Chapter Thirty
Yang Tidak Bisa Dibalas
POV: Theo
KATEDRAL VIRELN — LAPORAN HARIAN KE MAJELIS TINGGI
Hari ke-21Jumlah terdampak: 6.114
Meninggal: 431
Sembuh: 5.683Agen penyebab: teridentifikasi
Nama kondisi: Sindrom Henti Lanjutan
Dokumen rujukan: 14 halaman, terlampir.Penyusun dokumen rujukan: [dikosongkan atas permintaan yang bersangkutan]
Catatan Pendeta Agung: Majelis menanyakan siapa penyusunnya sebanyak empat kali. Saya menolak menjawab sebanyak empat kali.
Bukan karena ia meminta dirahasiakan. Ia tidak meminta apa pun.
Saya menolak karena kolom itu hanya menyediakan satu baris, dan satu baris tidak cukup.
— S. Ovelle
Vireln tidak tahu apa yang terjadi kepadanya, dan itu berlangsung selama dua hari.
Lalu kota itu tahu.
Aku tidak pernah bisa melacak bagaimana. Lyra bilang itu selalu begitu — kabar bergerak lewat jalur yang tidak bisa dipetakan siapa pun, dari satu keluarga ke satu tetangga ke satu pasar, dan pada hari ketiga seluruh enam puluh ribu orang tahu satu versi cerita yang sebagian besarnya salah.
Versi mereka: Pendeta Agung berdoa selama tiga hari tiga malam dan menerima nama penyakitnya dari langit.
Aku menyukai versi itu. Sungguh. Itu versi yang jauh lebih baik daripada yang sebenarnya, dan Seris Ovelle memang berjalan selama sebelas jam menyentuh lima ribu enam ratus delapan puluh tiga orang sampai kakinya berdarah di dalam sepatunya, dan kalau ada yang pantas mendapat versi cerita yang bagus, itu dia.
Tapi Seris membencinya.
Aku tahu karena hari keempat dia menghentikanku di lorong dan berkata, tanpa pendahuluan:
“Aku sudah membantahnya sembilan kali.”
“Membantah apa?”
“Ceritanya. Aku bilang ke setiap orang yang bertanya bahwa aku tidak berdoa dan tidak menerima apa pun dari langit.”
“Lalu?”
“Lalu mereka bilang aku rendah hati,” katanya, dengan suara paling pahit yang pernah kudengar dari mulutnya, “dan ceritanya bertambah bagus.”
Kami tinggal enam hari.
Bukan pilihanku. Hari kedua aku bangun dan tidak bisa berdiri, dan Seris Ovelle memeriksaku selama tiga puluh detik dan lalu memanggil dua pendeta dan menyuruh mereka membawa kasur ke ruang bawah katedral karena, menurutnya, memindahkanku ke lantai atas akan memakan energi yang tidak kupunya.
“Kelelahan mana tingkat empat,” katanya. “Kau memakai skill tingkat dewa selama sebelas jam.”
“Aku memakainya secara berselang.”
“Kau memakainya lima ribu enam ratus delapan puluh tiga kali.”
“Itu berselang.”
Seris Ovelle memandangiku dengan ekspresi yang, kemudian kusadari, adalah ekspresi orang yang sedang menahan diri untuk tidak melempar sesuatu.
Lalu dia berkata, sangat pelan:
“Kau melakukan ini dulu juga, ya.”
“Apa?”
“Berdebat tentang definisi supaya tidak perlu istirahat.”
Aku tidak menjawab.
“Aku tidak ingat kau,” katanya. “Aku ingat melarang seseorang. Aku ingat rasanya kalah berdebat dengan seseorang tentang angka, berkali-kali, selama bertahun-tahun.”
Dia menarik selimut ke atas kakiku dengan gerakan yang jelas lebih kasar dari perlu.
“Aku sudah tiga tahun tidak kalah berdebat dengan siapa pun,” katanya. “Ternyata aku merindukannya.”
Roan mengirim empat kurir ke ordonya pada hari ketiga.
Bhaltair tidur delapan belas jam, bangun, makan seperti tiga orang, dan lalu berdiri di halaman katedral selama enam jam mengawasi pintu masuk, karena Bhaltair Vorn tidak tahu cara beristirahat dan tidak akan pernah tahu.
Dan Lyra Vandell menghabiskan enam hari itu di arsip katedral.
Aku menemukannya di sana pada hari kelima, jam sepuluh malam, di ruangan yang mungkin tidak dimasuki siapa pun selama satu dekade.
“Kau seharusnya tidur.”
“Kau seharusnya berbaring.”
“Aku sudah berbaring empat hari.”
“Aku sudah tidur enam jam,” katanya. “Itu banyak.”
Aku duduk di seberangnya.
Ada tiga tumpukan di mejanya, dan aku mengenali dua di antaranya: kesaksian, dan salinan.
Yang ketiga baru.
“Apa itu?”
Dia meletakkan penanya.
“Catatan medis pribadi Seris,” katanya. “Dia menyerahkannya kemarin. Seluruh laci. Tiga tahun.”
Aku memandangi tumpukan itu.
“Dia bilang apa?”
“Dia bilang,” kata Lyra, “’Arsipkan ini. Aku sudah memegangnya terlalu lama sendirian.’”
Ruangan itu sangat sunyi.
“Theo.”
“Ya.”
“Ada dua puluh dua berkas di sana tentang pasien tanpa nama.” Dia menyentuh tumpukan itu dengan dua jari. “Bukan satu. Dua puluh dua.”
Aku mengangkat wajah.
“Dia memeriksamu dua puluh dua kali dalam sepuluh tahun,” kata Lyra. “Setiap kali dia mencatatnya. Setiap kali kolom namanya kosong.”
“Itu setelah menara—“
“Bukan,” katanya. “Tanggalnya, Theo. Yang paling tua tahun 814.”
Delapan tahun sebelum Menara Vessel.
Aku duduk sangat diam.
“Aku tidak mengerti,” kataku.
“Aku juga tidak,” katanya. “Tapi aku arsiparis, dan arsiparis tidak menyimpulkan dari satu berkas. Aku akan menyusunnya berdasarkan tanggal dan kita lihat apa yang muncul.”
Dia mengambil penanya kembali.
“Lyra.”
“Hm.”
“Kau sudah menyusun berkas selama enam hari,” kataku. “Setelah tiga puluh dua jam tanpa tidur. Setelah sebelas hari perjalanan. Setelah berjalan sendirian melewati koridor barat perkemahan seribu dua ratus orang.”
“Aku memakai perhitunganmu.”
“Aku tahu,” kataku. “Itu yang membuatku tidak bisa tidur.”
Dia berhenti menulis.
“Kau tidak bisa tidur?”
“Empat hari,” kataku.
“Kau bilang kau berbaring—“
“Aku berbaring,” kataku. “Aku tidak bilang aku tidur.”
Lyra Vandell meletakkan penanya untuk kedua kalinya malam itu.
Dan berkata, sangat pelan: “Kenapa.”
Dan aku memberikan jawaban yang jujur, karena aku tidak pernah berbohong dan karena aku sudah terlalu lelah untuk memilih jawaban yang lebih aman.
“Karena aku menghitung tujuh puluh tiga persen di Kaldrass,” kataku, “dan aku memasukkan diriku ke dalam perhitungan itu untuk pertama kalinya dalam dua puluh dua tahun.”
Aku memandangi meja.
“Dan sekarang aku tidak bisa berhenti memasukkan kau ke dalamnya,” kataku. “Setiap perhitungan. Setiap malam. Dan angkanya jadi jauh lebih buruk, karena kau tidak punya satu pun skill bertarung dan kau tetap berjalan ke dalam segalanya.”
Kami tidak mengatakan apa-apa selama beberapa saat.
Lalu Lyra Vandell berdiri, mengambil ketiga tumpukan berkasnya, merapikannya dengan mengetukkan sisinya ke meja tiga kali, dan berkata:
“Aku mau jalan-jalan.”
Lorong utara Katedral Vireln menghubungkan arsip dengan aula utama, dan panjangnya delapan puluh satu langkah.
Aku menghitungnya sambil berjalan, seperti selalu.
Kami sampai di langkah keempat puluh sembilan ketika Seris Ovelle keluar dari pintu samping dan hampir menabrak kami.
Dia berhenti.
Kami bertiga berdiri di lorong batu jam setengah sebelas malam.
Dan sesuatu di wajahnya berubah dengan cara yang tidak kumengerti waktu itu.
“Aku sedang menuju ruangmu,” katanya, kepadaku.
“Aku sudah keluar.”
“Ya. Aku lihat.”
Dia memandangi Lyra sebentar, lalu kembali kepadaku.
“Boleh aku bicara denganmu sebentar?”
Lyra berkata, terlalu cepat, “Aku akan menunggu di ujung—“
“Tidak usah,” kata Seris. “Yang mau kukatakan pendek, dan lebih baik ada saksinya.”
Aku tidak mengerti kalimat itu waktu itu.
Aku mengerti sekarang.
Seris Ovelle berdiri di lorong batu dengan tangan terlipat di depan jubahnya, seperti selalu, dan berbicara dengan suara lembut, seperti selalu.
“Aku memeriksamu dua puluh dua kali,” katanya. “Selama sepuluh tahun.”
“Lyra bilang.”
“Aku ingat rasanya,” katanya. “Bukan wajahnya. Rasanya. Ada seseorang yang datang ke ruang periksaku dan selalu berkata ‘aku baik-baik saja’ sebelum aku sempat bertanya.”
Aku tidak menjawab.
“Dan setiap kali aku memeriksanya, aku menemukan sesuatu,” katanya. “Bukan sesuatu yang besar. Kelelahan mana tingkat tiga. Tulang rusuk retak yang tidak dilaporkan. Tangan yang kejang karena menulis dua belas jam.”
Dia mengangkat wajah.
“Dua puluh dua kali dalam sepuluh tahun,” katanya, “dan dua puluh dua kali orang itu berkata ‘aku baik-baik saja’ lebih dulu.”
Lorong itu sangat sunyi.
“Aku sudah tiga tahun bertanya kepada diriku sendiri kenapa aku menyimpan dua puluh dua berkas tentang orang yang tidak bisa kunamai,” katanya. “Dan aku baru tahu jawabannya lima hari lalu, waktu aku memegang pergelangan tanganmu dan tanganku tidak mau lepas.”
Aku merasakan sesuatu turun di dadaku.
“Seris.”
“Jangan,” katanya. Suaranya masih lembut. “Kalau kau menjawab, ini jadi percakapan. Aku tidak mau ini jadi percakapan.”
Dia menarik napas.
“Selama tiga tahun,” katanya, “aku berdoa supaya ada orang yang datang dan memaksamu bicara.”
Dia menatapku dengan mata yang benar-benar tenang.
“Aku tidak pernah berdoa supaya itu aku.”
Aku tidak bisa mengatakan apa pun.
Itu bukan kesopanan. Aku betul-betul tidak bisa; ada sesuatu di kerongkonganku yang menutup dan tidak mau dibuka.
Seris Ovelle mengangguk sekali, seperti orang yang sudah memperkirakan itu dan sudah menyiapkan diri untuknya bertahun-tahun.
Lalu dia berbalik kepada Lyra.
“Nona Vandell.”
“...Ya.”
“Kau menyusun dua puluh dua berkasku berdasarkan tanggal,” katanya. “Bukan berdasarkan jenis cedera. Kenapa?”
Lyra berkedip. “Karena jenis cederanya tidak berpola. Tanggalnya berpola.”
“Apa polanya?”
“Semuanya dalam dua sampai enam hari setelah raid besar,” kata Lyra. “Dua puluh dua dari dua puluh dua.”
Seris Ovelle menutup matanya.
“Sepuluh tahun,” katanya. “Aku tidak pernah melihatnya.”
“Anda tabib,” kata Lyra. “Anda melihat cederanya.”
“Dan kau melihat tanggalnya.”
“Ya.”
Seris membuka matanya.
Dan dia tersenyum — sungguhan, untuk pertama kalinya sejak kami tiba di kota ini, dan itu adalah senyum yang membuatku ingin memalingkan wajah karena terlalu banyak yang ada di dalamnya.
“Jaga dia,” katanya kepada Lyra. “Dia tidak akan minta tolong. Tidak sekali pun. Kau harus memeriksanya tanpa diminta, selamanya, dan dia akan berdebat setiap kali tentang definisi kata ‘berselang’.”
“Seris—“ kataku.
“Selamat malam, Theo,” katanya.
Dan dia berjalan pergi ke arah aula utama, tegak, pelan, dengan langkah perempuan yang kakinya masih berdarah di dalam sepatu.
Kami berdiri di lorong itu untuk waktu yang sangat lama.
Delapan puluh satu langkah. Kami di langkah keempat puluh sembilan.
Aku menghitungnya lagi, karena kepala ini tidak tahu cara berhenti, dan karena aku butuh sesuatu untuk dipegang.
“Theo.”
“Ya.”
“Kau menghitung sesuatu.”
“Ya.”
“Apa.”
Aku memandangi lantai batu.
“Aku sedang mencari susunan,” kataku. “Ada susunan di mana aku mengatakan sesuatu yang tepat sekarang. Aku sudah mencarinya selama empat menit dan aku tidak menemukannya.”
“Berhenti mencari.”
“Aku tidak bisa berhenti—“
Lyra Vandell menarik kerah jubah kerjaku dengan kedua tangan dan menciumku.
Dan kepala ini berhenti.
Sepenuhnya. Tidak ada angka, tidak ada langkah, tidak ada jarak, tidak ada persentase.
Untuk pertama kalinya sejak umur sembilan tahun, ruangan di dalam kepalaku benar-benar sunyi.
Aku ingin mencatat berapa lama itu berlangsung, karena aku mencatat segalanya.
Aku tidak bisa.
Aku betul-betul tidak bisa, dan itu — bukan yang lain, bukan ciumannya, tapi itu — adalah alasan aku menangis di lorong utara Katedral Vireln, dan Lyra Vandell menyadarinya sekitar tiga detik kemudian dan tidak melepaskanku.
“Aku tidak tahu berapa lama,” kataku, akhirnya, ke bahunya.
“Aku tahu,” katanya.
“Aku selalu tahu berapa lama.”
“Aku tahu, Theo.”
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
[ System Notice ]
Continuous internal calculation :
INTERRUPTED
Duration : —
Cause : UNRECORDED
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Aku membaca kotak itu jam satu pagi di ruang bawah katedral dan tertawa sampai membangunkan Bhaltair Vorn di lorong.
Duration : —
Cause : UNRECORDED.
Sistem ini mencatat segalanya sejak aku berumur sembilan tahun. Setiap skill, setiap mana, sampai desimal ketiga.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, ada satu hal di hidupku yang tidak bisa dicatatnya.
Aku menutup jendela status dan tidur delapan jam.
Bersambung — Bab 31: Ratu yang Tidak Bisa Membaca Peta
Jumlah kata: 2.518
- 1 Penjual Tinta
- 2 Garam
- 3 Anak yang Berbohong
- 4 Arsiparis
- 5 Sesuatu yang Tidak Punya Kebiasaan
- 6 Sembilan Peti
- 7 Tulisan Tangan
- 8 Empat Puluh Menit
- 9 Yang Mengenaliku
- 10 Surat yang Salah Alamat
- 11 Silverline
- 12 Tiga Kesalahan
- 13 Hujan
- 14 Empat Halaman
- 15 Tiga Ratus Sepuluh
- 16 Gerbang Utara
- 17 Anggota Keenam
- 18 Berangkat
- 19 Gerbang Ordo
- 20 Peringkat Empat Puluh Tiga
- 21 Komandan
- 22 Ruang Nomor Empat
- 23 Jalan ke Kaldrass
- 24 Seribu Dua Ratus
- 25 Empat Puluh Tiga Wasiat
- 26 Fajar Kedua
- 27 Kota yang Tidak Sakit
- 28 Bekas Luka yang Tidak Pernah Terjadi
- 29 Sebab Kematian
- 30 Yang Tidak Bisa Dibalas reading
- 31 Ratu yang Tidak Bisa Membaca Peta
- 32 Tujuh Belas Menit
- 33 Pasir
- 34 Kota Tanpa Nama
- 35 Delapan Detik
- 36 Lima
- 37 Pulang
- 38 Sarang
- 39 Bagaimana Kau Tahu
- 40 Draf Terakhir
- 41 Kota Selatan
- 42 Tiga Puluh
- 43 Yang Tidak Kuucapkan
- 44 Sembilan Hari
- 45 Evaluasi Kelayakan
- 46 Jendela
- 47 Kalimat Terpanjang
- 48 Menara Vessel
- 49 Yang Kubeli
- 50 Prosesi
- 51 Lima Izin
- 52 Magnum Opus
- 53 EXTRA 01 — Tiga Puluh Satu Menit