← Magnum Opus

Chapter Fifteen

Tiga Ratus Sepuluh

POV: Theo


ARSIP GUILD PUSAT — LAMPIRAN 4471-C.15
KESAKSIAN — Odel Marren, pemilik kedai, Desa Marrow
Diambil empat bulan setelah kejadian. Saksi berusia 71 tahun.

Aku tujuh tahun waktu hutan turun pertama kali. Aku ingat suaranya dan tidak ingat yang lain.

Sekarang aku tujuh puluh satu dan aku ingat semuanya, dan aku berharap tidak.

Anak-anak sudah di bawah tanah. Aku yang terakhir turun karena kedaiku pintunya berat. Dari tangga aku bisa lihat ke luar lewat celah pintu.

Dan aku lihat dia jalan ke utara.

Semua orang lari ke selatan. Semua orang. Bahkan yang rank A itu mundur dulu untuk menutup jalur.

Satu orang jalan ke utara, dan dia jalan pelan, seperti orang mau beli garam.

Aku teriak namanya. Aku teriak sekeras yang bisa dilakukan perempuan tujuh puluh satu tahun.

Dia tidak menoleh.

Kalian tanya apa yang aku rasakan waktu itu. Aku akan jawab jujur karena aku sudah terlalu tua untuk berbohong ke petugas.

Aku marah. Aku marah sekali. Karena aku sudah tiga tahun menaruh sup di depan anak itu setiap malam dan tidak sekali pun dia bilang siapa dia.


Burung-burung naik jam empat sore.

Pengamat di menara utara melihatnya, karena dia melihat ke tanah alih-alih ke pohon, dan karena Aldric Vane menyampaikan instruksi itu tanpa menyebut dari siapa asalnya.

Lonceng cabang guild berbunyi jam empat lewat dua menit.

Aku sedang mengaduk batch.

Dua puluh tujuh kali searah. Sembilan kali berlawanan.

Aku menyelesaikan hitungannya — seluruhnya, sampai selesai — lalu meletakkan sendok di lekukannya, lalu mengangkat panci dari tungku dan menaruhnya di lantai batu supaya tidak gosong.

Lalu aku keluar.


Marrow bergerak lebih baik daripada yang kuduga.

Itu karena dua hari terakhir. Aku dan Lyra sudah berjalan ke tiap rumah dengan alasan yang berbeda-beda — mengantar tinta, meminjam ember, menanyakan sesuatu yang tidak penting — dan di setiap rumah salah satu dari kami menyebutkan, dengan santai, bahwa ruang bawah tanah kedai Nenek Odel muat tiga puluh delapan orang.

Tidak ada yang menganggap itu peringatan.

Semua orang mengingatnya.

Jam empat lewat sembilan, empat puluh satu orang sudah di ruang bawah tanah.

Empat belas sisanya ada di loteng gudang batu keluarga Harn, karena Lyra menghabiskan seluruh hari kemarin membujuk Tuan Harn untuk mengosongkannya, dengan argumen yang melibatkan asuransi guild dan yang menurutku sebagian besarnya dikarang di tempat.


Silverline bergerak jam empat lewat lima.

Aldric memindahkan seluruh party-nya ke jalur utara — bukan ke pagar, tapi ke titik empat ratus meter di luar pagar, di mulut lembah, tempat jalur turun dari hutan menyempit.

Itu keputusan yang benar.

Aku ingin sangat jelas soal ini: itu keputusan yang benar.

Kalau kau punya enam orang rank A dan tiga ratus makhluk yang berlari ke satu arah, tempat terbaik untuk berdiri adalah tempat tersempit, sejauh mungkin dari yang kau lindungi.

Aku berdiri di alun-alun dan menonton mereka berangkat, dan menghitung, dan menemukan satu-satunya cacat dalam rencana itu.

Mulut lembah lebarnya dua puluh delapan meter.

Enam orang bisa menahan dua puluh delapan meter selama kira-kira sebelas menit sebelum kelelahan mulai menghitung.

Tiga ratus ekor yang berlari panik akan butuh sembilan sampai empat belas menit untuk lewat.

Marginnya nol.

Kalau angkanya di bawah dua ratus lima puluh, mereka menang.

Kalau di atas tiga ratus, mereka pecah.

Aku sudah menulis angka itu di halaman keempat, empat puluh tiga jam lalu.

Dua ratus sampai empat ratus.

Aku tidak tahu angka pastinya. Itu bagian yang tidak pernah bisa kuhitung. Aku bisa menghitung segalanya kecuali hal yang paling penting, dan itu adalah keadaan yang sudah kuhadapi berkali-kali dan yang tidak pernah menjadi lebih mudah.

Jadi aku melakukan satu-satunya hal yang bisa dilakukan orang yang tidak punya angka pasti.

Aku bersiap untuk yang terburuk.


Lyra menemukanku di gerbang utara jam empat lewat dua puluh.

Aku sedang menuang minyak lampu ke parit dangkal yang kugali sepanjang tiga puluh meter di depan pagar, sisi timur, tempat tanahnya paling rendah.

“Semua sudah masuk,” katanya. “Lima puluh delapan. Saya hitung dua kali.”

“Bagus.”

“Empat belas di loteng Harn. Pintunya dipalang dari dalam.”

“Bagus.”

Dia berdiri di sana.

“Theo.”

“Masuk ke bawah tanah, Lyra.”

“Berapa jumlahnya?”

“Aku tidak tahu.”

“Berapa perkiraan Anda?”

Aku menuang botol kesembilan.

“Kalau di bawah dua ratus lima puluh, Silverline menahannya di lembah dan tidak ada yang sampai ke pagar,” kataku. “Kalau di atas tiga ratus, mereka pecah dalam sebelas menit dan sisanya sampai ke sini dalam empat menit sesudahnya.”

“Dan kalau sampai ke sini?”

“Pagar ini tingginya satu meter dua puluh.”

“Itu bukan jawaban.”

“Itu jawaban,” kataku.

Aku meletakkan botol kesepuluh.

“Masuk ke bawah tanah.”

“Tidak.”

“Lyra.”

“Saya akan naik ke menara pengamat selatan.” Dia sudah membuka buku catatannya, dan tangannya gemetar, dan dia jelas membencinya. “Dari sana saya bisa lihat pagar utara dan lembah sekaligus. Kalau ada yang harus dicatat, saya akan mencatat.”

“Kau bisa mencatat dari bawah tanah.”

“Tidak ada yang bisa dilihat dari bawah tanah.”

“Itu intinya.”

“Theo.” Suaranya pecah di tengah namaku, dan dia berhenti, dan menariknya kembali dengan cara yang membuatku ingin menghitung sesuatu supaya tidak perlu mendengarnya. “Saya arsiparis. Saya tidak bisa berkelahi, saya tidak bisa menyembuhkan, saya tidak bisa melakukan satu pun hal berguna yang dilakukan orang malam ini.”

Dia menutup bukunya.

“Yang bisa saya lakukan cuma memastikan bahwa apa pun yang terjadi di sini malam ini, ada catatannya. Yang benar. Yang tidak bisa dicoret Belden.”

Angin dari utara sudah berubah lagi. Sekarang membawa bunyi.

“Naik ke menara,” kataku.

“Ya.”

“Kalau pagar pecah, turun dan lari ke gudang Harn. Jangan ke bawah tanah — pintunya sudah dipalang dan mereka tidak boleh membukanya.”

“Ya.”

“Lyra.”

Dia berhenti di ujung pagar.

Aku memandanginya, dan menghitung sesuatu, dan hasilnya adalah bahwa aku tidak punya kalimat yang cukup pendek untuk waktu yang tersisa.

“Terima kasih untuk jubahnya,” kataku.

Dia menatapku selama satu detik penuh.

“Itu jubah saya sendiri.”

“Aku tahu.”

Lalu dia lari ke menara, dan aku kembali menuang minyak.


Silverline bertahan tiga belas menit.

Dua menit lebih lama daripada perhitunganku, dan aku ingin mencatat itu, karena aku jarang meleset ke arah yang menyenangkan.

Aku mendengarnya dari pagar. Kau tidak bisa melihat mulut lembah dari gerbang utara — ada punggungan tanah di antaranya — tapi kau bisa mendengar, dan bunyi tiga ratus makhluk yang berlari sambil ketakutan terdengar seperti sungai yang salah.

Jam lima kurang sepuluh, bunyi itu berubah bentuk.

Melebar.

Itu artinya jalur sempit sudah tidak lagi sempit. Itu artinya mereka sudah keluar dari lembah.

Itu artinya Silverline pecah.

Aku menyalakan lentera dan meletakkannya di tanah di sebelah kakiku.

Lalu aku berdiri di gerbang utara Desa Marrow, di depan pagar setinggi satu meter dua puluh, dan menunggu.


Aku bisa mendengar Nenek Odel berteriak dari arah kedai.

Namaku. Berkali-kali, dengan suara perempuan tujuh puluh satu tahun yang tidak seharusnya berteriak sekeras itu.

Aku tidak menoleh.

Bukan karena aku tega. Karena menoleh akan memakan waktu satu koma dua detik dan karena aku sedang menghitung, dan karena kalau aku menoleh aku akan melihat wajahnya, dan aku sudah tahu wajah seperti apa itu.

Aku sudah melihatnya lima kali sebelumnya.

Lima orang, di lima kesempatan yang berbeda, semuanya menoleh ke belakang untuk melihatku berdiri sendirian di tempat yang seharusnya tidak ada orang berdiri sendirian.

Itu wajah yang tidak enak dilihat, dan lebih tidak enak lagi kalau kau tahu kau yang menyebabkannya.


Yang pertama muncul di punggungan jam lima kurang tujuh.

Rusa. Besar, jantan, matanya putih penuh.

Ia tidak menyerangku. Aku ingin sangat jelas soal itu juga, karena orang selalu menceritakan malam ini dengan salah.

Tidak ada satu pun yang menyerangku malam itu.

Mereka hanya berlari.

Yang pertama diikuti empat. Empat diikuti dua puluh. Dan di belakang dua puluh itu, punggungan tanah utara Desa Marrow berubah menjadi sesuatu yang bergerak — tidak seperti hewan, tidak seperti kawanan, tapi seperti tanah itu sendiri yang memutuskan untuk turun.

Tiga ratus sepuluh.

Aku tidak tahu angkanya waktu itu. Aku baru tahu tiga hari kemudian, waktu Hanne dan enam orang menghitung bangkai di ladang utara selama sembilan jam.

Yang kutahu waktu itu hanya bahwa jumlahnya di atas tiga ratus.

Dan bahwa aku punya waktu sekitar dua puluh detik.


[ Marginalia ].

Seribu dua ratus delapan puluh empat entri.

Enam ratus sembilan belas resep.

Tiga tahun aku duduk di ruang tamu gelap dan membuka daftar ini dan menutupnya lagi, malam demi malam, seperti orang membuka lemari berisi baju yang tidak lagi muat.

Aku mengangkat tangan kiriku.

Dan untuk pertama kalinya sejak Menara Vessel, aku membuka seluruh arsip itu sekaligus.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
[ Fusion Magic: Scriptorium ]
STATUS : ACTIVE

Available Entries : 1.284
Available Recipes : 619

Live Draft : ENABLED
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Cahaya birunya menyala di gerbang utara Desa Marrow, cukup terang untuk dilihat dari menara pengamat selatan, cukup terang untuk dilihat dari celah pintu ruang bawah tanah kedai.

Aku menoleh sekali — hanya sekali, dan aku menghitungnya, satu koma dua detik — ke arah menara selatan.

Ada bentuk kecil di sana, di pagar menara, memegang buku.

Aku mengangkat tanganku yang sebelah.

Bukan lambaian. Aku tidak melambai.

Sesuatu yang lebih pendek dari itu, setengah senti, seperti mengangkat mangkuk.

Lalu aku berbalik menghadap utara, dan tiga ratus sepuluh ekor makhluk yang ketakutan turun dari punggungan itu, dan aku mulai menulis.


Bersambung — Bab 16: Gerbang Utara

Jumlah kata: 2.394