← Magnum Opus

Chapter Twenty Two

Ruang Nomor Empat

POV: Theo


ORDO PERAK — DAFTAR RUANG, SAYAP KOMANDAN

Ruang 1 — Kantor Komandan
Ruang 2 — Ruang Rapat Perwira
Ruang 3 — Arsip Operasional
Ruang 4 — (tidak digunakan)
Ruang 5 — Gudang Panji


CATATAN ARSIPARIS:
Ruang 4 tercatat “tidak digunakan” selama tiga tahun dalam seluruh dokumen resmi Ordo Perak.
Saya diizinkan masuk ke dalamnya pada tanggal 42.
Saya tidak akan mendeskripsikan isinya dalam laporan resmi mana pun. Saya menuliskannya di sini saja, karena arsip pribadi tidak punya kewajiban sopan santun.


Sayap komandan ada di lantai dua, dan sepanjang lorongnya ada jendela sempit yang menghadap lapangan latihan.

Roan berjalan di depan. Dia tidak bicara.

Aku berjalan di belakangnya dan menghitung langkahnya, karena kepala ini tidak pernah bertanya izin, dan karena apa yang dihitungnya membuatku ingin duduk.

Panjang langkah delapan puluh satu sentimeter. Sama seperti dulu.

Kecepatan sedikit lebih lambat — dua koma tiga langkah per detik, dulu dua koma lima.

Dia memperlambat langkahnya supaya orang di belakangnya bisa mengikuti.

Dia sudah melakukan itu selama sepuluh tahun untukku, karena kakiku lebih pendek darinya dan dia tidak pernah menyebutkannya sekali pun.

Dan dia masih melakukannya. Untuk orang yang tidak dia ingat.

Lyra berjalan di sebelahku dan tidak berkata apa-apa, dan sesekali menyentuh lengan bajuku dengan punggung tangannya, sangat singkat, seolah tidak sengaja.

Empat kali sepanjang lorong itu.

Aku menghitungnya juga.


Roan berhenti di depan pintu keempat.

“Ini tidak ada di daftar,” katanya. “Maksudku, ada. Tertulis ‘tidak digunakan’.”

“Kenapa?”

“Karena kalau ada yang bertanya untuk apa, aku tidak punya jawaban yang tidak membuatku terdengar gila.”

Dia membuka kuncinya.


Ruangan itu berukuran kira-kira enam kali delapan meter, dan seluruh dindingnya tertutup kertas.

Bukan digantung. Ditempel. Berlapis-lapis, dari lantai sampai setinggi dua meter, di keempat dinding, dan sebagian sudah menguning dan sebagian masih putih.

Di tengah ruangan ada meja panjang.

Dan di atas meja itu, tersusun dalam kotak-kotak kayu bernomor, ada surat.

Ribuan.

“Seribu delapan ratus dua belas,” kata Roan. “Sampai kemarin.”

Aku berjalan masuk sangat pelan.

Kertas di dinding — aku mendekat, dan menyadari apa itu, dan harus berhenti sebentar.

Diagram.

Diagram formasi. Ratusan. Digambar tangan, semuanya dengan tulisan tangan yang sama, tulisan tangan yang jelas bukan tulisan tanganku.

Tulisan tangan Roan.

“Aku menggambarnya dari ingatan,” katanya, di belakangku. “Setiap raid yang bisa kuingat. Sembilan puluh enam.”

“Kau menggambar sembilan puluh enam formasi—“

“Aku menggambarnya empat ratus kali,” katanya. “Karena setiap kali aku menggambarnya, ada bagian yang salah, dan aku tahu bagian itu salah, dan aku tidak tahu bagaimana yang benar.”

Aku menyentuh salah satu kertas dengan ujung jari.

Raid 61. Kampanye Utara. Enam titik penempatan.

Digambar dari kiri ke kanan, dengan tangan menutupi apa yang baru digambar.

“Aku selalu tahu ada yang kurang,” kata Roan. “Setiap diagram. Ada satu ruang kosong di dalamnya yang seharusnya ada isinya.”

Dia berjalan ke dinding utara dan menepuk satu kertas besar di tengahnya.

“Ini yang paling parah.”

Aku mendekat.

Itu bukan diagram formasi. Itu denah ruangan — ruang rapat, meja persegi, enam kursi.

Lima kursi punya nama.

Kursi keenam kosong. Tidak ditulisi. Digambar dengan garis putus-putus, seperti sesuatu yang penggambarnya tidak yakin ada.

“Aku menggambar ini di tahun pertama,” katanya. “Aku bangun jam tiga pagi dan menggambarnya dan aku tidak tahu kenapa aku menggambar enam kursi.”


Aku duduk.

Aku harus. Ada kursi di dekat meja panjang dan aku duduk di atasnya karena kakiku memberi tahu bahwa ini bukan lagi negosiasi.

Lyra berdiri di ambang pintu dengan kedua tangannya menutup mulutnya untuk kedua kalinya hari itu.

“Roan,” kataku.

“Ya.”

“Surat-surat ini.”

“Seribu delapan ratus dua belas.”

“Kau membaca semuanya.”

“Ya.”

“Termasuk yang ditolak administrasi?”

Dia berhenti.

Lalu dia berjalan ke ujung meja, ke kotak kayu paling kanan, yang lebih besar dari yang lain.

“Kotak ini,” katanya. “Yang gagal verifikasi. Aku membacanya juga, tapi tidak setiap hari. Kadang aku menunda seminggu, karena—“

Dia berhenti.

“Karena membaca seribu orang yang berbohong tentang satu hal yang paling kau butuhkan itu melelahkan,” kataku.

“Ya.”

Aku memandangi kotak itu.

“Roan.”

“Ya.”

“Suratku ada di sana.”


Butuh sebelas menit.

Kami bertiga mengeluarkan isi kotak itu ke atas meja dan menyortirnya berdasarkan tanggal terima, dan Lyra melakukannya tiga kali lebih cepat dari kami berdua, karena tentu saja.

Dia yang menemukannya.

Amplop biasa. Kertas toko. Segel lilin toko biasa karena aku tidak punya segel.

Dan di sudut kanan atas, stempel administrasi Ordo Perak:

VERIFIKASI : GAGAL
Nama pengirim tidak terdaftar dalam
keanggotaan Ashen Crown (5 orang).
Klasifikasi : TIDAK RELEVAN

Lyra meletakkannya di meja tanpa berkata apa-apa.

Roan Ferrant memandangi amplop itu.

Lalu dia mengambilnya, dan membalikkannya, dan aku melihat tangannya bergetar untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya — dan aku pernah melihat laki-laki ini menahan pintu gerbang seberat empat ton selama dua belas detik.

Dia membukanya.

Empat baris.

Dia membacanya. Lalu membacanya lagi. Lalu membacanya untuk ketiga kalinya, dan aku tahu itu karena aku menghitung berapa lama matanya bergerak dari atas ke bawah, tiga kali, dengan jeda yang sama.

Lalu dia meletakkannya di meja dengan sangat hati-hati, seperti orang meletakkan sesuatu yang bisa pecah.

“Tanggal terima,” katanya. “Kemarin pagi.”

“Ya.”

“Kemarin pagi,” ulangnya. “Aku ada di kantor sebelah kemarin pagi.”

“Roan.”

“Delapan belas meter,” katanya. “Dinding ini dan dinding itu.”

Dia berbalik dan berjalan ke jendela dan berdiri di sana membelakangi kami.

Bahunya bergerak sekali.

“Aku menyuruh mereka membuat prosedur verifikasi itu,” katanya, ke jendela. “Aku sendiri. Tahun pertama, setelah orang keempat berbohong di depanku. Aku bilang ke administrasi: silang-periksa dengan daftar keanggotaan.”

Ruangan itu sangat sunyi.

“Aku membangun saringan,” katanya, “yang dirancang khusus untuk membuang satu-satunya orang yang kucari.”


Aku tidak menghiburnya.

Itu keputusan yang kubuat dalam waktu sekitar dua detik dan yang tidak pernah kusesali, karena Roan Ferrant bukan orang yang bisa dihibur dan tidak pernah menjadi orang seperti itu.

Yang kulakukan adalah menunggu sampai bahunya berhenti bergerak.

Lalu aku berkata:

“Aku butuh bantuanmu.”

Dia berbalik langsung.

“Apa pun.”

“Kau tidak tahu apa yang akan kuminta.”

“Aku tidak peduli.”

“Roan.”

“Aku sudah tiga tahun menggambar kursi kosong,” katanya. “Kau boleh minta ordoku. Kau boleh minta jabatanku. Aku serius, dan kalau kau pikir aku sedang emosional, tanya aku lagi bulan depan dan jawabannya akan sama.”

Aku mengeluarkan peta dari tas Lyra.

Empat puluh satu titik. Enam puluh hari. Sembilan distrik.

Aku membentangkannya di atas seribu delapan ratus dua belas surat.

“Anomali,” kataku.

“Aku sudah baca laporannya. Tidak ada pola.”

“Ada,” kataku. “Bukan pola sebaran. Pola penyempitan. Tiga koma satu persen per minggu, menuju satu titik.”

Roan membungkuk di atas peta.

Dan lalu — dan aku ingin mencatat betapa cepatnya ini terjadi — dia menelusuri benang merah itu dengan satu jari, dari titik tertua ke titik terbaru, dan berhenti.

“Ke desamu.”

“Ya.”

“Kenapa?”

“Aku tidak tahu.”

Dia mengangkat wajah.

“Kau tidak tahu.”

“Roan, dengar,” kataku. “Sesuatu terjadi di Menara Vessel tiga tahun lalu. Aku tidak ingat apa. Ada tiga hari yang tidak ada isinya di kepalaku, dan setelah tiga hari itu, namaku hilang dari setiap catatan di dunia dan lima orang lupa wajahku.”

Aku menyentuh peta.

“Dan sekarang ada sesuatu yang tidak punya pola sedang berjalan pelan-pelan ke arahku selama enam puluh hari, dan salah satunya menggambar diagramku di tanah dengan angka delapan yang tidak ditutup.”

Wajah Roan Ferrant berubah.

Bukan takut. Sesuatu yang lebih tua dan lebih dingin.

“Katakan sekali lagi,” katanya. “Bagian menara.”

“Tiga hari yang tidak ada isinya.”

Dia berjalan ke dinding barat.

Ke satu kertas, kecil, di pojok bawah, setinggi lutut — tempat yang tidak akan dilihat siapa pun kecuali orang yang menempelkannya.

Dia melepasnya dan menyerahkannya kepadaku.

Itu bukan diagram.

Itu tulisan. Empat baris, ditulis dengan tergesa, dengan tinta yang jelas tumpah di satu titik.

Aku ingat kami kalah. Aku ingat aku mati. Lalu aku ingat kami pulang. Aku belum pernah menuliskan ini untuk siapa pun karena tidak ada yang akan percaya.

Aku memegang kertas itu dan tidak bisa merasakan jari-jariku.

“Aku menulisnya di malam pertama setelah kami pulang,” kata Roan. “Lalu aku menempelnya di pojok itu dan tidak pernah menyentuhnya lagi selama tiga tahun.”

Dia menatapku.

“Theo,” katanya — dan itu pertama kalinya dia mengucapkan namaku dengan cara orang yang benar-benar memakainya. “Apa yang kau lakukan di menara itu?”


Kami tidak tidur malam itu.

Roan memerintahkan makan malam dibawa ke Ruang Nomor Empat, dan tidak seorang pun perwiranya berani bertanya kenapa komandan ordo makan di ruangan yang tercatat tidak digunakan bersama seorang rank F dan seorang arsiparis tingkat dua.

Lyra mengeluarkan seluruh isi kedua kotak arsipnya ke atas meja.

Empat ratus tujuh belas edaran. Lampiran Empat. Enam puluh empat kesaksian. Peta empat puluh satu titik. Lembar Guild Pusat yang menyebut namaku.

Dan Roan Ferrant, Komandan Ordo Perak, duduk di ujung meja itu selama enam jam dan membaca semuanya.

Jam tiga pagi dia mengangkat wajah.

“Empat orang lagi,” katanya.

“Ya.”

“Bhaltair di Kaldrass. Aku tahu karena aku yang menandatangani rotasi penjaganya dua tahun lalu dan tidak ada yang pernah menggantikannya sejak itu.”

Aku menutup mataku.

“Seris di Vireln,” lanjutnya. “Ilvera di Vaelmoor, dan itu akan jadi masalah. Cael—“ Dia mengangkat bahu. “Cael akan muncul kalau Cael mau muncul.”

“Kau tahu di mana mereka semua.”

“Aku komandan ordo, Theo. Aku melacak lima orang paling berbahaya di benua sebagai bagian dari pekerjaanku.” Dia menyandarkan punggungnya. “Dan aku melacak empat orang ini juga karena aku menganggap mereka teman dan aku tidak pernah punya keberanian mengunjungi satu pun.”

“Kenapa tidak?”

Roan Ferrant memandangi ruangan penuh kertas di sekelilingnya.

“Karena kalau kami bertemu,” katanya, “kami harus membicarakan kenapa kami berhenti. Dan tidak satu pun dari kami tahu jawabannya.”

Dia berdiri.

“Sekarang aku tahu,” katanya. “Kami berhenti karena kami kehilangan bagian yang menyatukan kami dan tidak sanggup menatap satu sama lain tanpa merasakan lubangnya.”

Dia mengambil jubah komandannya dari sandaran kursi.

“Kaldrass sembilan hari berkuda,” katanya. “Aku akan menyiapkan empat kuda dan enam pengawal.”

“Roan, ordomu—“

“Deyl bisa memimpin latihan pagi,” katanya. “Dia sudah dua tahun siap dan aku terus menundanya.”

Dia berhenti di pintu.

“Theo.”

“Ya.”

“Kalau kami sampai di Kaldrass,” katanya, “dan Bhaltair menatapmu dan tidak menemukan apa-apa—“

“Aku sudah terbiasa.”

“Aku belum,” kata Roan Ferrant. “Aku baru satu hari, dan aku sudah tidak sanggup.”


━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
[ Party Formation — Pending ]

Requesting Member : Roan Ferrant
Status : ACCEPTED

Registered Party : —
Note : Registration requires 2 members with
valid guild standing. Rank F does not
meet minimum threshold.

Registration DENIED.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Aku memandangi kotak itu di kamar tamu Ordo Perak jam empat pagi.

Registration DENIED.

Tiga tahun garis itu kosong. Malam ini, untuk pertama kalinya, sistem menolaknya secara aktif.

Aku tersenyum sedikit, sendirian, dalam gelap.

Karena penolakan berarti ada yang mengajukan.

Close.


Bersambung — Bab 23: Jalan ke Kaldrass

Jumlah kata: 2.456