← Magnum Opus

Chapter Twenty Nine

Sebab Kematian

POV: Theo


ARSIP GUILD PUSAT — LAMPIRAN 4471-C.29
KESAKSIAN — Seris Ovelle, Pendeta Agung Katedral Vireln
Diambil tujuh bulan setelah kejadian.

Saya perlu menjelaskan sesuatu tentang skill saya lebih dulu, karena tanpa itu kesaksian ini terdengar seperti penghujatan.

[ Grace Unending ] tidak menciptakan hidup. Ia menarik kembali. Ia menemukan sebab kematian dan membalikkannya, seperti melepas simpul.

Selama tiga puluh tahun saya percaya batas skill saya adalah kekuatan saya sendiri.

Malam itu saya belajar bahwa batasnya adalah sesuatu yang lain: saya hanya bisa melepas simpul yang ada.

Enam ribu orang di kota saya mati tanpa simpul.

Dan seorang laki-laki berjubah kerja duduk di ruang bawah katedral saya selama tujuh jam dan mengikatkan simpul untuk mereka.

Saya sudah memikirkan bagaimana menuliskan ini dengan cara yang tidak terdengar gila, dan saya menyerah.

Dia menulis penyakit. Penyakit itu tidak pernah ada. Lalu penyakit itu ada. Lalu saya menyembuhkannya.


“Kau akan menulis apa,” kata Seris.

“Sebab kematian.”

“Theo, itu—“

“Dengar dulu,” kataku.

Aku menarik selembar kertas kosong dan meletakkannya di tengah meja panjang, dan empat orang berdiri mengelilinginya.

“Anomali di ladang Marrow tidak punya Pattern Behaviour,” kataku. “Itu membuatnya tidak bisa dilawan, karena semua yang dilakukan manusia dalam pertempuran dibangun di atas membaca lawan.”

“Kau membunuhnya.”

“Aku memberinya pola dulu,” kataku. “[ Requiem Formation ] mencabut pola lawan lalu menulis yang baru. Tapi kau tidak bisa mencabut dari yang tidak punya — jadi skill itu, karena tidak menemukan apa pun, hanya menempel dan menulis.”

Aku menoleh ke Seris.

“Begitu benda itu punya kebiasaan,” kataku, “seorang pemburu rank B membunuhnya dengan lima puluh tiga anak panah.”

Ruang bawah katedral itu sangat sunyi.

“Kau bilang,” kata Seris pelan, “kota ini sakit dengan cara yang sama.”

“Kota ini tidak sakit,” kataku. “Itulah masalahnya. Enam ribu orang berhenti di tengah kalimat, dan tidak ada satu pun sebab yang tercatat, dan skill-mu butuh sebab.”

Aku mengetuk kertas kosong itu.

“Jadi aku akan menulis sebab.”

Roan Ferrant, dari ujung meja, berkata: “Kau akan mengarang penyakit.”

“Tidak,” kataku. “Mengarang tidak akan berhasil.”

Aku mengangkat wajah.

“Aku akan menyusun penyakit,” kataku. “Dan penyakit yang kususun harus lebih benar daripada penyakit sungguhan, karena penyakit sungguhan boleh punya bagian yang tidak dimengerti orang. Punyaku tidak boleh.”


Ini yang harus kujelaskan, karena kalau tidak, sisa bab ini terdengar seperti sihir dan ini bukan sihir.

Sebuah penyakit, secara mekanis, adalah rantai sebab-akibat yang lengkap.

Agen masuk. Agen melakukan sesuatu pada tubuh. Tubuh merespons dengan cara tertentu. Respons itu merusak fungsi tertentu. Kerusakan fungsi itu menghentikan sesuatu yang tanpa itu manusia tidak bisa hidup.

Tiap mata rantai harus menempel ke mata rantai berikutnya.

Kalau ada satu sambungan yang tidak masuk akal, seluruh rantai tidak akan menggenggam apa pun — dan [ Grace Unending ] akan tergelincir persis seperti empat puluh tujuh kali sebelumnya.

Aku punya tujuh jam.

Dan aku punya empat puluh ribu lembar catatan, yang seluruh kolom medisnya kosong, dan yang seluruh kolom keterangan keluarganya penuh.

“Lyra.”

“Ya.”

“Aku butuh setiap kalimat di kolom keterangan keluarga, dikelompokkan berdasarkan apa yang sedang dilakukan orang itu waktu berhenti.”

“Berapa kelompok?”

“Sebanyak yang muncul.”

Dia sudah bergerak.


Jam sebelas malam, Lyra meletakkan tujuh tumpukan di atas meja.

“Tujuh kelompok,” katanya. “Aku sudah menyaring empat belas ribu lembar. Sisanya masuk ke tujuh ini juga, aku hampir yakin.”

Dia menunjuk satu per satu.

“Sedang bicara. Sedang bekerja dengan tangan. Sedang berjalan. Sedang makan. Sedang menulis atau membaca. Sedang bermain — ini anak-anak. Dan yang terakhir—“

Dia berhenti.

“Yang terakhir apa?”

“Sedang tidur,” katanya. “Delapan ratus enam puluh orang. Semuanya berhenti dalam tidur.”

Aku memandangi tujuh tumpukan itu.

Dan kepala ini melakukan hal yang selalu dilakukannya, dan aku berdiri sangat diam supaya tidak mengganggunya.

Tujuh kelompok.

Enam di antaranya: kegiatan sadar.

Satu: tidur.

Apa yang sama-sama dimiliki semuanya?

Bukan gerakan — orang tidur tidak bergerak.

Bukan kesadaran — orang tidur tidak sadar.

Bukan napas, bukan jantung; itu berlanjut setelah mereka berhenti.

Aku memandangi tumpukan “sedang tidur” untuk waktu yang lama.

“Seris,” kataku. “Delapan ratus enam puluh yang berhenti dalam tidur. Berapa yang bermimpi?”

Semua orang menoleh.

“Apa?”

“Keluarganya. Apa ada yang menyebut mimpi.”

Seris Ovelle membuka mulut untuk mengatakan bahwa itu pertanyaan tidak masuk akal.

Lalu dia menutupnya.

Lalu dia berbalik dan mulai membongkar tumpukan itu dengan kedua tangan.

Butuh dua puluh menit.

Dia menemukan empat puluh satu.

KETERANGAN KELUARGA:
“Dia bicara dalam tidur. Lalu berhenti di tengah.”

KETERANGAN KELUARGA:
“Setiap malam dia mengigau soal ibunya. Malam itu tidak.”

KETERANGAN KELUARGA:
“Anak saya selalu gelisah kalau tidur. Malam itu dia diam sekali. Saya kira dia akhirnya nyenyak.”

Aku duduk.

Bukan gerakan. Bukan kesadaran.

Kelanjutan.

Setiap satu dari tujuh kelompok itu adalah orang yang sedang berada di tengah sesuatu yang punya bagian berikutnya.

Kalimat punya akhir. Jahitan punya jahitan berikutnya. Langkah punya langkah berikutnya. Mimpi punya kelanjutan.

Enam ribu seratus empat belas orang berhenti pada titik di mana sesuatu seharusnya berlanjut.

“Aku tahu apa penyakitnya,” kataku.


Aku menulis selama empat jam.

Aku tidak akan menuliskan seluruh isinya di sini karena sebagian besarnya adalah rantai sebab-akibat yang panjang dan membosankan dan tidak berguna untuk siapa pun kecuali seorang tabib.

Tapi ini kerangkanya, dan kerangkanya adalah bagian yang penting.

Nama: Sindrom Henti Lanjutan.

Agen: bukan organisme. Sebuah kondisi lingkungan — aku menyebutnya “kekosongan lanjutan”, dan aku mendefinisikannya secara tepat dengan tujuh sifat yang bisa diperiksa.

Mekanisme: tubuh manusia menjalankan tindakan berkelanjutan lewat rantai perintah pendek yang saling memicu. Satu langkah memicu langkah berikutnya. Kalau pemicunya hilang, tindakan itu berhenti — dan tubuh, yang tidak punya cara membedakan “berhenti sementara” dari “selesai”, memperlakukannya sebagai selesai.

Kerusakan: fungsi-fungsi vital manusia sebagian besar adalah tindakan berkelanjutan.

Sebab kematian: tubuh menyelesaikan dirinya sendiri.

Aku menuliskan tujuh gejala yang bisa diperiksa. Aku menuliskan empat tahap perkembangan dengan rentang waktunya. Aku menuliskan jalur penularan — bukan penularan, melainkan sebaran, dengan pola yang cocok dengan sebaran empat puluh satu Anomali di peta Lyra.

Aku menuliskan prognosis.

Dan aku menuliskan satu hal terakhir, di baris paling bawah, karena tanpa itu rantai ini tidak akan menggenggam:

Titik lepas: rantai perintah yang terputus masih ada dalam tubuh selama tujuh puluh dua jam. Ia tidak hilang. Ia hanya berhenti dipicu.

Aku meletakkan penaku jam tiga pagi.

Empat belas halaman.

“Seris.”

Dia sudah membaca dari balik bahuku selama dua jam terakhir dan sudah berhenti bertanya sekitar satu jam lalu.

“Baris terakhir,” katanya.

“Ya.”

“Titik lepas.”

“Ya.”

“Itu yang kau berikan kepadaku,” katanya. “Simpulnya.”

“Ya.”

Seris Ovelle memandangi empat belas halaman itu.

“Kalau ada satu bagian di sini yang salah,” katanya, “aku akan menyentuh enam ribu orang dan menarik sesuatu yang salah.”

“Ya.”

“Apa yang terjadi kalau begitu?”

Aku tidak menjawab dengan cepat, karena dia berhak mendapat jawaban yang benar.

“Kau akan menarik rantai perintah yang salah,” kataku, “dan tubuh mereka akan menjalankan sesuatu yang tidak pernah mereka perintahkan.”

“Berapa persen kemungkinan aku salah?”

“Kau tidak akan salah,” kataku. “Aku yang mungkin salah.”

Seris Ovelle mengangkat wajah.

Dan lalu Pendeta Agung Katedral Vireln melakukan sesuatu yang membuatku harus memandangi meja untuk waktu yang cukup lama.

Dia melipat empat belas halaman itu, memasukkannya ke dalam jubahnya, dan berkata:

“Aku tidak menanyakan persentase karena aku ragu.”

Dia berjalan ke tangga.

“Aku menanyakannya,” katanya, “karena aku ingin tahu apakah kau akan menjawab jujur.”


[ Marginalia ].

Entri 0177. Label. Level satu. Skill tukang obat. Menuliskan nama pada wadah, dan nama itu tidak luntur.

Entri 0904. Symptom Sense. Level dua. Skill bidan desa. Mengenali gejala umum pada satu orang dengan sentuhan.

Dua skill sampah. Kusalin dari seorang tukang obat di pasar Halvern yang mengeluh dagangannya tertukar, dan dari seorang bidan di desa pegunungan yang menolak dibayar.

[ Fusion Magic: Scriptorium ]

[ CAUSE OF DEATH ]

Recipe : Label (Lv.1) + Symptom Sense (Lv.2) Tier : GOD Method : LIVE DRAFT

Yang dilakukannya bukan menyembuhkan.

[ Label ] menuliskan nama yang tidak luntur. Symptom Sense mengenali gejala lewat sentuhan.

Digabung: ia menempelkan sebuah diagnosis ke tubuh, dan diagnosis itu menjadi benar.

Bukan sihir penyembuh. Bukan sihir apa pun yang pernah ada di daftar guild.

Ini pekerjaan juru tulis.

Aku mengisi kolom yang kosong.


Kami mulai jam empat pagi.

Enam ribu seratus empat belas orang, dan satu Pendeta Agung yang sudah sembilan belas hari tidak tidur.

Aku menyentuh pasien. Aku menuliskan diagnosisnya — bukan di kertas; di tubuh, lewat [ Cause of Death ], empat belas halaman rantai sebab-akibat dipadatkan menjadi satu tempelan yang tidak luntur.

Lalu Seris menyentuh mereka.

Dan [ Grace Unending ], untuk pertama kalinya dalam sembilan belas hari, menemukan sesuatu untuk digenggam.

Pasien pertama adalah perempuan lima puluh dua tahun bernama Hela Sorne yang tidak sadar selama enam hari.

Dia membuka matanya jam empat lewat sembilan.

Dan hal pertama yang dia lakukan — dan Lyra mencatat ini, dan aku memintanya membacakannya kepadaku tiga kali malam itu — adalah menyelesaikan kalimat yang dia mulai enam hari sebelumnya.

“—jadi kubilang ke dia jangan beli yang itu.”


Roan dan Bhaltair mengangkut.

Itu terdengar kecil. Itu tidak kecil.

Enam ribu orang tersebar di dua belas bangunan, dan Seris tidak bisa berjalan ke semuanya, dan Seris tidak bisa berhenti karena setiap jam yang lewat ada orang yang melewati batas tujuh puluh dua jam.

Jadi Sword Saint benua dan Tembok Kaldrass menghabiskan sebelas jam mengangkat orang.

Aku melihat Roan Ferrant menggendong seorang laki-laki tua tiga blok dan meletakkannya di tempat tidur dan kembali berlari tanpa berkata apa-apa, empat puluh kali berturut-turut.

Aku melihat Bhaltair Vorn membawa empat orang sekaligus.

Dan aku menyusun urutannya — siapa yang mendekati batas tujuh puluh dua jam, siapa yang bisa menunggu, jalur mana yang paling pendek, kapan Seris harus berhenti tiga menit supaya tidak jatuh.

Sebelas jam.

Enam ribu seratus empat belas orang.

Empat ratus tiga puluh satu yang tidak bisa ditolong siapa pun, karena mereka sudah lewat tujuh puluh dua jam sebelum kami tiba.

Aku menghitung angka itu berkali-kali malam itu dan angka itu tidak berubah, dan aku ingin mencatat di sini bahwa aku tidak pernah berhenti menghitungnya sampai sekarang.


Seris memeriksa Lyra jam empat sore.

Aku tidak memintanya. Lyra jelas tidak memintanya.

Perempuan itu hanya berhenti di tengah lorong, memegang pergelangan tangan Lyra selama dua detik, dan berkata: “Kau sudah tiga puluh dua jam tidak tidur dan kau menulis dengan tangan kanan yang otot ibu jarinya kejang. Duduk.”

“Saya harus—“

“Duduk.”

Lyra duduk.

Seris menyembuhkannya dalam empat detik, yang merupakan pemborosan skill tingkat dewa yang luar biasa dan yang tidak dikomentari siapa pun.

Lalu dia berdiri.

Dan dia memandangi Lyra Vandell, yang sedang memutar pergelangan tangannya dengan takjub.

Lalu dia memandangi aku, yang sedang berdiri lima langkah jauhnya dengan papan catatan di tangan.

Lalu dia memandangi aku lagi, lebih lama.

Dan Seris Ovelle berkata:

“Ah.”

Aku mengangkat wajah.

“Akhirnya,” katanya.

Lalu dia berbalik dan berjalan ke aula berikutnya, dan aku berdiri di lorong Katedral Vireln memegang papan catatan dan tidak mengerti apa yang barusan terjadi.

Lyra mengerti.

Aku tahu karena wajahnya merah sampai ke telinga dan dia menolak menatapku selama empat puluh menit setelahnya.


━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
[ Fusion Record Updated ]

Entry #623
Name : Cause of Death
Recipe : Label (Lv.1) + Symptom Sense (Lv.2)
Tier : GOD
Method : LIVE DRAFT

Subjects Treated : 5.683
Recovered : 5.683
Lost (beyond threshold) : 431

Witnesses : 5.712
Cumulative : 5.962
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Lima ribu tujuh ratus dua belas.

Aku memandangi angka itu di ruang bawah katedral jam sebelas malam, sendirian, dengan empat puluh ribu lembar kertas masih berserakan di meja panjang.

Dari nol.

Ke satu.

Ke tiga.

Ke enam puluh empat.

Ke lima ribu sembilan ratus enam puluh dua.

Aku duduk di ruang bawah tanah itu untuk waktu yang sangat lama, dan tidak menutup jendela statusnya, dan tidak melakukan apa pun kecuali memandangi satu baris angka yang naik.


Bersambung — Bab 30: Yang Tidak Bisa Dibalas

Jumlah kata: 2.512