← Magnum Opus

Chapter Fourteen

Empat Halaman

POV: Theo


ARSIP GUILD PUSAT — LAMPIRAN 4471-C.14
DOKUMEN: Peringatan Dini MRW-047
Diajukan: tanggal 15, jam 09.20
Penyusun tercatat: L. Vandell (Arsiparis)
Penyusun sebenarnya: dicoret dari formulir oleh kepala cabang. Coretan masih terbaca.

Disposisi kepala cabang: Ditolak. Tidak ada dasar operasional. Penyusun bukan personel lapangan.

Disposisi Regu Penanggulangan Anomali: Diterima untuk ditinjau.


CATATAN ARSIPARIS:
Dokumen ini diajukan 43 jam sebelum peristiwa terjadi.
Angka perkiraan dalam dokumen: 200–400.
Angka sebenarnya, menurut penghitungan pasca-peristiwa: 310.
Saya melampirkan kedua angka itu berdampingan tanpa komentar. Silakan komentar sendiri.


“Ini apa?”

Tuan Belden memegang empat halamanku dengan dua jari, di ujungnya, seperti orang memegang sesuatu yang basah.

Yang memang basah. Jubahku menetes ke lantai kantornya.

“Peringatan dini,” kataku.

“Tentang.”

“Migrasi paksa. Hutan utara akan turun ke desa dalam waktu empat puluh sampai enam puluh jam.”

Dia meletakkan kertas itu di mejanya tanpa membaca satu baris pun.

“Theo,” katanya, dengan nada orang yang akan berbaik hati. “Kau tahu ada Regu Penanggulangan Anomali di desa ini sekarang?”

“Tahu.”

“Rank A. Enam orang. Dengan wewenang penuh atas operasi lapangan.”

“Aku tahu.”

“Jadi kalau ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan,” katanya, “menurutmu siapa yang akan tahu lebih dulu? Mereka, atau orang yang menjual tinta?”

Aku memandangi empat halaman itu di mejanya.

“Halaman ketiga,” kataku.

“Apa?”

“Kau tidak perlu baca semuanya. Baca halaman ketiga. Tiga menit.”

Tuan Belden menghela napas panjang, dengan cara orang yang ingin kau tahu bahwa dia sedang bersabar.

Lalu dia membuka halaman ketiga.

Aku melihat matanya bergerak. Dua baris. Mungkin tiga.

Lalu berhenti.

“Ini angka.”

“Ya.”

“Ini penuh angka.”

“Itu perhitungan,” kataku. “Perhitungan biasanya penuh angka.”

Dia menutupnya.

“Aku tidak punya waktu untuk ini.”

“Tuan Belden—“

“Kau tahu apa masalahmu?” Dia menyandarkan punggungnya. “Kau membaca papan pengumuman. Aku sudah lama tahu itu. Kau berdiri di sana empat kali sehari dan membaca laporan yang bukan hakmu, dan aku membiarkannya karena kau tidak merugikan siapa-siapa.”

Aku tidak menjawab.

“Tapi membaca laporan tidak membuatmu jadi personel lapangan,” katanya. “Ada alasan kenapa ada peringkat, Theo. Rank F itu bukan hinaan. Itu informasi. Itu memberitahu orang seberapa jauh mereka boleh mengandalkanmu.”

Dia mendorong empat halaman itu ke ujung meja.

“Ambil kertasmu.”


Lyra mengajukannya ulang jam sembilan lewat dua puluh, atas namanya sendiri.

Aku tidak memintanya. Aku bahkan tidak memberitahunya.

Dia mendengar dari juru tulis, berjalan ke kantor Tuan Belden, mengambil formulir Peringatan Dini standar, dan menyalin seluruh empat halaman itu dengan tangannya sendiri dalam waktu lima puluh menit.

Aku tahu berapa lama karena aku berdiri di ruang arsip yang masih becek dan menghitungnya.

“Ini tidak akan berhasil,” kataku.

“Mungkin.”

“Belden akan menolaknya.”

“Ya.”

“Lalu kenapa?”

Dia tidak berhenti menyalin.

“Karena kalau ditolak, penolakannya masuk arsip,” katanya. “Dan arsip tidak bisa dihapus, cuma bisa diabaikan. Itu dua hal yang sangat berbeda dalam jangka panjang.”

Pena itu terus bergerak.

“Dan karena,” lanjutnya, lebih pelan, “kalau tiga ratus ekor sesuatu masuk ke desa ini lusa, saya ingin ada selembar kertas di dunia ini yang bertanggal hari ini.”


Belden menolaknya jam sepuluh.

Tapi formulir Peringatan Dini standar punya tiga tembusan, dan salah satu tembusannya, menurut peraturan guild pasal enam puluh satu, wajib disampaikan kepada regu operasi yang sedang bertugas di wilayah tersebut.

Lyra tahu itu. Tentu saja Lyra tahu itu.

Jadi jam sebelas, Aldric Vane duduk di kedai Nenek Odel dengan empat halaman salinan di depannya dan mangkuk sup yang mendingin di sebelahnya.

Aku ada di sana karena dia menyuruh seseorang memanggilku.

Dia membaca lama.

Dia membaca semuanya — dan aku mencatat itu, karena itu penting, dan karena dua tahun kemudian orang akan menceritakan bab ini seolah dia tidak membaca.

Dia membaca empat halaman itu selama dua puluh dua menit tanpa bicara.

Lalu dia mengangkat wajah.

“Kau menghitung curah hujan delapan tahun.”

“Ya.”

“Dari mana?”

“Arsip cabang. Duplikat tingkat tiga.”

“Yang di sembilan peti itu.”

“Ya.”

“Yang kau pindahkan sendiri.”

Aku tidak menjawab.

Aldric mengetuk halaman ketiga dengan buku jarinya.

“Ini bagus,” katanya.

Ada sesuatu di dadaku yang mengendur satu takik.

“Ini benar-benar bagus,” lanjutnya. “Aku serius. Korelasi antara curah hujan dan pergerakan massal ini — aku belum pernah lihat orang menyusunnya begini rapi. Kalau kau kirim ini ke Akademi Kecamatan, mereka mungkin akan menerbitkannya.”

Takik itu berhenti bergerak.

“Tapi,” kataku.

“Tapi ini data delapan tahun,” katanya. “Dan tahun ini ada Anomali.”

Aku menunggu.

“Aku sudah memetakan sektor utara selama dua minggu,” kata Aldric. “Ada dua sarang kosong. Ada tiga titik kemunculan. Dan populasi predator di sana turun drastis — bukan naik. Hutan itu sedang mengosong, Theo, bukan penuh.”

“Aku tahu.”

“Kalau kau tahu—“

“Itu sebabnya mereka akan lari,” kataku.

Aldric berhenti.

“Sesuatu yang tidak punya pola sudah tinggal di hutan itu selama enam minggu,” kataku. “Predator besar sudah pergi atau mati. Yang tersisa adalah pemakan tumbuhan dan pemakan bangkai, dan mereka bertahan karena hutan masih memberi mereka makan.” Aku menunjuk halaman keempat. “Lalu tanah jenuh. Lalu tujuh jam hujan. Lalu jalur makan mereka di lembah utara terputus.”

“Dan mereka lari ke selatan.”

“Mereka lari ke satu-satunya arah yang tersisa,” kataku. “Bukan karena marah. Karena lapar dan takut, dan tiga ratus makhluk lapar yang berlari ke arah yang sama tidak perlu punya niat jahat untuk membunuh empat puluh orang.”

Kedai itu sunyi.

Nenek Odel, di belakang meja, sudah berhenti mengelap gelas sejak lima menit lalu.

Aldric Vane memandangi empat halaman itu.

Dan aku bisa melihat — aku bisa melihat dengan sangat jelas — bahwa dia percaya.

Bukan sepenuhnya. Tapi cukup. Enam puluh persen, mungkin tujuh puluh, dan tujuh puluh persen sudah lebih dari cukup untuk membuat seorang komandan bertindak.

Lalu dia melakukan hal yang membuatku menyadari bahwa masalahnya tidak pernah kepercayaan.

Dia melihat ke leherku.

Ke kartu guild yang tergantung di sana, karena aku baru mengantar tinta pagi ini dan belum melepasnya.

Rank : F

Dan wajahnya berubah — bukan menjadi mengejek. Menjadi lelah.

“Theo,” katanya. “Kalau aku memindahkan seluruh party-ku ke pagar utara berdasarkan dokumen ini, dan tidak terjadi apa-apa, aku harus melaporkan alasannya ke kecamatan.”

“Lalu?”

“Lalu di laporan itu aku harus menulis siapa yang menyusun dokumennya.” Dia menyandarkan punggung. “Dan aku sudah kehilangan dua orang enam minggu lalu. Kalau aku menulis nama seorang rank F di laporan operasi, mereka tidak akan bilang aku salah. Mereka akan bilang aku goyah. Dan mereka akan menarik penugasanku.”

“Dan kalau kau ditarik—“

“Tidak akan ada regu di sini sama sekali,” katanya. “Ya.”

Ini bagian yang harus kucatat dengan adil, karena aku sudah berjanji akan adil kepada laki-laki ini:

Dia tidak salah.

Setiap kalimat yang dia ucapkan benar. Perhitungannya benar. Aku memeriksanya sambil dia bicara, seperti selalu, dan tidak menemukan cacat.

Itulah yang paling buruk.

“Jadi apa yang akan kau lakukan,” kataku.

“Aku akan menaikkan status siaga,” katanya. “Aku akan menaruh dua orang di menara pengamat utara mulai malam ini. Kalau ada sesuatu, kami akan tahu tiga jam lebih awal.”

“Tiga jam.”

“Itu yang bisa kulakukan tanpa laporan tertulis.”

Aku memandangi mangkuk supnya yang sudah dingin sepenuhnya.

Tiga ratus. Pagar setinggi satu meter dua puluh. Empat puluh delapan rumah, sembilan di antaranya beratap jerami.

Tiga jam cukup untuk mengungsikan orang.

Tiga jam tidak cukup untuk membangun apa pun.

“Baik,” kataku.

Aldric menatapku.

“Kau tidak akan berdebat?”

“Tidak.”

“Kenapa tidak?”

“Karena kau sudah memberi angka,” kataku, sambil berdiri. “Orang yang memberi angka sudah selesai berpikir. Berdebat dengan orang yang sudah selesai berpikir cuma membuang waktu yang bisa dipakai untuk hal lain.”

Aku mengambil empat halamanku dari meja.

Di pintu kedai, aku berhenti.

“Aldric.”

“Ya.”

“Menara pengamat utara,” kataku. “Suruh mereka melihat ke tanah, bukan ke pohon.”

“Kenapa?”

“Karena kalau mereka melihat ke pohon, mereka akan melihatnya waktu sudah keluar dari hutan,” kataku. “Kalau mereka melihat ke tanah, mereka akan melihat burung naik dari kanopi empat puluh menit lebih awal.”

Hening.

“...Baik,” kata Aldric Vane.

Empat puluh tiga jam kemudian, empat puluh menit itu adalah satu-satunya alasan kenapa Marrow tidak kehilangan seorang pun sebelum aku sampai di gerbang.


Aku menghabiskan sisa hari itu dan seluruh hari berikutnya melakukan hal-hal yang tidak masuk akal bagi siapa pun yang melihatku.

Aku membeli seluruh persediaan tali di dua kios. Empat gulung.

Aku membeli minyak lampu — dua belas botol, dan pemiliknya bertanya apakah aku membuka penginapan.

Aku berjalan ke pagar utara dan berdiri di sana selama dua jam, dan berjalan sepanjang pagar itu dari ujung timur ke ujung barat, dan menghitung tiang.

Seratus enam belas tiang. Jarak rata-rata satu meter empat puluh. Kayu ek, sebelas di antaranya lapuk di pangkal.

Aku menghitung kemiringan tanah di setiap dua puluh tiang.

Aku menghitung jarak dari pagar ke rumah terdekat (dua puluh dua meter), dari pagar ke gudang keluarga Harn (empat puluh satu meter), dari pagar ke alun-alun (delapan puluh sembilan meter).

Aku menghitung berapa banyak orang yang bisa masuk ke ruang bawah tanah kedai Nenek Odel, yang merupakan satu-satunya bangunan berpondasi batu di seluruh desa.

Tiga puluh delapan. Empat puluh empat kalau anak-anak digendong.

Marrow punya empat puluh sembilan penduduk tetap dan sembilan penghuni sementara.

Lima puluh delapan.

Aku menghitung itu tiga kali, dan hasilnya tetap kurang empat belas.


Malam kedua, Lyra menemukanku di pagar utara jam sebelas malam, sedang mengikat tali di tiang keempat puluh tujuh.

Dia tidak bertanya apa yang kulakukan.

Dia berdiri di sisi lain tiang itu, memegang ujung tali, dan menariknya kencang supaya simpulku bisa mengunci.

Kami mengerjakan tiga puluh empat tiang malam itu.

Sekitar jam dua pagi, di antara tiang kedelapan puluh dan delapan puluh satu, dia berkata:

“Berapa yang tidak muat di ruang bawah tanah?”

Aku berhenti mengikat.

“Empat belas.”

“Saya sudah hitung dua belas.”

“Kau tidak menghitung dua kurir yang menginap di rumah Harn.”

Lyra menarik tali itu kencang.

“Kalau begitu kita cari tempat untuk empat belas orang,” katanya.

Bukan Anda.

Kita.

Aku mengikat simpul terakhir malam itu dan tidak berkata apa-apa, karena aku tidak yakin suaraku akan keluar dengan bentuk yang benar.


Open Status Window.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
[ Theo ]
Lv. 95 / 99

Skills Owned : 1.284
Fusion Records : 619

Registered Party : —
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Aku memandangi baris terakhir itu lama sekali malam itu.

Registered Party : —

Tiga tahun garis itu kosong dan aku menerimanya seperti orang menerima cuaca.

Close.

Delapan belas jam kemudian, burung-burung naik dari kanopi hutan utara.


Bersambung — Bab 15: Tiga Ratus Sepuluh

Jumlah kata: 2.312