Chapter Forty Seven
Selesai
POV: Bimo Tokoh: Bimo, Ranti, Damar, Mamad Jumlah kata: ±2.500
Damar datang di minggu keenam.
Bukan ke warung. Ke lobi gedung tempat aku memberi keterangan, hari Kamis, jam empat sore, sesaat setelah aku keluar dari ruangan.
Dia sudah duduk di sofa dekat pintu.
Dan dia berdiri waktu melihatku.
“Bim.”
Aku berhenti.
Dan aku melihat laki-laki itu untuk pertama kalinya dalam enam minggu, dan aku melihat sesuatu yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Dia kurus.
Dan kemejanya kusut di bagian punggung, yang berarti dia sudah duduk di sofa itu untuk waktu yang lama.
“Sepuluh menit.”
“Damar.”
“Sepuluh menit, Bim. Terus saya pergi.”
Dan aku berdiri di lobi itu dengan map di tangan, dan aku menghitung.
Aku menghitung berapa hal yang bisa dia katakan yang akan mengubah apa pun.
Nol.
Dan aku duduk.
Kami duduk di sofa lobi selama dua puluh menit, bukan sepuluh.
Dan dia tidak memohon.
Aku ingin mencatat itu, karena aku sudah menyiapkan diri untuk permohonan dan aku sudah menyiapkan jawabanku, dan tidak satu pun dari itu terpakai.
“Kamu udah kasih semuanya?”
“Iya.”
“Termasuk log rilis 4.2.0?”
“Iya.”
“Termasuk transkrip empat belas Maret?”
“Iya.”
Dan Damar mengangguk pelan, dan menyandarkan punggungnya, dan memandangi langit-langit lobi.
“Ya udah,” katanya.
“Damar.”
“Hm.”
“Kamu nggak nanya kenapa?”
Dan dia menoleh.
“Nggak.”
“Kenapa nggak?”
Dan Damar berkata:
“Karena saya udah tau dari empat tahun lalu.”
Lobi itu ramai. Ada orang lewat. Ada lift berbunyi.
“Waktu kamu hilang,” lanjutnya, “semua orang di kantor bilang kamu kabur.”
Aku tidak menjawab.
“Dan saya diem aja. Saya biarin mereka mikir gitu.” Dia mengangkat bahu. “Karena kalau saya bilang yang bener, saya harus bilang apa yang bener.”
“Yang bener apa?”
Dan Damar menoleh ke arahku.
“Bahwa kamu nggak kabur,” katanya. “Kamu lagi nunggu sampai kamu sanggup.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa selama beberapa detik.
“Damar.”
“Hm.”
“Kamu bisa maju juga.”
Dan dia tertawa. Pendek. Satu bunyi.
“Nggak bisa.”
“Bisa.”
“Bim—“
“Kamu punya akses ke hal-hal yang saya nggak punya,” kataku. “Empat tahun terakhir. Semua yang terjadi setelah saya keluar.”
Damar memandangi tangannya.
“Iya.”
“Kalau kamu maju—“
“Bim.”
Dan dia menoleh.
Dan wajahnya adalah wajah orang yang sudah lama tidak tidur.
“Saya punya anak dua,” katanya. “Yang gede tujuh tahun.”
Aku diam.
“Dan istri saya nggak tau apa-apa.” Suaranya sangat tenang. “Dan bapak saya sakit.”
“Damar—“
“Dan itu semua alesan, dan saya tau itu alesan.” Dia mengangkat tangannya. “Saya nggak minta kamu ngerti.”
Dan dia berdiri.
Dan merapikan jasnya.
“Bim.”
“Ya.”
Dan Damar berkata:
“Empat tahun saya nyari kamu bukan buat nyuruh kamu diem.”
Aku mengangkat kepalaku.
“Saya nyari kamu,” katanya, “karena saya pengen tau apakah masih ada orang yang nggak berubah.”
Dan dia berjalan ke pintu.
Aku tidak pernah melihatnya lagi.
Bukan karena sesuatu yang dramatis. Dia mengundurkan diri dari Ringan tiga minggu kemudian, dan tidak memberikan kesaksian, dan tidak dituntut secara pidana, dan sampai hari ini masih tinggal di kota ini bersama istri dan dua anaknya.
Aku tidak tahu apakah dia tidur nyenyak.
Aku sudah berhenti mencoba menghitung hal-hal seperti itu.
Beritanya keluar hari Selasa, jam sebelas malam.
Aku sedang menutup warung.
Mamad yang melihat duluan — dia sedang main ponsel di kursi belakang, dan dia berteriak “BANG” dengan suara yang membuatku menjatuhkan gelas.
“Kenapa?”
“BANG, INI—“
Dan dia berlari ke depan dengan ponselnya.
Judulnya panjang. Nama media besar. Dan di bawahnya ada foto gedung kantor yang sudah empat tahun tidak kulihat.
Ranti mengambil ponsel itu dari tangan Mamad.
Dan membacanya keras-keras.
Aku tidak akan menulis ulang isinya.
Yang penting cuma tiga hal, dan tiga hal itu muat dalam satu paragraf:
OJK menghentikan operasional Ringan.
Gugatan class action dikabulkan sebagian pada tahap pembuktian awal, dengan dokumen internal sebagai bukti utama.
Dan ada satu kalimat, di paragraf kesembilan, yang tidak menyebut namaku:
Bukti tersebut diserahkan oleh mantan pejabat internal perusahaan yang identitasnya dirahasiakan atas permintaan yang bersangkutan.
Warung itu sunyi.
Mamad memandangi ponselnya. Ranti memandangi ponselnya. Dan aku berdiri di balik meja panjang dengan pecahan gelas di lantai dekat kakiku.
“Bang.”
“Hm.”
“Ini... Abang?”
Dan aku tidak menjawab.
Dan Mamad menoleh ke Ranti, lalu ke aku, lalu ke ponselnya lagi.
Dan anak itu — sembilan belas tahun, yang tidak tahu apa-apa tentang apa pun selama tiga setengah tahun, yang mengira bosnya cuma orang yang tidak bisa berhitung —
menaruh ponselnya di meja.
Dan berkata:
“Ya udah, Bang. Saya sapu pecahannya.”
Dan dia mengambil sapu.
Dan itu adalah hal paling baik yang pernah dilakukan siapa pun kepadaku.
Kami menutup warung jam dua belas.
Dan Mamad pulang ke belakang, dan lampu depan dimatikan, dan cuma tinggal lampu kecil di dekat dapur.
Dan aku duduk di kursi.
Dan Ranti duduk di kursi di seberangku.
Dan tidak ada satu pun dari kami yang bicara selama mungkin sepuluh menit.
“Mas.”
“Ya.”
“Kamu ngerasa apa?”
Dan aku memandangi meja panjang itu.
Kayu yang sudah aus di tengahnya. Dua puluh tahun dilap oleh entah berapa orang sebelum aku, dan empat tahun dilap olehku.
“Nggak ngerasa apa-apa,” kataku.
“Mas.”
“Beneran, Ran.” Aku mengangkat kepalaku. “Saya nunggu sesuatu dari tadi, dan nggak ada.”
“Nunggu apa?”
Dan aku berkata:
“Lega.”
Ranti tidak bergerak.
“Saya udah empat tahun mikir kalau hari ini datang, saya bakal ngerasa sesuatu.” Aku memandangi tanganku. “Terus hari ini datang. Terus nggak ada apa-apa.”
“Mas.”
“Dan itu bikin saya mikir bahwa mungkin—“
Dan aku berhenti.
Karena suaraku berhenti.
Bukan berhenti karena aku memutuskan berhenti. Berhenti seperti mesin yang mati.
“Mas?”
Dan aku membuka mulutku untuk melanjutkan.
Dan yang keluar bukan kata-kata.
Aku tidak tahu berapa lama.
Aku ingin sangat jelas bahwa aku tidak tahu berapa lama, karena aku sudah empat tahun mengukur segalanya dan aku tidak mengukur yang ini.
Yang kutahu:
Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.
Dan bunyi yang keluar dari dadaku bukan bunyi yang pernah kudengar dari diriku sendiri, dan aku ingat berpikir — dengan bagian kecil dari otakku yang masih berfungsi — bahwa aku harus berhenti karena Mamad bisa mendengar.
Dan aku tidak bisa berhenti.
Empat tahun.
Empat tahun, tiga bulan, dan berapa pun hari, dan aku tidak pernah sekali pun mengizinkan diriku duduk dan tidak melakukan apa-apa, karena kalau aku duduk dan tidak melakukan apa-apa maka aku harus ada di dalam kepalaku sendiri, dan aku sudah lama memutuskan bahwa itu bukan tempat yang bisa kutinggali.
Dan malam itu tidak ada yang harus kukerjakan.
Tidak ada stok yang harus dihitung. Tidak ada surat yang harus dibaca. Tidak ada empat puluh satu ribu akun.
Tidak ada apa-apa.
Dan aku duduk di kursi kayu di warungku sendiri jam dua belas lewat sepuluh malam dan aku tidak punya satu pun tempat untuk pergi.
Ranti memegangku.
Aku tidak tahu kapan dia berpindah. Aku cuma tahu bahwa pada satu titik ada tangan di belakang kepalaku dan ada bahu di bawah wajahku dan ada seseorang yang tidak berkata apa-apa sama sekali.
Dia tidak bilang “nggak apa-apa”.
Dia tidak bilang “udah selesai”.
Dia tidak bilang satu pun kalimat yang biasa dikatakan orang, dan aku tahu bahwa itu bukan kebetulan, dan aku tahu bahwa perempuan itu sudah memutuskannya sebelum dia bergerak dari kursinya.
Dia cuma memegangku.
Dan pada satu titik — aku tidak tahu kapan — dia mulai bergerak sedikit.
Ke depan dan ke belakang. Sangat pelan.
Seperti orang menidurkan bayi.
Dan aku menangis lebih keras.
Aku selesai sekitar jam satu.
Dan aku duduk di kursi itu dengan wajah bengkak dan tenggorokan yang perih, dan aku merasakan sesuatu yang tidak bisa kukenali selama beberapa detik.
Lalu aku mengenalinya.
Lapar.
Aku lapar.
Dan aku duduk di kursi kayu itu dan aku hampir tertawa, karena itu adalah hal paling biasa dan paling bodoh dan paling manusiawi yang bisa dirasakan seseorang.
“Ran.”
“Ya.”
“Saya laper.”
Dan aku merasakan tubuhnya bergerak — dia tertawa, satu bunyi, dengan wajah masih di rambutku.
“Ya udah,” katanya.
Dan dia berdiri.
Dan berjalan ke dapur, dan menyalakan kompor, dan aku duduk di kursi itu dan menonton perempuan itu memasak nasi goreng jam satu pagi.
Dan kecapnya kebanyakan.
Selalu kebanyakan.
Aku memakannya sampai habis.
“Mas.”
“Hm.”
“Kamu tau nggak yang paling aneh dari malam ini?”
Aku menggeleng.
Dan Ranti duduk di kursi di seberangku, dengan dagu di telapak tangan, memandangiku makan.
“Kamu makan,” katanya.
Aku berhenti mengunyah.
“Lima bulan aku di warung ini.” Dia mengangkat bahu. “Dan aku nggak pernah sekali pun liat kamu duduk terus makan.”
Aku menaruh sendokku.
Dan aku berpikir.
Dan dia benar.
Empat tahun aku makan sambil berdiri di balik meja panjang, dari panci, dengan satu tangan, di antara pesanan.
Aku tidak pernah duduk.
“Ran.”
“Ya.”
Dan aku tidak tahu bagaimana mengucapkannya, jadi aku mengucapkannya dengan buruk:
“Saya nggak tau harus ngapain besok.”
Dan Ranti tidak menjawab langsung.
Dia mengambil sendok dari piringku, mengambil sesendok nasi goreng buatannya sendiri, memakannya, dan berkata:
“Ini keasinan.”
“Iya.”
“Kok kamu nggak bilang?”
“Ran.”
“Iya, iya.” Dia menaruh sendoknya. “Besok kamu buka warung jam lima.”
“Terus?”
“Terus kamu masak. Terus jam sepuluh Pak Sunar datang. Terus jam dua belas Bu Yatmi minta air panas.”
Aku memandanginya.
“Terus?”
“Terus jam empat sore kamu masak dua porsi.”
Dan dia mengangkat kepalanya.
“Dan yang satu dimakan,” katanya.
Aku tidur jam tiga pagi.
Dan aku bangun jam sebelas siang.
Sebelas siang.
Aku belum pernah bangun jam sebelas siang sejak — aku tidak tahu. Sejak sebelum semuanya. Sejak aku masih orang yang berbeda.
Dan aku berbaring di kasur di kamar belakang dan aku mendengarkan bunyi warung dari balik pintu.
Piring. Kompor. Suara Mamad. Suara Ranti yang menghitung sesuatu keras-keras. Suara Mbak Ayu yang tertawa.
Dan aku berbaring di sana selama dua puluh menit dan tidak bangun.
Bukan karena aku tidak bisa.
Karena aku tidak perlu.
Aku keluar jam setengah dua belas.
Dan Ranti melihatku dari balik meja panjang — dari balik meja panjang, di tempat aku berdiri selama empat tahun — dengan serbet di bahunya dan spatula di tangan.
“Bangun?”
“Iya.”
“Duduk,” katanya.
Dan aku duduk.
Dan tiga menit kemudian ada piring di depanku.
Dan aku memandangi piring itu — nasi, telur dadar yang dilipat dengan sangat tidak rapi, dan tumis kangkung yang terlalu matang.
Dan aku memandanginya untuk waktu yang lama.
“Mas?”
“Ya.”
“Kenapa?”
Dan aku berkata:
“Nggak apa-apa.”
Dan aku makan.
Bersambung ke Bab 48 — “Warung Sembilan”
- 1 Warung Sembilan
- 2 Bayar Besok
- 3 Gitar yang Tidak Ditanya
- 4 Udang
- 5 Yuni Datang
- 6 Kalau Merem
- 7 Hujan Sampai Subuh
- 8 Adik
- 9 Surat
- 10 Perempuan yang Datang Pagi
- 11 Tali Sandal
- 12 Menu yang Tidak Ada
- 13 Skincare
- 14 Jaket, Lagi
- 15 Jam Empat Pagi
- 16 Lima Puluh Dua
- 17 Ukurannya Pas
- 18 Demam
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Zirah
- 21 Senar
- 22 Api
- 23 Yuni Marah
- 24 Kalau Kamu Berhenti
- 25 Handuk
- 26 Om Hendra
- 27 Pertengkaran
- 28 Laptop
- 29 Tujuh Menit
- 30 Yang Tidak Dikatakan
- 31 Nanti Kamu Nyesel
- 32 Lima Menit
- 33 Surat Pengunduran Diri
- 34 Pagi
- 35 Dimas
- 36 Hari-hari Biasa
- 37 Mobil Hitam
- 38 Ringan
- 39 Tiga Juta
- 40 Porsi Dua
- 41 Yang Dikembalikan
- 42 Yang Aku Tahu
- 43 Bapakku Nggak Butuh Kopi Murah
- 44 Sikat Gigi
- 45 Empat Tahun Dalam Satu Tas
- 46 Setelan
- 47 Selesai reading
- 48 Warung Sembilan
- 49 Kampung
- 50 Pasar
- 51 Yang Ditinggalkan
- 52 Jam Empat Pagi