← Magnum Opus

Chapter One

Penjual Tinta

POV: Theo


ARSIP GUILD PUSAT — DOKUMEN 4471-C
Judul: Hipotesis Anggota Keenam
Penyusun: Lyra Vandell, Arsiparis Tingkat Dua
Status: DITOLAK
Catatan Arbiter: Penyusun menyimpulkan keberadaan seseorang dari ketiadaan bukti. Ini bukan penelitian. Ini kepercayaan.
Rekomendasi: mutasi ke cabang perbatasan.


Tinta yang baik butuh empat hari.

Hari pertama untuk merendam kulit kayu ek. Hari kedua untuk membuang busanya, yang selalu naik dua kali dan tidak pernah tiga kali. Hari ketiga untuk mencampur besi sulfat sedikit demi sedikit sampai warnanya berubah dari cokelat keruh menjadi hitam yang punya kedalaman. Hari keempat untuk diam saja dan tidak menyentuhnya.

Kebanyakan orang gagal di hari keempat.

Aku menuang takaran terakhir ke dalam panci tembaga dan menghitung tanpa sadar. Dua puluh tujuh kali aduk searah. Jeda. Sembilan kali berlawanan. Ini kebiasaan bodoh yang tidak pernah bisa kuhilangkan — kepalaku menghitung apa pun yang bisa dihitung. Anak tangga di gudang belakang, ada sebelas. Jarak antara tiang teras Nenek Odel, empat kaki dan sepertiga. Detak nadi orang yang sedang berbohong padaku.

Aku tidak memilih untuk menghitung. Kepala ini hanya melakukannya, seperti paru-paru bernapas.

Matahari sudah naik setinggi atap ketika aku membuka jendela depan. Desa Marrow di pagi hari punya bunyi yang selalu sama: gerobak, ayam, seseorang memarahi seseorang tentang pagar. Aku menghitung tujuh gerobak. Kemarin enam. Berarti keluarga Harn sudah selesai panen.

“Paman Theo!”

Pip berdiri di ambang pintu dengan lutut berlumur lumpur dan wajah yang jelas sudah menyiapkan sebuah kebohongan.

“Ibumu tahu kau di sini?”

“Tahu.” Dia menghitung dengan jarinya. “Sebentar lagi.”

Aku mendorong sebuah botol kecil ke ujung meja. Tinta gagal dari batch minggu lalu, terlalu encer, tidak akan bertahan setahun di kertas. Tapi anak sepuluh tahun tidak butuh tinta yang bertahan setahun.

Wajahnya menyala seperti aku baru memberinya pedang.

“Kau tidak menagih apa-apa lagi?”

“Kau berutang dua puluh tiga botol padaku, Pip.”

“Dua puluh dua.”

Aku mengangkat alis. Dia bertahan tiga detik sebelum runtuh.

“Ya sudah, dua puluh tiga.”

Dia kabur sebelum aku sempat menjawab, dan meninggalkan jejak lumpur berbentuk setengah lingkaran di lantai kayuku. Aku memandanginya beberapa saat. Bekas kaki kanan lebih dalam dari kiri. Anak itu masih memihak kaki kanannya sejak jatuh dari pagar bulan lalu. Tulangnya sembuh miring sedikit.

Aku mencatat itu di kepala, di tempat yang sama dengan sebelas anak tangga dan tujuh gerobak, lalu menutup jendela.


Cabang guild Marrow menempati bangunan yang dulunya kandang.

Mereka tidak menyembunyikan itu. Palang kayu di langit-langit masih ada, dan kalau hujan cukup deras, ruangan itu masih berbau seperti tiga puluh tahun kuda. Ada satu meja, satu papan pengumuman, dan satu orang bernama Tuan Belden yang menganggap dirinya sedang menjalankan sebuah lembaga.

“Terlambat,” katanya, tanpa mengangkat wajah dari buku catatannya.

“Jam sembilan lewat empat menit.”

“Terlambat empat menit.”

Aku meletakkan enam botol tinta di mejanya. Guild membeli tintaku setiap dua minggu karena tidak ada pemasok lain dalam radius dua hari perjalanan, dan Tuan Belden tidak pernah bisa menerima kenyataan itu tanpa membalas dendam sedikit.

Dia menghitung botolnya. Dua kali. Seolah aku pernah salah.

“Kartu.”

Aku menyerahkannya. Sepotong kuningan tipis, sudah gelap di bagian sudut karena keringat bertahun-tahun.

[ GUILD REGISTRY ]
Name : Theo
Class : Enchanter (Support)
Rank : F

Tuan Belden memandanginya seperti selalu, dengan campuran heran dan puas yang sudah kuhafal bentuknya.

“Kau tahu,” katanya, “aku selalu berpikir. Rank F. Di umurmu.”

“Ya.”

“Bukan hinaan. Aku hanya berpikir.” Dia menggores sesuatu di bukunya. “Support itu memang begitu, ya? Kalian tidak bisa naik rank sendirian. Butuh party. Butuh orang lain yang mengangkat kalian.”

“Begitulah.”

“Kalau aku jadi kau, aku akan cari party.”

“Aku akan pertimbangkan.”

Dia mendorong dua koin perak ke arahku, jumlah yang sudah tidak berubah selama tiga tahun, dan menunjuk dengan dagunya ke sudut ruangan.

“Peti-peti itu. Dari ibu kota. Pindahkan ke gudang belakang sebelum kau pulang.”

Ada sembilan peti. Berat masing-masing sekitar empat puluh kilogram, kutaksir dari kedalaman lekukan yang mereka tinggalkan di lantai kayu.

Aku memindahkannya satu per satu, dan itu memakan waktu dua puluh menit, dan Tuan Belden tidak mengangkat wajahnya sekali pun.

Aku tidak keberatan. Sungguh. Ada hal-hal yang tidak lagi menyentuhku setelah cukup lama, dan penghinaan dari orang yang tidak tahu apa-apa adalah salah satunya. Lagi pula, memindahkan peti adalah pekerjaan yang jujur. Kau tahu persis berapa yang tersisa. Kau tahu persis kapan selesai.

Tidak semua pekerjaan begitu.


Party dari ibu kota itu tiba jam empat sore, dan seluruh desa tahu dalam waktu dua menit.

Mereka berkuda masuk lewat gerbang selatan dengan formasi yang, harus kuakui, cukup rapi. Enam orang. Baju zirah dengan lambang burung camar perak. Pemimpinnya seorang laki-laki muda dengan rambut pucat dan cara duduk di pelana yang mengatakan dia belum pernah kalah.

Anak-anak berlarian mengikuti kuda mereka. Nenek Odel keluar dari kedai sambil mengelap tangan, menyipitkan mata, lalu berkata cukup keras agar semua orang dengar, “Ganteng-ganteng. Sayang kurus.”

Aku berdiri di depan tokoku dengan sekantong garam yang belum kubayar, dan menghitung.

Bukan karena aku mau. Kepalaku melakukannya sebelum aku sempat melarang.

Rank A. Enam orang. Dua warrior, satu tank, satu healer, dua mage — tidak, satu mage dan satu ranger. Tank-nya membawa perisai menara, artinya mereka mengantisipasi lawan besar dan lambat. Salah. Kalau yang mereka kejar itu Blood Chimera, lawannya bukan besar dan lambat; lawannya cepat dan berbelok. Perisai itu akan jadi peti mati.

Healer-nya menunggang di posisi keempat. Terlalu depan. Kalau formasi pecah dari belakang, dia akan terputus dari empat orang sekaligus.

Ranger-nya kelelahan. Bahu kanannya turun tiga jari lebih rendah dari kiri. Sudah menembak terlalu banyak dalam beberapa hari terakhir; akurasinya akan jatuh sekitar menit kesebelas pertempuran.

Pemimpinnya bagus. Sungguh bagus. Refleks bagus, keputusan cepat, dan tidak akan mendengarkan siapa pun. Yang terakhir itu yang akan membunuh timnya.

Aku menutup mataku sebentar dan mengusir semua itu keluar dari kepala.

Ini bukan urusanku. Sudah tiga tahun ini bukan urusanku.

Mereka berhenti tepat di depan tokoku. Bukan karena aku — karena papan pengumuman ada di sebelah tokoku. Pemimpinnya turun, membaca selebaran perburuan yang sudah dipasang guild empat hari lalu, dan tertawa kecil.

“Empat hari,” katanya pada rekannya. “Mereka menempel selebaran ini empat hari dan tidak ada yang berani keluar.”

“Ini desa perbatasan, Aldric.”

“Aku tahu ini desa perbatasan.” Dia berbalik dan matanya melewati wajahku tanpa berhenti, seperti melewati tiang. “Ada berapa petarung di sini?”

Pertanyaan itu ditujukan pada udara. Nenek Odel yang menjawab.

“Tidak ada.”

“Tidak ada satu pun?”

“Ada pemburu. Namanya Hanne. Rank B. Lagi ke utara.”

Aldric mengangguk seolah itu memuaskan sesuatu di dalam dirinya. “Kalau begitu jangan ada yang keluar malam ini. Kami akan bawa kepalanya besok pagi.”

Dia melipat selebaran itu, memasukkannya ke sarung tangan, dan naik kembali ke kuda.

Sebelum berbalik, matanya jatuh padaku sekali lagi — kali ini berhenti. Pada kantong garam di tanganku. Pada celemek kerja yang penuh noda hitam. Pada tangan yang jari-jarinya sudah permanen ternoda tinta sampai ke buku jari.

“Penjual apa?” tanyanya.

“Tinta.”

“Ah.” Dia tersenyum. Bukan senyum jahat. Itu yang paling jujur kukatakan tentangnya — dia tidak sedang berusaha kejam. Dia hanya benar-benar tidak melihat apa-apa. “Bagus. Dunia butuh itu juga.”

Lalu mereka pergi ke arah hutan utara, enam kuda, formasi rapi, tank di depan dengan perisai menara.

Aku berdiri di sana cukup lama setelah debunya turun.

Menit kesebelas, kata kepalaku, tanpa diminta.

Aku masuk dan menutup pintu.


Kedai Nenek Odel buka sampai larut karena Nenek Odel tidak percaya orang bisa tidur dengan perut kosong dan hati kosong sekaligus. Aku duduk di sudut yang sama seperti setiap malam, memakan sup yang sama, dan mendengarkan desa membicarakan hal yang sama.

“Enam orang rank A. Di Marrow. Bayangkan.”

“Katanya benda itu sudah makan dua party.”

“Tiga.”

“Dua party dan satu rombongan pedagang, itu bukan tiga party.”

Nenek Odel menaruh semangkuk lagi di depanku tanpa aku minta, lalu duduk di seberang dengan cara duduk perempuan tujuh puluh tahun yang punya pendapat.

“Kau kelihatan capek, Nak.”

“Aku memindahkan sembilan peti.”

“Belden itu,” katanya, dan mengucapkan nama itu seperti nama penyakit. “Suatu hari akan ada yang mengajarinya sopan santun.”

“Mungkin.”

“Kau tidak marah?”

Aku berpikir sejenak. Pertanyaan itu selalu membuatku macet, karena jawabannya tidak sederhana dan versi sederhananya adalah kebohongan.

“Tidak,” kataku akhirnya. “Aku sudah lama tidak marah pada orang yang tidak tahu.”

Dia memandangiku dengan cara yang tidak kusukai. Nenek Odel punya tatapan tertentu yang membuatku merasa dia sedang membaca sesuatu di wajahku yang seharusnya tidak ada di sana.

“Kau ini orang aneh, Theo.”

“Aku menjual tinta.”

“Ya,” katanya. “Itu bagian anehnya.”


Aku pulang jam sebelas lewat.

Malam di Marrow tidak benar-benar gelap. Ada cukup bulan, dan cukup jendela yang masih menyala, dan jalan setapak dari kedai ke rumahku hanya seratus delapan puluh dua langkah. Aku tahu karena aku menghitungnya, malam pertama aku tinggal di sini, dan setiap malam sesudahnya.

Angin datang dari utara.

Aku berhenti berjalan.

Bukan karena suara. Tidak ada suara. Itu justru masalahnya — hutan utara selalu punya suara, serangga, burung malam, sesuatu yang bergerak di semak. Malam ini bagian utara hutan itu diam seperti ruangan yang menahan napas.

Aku berdiri di tengah jalan setapak dan mendengarkan selama dua belas detik.

Sudah bukan urusanmu, kataku pada diriku sendiri, dan itu benar, dan aku tetap berdiri di sana.

Lalu aku melanjutkan langkah, membuka pintu rumahku, dan menutupnya.

Di dalam gelap. Aku tidak menyalakan lampu. Aku menaruh kantong garam di meja — akhirnya kubayar juga tadi, dua koin tembaga, Nenek Odel tidak mau menerima lebih — dan duduk di kursi kayu di depan meja kerja.

Kertas-kertas menumpuk di sana. Pesanan tinta. Catatan pembukuan. Draf jimat pengusir tikus untuk keluarga Harn, pekerjaan senilai delapan koin tembaga.

Aku memandanginya sebentar.

Lalu, untuk pertama kalinya dalam sebelas hari, aku mengucapkan sesuatu ke dalam kegelapan.

Open Status Window.

Cahayanya muncul pelan, biru pucat, menerangi separuh wajahku dan tidak lebih.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
[ Theo ]
Lv. 95 / 99

Class : Enchanter (Support)
Subclass : Scribe (Lv. MAX)

Registered Rank : F
Registered Party : —

Skills Owned : 1.284
Fusion Records : 617
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Angka-angka itu menggantung di udara ruang tamuku, di atas tumpukan pesanan tinta dan draf jimat pengusir tikus.

Sembilan puluh lima. Selama tiga tahun angka itu tidak pernah bergerak satu pun, dan bukan karena aku berhenti berusaha. Aku sudah mencoba semuanya. Tidak ada yang tersisa di dunia ini yang cukup besar untuk memberiku level berikutnya. Sistem ini tidak punya apa-apa lagi untukku.

Aku menggulir turun sedikit, ke bagian yang tidak pernah kubuka.

Party Affiliation (Archived) :
[ ASHEN CROWN ] — Disbanded, Year 822
Members : 5

Lima.

Aku memandangi angka itu lama sekali. Cukup lama sampai cahayanya mulai terasa panas di mata.

Lima. Bukan enam.

Bahkan sistem tidak mencatatku di sana.

Close.

Ruangan kembali gelap.

Aku duduk di sana beberapa saat, di rumah kayu kecil di desa perbatasan, dengan jari-jari yang ternoda tinta sampai ke buku jari, dan mendengarkan hutan utara yang masih menahan napas.

Besok pagi aku harus mengaduk batch baru. Dua puluh tujuh kali searah. Sembilan kali berlawanan.

Aku pergi tidur.


Bersambung — Bab 2: Garam

Jumlah kata: 2.108