Chapter Three
Gitar yang Tidak Ditanya
POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Mamad, Yuni Jumlah kata: ±2.300
Sudah dua minggu, dan aku masih belum menemukan titik lemahnya.
Aku sudah mencoba hampir semua. Godaan langsung, godaan halus, godaan yang dibungkus keluhan, godaan yang disamarkan jadi pertanyaan polos. Aku sudah pura-pura menjatuhkan sesuatu supaya dia harus membungkuk. Aku sudah duduk terlalu dekat. Aku sudah bertanya hal-hal yang seharusnya membuat laki-laki gelagapan.
Hasilnya selalu sama.
Bantal. Makanan. Kursi yang dipindahkan. Air yang tumpah, kadang. Telinga merah, sering. Tapi tidak pernah ada retakan yang cukup besar untuk kumasuki.
Dan makin lama, aku makin curiga bahwa aku bukan sedang menguji dia.
Aku sedang menguji apakah tempat ini beneran.
Karena itulah yang sebenarnya kulakukan setiap kali aku mendorongnya. Aku sedang mencari harganya. Aku sedang menunggu bagian di mana semua ini berubah jadi sesuatu yang harus kubayar, karena semua tempat di dunia ini punya harga, dan aku belum pernah menemukan pengecualiannya.
Aku belum menemukannya di sini juga.
Belum.
Gitar itu ada di sudut yang sama sejak malam pertama.
Aku memperhatikannya sejak awal — susah tidak memperhatikan, karena benda itu satu-satunya hal di warung yang tidak punya fungsi. Semua yang lain di sini bekerja. Meja, kursi, kipas, kompor, kulkas yang berisik, bahkan kaleng biskuit bekas yang dipakai menyimpan sendok. Semuanya punya tugas.
Gitar itu tidak.
Gitar itu cuma bersandar di sana. Debu tipis di bahunya. Senar yang sudah keruh warnanya, satu di antaranya kendur sampai melengkung.
Malam itu warung sepi. Mamad sudah tidur di belakang. Bimo sedang menghitung sesuatu di buku tulis dengan pulpen, dan aku sedang bosan, dan kombinasi itu tidak pernah berakhir baik.
Aku berdiri.
Aku berjalan ke sudut.
Aku mengambil gitar itu.
Aku tidak tahu cara main gitar. Sama sekali. Yang kutahu cuma bahwa kalau senar dipetik, keluar bunyi, dan bunyi itu biasanya membuat orang menoleh.
Jadi aku memetiknya.
Bunyinya jelek sekali — sumbang, kendur, seperti sesuatu yang sekarat. Aku tertawa.
“Mas, ini fals ba—“
Aku berhenti.
Karena aku menoleh, dan Bimo sudah tidak menulis lagi.
Pulpennya masih di tangannya. Buku tulisnya masih terbuka. Tapi dia tidak bergerak sama sekali, dan matanya tidak di bukunya, dan tidak juga di wajahku.
Matanya di gitar itu.
Ada sesuatu di wajahnya yang belum pernah kulihat dalam dua minggu. Bukan marah. Bukan kaget.
Sesuatu yang lebih mirip orang yang tiba-tiba dipanggil namanya di tempat yang seharusnya tidak ada yang mengenalnya.
“Taruh,” katanya.
Suaranya pelan. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat tanganku bergerak sebelum kepalaku memutuskan.
Aku menaruhnya kembali. Persis di tempatnya, sudut yang sama, kemiringan yang sama.
“...Maaf.”
“Nggak apa-apa.”
“Mas, aku nggak tahu kalau—“
“Nggak apa-apa, Ran.”
Dia kembali ke buku tulisnya. Menulis sesuatu.
Aku memperhatikan tangannya.
Selama dua minggu, aku sudah hafal tangan itu. Tangan yang tidak pernah salah. Tangan yang mengangkat panci mendidih tanpa berpikir, yang membalik telur tanpa melihat, yang membetulkan engsel dengan presisi yang membuatku lupa berkedip.
Tangan itu sekarang bergetar.
Sangat halus. Mungkin aku satu-satunya orang di dunia yang cukup memperhatikannya untuk tahu.
Aku duduk kembali ke kursiku dan tidak berkata apa-apa selama sepuluh menit penuh, yang bagi seseorang seperti aku adalah rekor.
Setengah jam kemudian, dia meletakkan sesuatu di depanku. Mangkuk. Bubur kacang hijau, dengan santan yang dituang belakangan sehingga membentuk pusaran putih di permukaannya.
Aku tidak memesan ini.
Aku tidak pernah memesan apa pun di sini.
“Mas.”
“Hm.”
“Kamu marah?”
“Nggak.”
“Bohong.”
“Nggak bohong.”
“Terus kenapa aku dikasih bubur?”
Bimo menyandarkan pinggangnya ke meja panjang, melipat tangan, dan menatapku dengan tatapan yang benar-benar lurus, yang jarang sekali dia lakukan.
“Karena kamu diam sepuluh menit,” katanya. “Itu nggak wajar.”
Dan entah kenapa, itu yang membuatku hampir menangis.
Bukan gitarnya. Bukan suaranya waktu bilang taruh.
Tapi fakta bahwa laki-laki ini menghitung diamku.
Aku menunduk ke bubur itu. Kuaduk pusaran santannya sampai hilang. Lalu kuangkat wajahku dengan senyum yang sudah kupasang ribuan kali, karena aku tahu persis apa yang harus kulakukan saat ada sesuatu yang terlalu dekat.
“Ya udah, kalau nggak marah, aku boleh main lagi dong.”
“Nggak.”
“Kok nggak?”
“Nggak.”
“Mas pelit.”
“Iya.”
“Nanti kalau aku bisa main, gimana?”
“Kamu nggak bisa.”
“Kok tahu?”
“Tadi kamu megangnya kebalik.”
Aku melempar sendok ke arahnya. Dia menangkapnya tanpa melihat, dengan satu tangan, dan itu justru membuatku makin kesal.
“Jadi lo suka sama tukang warung.”
Yuni mengatakan itu di ruang ganti Aurora, sambil menghapus riasannya di depan cermin, dengan nada seperti orang mengumumkan cuaca besok.
“Nggak.”
“Ran.”
“Nggak, Yun.”
“Lo udah dua minggu ke sana tiap hari.”
“Enak makanannya.”
“Lo bawa jaketnya pulang.”
“Dingin.”
“Sekarang bulan Oktober.”
Aku melempar kapas ke arahnya. Meleset.
Yuni memutar kursinya menghadapku, dan wajahnya berubah jadi wajah yang tidak kusukai — wajah orang yang akan mengatakan sesuatu yang benar.
“Ran, serius. Orangnya gimana?”
“Ya... gitu.”
“Gitu apa?”
Aku memikirkannya.
Aku memikirkannya lebih lama dari yang seharusnya untuk pertanyaan sesederhana itu.
“Dia nggak pernah kaget,” kataku akhirnya.
“Maksudnya?”
“Ya... nggak pernah kaget. Sama apa pun.” Aku menggeser kursiku. “Waktu dia tahu aku kerja di sini, dia nggak kaget. Waktu aku godain, dia nggak kaget. Waktu aku cerita soal Bapak, dia—“
Aku berhenti.
“Lo cerita soal bapak lo?”
“Dikit.”
“Ran.”
“Dikit, Yun. Sumpah.”
Yuni menatapku lewat cermin selama beberapa detik.
“Lo nggak pernah cerita soal bapak lo ke siapa-siapa.”
“Ya makanya dikit.”
“Ke gue aja lo baru cerita tahun kedua.”
“Yun—“
“Gue cuma bilang.” Yuni mengangkat kedua tangannya, lalu kembali menghapus maskaranya. “Gue nggak ngelarang. Cuma... hati-hati.”
“Hati-hati apa?”
Dan Yuni, yang mulutnya paling kotor di seluruh Aurora, yang tidak pernah dalam hidupnya mengucapkan satu kalimat yang lembut, berkata pada bayanganku di cermin:
“Hati-hati sama orang baik, Ran. Yang jahat gampang. Yang jahat lo tinggal pergi.”
Aku ke sana lagi malam itu. Tentu saja.
Dan malam itu aku memutuskan untuk tidak menyinggung gitar sama sekali.
Bukan karena aku bijaksana. Karena aku pengecut. Karena ada sesuatu di wajahnya tadi malam yang membuatku sadar bahwa ada ruangan di dalam laki-laki ini yang pintunya terkunci, dan aku — yang selama dua minggu ini asyik mengetuk semua pintu di rumahnya sambil tertawa — mendadak tidak yakin ingin tahu apa isinya.
Jadi aku melakukan hal yang paling kukuasai.
Aku berisik.
“Mas.”
“Ya.”
“Kalau misalnya aku dateng ke sini tiap hari sampai tua, kamu bosen nggak?”
“Nggak.”
“Kalau aku dateng bawa sepuluh orang?”
“Boleh. Meja masih ada.”
“Kalau aku dateng terus nggak pesen apa-apa, cuma duduk, terus ngeliatin kamu doang?”
Bimo menuang kuah ke mangkuk. Berhasil kali ini, tidak tumpah.
“Ya udah.”
“Ya udah gimana?”
“Ya udah. Duduk aja.”
Aku menyandarkan daguku ke telapak tangan dan menatapnya dari jarak setengah meter, tepat seperti yang kubilang, tanpa berkedip.
Satu detik. Dua. Tiga.
Bimo meletakkan gayung kuahnya.
“Kenapa,” katanya.
“Nggak apa-apa. Ngeliatin aja. Kan tadi boleh.”
“...Ran.”
“Kenapa? Kok gugup?”
“Nggak gugup.”
“Bahu kamu naik, tuh.”
Bimo menatapku.
Aku menatapnya balik.
Dan kemudian dia berkata, dengan suara yang jauh lebih pelan dari yang seharusnya untuk kalimat sesederhana itu:
“Kamu belum makan.”
Aku tertawa sampai Mamad terbangun di belakang dan berteriak menyuruh kami diam.
Menjelang subuh, saat warung sudah kosong dan aku sedang bersiap pulang, aku melihat sesuatu.
Bimo sedang menutup pintu dapur. Dan dalam perjalanannya, dia melewati sudut itu — sudut tempat gitar itu bersandar — dan tangannya bergerak.
Cuma sedikit. Setengah gerakan. Jari-jarinya terangkat seperti hendak menyentuh, sekitar sepuluh senti dari kayunya.
Lalu berhenti.
Lalu turun lagi.
Dan dia berjalan terus seolah tidak terjadi apa-apa.
Aku berdiri di ambang pintu dengan jaket abu-abu yang sekarang sudah resmi menjadi milikku menurut hukum adat yang tidak pernah kami sepakati, dan aku menyaksikan seluruh gerakan itu dari awal sampai akhir.
Ada yang bilang bahwa kau bisa mengenal seseorang dari apa yang dia inginkan.
Malam itu aku belajar bahwa kau bisa mengenal seseorang jauh lebih dalam dari apa yang dia biarkan berdebu di sudut ruangan selama bertahun-tahun.
“Mas,” kataku.
“Ya.”
“Besok aku datang lagi.”
Bimo mengunci pintu dapur.
“Iya,” katanya. “Saya tahu.”
Bersambung ke Bab 4 — “Udang”
- 1 Warung Sembilan
- 2 Bayar Besok
- 3 Gitar yang Tidak Ditanya reading
- 4 Udang
- 5 Yuni Datang
- 6 Kalau Merem
- 7 Hujan Sampai Subuh
- 8 Adik
- 9 Surat
- 10 Perempuan yang Datang Pagi
- 11 Tali Sandal
- 12 Menu yang Tidak Ada
- 13 Skincare
- 14 Jaket, Lagi
- 15 Jam Empat Pagi
- 16 Lima Puluh Dua
- 17 Ukurannya Pas
- 18 Demam
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Zirah
- 21 Senar
- 22 Api
- 23 Yuni Marah
- 24 Kalau Kamu Berhenti
- 25 Handuk
- 26 Om Hendra
- 27 Pertengkaran
- 28 Laptop
- 29 Tujuh Menit
- 30 Yang Tidak Dikatakan
- 31 Nanti Kamu Nyesel
- 32 Lima Menit
- 33 Surat Pengunduran Diri
- 34 Pagi
- 35 Dimas
- 36 Hari-hari Biasa
- 37 Mobil Hitam
- 38 Ringan
- 39 Tiga Juta
- 40 Porsi Dua
- 41 Yang Dikembalikan
- 42 Yang Aku Tahu
- 43 Bapakku Nggak Butuh Kopi Murah
- 44 Sikat Gigi
- 45 Empat Tahun Dalam Satu Tas
- 46 Setelan
- 47 Selesai
- 48 Warung Sembilan
- 49 Kampung
- 50 Pasar
- 51 Yang Ditinggalkan
- 52 Jam Empat Pagi