Chapter Nine
Yang Mengenaliku
POV: Theo
ARSIP GUILD PUSAT — LAMPIRAN 4471-C.09
KESAKSIAN — Lyra Vandell, Arsiparis
Ditulis sendiri. Tidak diambil oleh pencatat manapun.Saya menuliskan yang ini karena tidak ada saksi lain, dan karena kalau saya tidak menuliskannya sekarang saya akan mulai meragukan diri sendiri, dan seorang arsiparis yang meragukan catatannya sendiri tidak berguna untuk siapa pun.
Anomali kedua muncul dua belas hari setelah yang pertama.
Saya tidak akan menuliskan bentuknya karena saya tidak bisa. Saya akan menuliskan apa yang dilakukannya.
Ia mengabaikan saya. Sepenuhnya. Saya berdiri enam langkah dari benda itu dan ia tidak pernah sekali pun berbelok ke arah saya.
Ia bergerak ke satu titik saja, sejak detik pertama, tanpa ragu.
Dan ketika ia sudah cukup dekat, ia berhenti — dan mulai melakukan sesuatu yang membuat saya menjatuhkan lentera.
Saya menuliskan ini sepenuhnya sadar bahwa siapa pun yang membacanya akan menganggap saya berbohong.
Benda itu mulai menulis.
Anomali kedua muncul di ladang barat, di siang bolong, dua belas hari setelah yang pertama.
Itu sendiri sudah salah. Yang pertama muncul di dasar cekungan hutan, jauh dari orang, di tempat yang masuk akal. Yang ini muncul empat ratus meter dari rumah terakhir Marrow, di tanah terbuka, pada jam dua siang.
Anak-anak yang melihatnya lebih dulu adalah anak-anak keluarga Harn.
Pip yang berlari ke desa.
“Sudah kubilang,” kata Hanne, sambil memasang tali busur. “Sudah kubilang benda itu tidak sendirian.”
“Kau tidak bilang begitu.”
“Aku memikirkannya.”
“Itu tidak sama.”
“Sekarang bukan waktunya, Theo.”
Kami berkumpul di pagar barat: Hanne, dua Sant bersaudara, empat orang desa dengan senjata pertanian, dan Merek Dovas — yang party-nya seharusnya sudah berangkat tiga hari lalu dan yang, ketika ditanya kenapa masih di Marrow, hanya menggeleng dan tidak menjawab.
Tuan Belden tidak ada. Dia sedang menulis laporan.
Lyra ada. Tentu saja.
“Tetap di belakang pagar,” kataku padanya.
“Tidak.”
“Lyra.”
“Saya arsiparis insiden. Saya punya kewajiban dokumentasi.” Dia sudah membuka bukunya. “Dan Anda bukan atasan saya.”
“Aku tidak berdebat denganmu.”
“Bagus, karena Anda akan kalah.”
Merek Dovas, di sebelahku, mengeluarkan bunyi yang jelas sekali adalah tawa yang ditahan.
Kami keluar jam setengah tiga.
Benda itu ada di tengah ladang gandum yang sudah dipanen, di tanah kosong, tidak bergerak.
Aku memandanginya selama dua puluh detik dan seluruh isi perutku turun.
Tidak ada siklus napas. Tidak ada distribusi berat. Tidak ada titik depan.
Sama seperti yang pertama.
Tidak — tidak sama.
Yang pertama berdiri di dasar cekungan seperti sesuatu yang tersesat. Ia bergerak tanpa arah karena ia memang tidak punya arah.
Yang ini punya arah.
Ia menghadap ke barat daya. Ia sudah menghadap ke barat daya sejak sebelum kami sampai, dan barat daya adalah arah pagar tempat kami keluar, dan aku menyadari sesuatu yang membuat tanganku dingin.
Ia tidak menghadap ke pagar.
Ia menghadap ke aku.
“Hanne,” kataku. “Berpencar. Kalian semua. Jarak minimal dua puluh langkah antar orang.”
“Kenapa?”
“Lakukan saja.”
Mereka berpencar. Tujuh orang tersebar di ladang terbuka dalam formasi lebar, dan benda itu tidak menoleh ke satu pun dari mereka.
Kepalanya — kalau itu kepala — mengikuti aku.
Hanya aku.
“Theo,” kata Lyra, dari suatu tempat di sebelah kiriku. Suaranya sangat pelan. “Ia—“
“Aku tahu.”
Aku memakai [ Requiem Formation ] di detik keempat puluh.
Cara yang sama seperti di cekungan. Dissonance keluar lebih dulu, tidak menemukan pola untuk dicabut, lalu menempel. Crescendo mengunci. Mana Concord mengalirkan.
Dan berhasil.
Benda itu berhenti bergerak acak. Ia mendapatkan kebiasaan. Ia mendapatkan siklus napas, titik depan, urutan.
Persis seperti yang kurancang.
Aku membuka mulut untuk memberi Hanne hitungannya.
Lalu aku melihat kebiasaan apa yang diambilnya.
Ia mengangkat sesuatu yang bukan tangan.
Ia memutar sesuatu yang bukan pergelangan.
Dan ia menarik sebuah garis di tanah, dari kanan ke kiri.
Aku berhenti bernapas.
Ia menariknya lagi. Kanan ke kiri. Lalu turun, lalu ke samping, dan aku mengenali bentuk itu sebelum selesai karena aku sudah menggambarnya empat ribu kali dalam hidupku.
Diagram formasi.
Kotak. Garis pemisah. Enam titik penempatan.
Dan di sudut kanan bawah, tempat aku selalu menulis nomor urut, ia menggores angka delapan.
Dengan celah sepertiga milimeter di sisi kanan atas.
Aku tidak bisa menuliskan dengan jujur apa yang terjadi di kepalaku selama sembilan detik berikutnya, karena tidak ada yang terjadi di kepalaku selama sembilan detik berikutnya.
Kepala ini menghitung. Itu yang dilakukannya. Sejak umur sembilan tahun ia menghitung tanpa berhenti, tanpa bertanya izin, di setiap ruangan yang pernah kumasuki.
Dan selama sembilan detik itu, ia berhenti.
Bukan kosong. Bukan takut.
Kenal.
Ada sesuatu di dadaku yang mengenali benda itu, seperti mengenali tulisan tanganmu sendiri di surat yang tidak kau ingat pernah kau tulis. Bukan ingatan — ingatan punya bentuk, punya tempat, punya kapan. Ini tidak punya apa-apa. Ini hanya rasa kenal yang berdiri sendiri di ruang kosong, dan rasa kenal tanpa ingatan adalah hal paling menakutkan yang pernah kualami.
[ Requiem Formation ] masih aktif. Aku masih memegangnya. Benda itu masih terkunci dalam pola yang kuberikan.
Aku tidak dalam bahaya. Aku ingin sangat jelas soal itu, karena nanti orang akan menceritakannya salah.
Aku bisa mengakhirinya kapan saja dalam empat detik.
Aku hanya tidak bergerak.
Benda itu selesai menggambar, dan berhenti, dan menunggu.
Menunggu, seperti sesuatu yang baru saja menyerahkan diagram kepada seseorang dan menunggu koreksi.
Dan aku berdiri di ladang gandum yang sudah dipanen dan menatap diagramku sendiri yang digambar oleh sesuatu yang tidak seharusnya ada.
Sebuah tangan mencengkeram pergelangan tanganku dan menarik.
Keras. Cukup keras sampai bahuku berputar dan tumitku terseret di tanah.
“THEO. JALAN.”
Aku terhuyung dua langkah.
“JALAN!”
Lyra menarikku ke belakang, dua tangan sekarang, menyeret dengan seluruh berat tubuhnya — dan dia jauh lebih kecil dariku dan itu seharusnya tidak berhasil, dan itu berhasil karena aku membiarkannya.
Aku ingin mencatat itu dengan jujur.
Aku tidak butuh diselamatkan. Aku bisa berdiri di tempat itu selama satu jam dan tidak ada yang akan menyentuhku.
Aku membiarkannya menarikku.
Dan itu adalah keputusan pertama yang kubuat dalam tiga tahun yang bukan hasil perhitungan.
“Hanne! Sekarang! Hitungan tiga setelah ia menarik garis!”
Suaraku kembali sekitar dua puluh langkah kemudian, dan begitu kembali ia bekerja seperti biasa, dingin dan berurutan, seolah tidak ada yang terjadi.
“Garis apa?!”
“Kau akan lihat! Tiga hitungan!”
Benda itu menarik garis lagi.
Satu. Dua. Tiga.
Panah Hanne masuk.
Dan sisanya — aku tidak akan menghabiskan banyak kata untuknya, karena itu bagian yang paling tidak penting dari seluruh sore itu. Tiga puluh satu anak panah. Sebelas menit. Benda itu berhenti berfungsi di tengah gerakan menggambar, dan yang tertinggal di tanah adalah setengah diagram yang tidak selesai.
Tujuh orang keluar dari ladang. Tidak ada yang cedera.
Aku berjalan paling belakang, dan tanganku belum berhenti dingin sampai malam.
Lyra menungguku di depan tokoku jam sembilan.
Dia duduk di anak tangga, dengan buku catatan tertutup di pangkuannya, yang saja sudah cukup untuk memberitahuku betapa seriusnya ini.
Aku duduk di sebelahnya. Anak tangga itu cukup untuk dua orang kalau keduanya tidak keberatan.
Kami tidak bicara selama beberapa menit.
“Saya menariknya terlalu keras,” katanya akhirnya. “Pergelangan tangan Anda.”
“Tidak apa-apa.”
“Ada bekas merahnya. Saya lihat tadi.”
“Lyra.”
“Saya minta maaf.”
“Jangan minta maaf,” kataku. “Kau melakukan hal yang benar.”
“Saya tidak berpikir.” Dia menatap tangannya sendiri. “Itu masalahnya. Saya tidak menghitung apa pun. Saya cuma melihat Anda berdiri di sana dan berhenti, dan saya—“ Dia berhenti. “Anda tidak pernah berhenti. Delapan belas hari saya di sini dan Anda tidak pernah sekali pun berhenti.”
Aku tidak menjawab.
“Benda itu menggambar,” katanya.
“Ya.”
“Ia menggambar diagram formasi.”
“Ya.”
“Diagram yang sama dengan Lampiran Empat.”
Aku memandangi jalan berdebu di depan kami.
“Bukan sama,” kataku. “Lebih tua. Formatnya format lama, yang kupakai sebelum tahun 818. Aku mengubahnya setelah itu karena enam titik penempatan terlalu banyak dan aku memotongnya jadi lima.”
“’Yang saya pakai,’” ulang Lyra.
Aku menutup mata.
“Ya.”
Angin bergerak di jalan. Di kejauhan, kedai Nenek Odel masih menyala.
“Saya tidak akan bertanya,” katanya, untuk kedua kalinya dalam hidupnya.
“Kali ini kau harus.”
Dia menoleh.
“Sesuatu di ladang itu tahu tulisan tanganku,” kataku. “Dan aku tidak tahu kenapa. Dan itu artinya ada sesuatu yang berhubungan denganku yang membunuh sebelas orang dua belas hari lalu, dan akan membunuh lebih banyak, dan aku tidak punya satu pun ingatan yang menjelaskannya.”
Aku mengangkat wajah.
“Aku pernah punya kepala yang selalu punya jawaban,” kataku. “Sekarang tidak. Dan aku tidak tahu harus berbuat apa dengan itu.”
Lyra Vandell memandangiku cukup lama.
Lalu dia membuka buku catatannya, membalik ke halaman kosong, dan menyerahkannya kepadaku bersama penanya.
“Kalau begitu kita mulai dari awal,” katanya. “Seperti arsiparis.”
“Bagaimana caranya arsiparis mulai dari awal?”
“Kami tidak mulai dari jawaban,” katanya. “Kami mulai dari mencatat semua yang kami tidak tahu. Lalu kami cari mana yang bisa diisi.”
Aku memandangi halaman kosong itu.
Lalu aku mengambil penanya.
Dan aku menulis satu baris di bagian paling atas, dari kanan ke kiri, seperti selalu.
Apa yang terjadi di Menara Vessel.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
[ Anomaly Terminated ]
Classification : UNKNOWN
Pattern Behaviour : NONE (assigned externally)
Note : Subject exhibited mimicry.
Source of mimicry : UNIDENTIFIED
Witnesses : 7
Cumulative : 16
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Source of mimicry: UNIDENTIFIED.
Sistem ini mencatat segalanya. Sistem ini tahu berapa mana yang kupakai sampai desimal ketiga.
Dan ia tidak tahu dari mana benda itu belajar menulis angka delapan dengan celah di sisi kanan atas.
Aku duduk di ruang tamu yang gelap dengan kotak biru pucat menyala di depanku, dan untuk pertama kalinya sejak Ekspedisi Terakhir, aku bertanya sesuatu kepada sistem itu dengan suara keras, seperti orang bodoh.
“Apa yang kulakukan?”
Tidak ada jawaban, tentu saja.
Sistem tidak menjawab pertanyaan. Ia hanya mencatat.
“Close.“
Bersambung — Bab 10: Surat yang Salah Alamat
Jumlah kata: 2.266
- 1 Penjual Tinta
- 2 Garam
- 3 Anak yang Berbohong
- 4 Arsiparis
- 5 Sesuatu yang Tidak Punya Kebiasaan
- 6 Sembilan Peti
- 7 Tulisan Tangan
- 8 Empat Puluh Menit
- 9 Yang Mengenaliku reading
- 10 Surat yang Salah Alamat
- 11 Silverline
- 12 Tiga Kesalahan
- 13 Hujan
- 14 Empat Halaman
- 15 Tiga Ratus Sepuluh
- 16 Gerbang Utara
- 17 Anggota Keenam
- 18 Berangkat
- 19 Gerbang Ordo
- 20 Peringkat Empat Puluh Tiga
- 21 Komandan
- 22 Ruang Nomor Empat
- 23 Jalan ke Kaldrass
- 24 Seribu Dua Ratus
- 25 Empat Puluh Tiga Wasiat
- 26 Fajar Kedua
- 27 Kota yang Tidak Sakit
- 28 Bekas Luka yang Tidak Pernah Terjadi
- 29 Sebab Kematian
- 30 Yang Tidak Bisa Dibalas
- 31 Ratu yang Tidak Bisa Membaca Peta
- 32 Tujuh Belas Menit
- 33 Pasir
- 34 Kota Tanpa Nama
- 35 Delapan Detik
- 36 Lima
- 37 Pulang
- 38 Sarang
- 39 Bagaimana Kau Tahu
- 40 Draf Terakhir
- 41 Kota Selatan
- 42 Tiga Puluh
- 43 Yang Tidak Kuucapkan
- 44 Sembilan Hari
- 45 Evaluasi Kelayakan
- 46 Jendela
- 47 Kalimat Terpanjang
- 48 Menara Vessel
- 49 Yang Kubeli
- 50 Prosesi
- 51 Lima Izin
- 52 Magnum Opus
- 53 EXTRA 01 — Tiga Puluh Satu Menit