datang Pagi
- 11 Tali Sandal
- 12 Menu yang Tidak Ada
- 13 Skincare
- 14 Jaket, Lagi
- 15 Jam Empat Pagi
- 16 Lima Puluh Dua
- 17 Ukurannya Pas
- 18 Demam
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Zirah reading
- 21 Senar
- 22 Api
- 23 Yuni Marah
- 24 Kalau Kamu Berhenti
- 25 Handuk
- 26 Om Hendra
- 27 Pertengkaran
- 28 Laptop
- 29 Tujuh Menit
- 30 Yang Tidak Dikatakan
- 31 Nanti Kamu Nyesel
- 32 Lima Menit
- 33 Surat Pengunduran Diri
- 34 Pagi
- 35 Dimas
- 36 Hari-hari Biasa
- 37 Mobil Hitam
- 38 Ringan
- 39 Tiga Juta
- 40 Porsi Dua
- 41 Yang Dikembalikan
- 42 Yang Aku Tahu
- 43 Bapakku Nggak Butuh Kopi Murah
- 44 Sikat Gigi
- 45 Empat Tahun Dalam Satu Tas
- 46 Setelan
- 47 Selesai
- 48 Warung Sembilan
- 49 Kampung
- 50 Pasar
- 51 Yang Ditinggalkan
- 52 Jam Empat Pagi