Chapter Twenty Eight

Laptop

POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Mamad Jumlah kata: ±2.450


Aku menemukannya karena tikus.

Itu penjelasan yang benar-benar tidak romantis, dan aku menyesal karena tidak ada versi yang lebih baik.

Ada tikus di gudang. Mamad berteriak jam tiga pagi, dan Bimo menyuruhnya diam dan menyuruh kami mengeluarkan semua yang ada di rak bawah supaya bisa dicek.

Jadi aku ikut. Karena aku selalu ikut sekarang.

Rak bawah gudang berisi: dua karung beras cadangan, satu kardus berisi gelas pecah yang entah kenapa disimpan, satu ember, satu kaleng cat, dan sebuah tas.

Tas ransel. Hitam. Bahannya bagus — bukan bagus yang biasa, bagus yang membuatmu tahu harganya di atas satu juta bahkan kalau kau tidak pernah punya barang seperti itu.

Berdebu tebal.

Aku menariknya keluar, dan tas itu jauh lebih berat dari yang kubayangkan, dan sesuatu di dalamnya bergeser dengan bunyi keras.

“Mas, ini apa?”

Bimo berbalik.

Dan aku melihat sesuatu terjadi di wajahnya yang belum pernah kulihat dalam tiga bulan.

Bukan panik. Bukan marah.

Wajahnya kosong.

Benar-benar kosong, seperti seseorang mencabut kabel.


“Taruh,” katanya.

Suaranya pelan. Sangat pelan.

“Mas, ini cuma—“

“Ran, taruh.”

Aku menaruhnya.

Dan Bimo berjalan melewatiku, mengambil tas itu, dan mengangkatnya ke rak paling atas — rak yang tingginya di atas kepalaku, yang tidak bisa kujangkau tanpa kursi.

Lalu dia berdiri di sana, membelakangiku, dengan tangan masih di rak.

“Mad.”

“I-iya Bang.”

“Tikusnya besok aja.”

“Tapi Bang, tadi—“

Besok, Mad.

Dan Mamad keluar dari gudang tanpa berkata apa-apa lagi.


Aku berdiri di gudang itu selama beberapa detik.

Dan aku melakukan hal yang paling tidak cerdas yang bisa kulakukan.

“Mas.”

“Ran, keluar.”

“Isinya apa?”

“Keluar, Ran.”

“Mas.”

Dan dia berbalik.

Dan aku mundur satu langkah, karena wajah itu — wajah yang selama tiga bulan tidak pernah menunjukkan apa pun kecuali datar dan sabar — sekarang menunjukkan sesuatu yang membuatku ingat bahwa aku tidak benar-benar mengenal laki-laki ini.

“Laptop,” katanya.

Aku diam.

“Isinya laptop.”

“...Punya kamu?”

“Iya.”

“Kenapa disimpen di gudang?”

Dan Bimo berkata, dengan suara yang sangat, sangat datar:

“Karena nggak dipakai.”

“Empat tahun?”

“Iya.”

“Mas, kalau nggak dipakai empat tahun, biasanya orang jual.”

“Iya.”

“Kenapa nggak dijual?”

Dan dia menjawab terlalu cepat.

Setengah detik terlalu cepat.

“Nggak kepikiran.”


Aku keluar dari gudang.

Dan aku duduk di kursiku, dan Bimo menaruh mangkuk di depanku sepuluh menit kemudian, dan tidak satu pun dari kami menyinggung apa yang barusan terjadi.

Tapi tanganku gemetar sedikit waktu memegang sendok, dan aku tahu kenapa.

Bukan karena laptopnya.

Karena berat tas itu.

Aku pernah membawa laptop. Yuni punya satu, yang murah, yang dia pakai untuk nonton drama. Beratnya mungkin dua kilo.

Tas yang kutarik dari rak bawah itu beratnya jauh lebih dari dua kilo.

Ada sesuatu yang lain di dalamnya.


Malam itu aku pulang jam lima dan tidak bisa tidur.

Aku mengambil ponselku dan membuka aplikasi catatan dan menambahkan poin baru ke daftarku.

12. Ada tas ransel di gudang. Mahal. Berdebu tebal (4 tahun?). Isinya “laptop”. Beratnya lebih dari laptop.

Aku memandangi daftar itu.

Dua belas poin.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku mulai menulisnya, aku melakukan sesuatu yang berbeda: aku mencoba menyusunnya.

Bukan sebagai daftar. Sebagai cerita.

Aku duduk di lantai dengan ponsel di tangan, jam enam pagi, dan aku mulai menyusun.

Seorang laki-laki bekerja di dapur hotel selama tiga tahun. Berhenti karena ibunya sakit. Merawat ibunya tiga bulan sampai meninggal.

Lalu—

Aku berhenti.

Karena tidak nyambung.

Seorang koki hotel tidak bisa menghitung bunga majemuk dua belas iterasi di kepalanya.

Seorang koki hotel tidak membaca surat perjanjian empat lembar dalam seratus detik dan menemukan pasal jebakannya.

Seorang koki hotel tidak ikut “pelatihan tanggap darurat” di “kantor”.

Seorang koki hotel tidak punya tabungan yang cukup untuk membakar empat setengah juta sebulan selama empat tahun.

Seorang koki hotel tidak punya tas ransel seharga dua juta.

Aku menghapus seluruh yang kutulis.

Dan aku mulai lagi.

Seorang laki-laki bekerja di kantor.

Dan begitu aku menulis kalimat itu, semuanya jatuh ke tempatnya sekaligus, seperti kunci yang berputar.

Kantor yang punya pelatihan tanggap darurat. Kantor yang mengajarinya membaca kontrak. Kantor yang membuatnya paham bunga. Kantor yang membayarnya cukup untuk punya tabungan sebesar itu.

Dan tiga tahun di dapur hotel — itu benar juga. Itu terjadi. Tapi bukan yang terakhir.

Aku menulis:

Hotel → (?) → kantor → (?) → gang ini.

Dan aku memandangi dua tanda tanya itu selama lima menit.

Yang pertama gampang. Kuliah. Dia kuliah di antaranya. Kerja di dapur hotel sambil kuliah, atau setelahnya, lalu masuk kantor.

Yang kedua yang tidak bisa kuisi.

Karena orang tidak keluar dari kantor yang bagus lalu membuka warung kopi di gang belakang distrik hiburan dan tidak keluar dari sana selama empat tahun.

Kecuali sesuatu terjadi.


Malam berikutnya, aku melakukan sesuatu yang licik.

Aku menunggu sampai Mamad keluar untuk membeli es batu, dan aku mengikutinya sampai ujung gang.

“Mad.”

“Eh, Mbak. Kenapa?”

“Aku mau nanya sesuatu.”

“Nanya apa?”

Aku berjalan di sebelahnya, dan aku bertanya dengan nada seringan mungkin.

“Kamu udah berapa lama sama Mas Bimo?”

“Tiga tahun setengah.”

“Berarti kamu belum ada waktu dia baru dateng?”

“Belum. Saya baru dateng tahun kedua.” Mamad mengangkat bahu. “Waktu itu saya lagi kabur dari rumah. Tidur di depan warung. Terus Bang Bimo nyuruh masuk.”

“Terus kamu tinggal?”

“Iya.”

“Nggak balik ke rumah?”

“Balik. Sebulan sekali.” Dia menendang batu kecil. “Bang Bimo yang nyuruh. Katanya ibu saya pasti nunggu.”

Aku diam sebentar.

“Mad.”

“Iya?”

“Kamu pernah liat Bang Bimo pakai laptop?”

Mamad berhenti berjalan.

“Kok Mbak nanya itu?”

Sesuatu di perutku dingin.

“Nggak apa-apa. Cuma nanya.”

“Sekali,” katanya.

Aku menoleh.

“Sekali?”

“Tahun kedua saya di sini. Malam-malam.” Mamad melanjutkan jalan, lebih pelan. “Saya bangun mau ke kamar mandi, terus liat lampu warung masih nyala.”

“Terus?”

“Terus dia duduk di meja panjang. Laptopnya kebuka.”

“Ngapain?”

“Nggak ngapa-ngapain, Mbak.”

“Maksudnya?”

Mamad menoleh ke arahku.

“Dia cuma liatin layarnya,” katanya. “Nggak ngetik. Nggak apa-apa. Cuma liatin.”

“Berapa lama?”

“Saya nggak tau. Saya balik tidur.” Mamad mengangkat bahu. “Tapi paginya laptopnya udah nggak ada. Terus nggak pernah keliatan lagi.”

Kami sampai di warung es batu.

“Mad.”

“Iya?”

“Malam itu, ada apa?”

Mamad mengerutkan kening.

“Maksudnya?”

“Ada kejadian apa? Sebelum dia buka laptopnya?”

Dan Mamad berpikir, lama, sambil menunggu es batunya ditimbang.

“Nggak ada, Mbak,” katanya akhirnya. “Biasa aja.”

“Beneran nggak ada?”

“Hmm.” Dia mengangkat kantong esnya. “Oh iya, ada.”

“Apa?”

“Ada berita di TV.”

Aku berhenti berjalan.

“Berita apa?”

“Saya nggak inget, Mbak. Saya lagi main HP.” Mamad mengangkat bahu. “Cuma inget Bang Bimo lagi ngelap gelas, terus dia berhenti, terus dia nonton beritanya sampai abis.”

“Terus?”

“Terus dia matiin TV-nya.”

“Terus?”

Mamad menoleh ke arahku, dan wajahnya polos sekali, dan itu membuat semuanya jauh lebih buruk.

“Terus dia keluar. Duduk di depan. Sampai pagi.”


Aku tidak tidur malam itu.

Aku duduk di lantai kontrakanku dengan ponsel di tangan, dan aku mencoba mencari berita.

Itu bodoh. Aku tahu itu bodoh. Aku tidak tahu tanggalnya, tidak tahu bulannya, tidak tahu tahunnya kecuali “sekitar dua tahun lalu”. Aku tidak tahu jenis beritanya. Aku tidak tahu apa pun.

Aku mengetik: berita 2 tahun lalu

Lalu menghapusnya, karena itu bodoh.

Aku mengetik: berita malam yang bikin orang berhenti

Lalu menghapusnya juga, karena itu lebih bodoh lagi.

Dan aku menaruh ponselku dan berbaring di lantai dan menatap langit-langit.

Dan aku menyadari sesuatu yang membuatku duduk kembali.

Aku tidak perlu mencari beritanya.

Aku perlu mencari kantornya.

Karena kalau aku tahu dia bekerja di mana, aku akan tahu segalanya yang lain.

Dan aku sudah punya satu petunjuk yang belum kupakai.


Malam berikutnya, aku bertanya kepada Bu Yatmi.

“Bu.”

“Apa, Neng.”

“Waktu Mas Bimo nyewa ruko ini.”

Bu Yatmi menoleh.

“Kenapa?”

“Kan harus ada surat-surat, ya? Perjanjian sewa?”

“Ya iya lah.”

“Yang ngurus siapa?”

“Bapaknya Kirana.”

Aku menahan napas.

“Bu, boleh nanya sesuatu?”

“Nanya.”

“Waktu itu, buat perjanjian sewa, biasanya harus ada fotokopi KTP kan?”

Bu Yatmi berhenti mengikat kantong plastiknya.

Dan menoleh ke arahku dengan cepat sekali.

“Neng.”

“Iya, Bu?”

“Kamu mau ngapain?”

Dan aku berdiri di sana, di depan warung nasi bungkus, jam setengah enam pagi, dengan pertanyaan yang sudah tiga hari kususun di kepalaku.

Dan aku tidak bisa menjawabnya.

“Nggak apa-apa, Bu,” kataku. “Lupain aja.”

Bu Yatmi memandangiku.

Lama sekali.

Lalu dia melanjutkan mengikat kantong plastiknya, dan berkata, tanpa menoleh:

“Neng.”

“Iya?”

“Kalau kamu mau tau, tanya dia.”

“Bu, dia nggak mau—“

“Saya tau dia nggak mau.” Bu Yatmi menggantung kantongnya. “Tapi ada dua cara buat tau sesuatu tentang orang, Neng.”

“Apa?”

“Dikasih tau, atau dicari sendiri.” Dia menoleh. “Yang pertama bikin deket. Yang kedua bikin jauh.”

Aku menunduk.

“Ibu marah?”

“Enggak.” Bu Yatmi menyodorkan bungkusan nasi kuning, seperti biasa. “Saya cuma udah tua, Neng. Saya udah pernah liat orang kehilangan sesuatu gara-gara mereka nggak sabar nunggu.”


Aku pulang lima blok pagi itu dengan bungkusan nasi kuning di tangan.

Dan aku membuka ponselku.

Dan aku menatap daftar dua belas poin itu selama mungkin lima menit.

Lalu aku menekan tombol hapus.

Aku ingin sangat jelas bahwa itu bukan keputusan yang mulia. Aku tidak menghapusnya karena aku baik hati.

Aku menghapusnya karena aku takut.

Karena aku sudah menyusun cukup banyak kepingan untuk tahu bentuk umumnya, dan bentuk umumnya adalah ini: laki-laki itu punya kehidupan lain, kehidupan yang jauh lebih besar dari gang ini, dan dia meninggalkannya karena sesuatu yang buruk sekali terjadi.

Dan selama aku tidak tahu apa, aku masih bisa duduk di kursi kayu jam empat pagi dan memakan apa pun yang ditaruh di depanku.

Aku sampai di kontrakan.

Aku menghapus daftar itu.

Dan aku berbaring di kasur dan berkata, keras-keras, ke langit-langit:

“Sabar, Ran.”

Dan aku hampir berhasil.

Aku bertahan sepuluh hari.


Bersambung ke Bab 29 — “Tujuh Menit”