Chapter Thirty Five
Delapan Detik
POV: Theo
ARSIP GUILD PUSAT — LAMPIRAN 4471-C.35
KESAKSIAN — Cael Nyx
Diambil dua tahun setelah kejadian. Saksi menolak menyebutkan tempat pengambilan.
Saksi meminta satu hal dicatat sebelum kesaksiannya dimulai:“Tulis dulu bahwa aku tidak akan menjelaskan diriku. Aku cuma akan menjawab pertanyaan.”
T: Sejak kapan Anda mengikutinya?
Dua minggu setelah kami pulang dari menara.T: Kenapa?
Aku tidak tahu.T: Anda mengikuti seseorang selama tiga tahun tanpa alasan?
Aku tidak bilang tanpa alasan. Aku bilang aku tidak tahu alasannya. Itu dua hal berbeda dan aku akan menghargai kalau kau mencatatnya dengan benar.T: Apakah Anda mengenalinya?
Tidak.T: Tapi Anda dapat menemukannya.
Ya.T: Bagaimana?
Karena aku tahu bentuk lubang.
Cael Nyx duduk di tumpukan jaring ikan di tepi pelataran, dengan kaki menjuntai di atas air rawa hitam, dan tidak menoleh ketika aku berbalik.
Dia lebih tua.
Semua orang lebih tua. Aku sudah berhenti terkejut.
Tapi Cael Nyx lebih tua dengan cara yang berbeda dari empat lainnya — bukan lebih berat, bukan lebih lelah.
Lebih tipis.
Bukan kurus. Tipis. Seperti sesuatu yang sudah terlalu sering berhenti ada dan tidak sepenuhnya kembali setiap kali.
“Kau berdiri di tengah pasar,” katanya, “dan bicara ke udara. Di depan sekitar delapan puluh orang.”
“Ya.”
“Mereka pikir kau gila.”
“Ya.”
“Kau tidak keberatan?”
“Aku menghitungnya,” kataku. “Delapan puluh orang yang mengira aku gila adalah harga yang wajar.”
Cael Nyx tertawa.
Satu tawa pendek, lewat hidung, dan bunyinya membuat sesuatu di dadaku terbelah karena aku sudah tiga tahun tidak mendengarnya dan tidak pernah menyadari bahwa aku merindukannya.
“Yang itu,” katanya.
“Apa?”
“Cara kau bilang ‘aku menghitungnya’.” Dia mengayunkan kakinya di atas air. “Itu bagian yang kuingat. Bukan wajahmu. Itu.”
Aku duduk di jaring di sebelahnya.
Kami tidak bicara selama sekitar lima menit, dan itu adalah lima menit paling tidak nyaman dalam hidupku, dan aku tahu dia sengaja.
Cael Nyx selalu sengaja.
“Kau marah,” katanya akhirnya.
“Ya.”
“Bagus.” Dia mengangguk ke arah air. “Aku sudah tiga tahun menunggu ada yang marah kepadaku. Ternyata rasanya lebih enak dari yang kubayangkan.”
“Cael.”
“Tanya saja,” katanya. “Kau sudah menyusun pertanyaannya sejak jam dua pagi kemarin. Aku menonton kau menyusunnya.”
Aku menoleh sangat cepat.
“Kau ada di penginapan?”
“Di atap seberang,” katanya. “Aku selalu di atap seberang. Sudah tiga tahun. Kau seharusnya sudah tahu itu.”
Dan aku duduk di atas tumpukan jaring ikan di kota tanpa nama dan menanyakan pertanyaan yang sudah kususun selama dua puluh tiga jam.
“Kenapa kau tidak turun?”
Cael Nyx tidak menjawab selama waktu yang sangat lama.
Lalu dia berkata:
“Kau tahu apa yang terjadi selama delapan detik itu?”
“Kau tidak ada.”
“Ya, tapi kau tahu rasanya?”
Aku tidak menjawab.
“Tidak ada rasanya,” katanya. “Itu bagian yang tidak pernah kuceritakan ke siapa pun, termasuk Seris waktu dia memeriksaku dua puluh kali. Tidak ada apa-apa. Tidak gelap, tidak sunyi, tidak dingin. Delapan detik itu tidak terjadi kepadaku.”
Dia mengangkat kedua tangannya dan memandanginya.
“Aku sudah memakainya sekitar empat ribu kali,” katanya. “Sejak umur enam belas. Empat ribu kali delapan detik.”
“Delapan jam delapan menit,” kataku.
“Kau menghitungnya.”
“Ya.”
“Tentu saja kau menghitungnya.” Dia menurunkan tangannya. “Delapan jam delapan menit dari hidupku tidak pernah terjadi. Dan setiap kali aku kembali, ada sedikit lebih sedikit dari aku yang ikut kembali.”
Rawa itu sangat sunyi.
“Aku tidak bisa mengingat wajah orang,” katanya. “Bukan cuma wajahmu. Semua orang. Ibuku, aku tidak tahu bagaimana bentuknya. Roan — aku tahu Roan tinggi dan aku tahu Roan pakai perak, dan aku tidak tahu wajahnya.”
Dia mengangkat bahu.
“Aku sudah lama begitu. Sebelum menara. Jauh sebelum.”
“Cael—“
“Aku tidak sedang minta dikasihani,” katanya, dan nadanya berubah — itu nada yang membuat ruangan membeku, nada yang muncul sekitar dua kali setahun dan yang membuat lima orang berhenti bicara setiap kali. “Aku sedang menjelaskan kenapa aku satu-satunya yang bisa menemukanmu.”
Aku menoleh.
“Empat orang itu kehilangan sesuatu di menara,” katanya. “Mereka punya lubang berbentuk orang di kepala mereka dan mereka tidak bisa melihat pinggirannya, karena mereka tidak pernah kehilangan apa pun sebelumnya.”
Dia menatapku untuk pertama kalinya sejak aku duduk.
“Aku sudah kehilangan hal sepanjang hidupku,” katanya. “Aku tahu bentuk lubang. Aku bisa mengenalinya dari jauh.”
“Dua minggu setelah kita pulang,” katanya, “aku duduk di kedai di Halvern dan aku sadar ada yang salah dengan jumlahnya.”
“Jumlah apa?”
“Party,” katanya. “Kami berlima. Aku menghitung berlima. Dan aku terus merasa aku salah hitung.”
Dia mengayunkan kakinya.
“Aku menghitungnya sekitar empat ratus kali dalam dua minggu,” katanya. “Roan, Bhaltair, Seris, Ilvera, aku. Lima. Setiap kali lima. Dan setiap kali aku selesai menghitung, aku merasa seperti orang yang menutup pintu dan lupa mematikan lilin.”
“Lalu?”
“Lalu aku mulai mencari,” katanya. “Dan aku tidak tahu apa yang kucari. Aku sungguh tidak tahu, dan itu berlangsung selama dua bulan.”
Dia berhenti.
“Aku menemukanmu di kota pelabuhan Sarne,” katanya. “Bulan sepuluh, tahun 822. Kau sedang membeli kertas.”
Aku duduk sangat diam.
“Aku berdiri di seberang jalan,” katanya, “dan aku memandangi seorang laki-laki membeli kertas selama sebelas menit, dan aku tidak tahu siapa dia, dan aku tidak bisa pergi.”
“Kenapa?”
“Karena lubang di kepalaku berbentuk kau,” katanya.
Kami duduk di jaring itu untuk waktu yang lama.
“Tiga tahun,” kataku akhirnya.
“Tiga tahun.”
“Marrow.”
“Marrow,” katanya. “Rumah tukang kayu tua di ujung barat. Atapnya bagus. Menghadap tokomu.”
Aku menutup mataku.
“Chimera.”
“Aku ada di sana.”
“Kau melihatnya.”
“Aku melihat kau menuang tinta dan terus berjalan,” katanya. “Tujuh detik. Aku menghitungnya juga, dan aku bahkan tidak bisa menghitung dengan benar.”
“Gerbang utara.”
Cael Nyx berhenti mengayunkan kakinya.
“Ya,” katanya.
“Tiga ratus sepuluh.”
“Ya.”
“Kau ada di mana?”
“Atap gudang keluarga Harn,” katanya. “Dua puluh dua meter dari tempatmu berdiri.”
Dan aku merasakan sesuatu naik di kerongkonganku yang tidak bisa kutahan lagi, dan aku membiarkannya keluar, karena aku sudah menahannya sejak jam tiga pagi kemarin.
“KENAPA KAU TIDAK TURUN.”
Suaraku memantul di rawa.
Delapan puluh orang di pelataran pasar tidak menoleh, karena mereka sudah memutuskan tiga jam lalu bahwa aku gila dan orang gila tidak menarik.
Cael Nyx memandangi air hitam.
“Karena kau tidak memanggil,” katanya.
“ITU BUKAN—“
“Aku tahu itu bukan alasan yang bagus,” katanya, dan suaranya sangat pelan sekarang. “Aku tahu. Aku sudah tahu selama tiga tahun.”
Dia menoleh kepadaku.
“Tapi aku tidak tahu siapa kau, Theo,” katanya. “Aku tidak tahu namamu sampai kemarin. Aku tidak tahu apakah kau kenal aku. Aku cuma tahu bahwa ada lubang di kepalaku yang berbentuk seorang laki-laki yang membeli kertas.”
Dia mengangkat kedua tangannya, telapak ke atas.
“Bagaimana caranya aku turun?” katanya. “Apa yang kukatakan? ‘Halo, aku tidak mengenalmu, tapi aku merasa kau hilang’?”
“Ya,” kataku.
Cael Nyx berkedip.
“Ya,” kataku lagi. “Itu persis yang kau katakan.”
Dan Cael Nyx — yang bisa menghapus keberadaannya sendiri, yang tidak terdaftar sebagai warga negara mana pun, yang sudah tiga tahun tinggal di atap rumah tukang kayu tua di ujung barat Desa Marrow — menutup wajahnya dengan kedua tangan dan tidak bergerak selama hampir satu menit.
“Aku menghitung juga, kau tahu,” katanya, akhirnya, dari balik tangannya.
“Menghitung apa?”
“Berapa kali kau makan sendirian.”
Aku tidak menjawab.
“Tiga tahun,” katanya. “Kedai perempuan tua itu. Sudut yang sama. Setiap malam.” Dia menurunkan tangannya. “Seribu enam puluh empat kali.”
Rawa itu sangat sunyi.
“Aku berhenti menghitung di angka itu,” katanya, “karena aku menyadari bahwa aku menghitung sesuatu yang bisa kuhentikan kapan saja dengan berjalan menuruni atap.”
Dia menatap air.
“Lalu aku tidak berjalan menuruni atap,” katanya. “Malam itu, atau seribu enam puluh lima, atau seribu enam puluh enam.”
“Kenapa tidak?”
Dan Cael Nyx memberikan jawaban yang paling jujur dan paling buruk dari seluruh perjalanan itu, dan aku mencatatnya di sini persis seperti yang dia ucapkan.
“Karena setiap malam yang lewat,” katanya, “membuat turun jadi lebih mustahil.”
“Cael—“
“Malam pertama, aku orang asing yang bisa memperkenalkan diri,” katanya. “Malam ketiga ratus, aku orang asing yang sudah menonton tiga ratus malam. Malam keseribu—“
Dia berhenti.
“Aku sudah bukan orang yang bisa turun,” katanya. “Aku sudah jadi orang yang harus menjelaskan kenapa tidak turun sejak lama.”
Aku duduk di jaring ikan itu untuk waktu yang sangat lama.
Dan yang kupikirkan bukan kemarahan.
Yang kupikirkan adalah tiga tahun di ruang tamu gelap, memandangi kolom yang bertuliskan lima, dan tidak menulis satu pun dari empat ratus tujuh belas surat balasan.
Dan seorang laki-laki di atap seberang, memandangi tokoku, dan tidak turun.
“Kita berdua sama-sama bodoh,” kataku.
Cael Nyx menoleh.
“Aku punya surat di laci,” kataku. “Tiga puluh delapan hari, cuma tertulis satu kata. ‘Roan.’ Aku tidak bisa menulis kata kedua.”
“Kenapa?”
“Karena kalau dia datang dan tidak mengenaliku,” kataku, “aku harus berhenti berpura-pura bahwa aku tidak peduli.”
Cael Nyx memandangiku.
Lalu dia mengeluarkan bunyi yang setengah tawa dan setengah bukan.
“Ya,” katanya. “Ya, baik. Kita berdua bodoh.”
Aku berdiri.
“Cael.”
“Hm.”
“Turun.”
“Aku sudah turun. Aku duduk di jaring ikan.”
“Cael.”
Dan dia berhenti bercanda, karena Cael Nyx selalu tahu persis kapan harus berhenti bercanda, dan itu adalah keahliannya yang paling tidak dihargai siapa pun.
“Aku tidak akan minta maaf,” katanya.
“Aku tidak minta kau minta maaf.”
“Bagus, karena aku tidak akan.” Dia berdiri. “Tiga tahun itu tidak bisa dibayar dengan maaf dan kita berdua tahu itu.”
“Lalu bagaimana?”
Dan Cael Nyx berdiri di tepi pelataran kayu di atas rawa hitam kota yang tidak punya nama, dan berkata:
“Panggil aku lagi.”
“Apa?”
“Kau memanggilku sekali, tadi, dan aku muncul,” katanya. “Panggil lagi. Besok. Dan lusa. Dan setiap hari sampai aku berhenti kaget.”
Dia mengangkat bahu, dan gerakan itu sengaja dibuat ringan, dan gagal sepenuhnya.
“Aku sudah tiga tahun tidak dipanggil siapa pun,” katanya. “Kau harus membiasakanku.”
Roan Ferrant menemukan kami di dermaga jam sebelas malam.
Dia berhenti sepuluh langkah jauhnya, dan memandangi Cael Nyx, dan tidak berkata apa-apa.
“Kau tinggi,” kata Cael.
“Kau tipis.”
“Ya.”
“Kau sudah tipis sejak dulu.”
“Sekarang lebih.”
Dan mereka berdiri di sana, dua orang yang pernah menyelamatkan nyawa satu sama lain sembilan belas kali, dan tidak menyentuh sama sekali, karena mereka tidak pernah menyentuh, karena begitulah bentuknya persahabatan mereka selama sepuluh tahun.
Lalu Roan berkata:
“Bhaltair di penginapan.”
Dan Cael Nyx menutup matanya.
“Sial,” katanya. “Aku harus melihat Bhaltair.”
“Ya.”
“Aku belum siap melihat Bhaltair.”
“Tidak ada yang siap melihat Bhaltair,” kata Roan Ferrant.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
[ Witness Log — Identity Resolved ]
Previous designation : [ UNRECORDED ]
Resolved as : Cael Nyx
Appearances : 112 entries
Duration : 3 years, 41 days
Retroactive count : +112
Cumulative Witnesses : 6.074
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Aku memandangi kotak itu di kamar penginapan kota tanpa nama.
Retroactive count : +112.
Sistem ini mencatat segalanya, dan tiga tahun ia mencatat seseorang yang tidak bisa dicatat, di baris terakhir setiap entri, di bawah jumlah total, tanpa pernah menghitungnya.
Dan malam ini, dalam satu detik, ia menghitung ulang tiga tahun.
Aku memandangi angka itu sampai mataku perih.
Lalu aku menutup jendela status, dan turun ke ruang bawah penginapan, di mana Bhaltair Vorn sedang berdiri berhadapan dengan Cael Nyx di tengah ruangan sambil tidak mengatakan apa-apa, sudah selama sembilan menit menurut Lyra.
Aku duduk di tangga dan menonton.
Menit kesebelas, Bhaltair Vorn mengucapkan satu kata.
“Kau.”
Dan Cael Nyx, yang bisa berhenti ada, dan yang tidak bisa mengingat wajah siapa pun, dan yang sudah tiga tahun tidak dipanggil siapa pun, menjawab dengan satu kata juga.
“Ya.”
Lalu Bhaltair Vorn mengangkat satu tangannya dan meletakkannya di atas kepala Cael Nyx, seperti orang meletakkan tangan di atas kepala anak kecil, dan membiarkannya di sana.
Dan Cael Nyx berdiri sangat diam dan tidak bergerak sama sekali selama mungkin dua menit.
Bersambung — Bab 36: Lima
Jumlah kata: 2.531
- 1 Penjual Tinta
- 2 Garam
- 3 Anak yang Berbohong
- 4 Arsiparis
- 5 Sesuatu yang Tidak Punya Kebiasaan
- 6 Sembilan Peti
- 7 Tulisan Tangan
- 8 Empat Puluh Menit
- 9 Yang Mengenaliku
- 10 Surat yang Salah Alamat
- 11 Silverline
- 12 Tiga Kesalahan
- 13 Hujan
- 14 Empat Halaman
- 15 Tiga Ratus Sepuluh
- 16 Gerbang Utara
- 17 Anggota Keenam
- 18 Berangkat
- 19 Gerbang Ordo
- 20 Peringkat Empat Puluh Tiga
- 21 Komandan
- 22 Ruang Nomor Empat
- 23 Jalan ke Kaldrass
- 24 Seribu Dua Ratus
- 25 Empat Puluh Tiga Wasiat
- 26 Fajar Kedua
- 27 Kota yang Tidak Sakit
- 28 Bekas Luka yang Tidak Pernah Terjadi
- 29 Sebab Kematian
- 30 Yang Tidak Bisa Dibalas
- 31 Ratu yang Tidak Bisa Membaca Peta
- 32 Tujuh Belas Menit
- 33 Pasir
- 34 Kota Tanpa Nama
- 35 Delapan Detik reading
- 36 Lima
- 37 Pulang
- 38 Sarang
- 39 Bagaimana Kau Tahu
- 40 Draf Terakhir
- 41 Kota Selatan
- 42 Tiga Puluh
- 43 Yang Tidak Kuucapkan
- 44 Sembilan Hari
- 45 Evaluasi Kelayakan
- 46 Jendela
- 47 Kalimat Terpanjang
- 48 Menara Vessel
- 49 Yang Kubeli
- 50 Prosesi
- 51 Lima Izin
- 52 Magnum Opus
- 53 EXTRA 01 — Tiga Puluh Satu Menit