Chapter Seventeen

Ukurannya Pas

POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Mamad, Kirana Jumlah kata: ±2.400


Kalau strategi pertama gagal, kau ganti strategi.

Itu bukan filosofi hidup. Itu cuma cara bertahan yang sudah kupakai sejak umur dua puluh empat. Kalau satu pintu tidak bisa dibuka, kau tidak berdiri di depannya sambil menangis. Kau cari pintu lain.

Jadi aku mengganti strategiku.

Kalau aku tidak bisa membuat Bimo menjauh, aku akan membuat diriku sendiri menjauh.

Rencananya begini: aku akan datang lebih jarang. Dua hari sekali. Lalu tiga. Aku akan tetap ramah, tetap bercanda, tapi aku akan memperlakukan warung itu sebagai warung, bukan sebagai tempat.

Aku menyusun rencana itu dengan sangat rapi, di kepalaku, pada hari Senin.

Rencana itu bertahan sampai hari Selasa.


Yang menghancurkannya adalah hal yang sangat kecil, dan aku benci itu.

Aku sedang bersiap kerja. Aku sudah mandi, sudah merias wajah, dan aku sedang berdiri di depan lemari memilih baju.

Dan aku mengambil satu dress, memandanginya, lalu menaruhnya kembali.

Lalu mengambil yang lain.

Lalu menaruhnya kembali juga.

Dan aku berdiri di depan lemari itu selama mungkin empat menit sebelum aku menyadari apa yang sedang kulakukan.

Aku tidak sedang memilih baju untuk kerja.

Aku sedang memilih baju untuk jam empat pagi.

Aku duduk di tepi kasur dan menutup wajahku dengan kedua tangan dan tertawa — tertawa yang jelek, yang Bimo bilang lebih benar — karena aku, Ranti Wulansari, dua puluh tujuh tahun, yang setiap malam berpakaian untuk pekerjaan di mana penampilan adalah modal, tidak pernah sekali pun dalam tiga tahun memikirkan bajunya selama lebih dari tiga puluh detik.

Sampai malam itu.

Aku memakai dress hijau tua. Yang sederhana. Yang lengannya panjang.

Yang paling tidak seperti baju kerja dari semua yang kupunya.


“Duduk.”

“Iya.”

Aku duduk di kursiku. Bimo menaruh mangkuk. Aku makan.

Dan selama dua puluh menit, tidak ada apa-apa.

Aku bahkan sempat merasa bangga. Lihat, aku bisa. Aku bisa duduk di sini seperti orang normal, makan seperti orang normal, tidak menggoda, tidak melempar apa pun, tidak menguji apa pun.

Dua puluh menit.

Lalu Bimo berkata:

“Baju kamu bagus.”

Aku berhenti mengunyah.

“...Apa?”

“Bajunya.” Dia menunjuk dengan dagunya, sambil terus mengiris. “Bagus.”

Sesuatu yang hangat dan sangat bodoh naik dari leherku.

Dan aku — karena aku tidak pernah belajar apa pun — bertanya:

“Serius?”

“Iya.”

“Bagus gimana?”

Bimo mengangkat kepalanya.

Menatap dress itu selama, mungkin, dua detik.

Dan berkata:

“Ukurannya pas.”

Aku menunggu.

Aku menunggu bagian keduanya. Aku menunggu belokannya. Aku menunggu kalau merem versi apa pun, karena aku sudah belajar bahwa laki-laki ini selalu punya belokan.

Tidak ada.

“...Terus?”

“Terus apa.”

“Terus nggak ada lanjutannya?”

“Nggak.”

“Mas.”

“Kenapa harus ada lanjutan.”

Dan aku duduk di sana dengan sendok di udara, dan aku menyadari sesuatu yang sangat mengganggu:

Ini lebih parah.

Kalau dia bilang “kamu cantik, kalau merem”, aku bisa memukulnya. Aku bisa tertawa. Aku bisa mengubahnya jadi permainan, dan permainan itu aman, karena permainan punya aturan.

Tapi laki-laki ini baru saja mengatakan bahwa bajuku bagus, dan berhenti di situ, dan kembali ke bawangnya.

Tidak ada yang bisa kupukul.

“Mas.”

“Hm.”

“Kamu jahat.”

“Kenapa.”

“Kamu tuh biasanya ngeledek.”

“Iya.”

“Sekarang kenapa nggak?”

Bimo memindahkan bawangnya ke mangkuk kecil.

“Karena bajunya bagus beneran,” katanya.

Aku menaruh sendokku, berdiri, dan pergi ke kamar mandi selama empat menit, dan aku tidak akan menjelaskan apa yang kulakukan di sana.


Aku keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah kucuci dan strategi yang sudah kususun ulang.

Kalau dia tidak mau bermain, aku yang akan memaksa permainannya jalan.

“Mas.”

“Ya.”

“Aku boleh minta tolong?”

“Boleh.”

“Resletingku macet.”

Ini bohong. Resletingku baik-baik saja. Aku memutar dress itu sedikit di badanku supaya resletingnya agak miring di punggung, dan aku berdiri membelakanginya, dan aku menyingkirkan rambutku ke depan bahu.

Warung sepi. Mamad tidur. Jam empat lewat empat puluh.

“Mas?”

Tidak ada jawaban.

“Mas, tolong dong.”

Aku mendengar sesuatu diletakkan di meja. Pisau, mungkin.

Lalu langkah kaki.

Berhenti di belakangku, sekitar setengah meter.

Dan tidak bergerak.

Aku menghitung. Satu. Dua. Tiga. Empat.

“Mas.”

“...Iya.”

“Kok diem?”

“Bentar.”

“Bentar apa?”

Dan suara di belakangku, yang jaraknya setengah meter, keluar dengan cara yang belum pernah kudengar dari mulut laki-laki itu:

“Ran, ini nggak macet.”

Aku membeku.

“Hah?”

“Resletingnya nggak macet.” Jeda. “Cuma miring.”

“...Oh.”

“Iya.”

“Berarti nggak usah dibenerin, dong.”

“Nggak usah.”

Dan langkah kaki itu mundur.

Aku berbalik.

Bimo sudah kembali di balik meja panjang, membelakangiku, mencuci sesuatu di bak yang aku yakin sekali tidak kotor.

Telinganya merah sampai ke leher.


Aku menang, dan aku merasa buruk sekali.

Itu perasaan yang aneh dan aku tidak siap dengannya. Selama tiga tahun aku menang setiap malam — membuat laki-laki gelagapan adalah pekerjaanku, dan aku bagus dalam pekerjaanku, dan aku tidak pernah merasa apa-apa setelahnya.

Malam itu aku duduk di kursiku dan memandangi punggung laki-laki yang berdiri di depan bak cuci selama terlalu lama, dan aku merasa seperti orang yang baru saja mendorong seseorang ke kolam untuk lucu-lucuan lalu ingat bahwa orang itu tidak bisa berenang.

“Mas.”

“Ya.”

“Sori.”

Bimo mematikan keran.

“Buat apa.”

“Resletingnya.”

Jeda panjang.

“Nggak apa-apa.”

“Mas.”

“Ran, nggak apa-apa.”

“Aku bohong.”

“Iya. Saya tau.”

“Terus kenapa kamu tetep jalan ke belakangku?”

Dan itu adalah pertanyaan yang aku sendiri kaget bisa keluar dari mulutku, karena itu pertanyaan yang jujur, dan aku sudah lama sekali tidak mengajukan pertanyaan yang jujur kepada siapa pun.

Bimo berbalik.

Dan bersandar ke meja panjang, dan melipat tangannya, dan menatapku.

“Karena kalau kamu manggil, saya datang,” katanya.

Empat detik.

“Bohong atau nggak.”


Aku tidak bisa berkata apa-apa selama sisa malam itu.

Aku serius. Aku mencoba beberapa kali. Aku membuka mulut, menyusun sesuatu di kepalaku, lalu menutupnya lagi, karena semua yang kususun terdengar seperti kalimat orang bodoh.

Bimo tidak mengomentari diamku.

Dia menaruh sepiring pisang goreng jam lima pagi, tanpa berkata apa-apa, dan kembali ke tempatnya.

Aku memakannya dalam diam.

Dan sekitar jam setengah enam, waktu aku sudah berdiri di ambang pintu, aku akhirnya berhasil mengeluarkan sesuatu.

“Mas.”

“Ya.”

“Kalau aku manggil kamu buat hal yang bodoh terus, gimana?”

Bimo mengunci pintu dapur.

“Ya saya datang.”

“Terus kalau aku manggil kamu buat hal yang bikin kamu susah?”

“Ya saya datang.”

“Terus kalau—“

“Ran.”

Aku berhenti.

Bimo berjalan ke pintu depan, ke tempat aku berdiri, dan membukanya. Udara subuh masuk.

Dan dia berdiri di situ, satu tangan di gagang pintu, dan tidak menatapku, karena dia tidak pernah menatapku waktu mengatakan hal-hal yang penting.

“Kamu tuh nanyanya kebalik terus,” katanya.

“Maksudnya?”

“Kamu selalu nanya apa yang harus kamu bayar.”

Aku diam.

“Coba sekali-sekali nanya apa yang kamu dapet.”

Dan aku keluar ke gang yang dingin, dan aku tidak bisa mengingat satu pun dari lima blok perjalanan pulangku.


Kirana ada di depan ruko sebelah pagi itu, sedang membuka gembok.

“Mbak Ranti!”

Aku hampir tidak berhenti.

Aku ingin sekali tidak berhenti. Tapi ada bagian dari diriku yang sudah tiga tahun dilatih untuk tidak pernah bersikap tidak sopan kepada siapa pun, dan bagian itu mengambil alih sebelum aku sempat melarikan diri.

“Eh, Kirana. Pagi.”

“Pagi!” Dia tersenyum. Selalu tersenyum. “Baru pulang?”

“Iya.”

“Dari Mas Bimo?”

“Iya.”

Kirana menggantung gemboknya di pagar.

Dan berkata, dengan nada yang sama sekali tidak menyindir, dengan wajah yang benar-benar polos:

“Mbak Ranti sering banget, ya, ke sana.”

Dan itu — kalimat paling tidak berbahaya di dunia, yang diucapkan tanpa satu tetes pun racun — masuk ke perutku seperti pisau.

“Iya,” kataku. “Lumayan.”

“Enak, ya, Mas Bimo orangnya.”

“Iya.”

“Baik banget.” Kirana membuka pintu rukonya. “Saya udah setahun lebih ke sana, tapi belum pernah sekali pun malem. Nggak berani.”

“Kenapa nggak berani?”

Kirana menoleh.

Dan tertawa kecil, dengan tangan menutup mulut, seperti anak sekolah.

“Ya kan nggak enak, Mbak,” katanya. “Perempuan keluar malem sendirian.”

Gang itu sunyi.

Ada tukang sayur lewat. Ada ayam. Ada bunyi rolling door dari ujung jalan.

Dan Kirana — aku bersumpah demi apa pun, dan ini yang membuat semuanya jauh lebih buruk — Kirana benar-benar tidak menyadari apa yang baru saja dia katakan.

Wajahnya tetap ramah. Matanya tetap hangat. Dia sedang membuat percakapan basa-basi dengan seseorang yang dia anggap teman.

“Iya,” kataku. “Bener.”

“Mbak Ranti hati-hati, ya, kalau pulang.”

“Iya. Makasih.”

“Sampai ketemu lagi!”

Aku berjalan pulang.


Aku sampai di kontrakan jam enam pagi.

Aku tidak mandi. Aku tidak ganti baju. Aku duduk di lantai, masih memakai dress hijau tua yang ukurannya pas, dan aku menatap dinding selama entah berapa lama.

Dan di kepalaku, dua kalimat itu berputar bergantian, seperti dua orang yang bergiliran memukul.

Coba sekali-sekali nanya apa yang kamu dapet.

Ya kan nggak enak, Mbak. Perempuan keluar malem sendirian.

Dan aku sadar bahwa dua kalimat itu tidak sedang berdebat.

Yang kedua sedang menjawab yang pertama.


Bersambung ke Bab 18 — “Demam”