← Magnum Opus

Chapter Fifty One

Lima Izin

POV: Theo


ARSIP GUILD PUSAT — LAMPIRAN 4471-C.51
HALAMAN 81 — CATATAN LAPANGAN MENARA VESSEL
Dirobek dari buku aslinya pada tanggal 158, jam 08.34, di Lapangan Utara Ibu Kota.
Diserahkan kepada: Roan Ferrant.
Dilampirkan dalam kondisi asli, termasuk robekan.


[ Marginalia ] — Consent: NOT REQUIRED.

22 tahun. 1.284 entri. Tidak satu pun pernah diberikan kepadaku.

Tidak ada satu baris pun di sistem ini yang mengatur apa yang terjadi kalau seseorang memberi.

Karena tidak pernah ada yang melakukannya.

Karena kekuatan tingkat dewa bukan alat. Ia nama. Ia seluruh hidup seseorang.

Aku tidak akan meminta.


Roan Ferrant membaca halaman itu dalam sebelas detik.

Aku menghitungnya, karena aku menghitung segalanya, dan karena sebelas detik adalah waktu yang sangat lama ketika lima ratus dua puluh tujuh benda sedang berjalan ke arahmu dengan kecepatan berjalan kaki.

Lalu dia menyerahkannya kepada Bhaltair Vorn.

Bhaltair membaca lebih lambat. Dia selalu membaca lebih lambat; itu bukan kelemahan, itu cara laki-laki itu memastikan tidak ada yang terlewat.

Lalu Seris. Lalu Ilvera. Lalu Cael.

Dan aku berdiri di tanah kaca Lapangan Utara ibu kota dan menonton satu lembar kertas berpindah di antara lima tangan, dan tidak berkata apa-apa, karena aku sudah menulis satu baris di bawah dan baris itu masih berlaku.

Aku tidak akan meminta.


Cael Nyx yang pertama bicara.

“Ini omong kosong,” katanya.

Aku menoleh.

“Kau menulis ‘aku tidak akan meminta’ lalu kau menyerahkan kertasnya,” katanya. “Itu meminta, Theo. Itu meminta dengan cara paling pengecut yang pernah kulihat, dan aku pernah tinggal di atap selama tiga tahun.”

“Aku—“

“Kau memberi kami informasi dan menolak memberi kami permintaan,” katanya, “supaya kalau kami menolak, kau bisa bilang kau tidak pernah meminta.”

Dia melangkah maju satu langkah.

“Kau melakukan itu di gerbang utara Marrow,” katanya. “Kau melakukan itu di Kaldrass. Kau melakukan itu enam hari lalu di ruang arsip.”

Dan Cael Nyx — yang tidak sepenuhnya ada, yang baru saja hilang sembilan belas detik, yang tidak bisa mengingat wajah siapa pun termasuk ibunya — mengucapkan kalimat yang menutup seluruh dua puluh dua tahun.

“Minta,” katanya.


Aku berdiri di tanah kaca dengan lima orang menatapku.

Dan aku tidak bisa.

Aku ingin mencatat itu dengan jujur, karena aku tidak pernah berbohong: aku membuka mulut, dan aku menyusun kalimatnya, dan kalimatnya ada di sana, lengkap, benar, dan aku tidak bisa mengeluarkannya.

Dua puluh dua tahun.

Seribu dua ratus delapan puluh empat entri, tidak satu pun diberikan.

Sepuluh tahun berdiri di belakang bahu kiri seseorang dan tidak pernah menyebutkannya.

Tiga tahun di sudut yang sama di kedai Nenek Odel, seribu enam puluh empat kali.

Empat ratus tujuh belas surat yang tidak kubalas.

Aku tidak tahu caranya.

Itu bukan kesombongan dan bukan kerendahan hati. Aku betul-betul tidak tahu caranya, seperti orang yang tidak pernah diajari bahasa tertentu, dan aku berdiri di Lapangan Utara ibu kota di depan lima orang terkuat di benua dan menemukan bahwa satu-satunya kalimat yang kubutuhkan adalah satu-satunya kalimat yang tidak pernah kupelajari.


Lyra Vandell berdiri di sebelah kiriku.

Dia tidak menyentuhku. Dia tidak berbisik.

Dia berkata, keras, dengan suara arsiparis yang membacakan dokumen:

“Halaman delapan puluh dua.”

Aku menoleh.

“Buku catatannya,” katanya. “Kau merobek halaman delapan puluh satu. Halaman delapan puluh dua masih ada.”

Aku membuka buku itu.

Halaman delapan puluh dua kosong.

“Tulis,” katanya.


Dan aku menyadari apa yang dia lakukan sekitar setengah detik sebelum aku mulai menulis.

Aku sudah dua puluh dua tahun tidak bisa meminta dengan suara.

Aku belum pernah sekali pun mencoba meminta dengan tangan.

Aku menulis empat baris di halaman delapan puluh dua catatan lapangan Menara Vessel, dari kanan ke kiri, dengan angka delapan yang tidak pernah kututup, di tanah kaca Lapangan Utara ibu kota pada jam delapan lewat tiga puluh sembilan pagi tanggal seratus lima puluh delapan.

Aku tidak punya apa pun untuk membayarnya.

Aku butuh skill kalian.

Kelimanya. Diberikan, bukan diambil.

Aku minta.

Dan aku menyerahkan buku itu kepada Roan Ferrant.


Roan Ferrant membaca empat baris itu.

Lalu dia berjalan tiga langkah ke depan, menancapkan pedangnya ke tanah kaca, dan melepaskan genggamannya.

Bunyi logam berhenti bergetar.

[ Authorization Granted — Roan Ferrant ]


Bhaltair Vorn menurunkan perisainya.

Bukan menaruh. Menurunkan — dari punggung, dengan kedua tangan, ke tanah, seperti orang menutup gerbang kota.

Dan bunyinya membuat tiga ratus ribu orang di atap-atap ibu kota berhenti bergerak, karena bunyi itu terdengar sampai ke tembok selatan.

[ Authorization Granted — Bhaltair Vorn ]


Seris Ovelle berjalan ke arahku dan meletakkan telapak tangannya di dahiku.

Dia tidak mengatakan apa-apa.

Dua puluh dua kali dalam sepuluh tahun, perempuan ini duduk di ruang periksa dengan pena di tangan dan tidak bisa menuliskan namaku.

Dia meletakkan telapak tangannya di dahiku dan membiarkannya di sana.

[ Authorization Granted — Seris Ovelle ]


Ilvera Draconis berlutut.

Dia berlutut di tanah kaca yang dia buat sendiri satu jam empat puluh menit sebelumnya, dengan mahkota Vaelmoor di kepalanya, di depan enam ratus kavaleri kerajaannya sendiri dan empat belas ribu prajurit dan tiga ratus ribu orang.

Dan dia berkata, dengan suara anak berumur empat belas tahun:

“Aku sudah bisa membaca peta yang benar sekarang.”

[ Authorization Granted — Ilvera Draconis ]


Dan Cael Nyx muncul di belakang bahu kiriku, di sudut mati, di titik yang tidak pernah kutempati untuk siapa pun karena aku selalu berdiri di sana untuk orang lain.

“Pakai punyaku,” katanya.

[ Authorization Granted — Cael Nyx ]


Dan lalu tidak terjadi apa-apa.

Dua detik penuh.

Aku menghitungnya, dan aku tidak akan pernah melupakan dua detik itu, karena selama dua detik itu sistem yang sudah mencatat setiap tarikan napasku sejak umur sembilan tahun tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Kotak biru itu muncul, dan kosong, dan tetap kosong.

Dunia sedang mencari klasifikasi.

Dan tidak menemukannya.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
[ ................................. ]

Searching classification...
Searching classification...

NO PRECEDENT.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Tujuh ratus tahun.

Kolom kosong di kodeks guild yang ditinggalkan para pendiri dengan satu baris catatan, dan yang tidak pernah diisi siapa pun, dan yang tidak pernah dilihat siapa pun sampai pagi itu.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
[ Tier: SCRIPTURE ]

Precedent established.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━


Cahaya keluar dari lima tubuh.

Aku tidak akan mendeskripsikannya dengan baik. Aku tidak bisa. Aku menuliskannya empat kali dan aku membuang keempatnya, dan yang kutuliskan di sini adalah yang kelima dan masih salah.

Perak dari dada Roan — tajam, bergaris, bergerak seperti bilah yang belum diayun.

Batu abu dari Bhaltair — berat, turun ke tanah dulu sebelum naik, seolah enggan meninggalkan bumi.

Putih dari tangan Seris — hangat, lembut, satu-satunya yang tidak menyilaukan.

Biru dalam dari Ilvera — langsung menembus awan, menarik cahaya bintang ikut turun.

Hitam dari Cael — bukan gelap, melainkan ketiadaan; udara di jalurnya terlihat seperti kertas yang bagiannya dipotong.

Kelimanya melengkung ke satu titik.

Dan masuk ke tubuh seorang laki-laki berumur tiga puluh satu tahun dengan jubah kerja dan noda tinta sampai ke buku jari, yang berperingkat guild F, dan yang tidak punya satu pun stat tempur.


Tubuh ini tidak dirancang untuk itu.

Hidungku berdarah di detik pertama.

Kulit di punggung tanganku retak seperti tanah kering di detik keempat, dan aku melihatnya terjadi, dan aku mencatatnya di kepalaku dengan sangat tenang: retak melintang, kedalaman kira-kira dua milimeter, tidak berdarah karena tidak ada yang tersisa untuk berdarah.

Lututku memberi tahu bahwa ini bukan lagi negosiasi di detik kesembilan.

Aku tetap berdiri, karena Seris Ovelle masih meletakkan telapak tangannya di dahiku, dan karena aku menghitung bahwa selama tangan itu di sana aku tidak akan berhenti.

Dan lalu, dari kedua telapak tanganku, mengalir keluar sesuatu yang hangat dan keemasan.

Tinta.


Tiga ratus ribu orang di atap-atap ibu kota melihatnya.

Aku tahu karena Lyra mencatatnya, dan karena selama dua tahun sesudahnya dia mengumpulkan tiga ribu empat ratus dua belas kesaksian dari pagi itu, dan karena tiga ribu empat ratus dua belas kesaksian itu sepakat tentang satu hal dan satu hal saja:

Bahwa pada jam delapan lewat empat puluh empat pagi tanggal seratus lima puluh delapan, seorang laki-laki di tengah Lapangan Utara mulai bersinar.

Dan bahwa untuk pertama kalinya, semua orang bisa melihat di mana dia berdiri.


Dan lalu aku berhenti.

Karena aku tidak tahu apa yang harus kutulis.


Ini bagian yang tidak pernah diceritakan siapa pun dengan benar, dan aku akan menuliskannya dengan sangat tepat, karena ini adalah bagian yang paling penting dan bagian yang paling tidak spektakuler.

Aku berdiri di tengah Lapangan Utara dengan lima kekuatan tingkat dewa di dalam tubuh yang tidak dirancang untuk menampungnya, dengan tinta emas mengalir dari kedua tanganku, dengan lima ratus dua puluh tujuh Anomali seratus empat puluh meter jauhnya dan mendekat empat koma satu kilometer per jam.

Dan aku tidak tahu kalimatnya.

Karena kalimat yang benar akan membunuh mereka.

Sang Tak Tertulis adalah akhir cerita yang kucabut. Akhir cerita yang benar. Yang seharusnya terjadi.

Enam orang mati di ruang dasar Menara Vessel pada tanggal empat belas bulan delapan tahun delapan dua dua.

Kalau aku menuliskan itu — kalau aku mengembalikan halaman itu ke dalam buku — maka halaman itu berlaku.

Dan lima orang yang baru saja menyerahkan seluruh hidup mereka kepadaku akan mati di tanah kaca di depan tiga ratus ribu orang.

Aku menghitungnya empat kali dalam sembilan detik.

Empat kali hasilnya sama.


“Theo.”

Aku tidak bisa menoleh. Leherku tidak bekerja.

“Theo, dengar.”

Lyra Vandell berdiri di sebelah kiriku, dan dia sedang berteriak, dan aku baru menyadari bahwa dia sudah berteriak selama beberapa detik.

“Kau tidak boleh menulisnya sebagai apa yang terjadi!”

“Aku tahu—“

“AKU TAHU KAU TAHU,” katanya. “DENGAR SAMPAI SELESAI.”

Dan aku berhenti.


“Apa yang kau lakukan tiga tahun lalu?” katanya.

“Aku merobek halaman—“

“Bukan itu. Secara teknis. Apa yang dilakukan skill itu?”

Dan aku mengulanginya, karena kepala ini selalu bisa mengulangi hal yang sudah dicatatnya, bahkan ketika sisa tubuhnya sedang runtuh.

“Erratum menandai satu kesalahan di halaman naskah,” kataku. “Rewrite menyalin ulang satu baris yang rusak dari naskah aslinya.”

“Ya,” kata Lyra Vandell. “Kau menandainya sebagai kesalahan.”

Dia melangkah ke depanku.

“Kau tidak menghapusnya, Theo. Kau tidak pernah menghapusnya. Kau mengoreksinya.”

Dan sesuatu di kepalaku mulai bergerak.

“Dan apa yang terjadi pada naskah yang dikoreksi?” katanya.

Aku tidak menjawab.

“APA YANG TERJADI PADA NASKAH YANG DIKOREKSI, THEO?”

Dan aku mengucapkannya, dengan mulut yang sudah berdarah, di tengah Lapangan Utara ibu kota, dengan lima kekuatan tingkat dewa membakar tubuhku dari dalam:

“Versi lamanya disimpan.”


Lyra Vandell menangis dan tertawa pada waktu yang bersamaan.

“Versi lamanya disimpan,” katanya. “Itu pekerjaanku. Itu seluruh pekerjaanku selama sembilan tahun.”

Dia mengangkat sesuatu di tangannya.

Berkas tua. Sampul lusuh.

Dokumen 4471-C, dengan cap merah DITOLAK di sudut kanan atas, dan cap kedua di bawahnya yang bertuliskan DIBUKA KEMBALI.

“Arsip tidak cuma menyimpan yang terjadi,” katanya. “Arsip menyimpan yang ditolak. Yang dibuang. Yang salah. Draf yang tidak dipakai.”

Dia menepuk berkas itu.

“Tiga tahun aku ditertawakan seluruh guild pusat,” katanya, “dan mereka tidak membakar dokumenku. Mereka mengarsipkannya. Itu sebabnya Vesk masih bisa membawanya ke sini sebelas hari lalu.”

Dia menatapku.

“Kau bilang kepadaku di ruang arsip Marrow, seratus empat puluh sembilan hari lalu,” katanya. “Aku menulisnya di catatanku karena aku tahu itu penting dan aku belum tahu kenapa.”

Dan Lyra Vandell mengucapkan kalimatku sendiri kembali kepadaku.

“’Aku tidak membakar arsip.’”


Lima ratus dua puluh tujuh Anomali ada delapan puluh satu meter jauhnya.

Dan aku berdiri di tanah kaca dan menyadari, dengan seluruh kejelasan yang pernah kumiliki dalam dua puluh dua tahun, bahwa aku sudah salah tentang benda itu sejak awal.

Ia tidak ingin terjadi.

Aku terus mengira ia ingin terjadi — ingin berlaku, ingin memakan haknya, ingin membunuh lima orang yang seharusnya mati.

Ia tidak pernah ingin itu.

Ia berjalan delapan ratus delapan puluh enam kilometer melewati seratus sembilan belas ribu orang tanpa menyentuh satu pun, menuju sebuah gedung berisi empat juta dokumen.

Ia tidak ingin berlaku.

Ia ingin diarsipkan.


Aku mengangkat kedua tanganku.

Dan aku berkata satu kalimat, dan tiga ratus ribu orang tidak bisa mendengarnya, dan lima orang di tanah kaca bisa.

“Bhaltair,” kataku. “Aku butuh halaman.”


[ Immovable Dawn ]

Empat garis cahaya batu naik dari tanah di empat penjuru Lapangan Utara.

Bukan setinggi orang. Setinggi menara katedral, lalu lebih tinggi, memanjat udara sampai ke awan — dan lalu, di ketinggian yang tidak bisa kuukur, membelok.

Dan bertemu di atas.

Lapangan Utara ibu kota terkunci di dalam sebuah persegi.

Dan langit di dalamnya kehilangan warnanya. Awan memudar. Asap memudar. Cahaya matahari jam delapan lewat lima puluh menjadi rata dan tanpa arah, sampai yang tersisa di atas kepala tiga ratus ribu orang hanyalah satu bidang putih kosong dari cakrawala ke cakrawala.

Dan tiga ratus ribu orang menyadari, secara bersamaan, apa yang mereka lihat.

Mereka tidak lagi berdiri di kota.

Mereka berdiri di dalam halaman.


Dan lima ratus dua puluh tujuh Anomali di Lapangan Utara berhenti berjalan.

Untuk pertama kalinya dalam sembilan hari dan delapan ratus delapan puluh enam kilometer.

Mereka berhenti.

Dan aku berdiri di tengah halaman kosong itu dengan tinta emas mengalir dari kedua tanganku, dan aku mengerti — dengan cara yang membuat sesuatu di dadaku terbelah — bahwa mereka berhenti karena mereka sudah sampai.

Delapan ratus delapan puluh enam kilometer.

Tiga tahun.

Dan yang mereka cari sejak awal cuma satu hal.

Sebuah tempat untuk ditulis.


“Ilvera,” kataku. “Tinta.”


[ Starfall Verdict ]

Ilvera Draconis tidak pernah bisa memilih di mana bintangnya jatuh, dan itu adalah cacat yang menghancurkan hidupnya selama sepuluh tahun, dan pagi itu ia tidak berarti apa-apa.

Karena di dalam halaman kosong seluas empat kilometer persegi, hanya ada satu titik yang tersisa.

Bintang itu tidak jatuh sebagai batu api.

Ia mencair di perjalanan.

Arus cahaya cair setebal sungai, turun sangat perlahan dari puncak langit putih, dan masuk ke kedua tangan yang terangkat di tengah Lapangan Utara.

Rambutku terangkat. Ujung jubah kerjaku terbakar.

Dan tiga ratus ribu orang di atap-atap ibu kota memalingkan wajah dari cahayanya, dan lalu memaksa diri mereka menoleh kembali, karena tidak ada satu pun dari mereka yang bersedia melewatkannya.


Aku menurunkan tangan kananku.

Tinta emas berkumpul di ujung jariku.

Dan aku menggores satu garis pertama di langit — dari kanan ke kiri, karena aku selalu menggambar dari kanan ke kiri, karena orang di seberang meja harus bisa membaca sambil aku menggambar.

Suaranya bukan ledakan.

Suaranya seperti pena besi menggores batu.

Dan seluruh benua mendengarnya.


Bersambung — Bab 52: Magnum Opus

Jumlah kata: 2.847