← Magnum Opus

Chapter Thirty One

Ratu yang Tidak Bisa Membaca Peta

POV: Theo


KERAJAAN VAELMOOR — UNDANG-UNDANG ISTANA, PASAL 9

Tidak seorang pun diperkenankan menggunakan skill dalam bentuk apa pun di dalam Balai Dewan atau di hadapan Mahkota, kecuali:
(a) anggota Pengawal Mahkota yang sedang bertugas;
(b) atas izin tertulis Dewan Bangsawan yang disahkan tujuh hari sebelumnya.

Pelanggaran atas pasal ini dianggap sebagai percobaan makar, tanpa memandang niat.


CATATAN ARSIPARIS:
Pasal 9 disusun 140 tahun lalu untuk melindungi raja dari pembunuhan.
Selama tiga tahun terakhir, pasal ini melindungi Dewan Bangsawan dari ratunya sendiri.


Vaelmoor adalah kerajaan kecil dengan istana besar, dan itu memberitahumu segalanya yang perlu kau tahu tentang Vaelmoor.

Kami sampai di ibu kota Vaelmoor tanggal lima puluh sembilan, dan masuk ke istana tiga hari kemudian, dan tiga hari itu adalah tiga hari yang tidak berguna sepenuhnya.

Roan Ferrant, Komandan Ordo Perak, mengajukan permohonan audiensi resmi pada hari pertama.

Dijawab hari ketiga.

“Yang Mulia sedang tidak menerima kunjungan pribadi,” kata pejabat protokol itu, dengan wajah orang yang membacakan kalimat yang sudah dibacakannya empat ratus kali. “Namun Dewan Bangsawan dengan senang hati menerima Komandan dalam sidang terbuka.”

“Aku tidak mengajukan permohonan kepada Dewan.”

“Semua permohonan kepada Mahkota melewati Dewan, Komandan.”

Roan Ferrant berdiri sangat diam.

“Sejak kapan,” katanya.

“Sejak Tahun 823.”

“Setahun setelah dia naik takhta.”

“Ya, Komandan.”


Aku menghitung istana itu sepanjang perjalanan menuju Balai Dewan.

Aku tidak bisa berhenti. Aku tidak pernah bisa berhenti, dan hari itu aku bersyukur untuk itu, karena yang kutemukan menyelamatkan enam puluh empat orang tiga hari kemudian.

Pengawal Mahkota: enam belas orang. Seragam biru. Ditempatkan di koridor luar.

Pengawal Dewan: empat puluh satu orang. Seragam abu. Ditempatkan di koridor dalam, tangga, dan kedua pintu Balai.

Dua pasukan berbeda di satu bangunan.

Yang lebih dekat ke ruangan tempat ratu duduk adalah yang bukan miliknya.

Aku menghitung itu di menit kedelapan dan tidak berkata apa-apa kepada siapa pun sampai malam.


Balai Dewan Vaelmoor berbentuk setengah lingkaran, dengan dua puluh empat kursi bangsawan menghadap satu kursi tinggi.

Dan di kursi tinggi itu duduk Ilvera Draconis.

Dua puluh empat tahun.

Aku sudah menyiapkan diri untuk ini selama sebelas hari perjalanan, dan persiapan itu berguna nol persen.

Dia kurus. Bukan kurus sakit — kurus orang yang berhenti bergerak.

Punggungnya terlalu tegak. Itu bukan sikap; itu latihan. Seseorang mengajarinya duduk seperti itu dan dia belum berhenti memikirkannya sebentar pun sejak itu.

Tangan kirinya di pangkuan, menggenggam kain roknya. Tangan kanannya di sandaran, terbuka, terlihat.

Dia menyembunyikan satu tangan.

Dia melakukan itu waktu umur empat belas juga, waktu gugup, di setiap pengarahan pagi selama tiga tahun pertama sampai aku berhenti menyuruhnya berbicara di depan.

Ilvera Draconis memandangi kami bertiga masuk.

Matanya melewati Roan, dan berhenti, dan sesuatu bergerak di wajahnya yang langsung dia matikan.

Matanya melewati Bhaltair, dan hal yang sama terjadi, lebih keras.

Matanya melewati aku.

Dan tidak berhenti.


Sidang itu berlangsung dua jam empat puluh menit dan tidak menghasilkan apa pun, karena tidak dirancang untuk menghasilkan apa pun.

Yang berbicara bukan Ilvera.

Yang berbicara adalah seorang laki-laki berumur enam puluhan di kursi pertama sebelah kanan, bernama Adipati Ceren Halvorne, yang memiliki dua hal yang membuatku memutuskan untuk mengawasinya dalam empat menit pertama:

Suara yang sangat menyenangkan.

Dan kebiasaan menoleh ke arah kapten pengawal abu setiap kali dia menyelesaikan sebuah kalimat penting.

“Komandan Ferrant,” kata Adipati Halvorne, “Ordo Perak selalu disambut di Vaelmoor. Tapi saya harus bertanya — apa kepentingan ordo asing dalam urusan dalam negeri kami?”

“Aku tidak datang untuk urusan dalam negeri.”

“Anda datang bersama enam orang bersenjata.”

“Enam pengawal.”

“Yang di dalam kerajaan ini,” kata Adipati Halvorne dengan senyum yang benar-benar hangat, “disebut pasukan.”

Aku berdiri di barisan belakang, di tempat yang disediakan untuk pengiring, dan menghitung.

Dua puluh empat kursi. Enam belas kosong.

Enam belas bangsawan tidak hadir dalam sidang terbuka yang membahas kedatangan Komandan Ordo Perak.

Itu bukan ketidakhadiran. Itu koordinasi.

Delapan yang hadir: empat duduk di sayap kanan, dekat Halvorne. Tiga di sayap kiri. Satu di tengah.

Yang di tengah adalah perempuan tua yang tidak berbicara sekali pun dalam dua jam empat puluh menit dan yang matanya bergerak terus-menerus.

Dia menghitung juga.

Aku memindahkan dia ke daftar terpisah di kepalaku.


Aku melihat Ilvera Draconis berbohong pada menit keseratus dua belas.

Adipati Halvorne membentangkan sebuah peta di meja tengah — peta perbatasan utara Vaelmoor, dengan tanda-tanda kemunculan Anomali — dan menyerahkannya kepada ratunya.

“Yang Mulia dapat melihat sendiri bahwa sebaran ini menunjukkan pergerakan dari timur laut.”

Ilvera menerima peta itu.

Dan dia melihatnya selama empat detik.

Terlalu cepat.

Peta perbatasan skala satu banding dua ratus ribu butuh minimal dua puluh detik untuk dibaca oleh siapa pun.

Empat detik adalah waktu untuk melihat gambar, bukan untuk membaca peta.

“Saya melihatnya,” kata Ilvera.

“Kesimpulan Yang Mulia?”

Jeda.

Setengah detik. Tidak ada yang menyadarinya kecuali aku, dan mungkin perempuan tua di kursi tengah.

“Kesimpulan Dewan tampaknya sudah matang,” kata Ilvera. “Saya tidak akan mengulanginya.”

Adipati Halvorne menundukkan kepala dengan penuh hormat.

Dan aku berdiri di barisan belakang Balai Dewan Vaelmoor dengan perut yang dingin, karena aku baru saja melihat sesuatu yang tidak masuk akal.

Ilvera Draconis tidak bisa membaca peta itu.


Malamnya kami ditempatkan di sayap tamu, yang berarti tiga koridor dan dua tangga dari kamar ratu, yang berarti sengaja.

Aku duduk di jendela dan tidak tidur.

“Kau menghitung sesuatu,” kata Lyra, dari meja.

“Ya.”

“Sesuatu yang buruk.”

“Ya.”

Aku memandangi halaman istana di bawah.

“Dia tidak bisa membaca peta,” kataku.

Lyra meletakkan penanya.

“Ilvera Draconis bergabung dengan party kami waktu berumur empat belas tahun,” kataku. “Dia dari kampung penambang. Tidak pernah sekolah. Tidak bisa membaca sama sekali, huruf pun tidak, waktu pertama datang.”

“Dan kau mengajarinya.”

“Aku mengajarinya membaca dalam empat bulan,” kataku. “Aku mengajarinya membaca peta dalam sebelas bulan.”

Aku memandangi tanganku sendiri.

“Kertas terlalu mahal waktu itu. Kami tidak punya uang untuk peta latihan.” Aku mengangkat bahu. “Jadi aku menggambar di pasir. Di tanah, di halaman penginapan, dengan jari. Setiap malam selama sebelas bulan.”

Lyra tidak berkata apa-apa.

“Dan aku mengajarinya dengan notasiku,” kataku.

Dan begitu aku mengucapkannya, seluruhnya terbuka sekaligus, dan aku harus meletakkan tanganku di kusen jendela.

“Garis pemisah dari kanan ke kiri,” kataku. “Angka delapan tidak ditutup. Tanda ketinggian yang kupakai bukan tanda standar guild, karena aku tidak pernah belajar formal dan aku menyusunnya sendiri waktu umur sembilan tahun.”

“Theo.”

“Dia tidak belajar membaca peta,” kataku. “Dia belajar membaca peta buatanku.”

Ruangan itu sangat sunyi.

“Tiga tahun,” kata Lyra pelan.

“Tiga tahun,” kataku. “Dia duduk di kursi tinggi kerajaan yang seluruh urusannya adalah tanah dan perbatasan dan pergerakan pasukan, dan setiap peta yang diletakkan di depannya ditulis dengan notasi kartografer kerajaan.”

Aku menutup mataku.

“Dan dia tidak bisa membacanya,” kataku, “dan dia tidak tahu kenapa, dan dia tidak bisa bertanya kepada siapa pun karena ratu yang mengaku tidak bisa membaca peta akan turun takhta dalam waktu satu bulan.”


Aku menemukan hal kedua jam dua pagi, dan hal kedua ini yang membuatku membangunkan semua orang.

Aku berjalan di koridor sayap tamu — resmi, untuk mencari air; sebenarnya, untuk menghitung jaga malam — dan aku menghitung jaga malam.

Koridor luar: dua Pengawal Mahkota, seragam biru.

Tangga timur: enam Pengawal Dewan, seragam abu.

Tangga barat: enam Pengawal Dewan.

Koridor kamar ratu: sembilan Pengawal Dewan.

Nol Pengawal Mahkota.

Aku berdiri di ujung koridor itu selama sekitar tiga puluh detik.

Lalu aku berjalan kembali ke kamar Roan dan mengetuk pintunya.


“Kudeta,” kata Roan.

“Ya.”

“Kau yakin?”

“Enam belas bangsawan tidak hadir di sidang terbuka,” kataku. “Empat puluh satu Pengawal Dewan berada di dalam istana; jumlah standarnya dua puluh empat, aku memeriksa piagam istana di perpustakaan tadi sore. Koridor kamar ratu dijaga sembilan orang bersenjata yang tidak satu pun bekerja untuknya.”

Aku meletakkan selembar kertas di meja.

“Dan Adipati Ceren Halvorne menoleh ke kapten pengawal abu dua puluh dua kali dalam dua jam empat puluh menit,” kataku. “Setiap kali setelah kalimat yang penting. Itu bukan kebiasaan. Itu konfirmasi.”

Bhaltair Vorn, di sudut ruangan, mengucapkan satu kata.

“Kapan.”

“Tiga hari,” kataku. “Mungkin empat.”

“Kenapa belum?”

“Karena Komandan Ordo Perak baru saja masuk ke istana dengan enam pengawal,” kataku, “dan mereka sedang menghitung ulang.”

Roan Ferrant berdiri.

“Aku akan bicara dengan Ilvera.”

“Kau tidak bisa.”

“Aku Komandan Ordo—“

“Kau tidak bisa mendekati kamarnya,” kataku. “Sembilan orang di koridor itu bukan penjaga. Mereka penyaring. Dan kalau Komandan Ordo Perak dari kerajaan asing berjalan ke kamar tidur Ratu Vaelmoor jam tiga pagi, kau memberi Halvorne alasan yang jauh lebih baik daripada yang bisa dia karang sendiri.”

“Kalau begitu kita jemput dia di siang hari—“

“Roan,” kataku.

Dia berhenti.

“Ada masalah yang lebih besar,” kataku.

Aku duduk di kursi di ujung meja.

“Pasal sembilan,” kataku. “Undang-undang istana Vaelmoor. Tidak ada skill yang boleh dipakai di dalam Balai Dewan atau di hadapan Mahkota.”

“Aku sudah baca.”

“Kau belum menghitungnya,” kataku.

Aku mengangkat wajah.

“[ Ninth Sunder ] — dilarang,” kataku. “[ Immovable Dawn ] — dilarang. [ Grace Unending ] — dilarang, dan itu berarti kalau ada yang terluka, tidak ada yang boleh menyembuhkannya.”

Aku menepuk meja sekali dengan telapak tangan.

“Dan [ Starfall Verdict ],” kataku, “adalah skill yang tidak bisa memilih di mana bintangnya jatuh.”

Ruangan itu sangat sunyi.

“Ilvera Draconis,” kataku, “adalah orang paling kuat di dalam istana ini, dan satu-satunya senjata yang dia punya akan meratakan bangunan tempat dia berdiri.”

Aku menyandarkan punggung.

“Itu sebabnya mereka menunggu tiga tahun,” kataku. “Mereka tidak menunggu keberanian. Mereka menunggu sampai mereka yakin bahwa dia tahu dia tidak bisa memakainya.”


Aku berjalan ke jendela dan memandangi halaman istana.

“Jadi kita tidak boleh memakai skill,” kata Roan. “Kita punya delapan orang. Mereka punya empat puluh satu.”

“Ya.”

“Dan kita tidak boleh menyentuh mereka lebih dulu, karena menyentuh lebih dulu berarti kita yang makar.”

“Ya.”

“Theo,” kata Roan Ferrant. “Katakan kau punya sesuatu.”

Aku memandangi halaman itu — jalur batu, taman, air mancur kering, empat pintu keluar, tiga tangga, dan sebuah lapangan berkerikil di sisi timur yang dipakai untuk latihan berkuda dan yang, pada jam empat sore, berada dalam bayangan menara barat.

Kerikil.

Bukan pasir. Cukup.

“Aku tidak butuh skill,” kataku.

Aku berbalik.

“Aku butuh dua hal,” kataku. “Yang pertama adalah tujuh belas menit di mana empat puluh satu orang berada di tempat yang salah.”

“Dan yang kedua?”

Aku memandangi halaman berkerikil itu di bawah jendela.

“Yang kedua,” kataku, “adalah satu tempat di istana ini di mana aku bisa menggambar di tanah.”


Bersambung — Bab 32: Tujuh Belas Menit

Jumlah kata: 2.463