Chapter Fifty Four
Extra 2 — Kamar 214
POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo Jumlah kata: ±2.600
Aku bangun jam lima sore dan Bimo sudah tidak ada di kasur.
Aku duduk. Aku menggosok mata. Aku melihat ke balkon.
Dan dia ada di sana, bersandar di pagar, memegang dua gelas.
Aku berjalan ke sana dengan rambut yang berdiri ke arah yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
“Mas.”
“Bangun?”
“Itu apa?”
“Kelapa muda.”
“Dari mana?”
“Bawah. Ada yang jual di pinggir jalan.”
Dan aku mengambilnya dan minum setengah dalam sekali tarikan.
Dan kemudian aku berhenti.
“Mas.”
“Hm.”
“Ini nggak pake gula.”
“Iya.”
“Kamu bilang ke abangnya jangan pake gula?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Dan Bimo memandangi laut.
“Kamu nggak suka manis.”
Dan aku menaruh gelasku di pagar balkon dan memeluk pinggangnya dan tidak melepaskannya selama tiga menit.
“Ran.”
“Hm.”
“Saya nggak bisa minum.”
“Iya.”
“Tangan saya kejepit.”
“Iya.”
“Ran.”
“Sebentar lagi.”
Dan laki-laki itu berdiri di balkon dengan gelas kelapa muda di tangan yang tidak bisa dia angkat, dan menunggu sampai istrinya selesai.
Kami turun ke pantai jam setengah enam.
Dan kali ini aku tidak berlari.
Kami berjalan — pelan, di garis air, dengan sandal dijinjing, dari ujung pantai ke ujung yang lain. Kira-kira satu kilometer.
Dan sepanjang satu kilometer itu aku menggandeng lengannya dengan dua tangan dan menyandarkan kepalaku ke bahunya setiap sepuluh langkah.
“Ran.”
“Hm.”
“Susah jalannya.”
“Iya.”
“Kamu nempel terus.”
“Iya.”
“Ran.”
Dan aku mengangkat kepalaku.
“Mas, sembilan tahun aku nggak pernah bisa gini.”
Dia menoleh.
“Gini gimana?”
“Ya gini.” Aku mengangkat kedua tanganku yang masih memeluk lengannya. “Di luar. Siang. Lama.”
Dan aku menyandarkan kepalaku lagi.
“Di gang aku selalu buru-buru. Di warung selalu ada orang. Di rumah ada Sumi.” Aku memiringkan wajahku ke bahunya. “Sekarang nggak ada apa-apa.”
Dan Bimo tidak menjawab.
Tapi dia memindahkan tangannya, melepas gandenganku, dan merangkul bahuku — dan menariknya lebih dekat sampai sisi badanku menempel penuh ke sisi badannya.
“Gitu lebih enak jalannya,” katanya.
Kami duduk di pasir sampai matahari turun.
Dan aku duduk di antara kakinya, bersandar ke dadanya, dengan kedua tangannya melingkar di depan perutku dan daguku di atas lengannya.
Dan dia bicara.
Aku ingin mencatat itu karena itu tidak biasa.
Bimo tidak bicara. Bimo menjawab. Sembilan tahun dan aku sudah menerima bahwa persentase percakapan kami adalah delapan puluh dua puluh dan bahwa dua puluhnya adalah dia.
Sore itu dia bicara selama empat puluh menit.
Tentang laut yang katanya baunya beda dari laut waktu dia kecil. Tentang bapaknya yang meninggal waktu dia kelas satu SMP dan yang belum pernah dia ceritakan sekali pun dalam sembilan tahun. Tentang ibunya yang sekali membawanya ke pantai naik bus tiga jam dan pulang di hari yang sama karena tidak ada uang untuk menginap.
Dan aku tidak memotong sekali pun.
Dan waktu dia selesai, aku memutar badan dan duduk menyamping di pangkuannya dan memegang wajahnya dengan dua tangan.
“Mas.”
“Ya.”
“Kamu tau nggak kamu barusan ngomong empat puluh menit?”
Dan Bimo berkedip.
“Nggak.”
“Empat puluh menit, Mas.”
“...Oh.”
“Aku ngitung.”
Dan dia menutup matanya, dan menghela napas, dan berkata:
“Kamu emang gitu orangnya.”
Kami makan malam di warung tenda pinggir jalan.
Dan Bimo berhenti di suapan ketiga dan memandangi piringnya dengan wajah yang sudah kukenal.
“Mas.”
“Hm.”
“Jangan.”
“Apa?”
“Jangan diurai bumbunya.”
“Saya nggak—“
“Mas, mata kamu tadi merem.”
Dan dia menaruh sendoknya dan berkata:
“Ada asam jawa.”
“MAS.”
“Sama gula merah, tapi dibakar dulu—“
“MAS BIMO, KITA LAGI LIBURAN.”
Dan ibu yang memasak di balik gerobak itu tertawa sampai harus mematikan kompornya.
Aku menyuapinya di suapan kesepuluh.
Aku tidak tahu kenapa. Aku cuma mengambil sendok dari tangannya, menyendok, dan mengarahkannya ke mulutnya.
Dan Bimo menatapku selama tiga detik penuh.
“Ran.”
“Buka.”
“Ran, ada orang.”
“Ada dua orang, Mas. Dan salah satunya lagi ngitung uang.”
“Ran—“
“Buka.”
Dan dia membuka mulutnya.
Dan makan.
Dan aku menyuapinya sampai piringnya habis, di warung tenda pinggir jalan, di bawah lampu neon, sambil ditonton oleh satu ibu penjual dan satu bapak yang sedang menghitung uang dan yang jelas-jelas berhenti menghitung.
“Mas.”
“Hm.”
“Sekarang giliran kamu.”
“Nggak.”
“Mas.”
“Ran, piring kamu masih penuh, kamu makan sendiri aja.”
“MAS.”
Dan laki-laki itu mengambil sendokku, menyendok, dan mengarahkannya ke mulutku sambil menatap ke arah lain seperti orang yang sedang menyerahkan dokumen rahasia.
Dan telinganya merah.
Dan aku memakannya, dan menutup mataku, dan berkata:
“Enak.”
“Itu punya kamu sendiri.”
“Beda.”
Kami jalan pulang ke hotel.
Delapan ratus meter, dan aku mengeluh di meter keempat ratus.
“Mas, kakiku.”
“Kenapa?”
“Sakit.”
“Ya udah, pelan-pelan.”
“Mas.”
“Apa.”
Dan aku berhenti berjalan dan mengangkat kedua tanganku seperti anak berumur tiga tahun.
Dan Bimo menatapku.
“Nggak.”
“Mas.”
“Ran, kamu tiga puluh empat tahun.”
“MAS.”
“Ada orang lewat.”
“Aku nggak peduli.”
Dan laki-laki itu berdiri di trotoar selama sekitar lima detik dengan tangan di pinggang.
Lalu dia menghela napas.
Lalu dia berjongkok, membelakangiku.
Aku digendong empat ratus meter.
Empat ratus meter, di trotoar, jam sembilan malam, oleh suamiku yang berumur empat puluh dua tahun dan yang tidak berhenti sekali pun dan yang tidak mengeluh sekali pun.
Dan aku menempelkan pipiku ke bahunya dan memeluk lehernya dan berbicara di telinganya sepanjang jalan.
“Mas.”
“Hm.”
“Kamu kuat banget.”
“Iya.”
“Mas.”
“Hm.”
“Kamu bau bawang.”
“Iya.”
“Aku suka.”
“Iya.”
“Mas.”
“Ran, saya lagi jalan.”
“Aku sayang kamu.”
Dan langkah kakinya berhenti.
Cuma sebentar. Setengah langkah.
Lalu jalan lagi.
“Iya,” katanya. “Saya tau.”
“MAS.”
“Saya juga.”
Aku mandi duluan.
Dan waktu aku keluar, Bimo duduk di tepi kasur dengan handuk di bahu, menunggu giliran.
Dan aku berjalan ke sana dan berdiri di depannya dan menaruh kedua tanganku di bahunya.
“Mas.”
“Ya.”
“Rambutmu udah kepanjangan.”
“Iya.”
“Aku potong, ya?”
“Nggak.”
“Mas—“
“Ran, terakhir kamu potong rambut saya, Mamad ketawa dua minggu.”
“ITU DUA TAHUN LALU.”
“Iya. Dan Mamad masih ngungkit.”
Dan aku duduk di pangkuannya, menghadapnya, dengan kedua tangan di sisi wajahnya.
Dan Bimo berhenti bicara.
“Ran.”
“Hm.”
Dan aku menyisir rambutnya ke belakang dengan jari-jariku, pelan-pelan, berkali-kali.
Dan aku merasakan tangannya naik ke pinggangku.
“Ran.”
“Sebentar.”
“Kamu ngapain?”
“Ngeliatin.”
Dan aku memiringkan kepalaku.
“Mas, kamu ada uban baru.”
“Iya.”
“Dua.”
“Iya.”
“Di sini.” Aku menyentuhnya dengan ujung jari. “Sama di sini.”
Dan aku menunduk dan mencium keduanya, satu per satu.
Dan laki-laki itu menutup matanya dan tidak bergerak sama sekali.
Aku tidak akan menuliskan sisanya.
Yang akan kutuliskan cuma ini: sekitar tengah malam, waktu lampu sudah mati dan pintu balkon setengah terbuka dan suara ombak masuk ke kamar, aku berbaring dengan kepala di dadanya dan berkata:
“Mas.”
“Hm.”
“Kamu tau nggak yang paling enak dari hari ini?”
“Apa.”
Dan aku berkata:
“Nggak ada yang manggil aku.”
Dan Bimo membuka matanya di dalam gelap.
“Maksudnya?”
“Seharian.” Aku menggeser kepalaku. “Nggak ada yang manggil ‘Mbak’, nggak ada yang manggil ‘Bu’, nggak ada yang manggil ‘Ibuk’.”
Dan aku mengangkat kepalaku.
“Seharian aku cuma Ranti.”
Dan Bimo tidak menjawab selama beberapa detik.
Lalu tangannya naik ke rambutku.
“Ran,” katanya.
“Hm?”
“Besok juga.”
Aku bangun jam empat pagi.
Tubuhku masih ingat. Sembilan tahun dan tubuhku masih ingat, dan aku sudah menyerah melawannya.
Dan aku membuka mataku di dalam gelap dengan suara ombak dari balkon.
Dan aku menoleh.
Dan Bimo sudah bangun.
Berbaring miring, menghadapku, dengan mata terbuka.
“Mas.”
“Hm.”
“Kamu bangun dari kapan?”
“Setengah empat.”
“Ngapain?”
Dan dia berkata:
“Nungguin kamu bangun.”
“Mas—“
“Kamu selalu bangun jam empat.”
“Iya, tapi—“
“Sembilan tahun.” Dan dia menggeser tangannya ke pipiku. “Kamu selalu bangun jam empat, terus kamu diem lima menit, terus kamu tidur lagi.”
Aku menatapnya di dalam gelap.
“Kamu tau itu?”
“Iya.”
“Dari kapan?”
Dan Bimo berkata:
“Dari malam pertama.”
Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.
“Mas.”
“Hm.”
“Kamu tuh nyebelin banget.”
“Iya.”
“Kamu nungguin aku bangun cuma buat liat.”
“Iya.”
“KENAPA?”
Dan dia menarik tanganku dari wajahku dan menahannya di dadanya.
“Karena biasanya kamu bangun jam empat terus mikirin sesuatu,” katanya.
Dan dia menatapku.
“Saya mau liat kamu bangun jam empat terus nggak mikirin apa-apa.”
Aku menangis, tentu saja.
Dan dia menarikku ke dadanya dan menaruh dagunya di atas kepalaku dan tidak berkata apa-apa selama sekitar dua menit.
“Mas.”
“Hm.”
“Aku beneran nggak mikirin apa-apa.”
“Iya.”
“Aku bangun terus mikir ‘oh, ombak’.”
Dan aku merasakan dadanya bergerak.
“MAS. KAMU KETAWA?”
“Nggak.”
“AKU NGERASA.”
“Nggak, Ran.”
Kami turun ke pantai jam setengah lima.
Dan kami duduk di pasir dengan satu jaket abu-abu dipakai berdua — aku di depan, dia di belakang, dengan jaket disampirkan menutupi bahu kami berdua, yang tidak muat, yang membuat lengan kanannya kedinginan sepanjang waktu dan yang tidak dia keluhkan sekali pun.
Dan matahari naik jam enam kurang seperempat.
Dan aku bersandar ke dadanya dan menonton langit berubah warna.
“Mas.”
“Hm.”
“Kita bikin ini tiap tahun.”
“Oke.”
“Aku serius.”
“Saya juga.”
“Mas, jangan bilang ‘nanti aja kalau warungnya sepi’.”
Dan Bimo mengeratkan lengannya di depan perutku.
“Ran,” katanya. “Saya yang pesen hotelnya.”
Dan sekitar tiga menit setelah mataharinya penuh, dia berkata:
“Ran.”
“Ya?”
“Kamu belum makan.”
Dan aku memutar badan di pangkuannya dan memukul dadanya dengan dua tangan sampai dia terjengkang ke pasir.
Dan aku jatuh menimpanya.
Dan kami berdua tertawa di pasir basah jam enam pagi sampai dua orang yang sedang jogging menoleh dan memutar arah.
Bersambung ke Extra 3 — “Pulang”
- 1 Warung Sembilan
- 2 Bayar Besok
- 3 Gitar yang Tidak Ditanya
- 4 Udang
- 5 Yuni Datang
- 6 Kalau Merem
- 7 Hujan Sampai Subuh
- 8 Adik
- 9 Surat
- 10 Perempuan yang Datang Pagi
- 11 Tali Sandal
- 12 Menu yang Tidak Ada
- 13 Skincare
- 14 Jaket, Lagi
- 15 Jam Empat Pagi
- 16 Lima Puluh Dua
- 17 Ukurannya Pas
- 18 Demam
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Zirah
- 21 Senar
- 22 Api
- 23 Yuni Marah
- 24 Kalau Kamu Berhenti
- 25 Handuk
- 26 Om Hendra
- 27 Pertengkaran
- 28 Laptop
- 29 Tujuh Menit
- 30 Yang Tidak Dikatakan
- 31 Nanti Kamu Nyesel
- 32 Lima Menit
- 33 Surat Pengunduran Diri
- 34 Pagi
- 35 Dimas
- 36 Hari-hari Biasa
- 37 Mobil Hitam
- 38 Ringan
- 39 Tiga Juta
- 40 Porsi Dua
- 41 Yang Dikembalikan
- 42 Yang Aku Tahu
- 43 Bapakku Nggak Butuh Kopi Murah
- 44 Sikat Gigi
- 45 Empat Tahun Dalam Satu Tas
- 46 Setelan
- 47 Selesai
- 48 Warung Sembilan
- 49 Kampung
- 50 Pasar
- 51 Yang Ditinggalkan
- 52 Jam Empat Pagi
- 53 Extra 1 — Dua Hari
- 54 Extra 2 — Kamar 214 reading
- 55 Extra 3 — Pulang
- 56 Extra 4 — Rumah
- 57 Extra 5 — Konsultan
- 58 Extra 6 — Empat Warung