Chapter Fifty
Pasar
POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo Jumlah kata: ±1.100
Aku ikut ke pasar hari Kamis.
Itu bukan hal biasa. Pasar adalah wilayahnya. Empat tahun lebih dia berangkat jam enam pagi sendirian, dan aku sudah beberapa kali menawarkan diri, dan dia selalu bilang “nggak usah, Ran, kamu tidur aja.”
Hari Kamis itu dia tidak bilang apa-apa.
Dia cuma berdiri di ambang pintu kamar dengan kunci motor di tangan dan menunggu.
Jadi aku bangun, dan cuci muka, dan ikut.
Pasar Kliwon buka dari jam empat pagi.
Dan jam setengah tujuh pagi, pasar itu adalah tempat paling hidup di seluruh kota — becek, berisik, penuh, dengan bau yang berlapis-lapis dan orang-orang yang berteriak dan gerobak yang didorong terlalu cepat di antara orang.
Dan Bimo bergerak di dalamnya seperti orang yang tahu setiap jengkalnya.
Aku mengikutinya dan aku hampir tidak bisa mengimbangi.
Bawang di kios kedua dari kiri, karena Bu Marni memberi harga lebih murah untuk yang beli di atas lima kilo.
Cabai di ujung, karena yang di depan sudah dua hari.
Ayam di kios yang sama sejak empat tahun lalu, dari seorang laki-laki yang memanggilnya “Mas Bim” dan menyisihkan bagian tertentu untuknya sebelum dia datang.
Dan sepanjang itu, dia tidak menoleh ke belakang sekali pun untuk memastikan aku masih mengikuti.
Karena dia memegang tanganku.
Aku tidak menyadarinya di awal.
Dia mengambil tanganku di parkiran, waktu kami turun dari motor, dan aku pikir itu supaya aku tidak hilang di keramaian.
Dan aku terus berpikir begitu selama dua puluh menit.
Sampai kami melewati kios ikan asin.
Dan aku melihat dua perempuan yang berdiri di sana berhenti bicara.
Dan menoleh.
Aku tidak mengenal mereka.
Aku ingin mencatat itu, karena itu penting.
Aku tidak mengenal mereka, dan mereka mungkin tidak mengenalku, dan mungkin mereka menoleh karena alasan yang tidak ada hubungannya denganku sama sekali.
Tapi aku sudah tiga tahun sepuluh bulan hidup dengan kemampuan untuk mengenali satu jenis tatapan tertentu dari jarak sepuluh meter, dan kemampuan itu tidak hilang dalam sepuluh bulan.
Dan tanganku bergerak.
Refleks.
Menarik.
Bimo tidak melepaskan.
Dia tidak berhenti berjalan. Dia tidak menoleh ke arah dua perempuan itu. Dia tidak menoleh ke arahku.
Jari-jarinya menutup lebih rapat, satu kali, dan dia terus berjalan ke kios berikutnya.
Aku menariknya lagi lima langkah kemudian.
Kali ini lebih keras.
Dan kali ini Bimo berhenti.
Di tengah pasar, di antara orang-orang yang berjalan cepat, dengan dua kantong plastik di tangan kirinya.
Dan dia berbalik menghadapku.
Dan dia tidak berkata apa-apa.
Dia cuma berdiri di sana, jam tujuh pagi, di tengah jalan sempit di antara kios bawang dan kios kelapa, dengan orang-orang yang harus memutar untuk melewati kami.
Dan dia memandangiku.
Dan menunggu.
Aku menunduk.
Aku melihat tanganku di tangannya. Punggung tangannya yang kasar, bekas luka kecil di pangkal ibu jari, dan jari-jariku yang lebih kecil di dalamnya.
Dan aku merasakan sesuatu yang panas naik ke wajahku.
Bukan malu.
Sesuatu yang lain, yang sudah sepuluh bulan tumbuh perlahan-lahan dan tidak pernah kuberi nama.
Ada seorang bapak yang mendorong gerobak di belakang kami dan berteriak supaya kami minggir.
Bimo menarikku ke sisi jalan.
Masih memegang tanganku.
Dan berdiri di sana, di depan kios kelapa, dan tetap tidak berkata apa-apa.
Aku mengangkat kepalaku.
Dan aku menatap laki-laki itu — dengan kaus yang sudah basah di punggung karena pasar panas, dengan rambut yang belum disisir, dengan dua kantong plastik berisi bawang dan cabai.
Dan aku memutar tanganku di dalam tangannya.
Sampai telapakku menghadap telapaknya.
Dan aku menyelipkan jari-jariku di antara jari-jarinya.
Kami menghabiskan empat puluh menit lagi di pasar.
Dan aku tidak melepaskannya sekali pun.
Bukan waktu dia harus mengambil uang dari saku — dia melakukannya dengan satu tangan, dengan susah payah, sambil menjepit kantong plastik di antara lengan dan badannya.
Bukan waktu kami harus lewat di antara dua gerobak yang sempit — aku berjalan di belakangnya dengan tangan terjulur ke depan seperti anak kecil.
Bukan waktu Bu Marni bertanya “ini siapa, Mas Bim?” dan Bimo berkata “Ranti” dan tidak menambahkan apa pun, dan Bu Marni tersenyum dan berkata “oh” dengan cara yang mengandung seluruh kalimat.
Tidak sekali pun.
Kami sampai di parkiran jam delapan lewat.
Dan Bimo menaruh kantong-kantong itu di jok motor, dan mengeluarkan kunci, dan aku akhirnya melepaskan tangannya supaya dia bisa memakai helm.
Dan dia berhenti.
Dengan helm di tangan.
Dan dia menoleh ke arahku.
Dan dia berkata satu kalimat — kalimat pertama yang dia ucapkan sejak kami turun dari motor satu setengah jam yang lalu.
“Besok ikut lagi?”
Dan aku mengangguk.
Aku memikirkannya sepanjang perjalanan pulang, dengan tangan melingkar di pinggangnya, dengan dagu di punggungnya, di jalan yang mulai ramai.
Dan yang kupikirkan adalah ini.
Sepuluh bulan lalu, aku berdiri di ambang pintu sebuah warung jam empat pagi dengan sepatu di tangan, dan aku menyiapkan wajahku, karena aku sudah tiga tahun hidup dengan asumsi bahwa setiap ruangan yang kumasuki akan menghitungku.
Dan sepuluh bulan kemudian, aku berjalan di tengah pasar jam tujuh pagi, di bawah matahari, di depan tiga ratus orang.
Dan tidak ada satu pun yang berubah tentang siapa aku.
Aku masih perempuan yang sama. Riwayatku masih riwayat yang sama. Tiga tahun sepuluh bulan di Aurora tidak hilang dan tidak akan pernah hilang dan aku tidak ingin itu hilang.
Yang berubah cuma satu hal.
Ada orang yang menggenggam tanganku di tempat terang.
Dan waktu aku menarik, dia tidak melepaskan.
Dan waktu aku menarik lagi, dia berhenti, dan berbalik, dan tidak berkata apa-apa.
Dan menunggu sampai aku selesai takut.
Bersambung ke Bab 51 — “Yang Ditinggalkan”
- 1 Warung Sembilan
- 2 Bayar Besok
- 3 Gitar yang Tidak Ditanya
- 4 Udang
- 5 Yuni Datang
- 6 Kalau Merem
- 7 Hujan Sampai Subuh
- 8 Adik
- 9 Surat
- 10 Perempuan yang Datang Pagi
- 11 Tali Sandal
- 12 Menu yang Tidak Ada
- 13 Skincare
- 14 Jaket, Lagi
- 15 Jam Empat Pagi
- 16 Lima Puluh Dua
- 17 Ukurannya Pas
- 18 Demam
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Zirah
- 21 Senar
- 22 Api
- 23 Yuni Marah
- 24 Kalau Kamu Berhenti
- 25 Handuk
- 26 Om Hendra
- 27 Pertengkaran
- 28 Laptop
- 29 Tujuh Menit
- 30 Yang Tidak Dikatakan
- 31 Nanti Kamu Nyesel
- 32 Lima Menit
- 33 Surat Pengunduran Diri
- 34 Pagi
- 35 Dimas
- 36 Hari-hari Biasa
- 37 Mobil Hitam
- 38 Ringan
- 39 Tiga Juta
- 40 Porsi Dua
- 41 Yang Dikembalikan
- 42 Yang Aku Tahu
- 43 Bapakku Nggak Butuh Kopi Murah
- 44 Sikat Gigi
- 45 Empat Tahun Dalam Satu Tas
- 46 Setelan
- 47 Selesai
- 48 Warung Sembilan
- 49 Kampung
- 50 Pasar reading
- 51 Yang Ditinggalkan
- 52 Jam Empat Pagi