Chapter Thirty Three
Surat Pengunduran Diri
POV: Ranti Tokoh: Ranti, Bimo, Yuni, Mami Lin, Om Hendra (disebut), Dimas (via telepon) Jumlah kata: ±2.600
Aku perlu meluruskan sesuatu sebelum aku menceritakan bab ini.
Nanti akan ada orang yang bilang aku berhenti karena Bimo.
Aku ingin itu tercatat sejak awal, dengan sangat jelas, dengan tanggal dan angka yang bisa diperiksa: itu tidak benar.
Dan aku bukan sedang membela diri. Aku sedang mencatat fakta, karena aku orang yang mencatat fakta, dan karena ini adalah satu-satunya hal dalam hidupku yang tidak akan pernah kubiarkan orang lain ceritakan versinya.
Aku membuka buku tabunganku hari Selasa.
Bukan aplikasi. Buku tabungan sungguhan, yang kucetak di bank sebulan sekali, karena aku tidak percaya pada angka yang bisa hilang kalau ponselku rusak.
Dan aku duduk di lantai kontrakanku dengan buku itu di pangkuan dan kalkulator di sebelahku.
Ini yang kuhitung:
Target awal, ditulis tahun pertama: Dimas sampai lulus kuliah — empat tahun setelah SMA. Obat bapak — perkiraan lima tahun ke depan. Dana darurat enam bulan. Modal usaha kecil.
Kondisi sekarang, tiga tahun sepuluh bulan kemudian:
Aku menghitungnya tiga kali karena aku tidak percaya yang pertama.
Lalu aku menghitungnya untuk keempat kalinya, dengan pensil dan kertas, dengan cara yang diajarkan di semester dua.
Dan angkanya tetap sama.
Aku sudah lewat.
Bukan hampir. Lewat. Empat belas bulan lalu.
Aku duduk di lantai itu untuk waktu yang sangat lama.
Karena itu berarti sesuatu yang tidak enak.
Itu berarti selama empat belas bulan terakhir, aku bekerja di Aurora bukan karena aku butuh.
Aku bekerja karena aku takut berhenti.
Karena selama kau masih bekerja, kau masih punya alasan. Kau bisa berkata “aku melakukan ini demi adikku” dan itu menutup semua pertanyaan lain, termasuk pertanyaan yang datang jam empat pagi.
Dan begitu kau berhenti, kau harus menghadapi pertanyaan berikutnya, yaitu: terus sekarang apa?
Dan aku tidak punya jawabannya selama empat belas bulan.
Aku duduk di lantai kontrakanku hari Selasa itu dan aku menyadari bahwa aku sudah membeli kebebasanku empat belas bulan lalu dan tidak pernah mengambilnya dari loket.
Aku menelepon Dimas malam itu.
“Halo, Mbak.”
“Dim. Lagi ngapain?”
“Belajar.”
“Bohong.”
“...Lagi main.”
Aku tertawa.
“Dim, Mbak mau nanya sesuatu.”
“Apa?”
“Kalau Mbak ganti kerjaan, kamu gimana?”
Ada jeda.
“Ganti kerjaan gimana?”
“Ya ganti. Kerjaan lain.”
“Gajinya lebih kecil?”
“Iya. Awalnya iya.”
Dan adikku, yang tujuh belas tahun, yang setiap kali kutelepon menjawab semua pertanyaan dengan dua kata, berkata:
“Ya ganti aja, Mbak.”
“Dim, ini serius. Uang bulanan kamu mungkin—“
“Mbak.”
“Iya?”
“Aku kerja part time dari bulan lalu.”
Aku hampir menjatuhkan ponselku.
“KAMU APA?”
“Di kedai kopi. Sabtu Minggu doang.” Suaranya berubah, jadi lebih kecil. “Jangan marah.”
“Dimas—“
“Aku nggak ganggu sekolah, Mbak. Ranking aku masih sama.”
“Kenapa kamu nggak bilang?”
Dan Dimas diam beberapa detik.
“Karena Mbak pasti nyuruh berhenti,” katanya.
Aku menutup mataku.
“Dim.”
“Iya?”
“Kenapa kamu kerja?”
Dan adikku berkata sesuatu yang membuatku harus duduk di lantai kamar mandi selama sepuluh menit setelah menutup telepon.
“Karena Mbak udah kerja terus dari aku kelas satu SMP,” katanya. “Dan Mbak nggak pernah cerita kerja apa. Dan aku nggak nanya lagi karena tiap aku nanya suara Mbak jadi aneh.”
“Dim—“
“Aku nggak marah, Mbak. Aku cuma pengen bantu.”
Aku menyerahkan surat pengunduran diriku hari Kamis.
Aku menulisnya sendiri, dengan tangan, di kertas HVS, karena Aurora tidak punya format resmi untuk apa pun. Dan aku memberikannya kepada Mami Lin di ruangannya jam sebelas malam.
Mami Lin membacanya. Menaruhnya di meja.
Dan menyalakan rokoknya.
“Kenapa?”
“Udah cukup, Mi.”
“Cukup gimana?”
“Cukup uangnya.”
Mami Lin menatapku lewat asap.
Perempuan itu berumur lima puluhan, sudah dua puluh tahun di bisnis ini, dan aku sudah tiga tahun sepuluh bulan bekerja di bawahnya dan tidak pernah sekali pun melihatnya terkejut oleh apa pun.
“Ranti.”
“Iya, Mi.”
“Kamu tiga tahun sepuluh bulan di sini.”
“Iya.”
“Kamu tau berapa banyak anak yang bilang ‘udah cukup’ ke Mami?”
“Nggak tau.”
“Banyak.” Dia mengetuk abunya. “Yang beneran berhenti, tiga.”
Aku diam.
“Yang lain balik. Dua bulan, tiga bulan, setahun. Balik semua.” Mami Lin menyandarkan punggungnya. “Kamu tau kenapa?”
“Kenapa?”
“Karena mereka berhenti buat orang lain.”
Ruangan itu sunyi.
“Ada yang berhenti buat pacarnya. Ada yang buat suaminya. Ada yang buat anaknya.” Mami Lin menatapku. “Terus pacarnya pergi, atau suaminya nggak kerja, atau anaknya butuh biaya. Terus mereka balik.”
Dan dia mencondongkan badan.
“Ranti, Mami mau nanya sekali. Dan Mami mau kamu jujur, karena Mami nggak peduli jawabannya, Mami cuma pengen kamu denger jawaban kamu sendiri.”
“Iya, Mi.”
“Kamu berhenti buat siapa?”
Dan aku duduk di kursi di depan meja Mami Lin, jam sebelas malam, di ruangan yang bau rokok dan pengharum ruangan murah.
Dan aku berkata:
“Buat aku, Mi.”
Mami Lin memandangiku beberapa detik.
Lalu dia mengambil pulpen dan menandatangani suratku.
“Bagus,” katanya. “Dua minggu lagi kamu selesai.”
Aku tidak memberi tahu Bimo.
Selama dua minggu itu, aku datang ke warung setiap jam empat pagi, aku duduk di kursiku, aku menghitung laci dengan buku tulis bersampul biru, dan aku tidak mengatakan apa pun.
Bukan karena aku menyembunyikannya.
Karena aku ingin memastikan.
Aku ingin sangat, sangat yakin bahwa keputusan ini sudah selesai sebelum laki-laki itu tahu, supaya tidak ada satu detik pun di mana pendapatnya bisa masuk ke dalam hitunganku.
Dua minggu.
Dan di hari terakhirku di Aurora, jam tiga pagi, aku berjalan keluar dari pintu belakang untuk terakhir kalinya.
Yuni menungguku di gang.
“Ran.”
“Yun.”
Dan dia memelukku, dan dia menangis, dan dia bilang “sialan lo” sekitar delapan kali.
“Gue masih di sini, tau.”
“Iya, Yun.”
“Lo jangan sok ilang.”
“Nggak.”
“Gue serius, Ran.” Dia menjauh, menghapus wajahnya, merusak seluruh riasannya. “Kalau lo ilang gue datengin warung itu tiap hari dan gue bikin malu lo di depan cowok lo.”
Aku tertawa sampai aku menangis juga.
Aku datang ke warung jam empat pagi.
Malam terakhirku sebagai pemandu karaoke sudah lewat empat puluh menit yang lalu, dan tidak ada yang berubah di dunia, dan gang itu tetap bau got dan hujan.
Bimo mengangkat kepalanya waktu aku masuk.
“Duduk.”
“Mas.”
“Ya.”
Aku berdiri di ambang pintu.
“Aku berhenti.”
Pisau itu berhenti.
“Dari Aurora,” kataku. “Tadi malam terakhir.”
Dan yang terjadi berikutnya bukan yang kubayangkan.
Aku sudah menyiapkan diri untuk beberapa kemungkinan. Aku sudah membayangkan dia bertanya kenapa. Aku sudah membayangkan dia diam lalu mengangguk. Aku bahkan sudah — dan ini memalukan — sudah membayangkan dia senang.
Bimo menaruh pisaunya.
Dan berjalan mengelilingi meja panjang, dan berhenti di depanku, dan wajahnya adalah wajah yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
“Ran.”
“Iya.”
“Kamu berhenti buat saya?”
Aku membuka mulutku.
“Ran.”
“Nggak.”
“Ran, jawab jujur.”
“AKU JUJUR.”
Dan aku mendorong dadanya dengan kedua tangan — bukan keras, tapi cukup untuk membuatnya mundur setengah langkah.
“Aku berhenti karena tabunganku udah lewat target empat belas bulan yang lalu,” kataku, dan suaraku naik, dan aku membiarkannya naik. “Empat belas bulan, Mas. Aku ngitung hari Selasa. Aku ngitung empat kali.”
Dia tidak bergerak.
“Aku udah bisa berhenti dari sebelum aku kenal kamu.”
Warung itu sunyi.
“Terus kenapa nggak berhenti?”
Dan aku berkata yang sebenarnya, karena aku sudah tidak punya apa pun lagi yang bukan sebenarnya.
“Karena aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut nggak punya alesan.”
Bimo berdiri di sana selama beberapa detik.
Dan kemudian dia berkata sesuatu yang, kalau aku jujur, adalah alasan terbesar kenapa aku akhirnya bisa berhenti merasa perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun tentang keputusan itu.
“Bagus,” katanya.
“...Bagus?”
“Iya.” Dia mengangkat bahu. “Kalau kamu berhenti buat saya, saya nggak mau.”
“Mas—“
“Ran, saya serius.” Dan wajahnya serius, lebih serius dari yang pernah kulihat. “Kalau kamu berhenti buat saya, suatu hari nanti kamu bakal ngitung. Kamu selalu ngitung.”
Aku diam.
“Dan kamu bakal nemu bahwa kamu ngasih sesuatu ke saya.” Dia menatapku. “Dan begitu ada di kolom itu, hubungan kita rusak.”
Dan aku berdiri di sana, di ambang pintu Warung Sembilan jam empat pagi, dan aku menyadari bahwa laki-laki ini sudah memikirkan hal ini jauh lebih lama daripada aku.
“Mas.”
“Ya.”
“Kamu udah mikirin ini dari kapan?”
Bimo mengambil serbet dari bahunya. Melipatnya. Membukanya lagi.
“Dari bulan pertama,” katanya.
Aku menangis, tentu saja.
Dan Bimo — yang selama empat bulan tidak pernah tahu harus berbuat apa kalau aku menangis — akhirnya melakukan hal yang benar.
Dia tidak berkata apa-apa.
Dia menarikku ke dadanya dan menaruh tangannya di belakang kepalaku dan berdiri di situ sampai aku selesai.
“Mas.”
“Hm.”
“Sekarang aku nggak punya kerjaan.”
“Iya.”
“Aku nggak punya rencana.”
“Iya.”
“Aku dua puluh tujuh tahun dan aku nggak tau mau ngapain.”
Dan dia berkata, ke rambutku:
“Ya udah.”
“Ya udah gimana?”
“Ya udah. Nggak tau dulu.”
Kami duduk di dua kursi yang berhadapan sampai jam enam pagi.
Dan sekitar jam lima, aku menceritakan sesuatu yang sudah kusimpan selama enam minggu.
“Mas.”
“Ya.”
“Ada yang mau bayarin kuliahku.”
Bimo tidak bergerak.
“Siapa?”
“Pelanggan. Om Hendra.” Aku memandangi tanganku. “Udah dibayar. Setahun pertama. Langsung ke kampus.”
“Kamu ambil?”
“Belum jawab.”
“Kapan terakhir daftar?”
“Sembilan hari lagi.”
Dan Bimo diam selama waktu yang lama.
Dan aku menunggu — aku benar-benar menunggu, dengan seluruh tubuhku — untuk sesuatu. Untuk cemburu. Untuk pertanyaan. Untuk satu tanda kecil saja bahwa laki-laki ini merasa terancam oleh sesuatu.
“Kamu mau kuliah?” tanyanya.
“...Mas.”
“Ran, saya nanya. Kamu mau kuliah?”
Dan aku mengangkat kepalaku.
“Iya,” kataku. “Aku mau banget.”
“Ya udah, ambil.”
“Mas, itu dari laki-laki yang suka sama aku.”
“Iya, saya tau.”
“Kamu tau?”
“Ran.” Bimo menyandarkan punggungnya. “Ada orang bayarin kuliah kamu, langsung ke kampus, terus nggak minta kamu kabarin dia. Itu bukan orang yang lagi beli sesuatu.”
Aku menatapnya.
“Terus itu apa?”
Dan Bimo berkata, dengan nada seorang laki-laki yang mengenali sesuatu di dalam orang lain:
“Itu orang yang lagi bayar utang ke dirinya sendiri.”
Aku mendaftar tujuh hari kemudian.
Aku tidak mengabari Om Hendra. Itu permintaannya, dan aku menghormatinya.
Tapi malam sebelum aku mendaftar, aku duduk di kursi kayu Warung Sembilan dan menulis surat dengan tangan, di kertas HVS, dan aku menitipkannya ke Yuni untuk diberikan ke Aurora kapan pun Om Hendra datang lagi.
Isinya cuma tiga kalimat.
Om, Saya daftar hari Rabu. Semester enam. Om bilang kalau saya tetap di sana, itu karena saya memilih. Sekarang saya juga memilih. — Ranti
Yuni bilang Om Hendra membacanya di ruangan, sendirian, dan tidak berkata apa pun selama beberapa menit.
Lalu dia memesan minum, meminumnya sedikit seperti biasa, membayar di depan, dan pulang.
Dan tidak pernah datang lagi.
Bersambung ke Bab 34 — “Pagi”
- 1 Warung Sembilan
- 2 Bayar Besok
- 3 Gitar yang Tidak Ditanya
- 4 Udang
- 5 Yuni Datang
- 6 Kalau Merem
- 7 Hujan Sampai Subuh
- 8 Adik
- 9 Surat
- 10 Perempuan yang Datang Pagi
- 11 Tali Sandal
- 12 Menu yang Tidak Ada
- 13 Skincare
- 14 Jaket, Lagi
- 15 Jam Empat Pagi
- 16 Lima Puluh Dua
- 17 Ukurannya Pas
- 18 Demam
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Zirah
- 21 Senar
- 22 Api
- 23 Yuni Marah
- 24 Kalau Kamu Berhenti
- 25 Handuk
- 26 Om Hendra
- 27 Pertengkaran
- 28 Laptop
- 29 Tujuh Menit
- 30 Yang Tidak Dikatakan
- 31 Nanti Kamu Nyesel
- 32 Lima Menit
- 33 Surat Pengunduran Diri reading
- 34 Pagi
- 35 Dimas
- 36 Hari-hari Biasa
- 37 Mobil Hitam
- 38 Ringan
- 39 Tiga Juta
- 40 Porsi Dua
- 41 Yang Dikembalikan
- 42 Yang Aku Tahu
- 43 Bapakku Nggak Butuh Kopi Murah
- 44 Sikat Gigi
- 45 Empat Tahun Dalam Satu Tas
- 46 Setelan
- 47 Selesai
- 48 Warung Sembilan
- 49 Kampung
- 50 Pasar
- 51 Yang Ditinggalkan
- 52 Jam Empat Pagi