Chapter One

Warung Sembilan

POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Mamad Jumlah kata: ±2.300


Jam empat pagi adalah jam paling jujur di dunia.

Aku tahu itu karena aku sudah tiga tahun hidup di dalamnya. Jam empat pagi adalah waktu ketika riasan mulai menyerah, ketika sepatu berhak sembilan senti berubah jadi alat penyiksaan, dan ketika semua orang di distrik ini — pelanggan, pemandu, satpam, tukang parkir — berhenti berpura-pura jadi versi terbaik dari diri mereka.

Malam itu aku kehabisan segalanya sekaligus. Uang tunai untuk taksi, baterai ponsel, dan kesabaran. Yuni sudah pulang duluan dibonceng seseorang yang namanya tidak sempat kutanyakan. Aurora sudah gelap. Dan hujan sore tadi menyisakan genangan di sepanjang gang, yang artinya aku harus berjalan sambil menjinjing sepatuku sendiri seperti orang yang kehilangan arah hidup.

Aku sedang mempertimbangkan untuk duduk di trotoar dan menyerah saja pada semesta ketika aku melihatnya.

Sebuah warung. Menyala. Jam empat pagi.

Papan kayu di atas pintunya cuma ditulisi angka: 9. Tidak ada nama. Tidak ada tulisan “kopi” atau “24 jam” atau gambar cangkir. Cuma angka sembilan yang dicat putih, agak miring ke kanan, seperti dikerjakan oleh orang yang tidak terlalu peduli apakah ada yang akan masuk atau tidak.

Aku masuk.

Di dalam hangat, dan malam itu cuma itu kualifikasi yang kubutuhkan. Lantai keramik yang bersih. Enam meja. Kipas angin berputar pelan di langit-langit. Di sudut, sebuah gitar tua bersandar ke dinding, berdebu tipis, dengan senar yang jelas sudah lama tidak dipetik siapa pun.

Dan di balik meja panjang, seorang laki-laki sedang mengiris bawang.

Dia tidak menoleh saat aku masuk. Tidak juga saat aku menjatuhkan sepatuku ke lantai dengan bunyi tak yang terlalu keras. Dia menyelesaikan irisannya, memindahkan bawang ke mangkuk kecil, mengelap pisau, lalu baru mengangkat kepala.

Aku menyiapkan diri.

Aku hafal urutannya. Tatapan pertama selalu ke wajah. Lalu turun. Lalu naik lagi. Lalu ada sesuatu di mata mereka — kadang penasaran, kadang menghakimi, kadang menghitung — dan dari situ aku akan tahu persis versi diriku yang mana yang harus kupakai malam itu.

Laki-laki itu menatapku sekali. Datar. Lalu berkata:

“Kakinya basah. Ada keset di kiri.”

Dan kembali ke bawangnya.

Aku berdiri di situ selama tiga detik penuh, memegang sepatuku, merasa seperti orang yang sudah menyiapkan pidato panjang lalu diberi tahu bahwa acaranya batal.

“...Oh,” kataku. “Oke.”

Aku menyeka kaki di keset. Lalu duduk di kursi paling dekat meja, karena tubuhku sudah tidak menerima negosiasi apa pun lagi.


“Mas.”

“Ya.”

“Kopi.”

“Nggak.”

Aku mengangkat alis. “Ini warung kopi, kan?”

“Iya.”

“Terus?”

“Kamu udah nggak tidur berapa jam?”

“Emangnya penting?”

“Penting.” Laki-laki itu — dia belum menyebutkan namanya, dan aku belum bertanya — meletakkan pisaunya. “Kalau saya kasih kopi sekarang, kamu bakal melek sampai jam sembilan, terus tidur siang, terus malamnya kerja lagi dalam keadaan hancur. Minggu depan kamu sakit.”

Aku menatapnya.

“Mas peramal?”

“Bukan.”

“Terus?”

“Saya cuma udah lama di sini.”

Dia menuang sesuatu dari panci ke mangkuk. Uap naik. Aku mencium jahe, sereh, dan sesuatu yang manis yang tidak bisa kutebak.

Mangkuk itu diletakkan di depanku bersama sendok.

“Apa ini?”

“Diminum.”

“Ini bukan kopi.”

“Iya.”

“Aku pesan kopi.”

“Iya.”

Aku membuka mulut untuk protes, lalu menutupnya lagi, karena aromanya sudah lebih dulu bekerja di dalam kepalaku dan tubuhku sudah memutuskan sesuatu tanpa izin.

Aku minum.

Rasanya seperti ada yang mengangkat batu dari dadaku.

“...Sialan,” gumamku.

“Hm.”

“Enak banget.”

“Iya.”

“Mas nggak sombong-sombong dikit gitu?”

“Buat apa.”

Aku terkekeh, dan bunyinya mengejutkanku sendiri, karena itu tawa yang asli, dan aku sudah lupa kapan terakhir kali aku mengeluarkan yang jenis itu di depan orang asing.


Setelah setengah mangkuk, tenagaku kembali. Dan bersama tenagaku, kembali juga kebiasaan yang sudah tiga tahun jadi refleks — sesuatu yang menyala otomatis, seperti lampu sensor gerak, tanpa perlu kuperintahkan.

Aku bersandar ke meja. Daguku bertumpu di telapak tangan. Suaraku turun setengah oktaf.

“Mas.”

“Ya.”

“Warungnya buka sampai jam berapa?”

“Nggak tutup.”

“Serius? Nggak pernah?”

“Nggak pernah.”

“Jadi Mas di sini terus? Dua puluh empat jam? Sendirian?”

“Ada Mamad. Tidur di belakang.”

“Kasihan banget.” Aku memiringkan kepala. “Nggak kesepian, Mas? Malam-malam. Sendirian. Nggak ada yang nemenin.”

Ini biasanya bagian di mana laki-laki mulai kehilangan pijakan. Kadang mereka tertawa canggung. Kadang mereka membalas dengan sesuatu yang buruk. Kadang mereka langsung bertanya berapa.

Laki-laki itu mengambil serbet, mengelap meja di sebelahku, dan berkata:

“Ada kucing.”

Aku berkedip. “Apa?”

“Kucing. Datang tiap jam dua. Namanya belum ada.”

“...Mas.”

“Ya.”

“Aku lagi ngegodain kamu.”

“Iya, saya tahu.”

“Terus kamu jawab kucing?”

“Kamu tanya soal kesepian.” Dia melipat serbetnya. “Saya jawab jujur.”

Aku menatapnya lama. Ada sesuatu yang aneh terjadi di dalam dadaku, dan aku belum tahu itu apa, jadi aku melakukan hal yang biasa kulakukan terhadap hal-hal yang belum kumengerti.

Aku mendorongnya lebih jauh.

“Ya udah.” Aku menegakkan badan, menyilangkan tangan di meja, dan tersenyum dengan senyum yang sudah kulatih ribuan kali. “Kalau aku nginep di sini gimana? Biar Mas nggak sendirian.”

“Boleh.”

“...Hah?”

“Bantal ada di gudang. Agak apek, tapi masih layak. Selimutnya baru saya cuci kemarin.”

“Mas—“

“Kursi panjang yang di pojok itu paling enak. Yang deket kipas jangan, angin langsung ke muka, besok kamu bangun leher kaku.”

Aku membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi.

“Kamu ini beneran nggak ngerti atau pura-pura nggak ngerti?”

Laki-laki itu meletakkan sesuatu di depanku. Piring kecil. Nasi, telur dadar yang dilipat rapi, dan tumis kangkung.

“Kamu belum makan dari tadi sore,” katanya.

Aku menunduk ke piring itu.

Aku memang belum makan dari tadi sore.

Dan aku tidak ingat mengatakannya.


“Kamu kerja di Aurora?”

Pertanyaan itu datang saat nasiku sudah habis setengah, dan datangnya begitu biasa — setingkat dengan menanyakan cuaca — sampai aku hampir tidak sempat memasang pertahanan.

Hampir.

“Kenapa?” Aku meletakkan sendok. Nadaku berubah sendiri, jadi lebih ringan, lebih licin. “Mau ke sana? Nanti aku kasih diskon.”

“Nggak.”

“Nggak butuh diskonnya atau nggak butuh akunya?”

“Nggak butuh dua-duanya.”

Aku tertawa, dan tawa ini yang palsu. “Wah. Sadis.”

“Saya cuma tanya karena sepatu kamu.”

“Sepatu?”

“Yang haknya sembilan senti itu cuma dipakai orang Aurora. Yang di Melati pakai yang tujuh. Yang di Kirana Lounge nggak boleh pakai hak sama sekali, katanya bikin susah naik tangga.” Dia mengangkat bahu. “Udah lama di sini.”

Aku menatapnya.

Tiga tahun. Tiga tahun aku menghitung setiap ekspresi laki-laki yang mengetahui pekerjaanku, dan aku punya katalog lengkapnya di kepala. Ada yang mundur setengah langkah. Ada yang maju setengah langkah, dan itu justru yang paling buruk. Ada yang matanya melembut karena kasihan, dan kasihan selalu terasa seperti kepalaku ditepuk-tepuk seperti anjing.

Laki-laki ini tidak melakukan satu pun dari itu.

Dia cuma bilang udah lama di sini, lalu mengambil piring kosong dari meja sebelah.

Dan tidak ada apa-apa lagi setelahnya. Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada nasihat. Tidak ada tatapan yang menghitung.

Seolah aku baru saja memberitahunya bahwa aku bekerja di bank.

Ada sesuatu yang aneh di tenggorokanku. Aku menutupinya dengan mendorong lebih keras lagi, karena itu satu-satunya alat yang kupunya.

“Mas.”

“Hm.”

“Mas nggak takut aku macem-macem?”

“Macem-macem gimana.”

“Ya... macem-macem.” Aku mengulurkan tangan, menyentuh lengannya dengan ujung jari, sangat ringan, tepat di bawah gulungan lengan bajunya. “Gini, misalnya.”

Dia menunduk, menatap jariku di lengannya.

Lalu berkata, “Tangan kamu dingin.”

“...Apa?”

“Kamu kedinginan dari tadi.” Dia menarik lengannya — bukan dengan kasar, cuma menarik — lalu berjalan ke belakang. Kembali beberapa detik kemudian dengan sesuatu yang disampirkannya ke sandaran kursiku. “Pakai. Bukan punya siapa-siapa.”

Sebuah jaket. Abu-abu. Terlalu besar. Baunya seperti sabun cuci dan sedikit bawang.

Aku menatap jaket itu seperti benda asing yang baru jatuh dari langit.

“Kamu,” kataku akhirnya, “tuh sebenernya orangnya kenapa, sih.”

“Maksudnya?”

“Aku goda dari tadi. Nggak mempan sama sekali.”

Dia berhenti mengelap gelas.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku masuk ke warung ini, ada jeda. Jeda yang kecil sekali — mungkin satu setengah detik — tapi aku hidup dari membaca jeda, dan jeda ini rasanya lain.

“Mempan,” katanya.

Aku mengangkat kepala.

“Apa?”

“Nggak ada.” Dia meletakkan gelas. Mengambil gelas lain. “Jaketnya dipakai.”

“Kamu barusan bilang—“

“Habis itu tidur. Kursi pojok. Jangan yang deket kipas.”

“MAS.”

“Iya.”

Aku menunggu. Dia tidak menoleh. Dia mengelap gelas yang jelas-jelas sudah kering dengan konsentrasi seorang ahli bedah, menatapnya seolah gelas itu menyimpan rahasia negara, dan telinganya — aku bersumpah demi apa pun — telinganya merah.

Aku menyandarkan punggungku ke kursi, memakai jaket itu, dan tersenyum ke langit-langit.

Kemenangan pertamaku dalam tiga tahun yang tidak ada hubungannya dengan uang.


Mamad muncul jam lima kurang, rambut berdiri, mata setengah tertutup, dan berhenti mendadak di ambang pintu belakang begitu melihat ada perempuan asing duduk di warung memakai jaket bosnya.

“Bang.”

“Angkat kursi.”

“Bang, itu—“

“Kursi, Mad.”

Mamad mengangkat kursi sambil terus menoleh ke belakang, dan aku melambaikan tangan padanya dengan gerakan jari paling manis yang kubisa, dan Mamad hampir menabrak tiang.

Aku tertawa. Kali ini yang asli lagi.

Di luar, langit mulai berubah warna. Biru yang bukan biru. Warna yang cuma ada selama sepuluh menit dan tidak punya nama.

Aku berdiri. Kakiku masih sakit, tapi jauh lebih baik.

“Berapa, Mas?”

“Nggak usah.”

“Jangan gitu dong. Nanti aku ngerasa punya utang.”

“Ya udah, besok bayar.”

“Besok?”

Dia mengangkat bahu. Masih tidak menoleh sepenuhnya.

“Kalau kamu lewat sini lagi.”

Aku berdiri di situ, satu tangan di gagang pintu, dengan jaket kebesaran dan sepatu yang kujinjing dan perut yang untuk pertama kalinya dalam entah berapa lama tidak kosong pada jam lima pagi.

“Nama kamu siapa?”

“Bimo.”

“Ranti.”

“Iya.”

“Kok ‘iya’? Aku baru bilang.”

“Iya, Ranti.”

Dan begitu saja. Namaku diletakkan di udara di antara kami, tanpa harga, tanpa tawar-menawar, tanpa disertai tatapan yang mengukur berapa nilainya.

Aku keluar ke gang yang mulai terang.

Aku baru sadar tiga blok kemudian bahwa aku masih memakai jaketnya.

Dan aku baru sadar lima blok kemudian bahwa aku tidak berniat mengembalikannya besok.

Aku berniat memakainya lagi.


Bersambung ke Bab 2 — “Bayar Besok”