Chapter Fourteen
Jaket, Lagi
POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Mamad, Om Hendra (disebut) Jumlah kata: ±2.400
Malam itu buruk.
Aku perlu menjelaskan apa artinya buruk, karena orang biasanya membayangkan hal yang salah. Mereka membayangkan sesuatu yang dramatis. Tangan yang harus ditepis. Suara yang harus ditinggikan. Satpam yang harus dipanggil.
Bukan itu.
Malam yang buruk di Aurora adalah malam di mana kau harus menjadi seseorang selama enam jam berturut-turut tanpa satu detik pun jeda. Tertawa di menit yang tepat. Mengisi jeda yang tepat. Menuangkan minum, memilih lagu, menghindari topik tertentu, mengalihkan topik lain, mengelola suasana hati empat laki-laki sekaligus supaya tidak ada yang merasa diabaikan dan tidak ada yang merasa terlalu diperhatikan.
Enam jam. Terus-menerus.
Dan di antara empat laki-laki itu, ada Om Hendra.
Om Hendra tidak melakukan apa pun yang salah.
Itu masalahnya. Dalam dua tahun, dia tidak pernah sekali pun melakukan sesuatu yang bisa kulaporkan kepada siapa pun.
Dia sopan. Dia memesan minuman yang mahal dan meminumnya sedikit. Dia bertanya tentang adikku dan mengingat namanya. Dia tidak pernah menyentuhku tanpa izin, dan ketika dia menyentuh — tangan di punggung tangan, sebentar — dia melepaskannya sebelum aku sempat memindahkannya.
Dan setiap dua atau tiga bulan, dia mengulangi hal yang sama, dengan kalimat yang berbeda-beda tapi isinya selalu itu.
Malam itu versinya begini:
“Ranti.”
“Iya, Om?”
“Adiknya kelas dua, ya sekarang?”
“Iya.”
“Mau masuk mana?”
“Teknik, katanya.”
“Bagus.” Om Hendra memutar gelasnya. “Mahal, ya, teknik.”
“Iya.”
“Berapa setahun?”
“Om, ini lagunya udah mau abis. Mau lanjut yang mana?”
Dia tersenyum. Dia selalu tersenyum ketika aku mengalihkan, dan senyum itu tidak pernah tersinggung, dan itu jauh lebih membuatku lelah daripada kalau dia marah.
“Ranti.”
“Iya.”
“Kalau kamu capek, bilang.”
“Nggak capek, Om.”
“Bilang aja.” Dia menaruh gelasnya. “Om nggak minta apa-apa. Om cuma nggak suka lihat orang pinter kerja di sini.”
Dan itulah kalimatnya. Selalu variasi dari kalimat itu.
Om nggak minta apa-apa.
Kalau dia meminta sesuatu, aku bisa menolak. Aku sudah tiga tahun ahli menolak.
Yang tidak kuketahui caranya adalah menolak sesuatu yang tidak diminta.
Aku sampai di Warung Sembilan jam empat lewat dua puluh.
Aku tidak menyapa siapa pun. Aku duduk di kursiku, menaruh tas di lantai, dan menyandarkan kepalaku ke tembok.
Dan aku tidak bergerak selama, mungkin, sepuluh menit.
Bimo tidak bertanya apa-apa.
Dia menaruh segelas air putih di depanku. Bukan jahe. Bukan teh. Air putih.
Lalu dia kembali ke balik meja panjang dan mengerjakan apa pun yang sedang dia kerjakan, dan bunyi pisaunya di talenan terus berjalan, teratur, seperti sesuatu yang bisa dipegang.
Aku minum airnya.
Dan aku tetap tidak bergerak.
Aku tidak ingat kapan aku tertidur.
Yang kuingat cuma bahwa aku sedang mendengarkan bunyi pisau itu, dan bahwa bunyinya berubah jadi lebih pelan, dan lebih pelan lagi, dan kemudian tidak ada apa-apa.
Dan yang berikutnya aku tahu, ada cahaya.
Bukan matahari. Lampu warung.
Aku membuka mata setengah, dan yang pertama kulihat adalah kursi kayu, dan lantai keramik, dan kaki meja.
Aku tidak di kursiku.
Aku di kursi panjang di pojok.
Kepalaku di bantal. Ada selimut sampai bahuku.
Dan di atas selimut itu, disampirkan menutupi lenganku, ada jaket abu-abu.
Aku tidak bergerak.
Aku berbaring di sana dengan mata setengah terbuka dan mencoba menyusun apa yang terjadi.
Aku tertidur di kursi. Kursi kayu, tegak, tanpa sandaran tangan. Dan sekarang aku di kursi panjang di pojok, yang jaraknya dari kursiku sekitar empat meter.
Aku tidak berjalan ke sini. Aku tahu itu.
Berarti—
Sesuatu yang panas naik ke wajahku dan aku bersyukur bahwa aku sedang membelakangi ruangan.
Aku menutup mataku lagi.
Dan aku mendengarkan.
Bunyi keran. Bunyi piring ditumpuk. Bunyi kursi digeser di lantai keramik. Bunyi kompor dinyalakan, ditunggu, dimatikan.
Semuanya lebih pelan dari biasanya.
Bimo tidak pernah berisik, tapi malam itu dia bergerak seperti orang di dalam rumah sakit.
Aku berbaring di sana selama mungkin dua puluh menit, pura-pura tidur, mendengarkan seorang laki-laki mengecilkan seluruh warungnya supaya seseorang bisa tidur.
Dan pada suatu titik, langkah kaki itu mendekat.
Berhenti di dekat kursi panjang.
Selama, mungkin, empat detik.
Lalu selimutku ditarik naik sedikit — cuma dua senti, di bagian bahu, tempat selimut itu sempat melorot — dan langkah kaki itu menjauh lagi.
Aku menghitung sampai seratus sebelum akhirnya berani membuka mata.
Aku bangun jam tujuh dan berpura-pura baru bangun.
“Mas.”
“Bangun?”
“Iya.” Aku duduk. Menggosok mata. Melakukan seluruh pertunjukan. “Aku ketiduran, ya?”
“Iya.”
“Sori.”
“Nggak apa-apa.”
“Aku pindah sendiri, ya, tadi?”
Bimo, yang sedang menuang minyak ke wajan, tidak berhenti menuang.
“Iya,” katanya.
Dan itu adalah kebohongan paling jelek yang pernah kudengar dari mulut manusia.
“Oh,” kataku. “Oke.”
“Iya.”
“Soalnya aku nggak inget.”
“Iya. Kamu ngantuk banget.”
“Iya. Banget.”
Kami berdua tahu. Kami berdua tahu bahwa kami berdua tahu. Dan kami berdua memutuskan, secara diam-diam, tanpa berunding, untuk tidak menyentuh topik itu sama sekali.
Aku memakai jaket abu-abu itu dan duduk di kursiku dan makan nasi goreng yang sudah ada di sana entah sejak kapan.
“Mas.”
“Ya.”
“Aku berat, nggak?”
Bimo menjatuhkan spatula.
Bunyinya nyaring sekali di lantai keramik. Dia memungutnya, mencucinya di bak, dan kembali ke wajannya tanpa berkata apa-apa.
“MAS.”
“Kamu bilang kamu pindah sendiri.”
“Iya. Aku pindah sendiri.”
“Ya udah.”
“Tapi seandainya nggak.”
“Ran.”
“Seandainya.”
Bimo mematikan kompor.
Dan berbalik menghadapku dengan wajah yang benar-benar putus asa, wajah seorang laki-laki yang sudah lelah melawan sesuatu yang tidak bisa dilawan.
“Ran.”
“Iya?”
“Kamu tuh kalau lagi tidur, keliatan capek banget.”
Aku berhenti mengunyah.
Itu bukan jawaban yang kuharapkan.
Itu bukan jawaban dari kategori mana pun yang kupunya.
“...Apa?”
Bimo mengambil serbet. Mengelap tangannya. Membelakangiku lagi.
“Nggak ada,” katanya.
“Mas.”
“Nasinya keburu dingin.”
“Bimo.”
“Kamu belum minum.”
Dan aku duduk di sana, di kursi kayu, jam tujuh pagi, dengan jaket kebesaran dan sepiring nasi goreng dan seluruh dadaku yang terasa terlalu penuh, dan aku memutuskan untuk tidak mendesak.
Bukan karena aku takut kali ini.
Karena aku ingin menyimpannya.
Aku pulang jam delapan.
Di depan pintu, aku berhenti.
“Mas.”
“Ya.”
“Malam ini aku mungkin telat.”
“Kenapa?”
“Ada acara. Rombongan.”
Bimo menyusun gelas ke rak.
“Om Hendra?”
Aku berbalik.
“...Kok tau?”
“Kamu nyebut namanya tadi malam.”
“Kapan?”
Bimo menaruh gelas terakhir.
“Waktu tidur,” katanya.
Warung itu sunyi.
Aku berdiri di ambang pintu dengan tangan di gagang, dan seluruh wajahku panas, dan aku tidak tahu bagian mana dari kalimat itu yang paling harus kutanggapi.
“Aku ngomong apa?”
“Nggak jelas.”
“Mas.”
“Beneran nggak jelas.”
“Bimo.”
Dan Bimo, yang berdiri di balik meja panjang dengan serbet di bahunya, mengangkat kepalanya dan menatapku lurus untuk pertama kalinya sejak aku bangun.
“Kamu bilang ‘nggak, Om’,” katanya.
Pelan. Datar. Tanpa penekanan apa pun.
“Tiga kali.”
Aku pulang lima blok dalam keadaan yang tidak bisa kujelaskan.
Malu, sebagian. Malu yang panas dan tidak enak, karena ada seseorang yang mendengar hal-hal yang keluar dari mulutku saat aku tidak bisa mengendalikannya.
Tapi ada yang lain juga.
Karena laki-laki itu mendengar aku mengatakan “nggak, Om” tiga kali dalam tidurku.
Dan yang dia lakukan setelahnya bukan bertanya. Bukan menyelidiki. Bukan marah, bukan menawarkan diri untuk menjemput, bukan berkata “kamu harus berhenti kerja di situ”.
Yang dia lakukan adalah memindahkanku ke kursi yang lebih empuk, menyampirkan jaketnya, mengecilkan bunyi seluruh warungnya, dan menarik selimutku naik dua senti ketika selimutnya melorot.
Lalu berbohong bahwa aku pindah sendiri.
Supaya aku tidak perlu merasa berutang apa pun.
Aku sampai di kontrakan, menutup pintu, bersandar di baliknya.
Dan aku berkata, keras-keras, ke ruangan kosong:
“Ini nggak lucu lagi.”
Bersambung ke Bab 15 — “Jam Empat Pagi”
- 1 Warung Sembilan
- 2 Bayar Besok
- 3 Gitar yang Tidak Ditanya
- 4 Udang
- 5 Yuni Datang
- 6 Kalau Merem
- 7 Hujan Sampai Subuh
- 8 Adik
- 9 Surat
- 10 Perempuan yang Datang Pagi
- 11 Tali Sandal
- 12 Menu yang Tidak Ada
- 13 Skincare
- 14 Jaket, Lagi reading
- 15 Jam Empat Pagi
- 16 Lima Puluh Dua
- 17 Ukurannya Pas
- 18 Demam
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Zirah
- 21 Senar
- 22 Api
- 23 Yuni Marah
- 24 Kalau Kamu Berhenti
- 25 Handuk
- 26 Om Hendra
- 27 Pertengkaran
- 28 Laptop
- 29 Tujuh Menit
- 30 Yang Tidak Dikatakan
- 31 Nanti Kamu Nyesel
- 32 Lima Menit
- 33 Surat Pengunduran Diri
- 34 Pagi
- 35 Dimas
- 36 Hari-hari Biasa
- 37 Mobil Hitam
- 38 Ringan
- 39 Tiga Juta
- 40 Porsi Dua
- 41 Yang Dikembalikan
- 42 Yang Aku Tahu
- 43 Bapakku Nggak Butuh Kopi Murah
- 44 Sikat Gigi
- 45 Empat Tahun Dalam Satu Tas
- 46 Setelan
- 47 Selesai
- 48 Warung Sembilan
- 49 Kampung
- 50 Pasar
- 51 Yang Ditinggalkan
- 52 Jam Empat Pagi