← Magnum Opus

Chapter Five

Sesuatu yang Tidak Punya Kebiasaan

POV: Theo


ARSIP GUILD PUSAT — LAMPIRAN 4471-C.05
KESAKSIAN — Hanne Dural, Pemburu Rank B
Diambil tiga bulan setelah kejadian. Saksi memberikan keterangan atas kemauan sendiri.

Aku sudah berburu delapan belas tahun. Semua yang hidup punya kebiasaan. Itu bukan filosofi, itu pekerjaan — kau mempelajari kebiasaannya, lalu kau menunggu di tempat kebiasaannya membawanya.

Benda itu tidak punya kebiasaan.

Tim survei distrik masuk dengan sebelas orang. Mereka orang-orang bagus. Mereka melakukan persis yang seharusnya dilakukan — mengamati dulu, dua hari, sebelum bergerak. Dan hasil pengamatan mereka adalah tidak ada yang bisa diamati.

Sebelas masuk. Nol keluar.

Lalu si penjual tinta ikut kami ke sana, karena arsiparis itu memaksa, dan aku setuju karena aku pikir orang tambahan adalah orang tambahan.

Dia melihat benda itu selama mungkin setengah menit.

Lalu dia bilang — dan aku ingat kalimatnya sampai sekarang — “Kalau dia tidak punya pola, kita berikan.”

Aku tidak mengerti apa maksudnya waktu itu. Aku juga tidak yakin mengerti sekarang.

Yang aku tahu: benda yang tidak bisa ditebak oleh sebelas orang profesional selama dua hari, tiba-tiba jadi bisa ditebak. Bukan pelan-pelan. Sekaligus. Seperti kau menutup buku dan membuka buku lain.

Aku sudah berburu delapan belas tahun. Aku tidak punya kata untuk itu.


Tim survei distrik tiba enam hari setelah malam serigala.

Sebelas orang, dikirim untuk menyelidiki bangkai Chimera yang mati tanpa luka, karena laporan Tuan Belden akhirnya sampai ke kecamatan dan seseorang di sana punya cukup akal untuk merasa terganggu.

Mereka bukan orang bodoh. Aku ingin mencatat itu, karena nanti orang akan bilang mereka bodoh, dan itu tidak adil.

Ketuanya perempuan setengah baya bernama Dorne, rank A, yang saat tiba langsung melakukan tiga hal benar berturut-turut: melarang siapa pun masuk hutan utara, memasang pengamat di dua titik tinggi, dan menolak bergerak sebelum punya data dua hari penuh.

Dia melakukan segalanya dengan benar.

Itulah yang membunuhnya.


Aku tahu ada yang salah di hari kedua, dari catatan pengamatan yang ditempel di papan pengumuman cabang guild.

Aku tidak seharusnya membacanya. Papan itu untuk anggota terdaftar rank D ke atas. Tapi papan itu ada di sebelah tokoku, dan aku lewat empat kali sehari, dan kepalaku tidak pernah bertanya izin.

PENGAMATAN — HARI 1
06:00 Subjek terlihat, sektor barat laut. Diam.
09:30 Subjek bergerak. Arah: tidak konsisten.
11:00 Subjek diam.
14:20 Subjek bergerak. Arah: tidak konsisten.
17:00 Subjek menyerang rusa. Tidak dimakan.
19:40 Subjek bergerak. Arah: tidak konsisten.

Aku berdiri di depan papan itu lebih lama dari yang wajar.

“Tidak konsisten” tiga kali dalam satu hari.

Itu bukan hasil pengamatan. Itu pengakuan.

Hari kedua lebih buruk.

PENGAMATAN — HARI 2
Tidak ada pola siklus. Tidak ada wilayah teritorial.
Tidak ada respons berulang terhadap rangsangan sama.
Rangsangan identik diberikan 6x. Respons berbeda 6x.
Catatan ketua tim: subjek tidak dapat diklasifikasikan.
Rekomendasi: pendekatan langsung.

Aku membaca baris terakhir itu tiga kali.

Jangan.

Aku memikirkan itu selama mungkin sepuluh detik, berdiri di jalan berdebu dengan sekantong biji galat di tangan.

Lalu aku pulang dan mengaduk batch baru.

Dua puluh tujuh kali searah. Sembilan kali berlawanan.

Aku ingin sekali menulis di sini bahwa aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Itu akan jauh lebih mudah dimaafkan.

Tapi aku tidak pernah berbohong.


Mereka masuk hutan pagi hari ketiga.

Berita pertama sampai jam empat sore, dibawa oleh seorang pengamat yang ditinggal di titik tinggi dan yang tidak bisa berhenti gemetar cukup lama untuk menyelesaikan satu kalimat.

Sebelas masuk. Nol keluar.

Desa itu tidak panik. Itu hal yang aneh tentang desa perbatasan — mereka tidak panik, mereka mengunci. Jendela ditutup. Anak-anak dipanggil masuk. Dalam waktu satu jam, Marrow terlihat seperti tempat yang tidak ada penghuninya.

Aku duduk di anak tangga depan tokoku dan tidak melakukan apa-apa.

Lyra menemukanku di sana jam enam.

Dia berlari. Rambutnya lepas dari ikatannya di satu sisi, dan dia membawa buku catatan seperti orang membawa senjata.

“Anda sudah dengar.”

“Sudah.”

“Sebelas orang.”

“Ya.”

Dia berhenti di depanku, napasnya masih kacau, dan aku bisa melihat dia sedang menyusun sesuatu di kepalanya yang sudah dia susun sepanjang jalan lari ke sini.

“Saya membaca catatan pengamatan itu,” katanya. “Dua hari penuh. Dan ada yang salah dengan cara mereka membacanya.”

Aku mengangkat wajah.

“Mereka mencari pola,” lanjut Lyra, cepat, terlalu cepat. “Dan mereka tidak menemukannya, dan mereka menyimpulkan datanya tidak cukup. Tapi itu kesimpulan yang salah. Data mereka cukup. Enam rangsangan identik, enam respons berbeda — itu bukan data yang kurang, itu data yang lengkap. Kesimpulan yang benar bukan ‘kami belum tahu polanya’. Kesimpulan yang benar adalah—“

“Tidak ada polanya,” kataku.

Dia berhenti dengan mulut masih terbuka.

“Ya,” katanya pelan. “Itu.”

Kami saling memandang di jalan berdebu yang kosong.

“Dan itu mustahil,” kata Lyra. “Kodeks guild halaman satu. Setiap makhluk hidup punya Pattern Behaviour. Itu bukan teori, itu definisi. Sesuatu tanpa pola bukan makhluk hidup.”

“Aku tahu.”

“Jadi apa itu?”

Aku tidak menjawab.

Karena aku tidak tahu. Karena untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, aku menghadapi sesuatu yang tidak ada di halaman mana pun, di kodeks mana pun, dalam ingatan mana pun.

Dan karena — dan ini bagian yang tidak kukatakan padanya, dan tidak akan kukatakan pada siapa pun selama empat puluh tiga bab ke depan — ada sesuatu di dadaku yang mengenali benda itu.

Bukan mengingat. Mengenali.

Seperti mendengar nama yang kau tahu pernah kau tulis, di halaman yang sudah kau robek.


Hanne berangkat malam itu dengan dua pemburu.

Bukan untuk membunuh. Untuk mencari mayat, karena sebelas orang punya keluarga di kecamatan dan seseorang harus membawa pulang sesuatu.

Lyra memaksa ikut. Hanne menolak. Lyra memaksa lagi dengan argumen tiga menit yang melibatkan kewenangan arsiparis atas dokumentasi insiden, dan Hanne — yang jelas tidak pernah kalah berdebat dengan siapa pun seumur hidupnya — menyerah karena kelelahan.

Lalu Lyra menoleh ke arahku.

Dia tidak mengatakan apa-apa. Itu yang paling kuingat. Dia hanya berdiri di jalan dan menoleh, dan menunggu.

Aku mengambil lenteraku dari paku di dinding.

“Kau bukan petarung,” kata Hanne padaku, datar.

“Bukan.”

“Rank F.”

“Ya.”

“Kalau kau melambat, aku tinggal.”

“Wajar.”

Dia memandangiku beberapa saat, jelas berharap aku membantah, lalu mendengus dan berbalik.

Kami masuk hutan jam sembilan malam.


Kami menemukannya di dasar cekungan, dua jam kemudian.

Dan hal pertama yang harus kukatakan tentang benda itu adalah bahwa aku tidak bisa mendeskripsikannya, dan itu bukan kegagalan penulis.

Hanne, di sebelah kiriku, berbisik bahwa benda itu berkaki enam.

Pemburu di sebelah kanan berbisik bahwa benda itu tidak punya kaki sama sekali.

Lyra tidak berkata apa-apa. Tangannya mencengkeram lenganku dan aku rasa dia tidak sadar melakukannya.

Aku memandanginya selama tiga puluh detik.

Tidak ada siklus napas.

Tidak ada distribusi berat. Sesuatu yang berdiri harus memilih di mana beratnya jatuh. Benda ini tidak memilih.

Tidak ada arah pandang. Tidak ada titik depan.

Tidak ada pola.

Tidak ada apa pun untuk dibaca.

Sebelas orang profesional menghabiskan dua hari mencoba membaca benda ini, dan gagal, dan mati karena kegagalan itu. Karena itulah cara kerja dunia: kau membaca lawanmu, lalu kau memakai apa yang kau baca.

Dan seluruh hidupku dibangun di atas kalimat itu.

Aku berdiri di dasar cekungan itu, dengan tangan seorang arsiparis mencengkeram lenganku, dan menyadari sesuatu yang seharusnya kusadari bertahun-tahun lalu.

Membaca bukan satu-satunya cara.

“Kalau dia tidak punya pola,” kataku, “kita berikan.”

“Apa?” bisik Hanne.

“Mundur dua puluh langkah. Semuanya. Jangan lari — jalan.”

“Apa yang kau—“

“Hanne.” Aku tidak meninggikan suara. Aku tidak pernah meninggikan suara. “Dua puluh langkah. Sekarang.”

Dan yang aneh, yang tidak pernah bisa dijelaskan Hanne kepada pencatat manapun selama tiga bulan sesudahnya, adalah bahwa dia menurut.


[ Requiem Formation ]

Ini bukan skill yang kubuat untuk dipakai sendirian.

Aku merakitnya sembilan tahun lalu untuk enam orang, di sebuah ruangan dengan peta terbentang dan lima orang yang berdebat, dan ia dirancang dengan asumsi bahwa akan selalu ada lima tubuh untuk mengeksekusi apa yang kepalaku hitung.

Malam ini tidak ada lima tubuh. Ada satu penjual tinta dan sebuah lentera.

Aku tetap memakainya.

Dissonance keluar lebih dulu — dan di sinilah kegilaannya. Dissonance bekerja dengan mencabut pattern behaviour lawan, memaksanya keluar dari kebiasaan bawaannya. Ia dirancang untuk merampas.

Kau tidak bisa merampas dari sesuatu yang tidak punya apa-apa.

Jadi skill itu, yang tidak menemukan apa pun untuk dicabut, melakukan satu-satunya hal lain yang bisa ia lakukan: ia menempel.

Lalu Crescendo, yang seharusnya menguatkan party-ku, mengunci tempelan itu di tempatnya.

Lalu Mana Concord, yang seharusnya membagi mana ke lima orang, mengalirkan seluruhnya ke satu titik.

Dan yang terjadi adalah ini:

Benda tanpa kebiasaan itu diberi kebiasaan.

Bukan disihir. Bukan dikendalikan. Ia hanya, tiba-tiba, punya cara berjalan yang sama setiap kali. Punya jeda napas. Punya titik depan. Punya arah pandang. Punya urutan serangan tiga langkah yang berulang, tepat, sederhana, dan bisa diprediksi oleh siapa pun yang sudah membaca kodeks halaman seratus enam.

Aku menuliskan kebiasaan untuk sesuatu yang tidak punya.

Dan begitu ia punya kebiasaan, ia berhenti mustahil.

“Hanne,” kataku. “Panah. Tiga hitungan setelah dia menekuk kaki kiri depan.”

“Dia tidak punya kaki—“

“Sekarang punya.”

Benda itu menekuk kaki kiri depannya.

Hanne Dural, pemburu delapan belas tahun, melepaskan anak panah pertama dari lima puluh tiga anak panah yang akan dia lepaskan malam itu, dan setiap satu dari lima puluh tiga itu mendarat di tempat yang sama.

Karena benda itu, sekarang, melakukan hal yang sama setiap kali.


Kami keluar dari hutan jam empat pagi.

Kami membawa pulang sembilan dari sebelas. Dua tidak bisa ditemukan, dan aku tidak akan menuliskan alasannya.

Hanne tidak bicara sepanjang jalan pulang. Dua pemburunya juga tidak. Mereka berjalan di depan, dan sesekali salah satu menoleh ke belakang ke arahku, dan setiap kali dia menoleh dia langsung berpaling lagi.

Lyra berjalan di sebelahku. Buku catatannya sudah basah oleh embun dan dia sudah berhenti peduli.

Di batas hutan, dia akhirnya bicara.

“Anda menuliskan kebiasaan untuk sesuatu yang tidak punya kebiasaan.”

“Ya.”

“Itu bukan skill Enchanter.”

“Bukan.”

“Itu bukan skill apa pun yang ada di daftar guild.”

“Bukan.”

Dia berhenti berjalan.

Aku juga berhenti, karena tidak berhenti akan terasa seperti melarikan diri, dan aku tidak melarikan diri dari orang yang bertanya dua kali.

“Theo.” Suaranya sangat pelan. “Berapa banyak skill yang Anda punya yang tidak ada di daftar guild?”

Matahari mulai naik di belakangnya.

“Enam ratus sembilan belas,” kataku.

Lalu aku melanjutkan langkah, karena kalau aku berdiri di sana satu detik lagi aku akan menjawab pertanyaan berikutnya juga.


━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
[ Skill Executed ]

Name : Requiem Formation
Tier : GOD
Execution : SOLO — first recorded instance

Witnesses : 3
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Tiga.

Aku memandangi angka itu di ruang tamuku yang gelap.

Dari nol, ke satu, ke tiga.

Aku menutup jendela status dan berbaring di ranjang tanpa melepas sepatu, dan tidak tidur sampai siang.

Bukan karena hutan. Bukan karena sebelas orang.

Karena ada sesuatu di dasar cekungan itu yang tidak punya pola, dan ada sesuatu di dadaku yang mengenalinya, dan aku tidak punya satu pun ingatan tentang di mana kami pernah bertemu.


Bersambung — Bab 6: Sembilan Peti

Jumlah kata: 2.398