← Magnum Opus

Chapter Seventeen

Anggota Keenam

POV: Theo


GUILD PUSAT — LEMBAR PENILAIAN ASET WILAYAH
Distrik Perbatasan Timur / Cabang Marrow

Berdasarkan laporan insiden MRW-052 dan tiga laporan pendukung yang saling bersesuaian, cabang ini mencatat keberadaan satu individu dengan kapasitas operasional yang tidak sesuai dengan peringkat terdaftarnya.

Nama terdaftar: Theo
Peringkat terdaftar: F
Kelas terdaftar: Enchanter (Support)

Klasifikasi sementara: [ Unknown Asset — Marrow ]

Tindak lanjut: pengamatan. Tidak ada kontak langsung sampai instruksi berikutnya.


CATATAN ARSIPARIS:
Ini adalah dokumen pertama dalam sejarah Guild Pusat yang menyebut nama tersebut.
Saya mencatat tanggalnya di sini karena saya ingin tanggal itu ada.


Marrow tidak tahu bagaimana harus memperlakukanku setelah malam itu, dan itu berlangsung selama sembilan hari.

Aku bisa menjelaskannya dengan cara ini: seluruh desa memutuskan, secara diam-diam dan serentak, untuk berpura-pura tidak terjadi apa-apa — sambil melakukan hal-hal kecil yang membuktikan sebaliknya.

Tuan Harn mengirim gandum. Empat karung, tanpa catatan, ditaruh di depan pintuku sebelum subuh.

Tukang kayu memperbaiki papan tokoku. Aku tidak memintanya. Aku baru sadar tiga hari kemudian bahwa “peralatan tulis menulis” sekarang punya tanda hubung.

Nenek Odel berhenti menaruh sup di depanku tanpa diminta, dan mulai menanyakan apa yang ingin kumakan, yang jauh lebih buruk.

Dan orang-orang berhenti melewatiku di jalan.

Itu bagian yang paling sulit dijelaskan. Tiga tahun aku berjalan dari toko ke kedai dan orang lewat tanpa berhenti, dan itu nyaman, dan aku sudah lupa bahwa itu tidak normal.

Sekarang mereka berhenti. Mengangguk. Tidak tahu harus bilang apa. Lalu pergi dengan wajah orang yang gagal melakukan sesuatu.

Aku lebih suka yang dulu, dan aku merasa buruk karena lebih suka yang dulu.


Pip datang di hari kedua dengan botol tinta encer di tangan dan wajah yang sudah menyiapkan pidato.

“Aku tidak akan bilang ‘sudah kubilang’.”

“Baik.”

“Aku sangat ingin bilang ‘sudah kubilang’.”

“Aku tahu.”

“Ke semua orang. Selama tiga minggu.” Tangannya terkepal di sisi tubuhnya. “Bu Harn bilang aku pembohong. Bu Harn. Ibuku sendiri.”

Aku berjongkok, dan lututku berbunyi, dan aku sudah berhenti menyesalinya.

“Pip.”

“Apa.”

“Kau boleh bilang.”

Anak itu memandangiku dengan mata sebesar piring.

“Boleh?”

“Kau menunggu tiga minggu,” kataku. “Itu jauh lebih lama dari yang kubisa waktu seumurmu.”

Dia lari keluar tanpa mengucapkan apa pun lagi, dan aku bisa mendengarnya berteriak “SUDAH KUBILANG” ke arah alun-alun sepanjang jalan, sembilan kali, sampai suaranya hilang di tikungan.

Itu adalah hal terbaik yang terjadi dalam sembilan hari itu, dan mungkin dalam tiga tahun.


Silverline pergi di hari keempat.

Bukan diusir dan bukan menyerah — dipanggil. Guild Kecamatan menarik penugasan mereka karena tiga ratus sepuluh ekor hewan yang berlari ke barat bukan Anomali, dan karena laporan Aldric tentang malam itu menimbulkan cukup banyak pertanyaan sehingga seseorang di kecamatan memutuskan lebih mudah memindahkan orangnya daripada menjawabnya.

Aldric datang ke tokoku sebelum berangkat.

Dia berdiri di ambang pintu untuk waktu yang cukup lama.

“Aku menulis laporannya,” katanya.

“Aku dengar.”

“Aku menulis namamu.”

Aku mengangkat wajah.

“Empat kali,” katanya. “Aku menulisnya empat kali dan mencoretnya tiga kali, dan yang keempat aku biarkan.”

“Kenapa?”

“Karena aku sudah kehilangan dua orang di hutan itu,” katanya, “dan karena kalau aku menulis laporan yang bilang tiga ratus sepuluh ekor berbelok karena kebetulan, maka dua orangku mati karena kebetulan juga. Dan aku tidak sanggup menulis itu.”

Dia mengeluarkan sesuatu dari saku dan meletakkannya di mejaku.

Selembar kertas terlipat.

“Salinan laporannya,” katanya. “Kau berhak punya.”

“Aku tidak—“

“Ambil saja.” Suaranya lebih keras dari yang dia maksudkan, dan dia menyadarinya, dan menariknya kembali. “Maaf.”

Kami berdiri di sana.

“Aku menghinamu,” katanya.

“Tidak.”

“Aku bilang dunia butuh penjual tinta juga.”

“Itu bukan hinaan. Itu benar.”

“Kau tahu maksudku.”

Aku memandanginya. Dua puluh empat tahun. Bahu yang belum selesai lebar. Zirah baru yang sudah penyok di dua tempat.

“Aldric.”

“Ya.”

“Sayap kirimu tertinggal setengah langkah karena tanah alun-alun miring satu banding dua puluh dua,” kataku. “Bukan karena orangmu lambat. Kalau kau melatih mereka di tanah datar, kau akan menghukum mereka untuk kesalahan yang bukan milik mereka.”

Dia berdiri sangat diam.

“Dan rotasi cooldown-mu,” lanjutku, “masalahnya bukan mage-mu. Masalahnya kau memberi perintah lisan. Perintah lisan butuh empat detik untuk sampai di tengah pertempuran. Kalau kau menetapkan urutannya sebelum mulai, kau tidak perlu memberi perintah sama sekali.”

“Kenapa kau memberitahuku ini.”

“Karena kau bertanya siapa aku,” kataku, “dan ini jawabannya.”

Aldric Vane memandangiku untuk waktu yang sangat lama.

Lalu dia melakukan sesuatu yang tidak kuduga: dia mengeluarkan buku catatan kecil dari sakunya, membukanya, dan menulis.

Berdiri, di ambang pintu, dengan kuda menunggu di luar.

“Ulangi yang bagian cooldown,” katanya.

Aku mengulanginya.

Dia menulisnya.

Lalu dia menutup bukunya, dan mengangguk sekali, dan berkata “terima kasih” dengan suara yang jauh lebih rata daripada dua kali sebelumnya, dan pergi.

Dua tahun kemudian, laki-laki itu akan berdiri di reruntuhan sebuah sarang dan bertanya kepadaku bagaimana aku bisa tahu, dan tidak mendapat jawaban.

Tapi hari itu dia menulis, dan aku mencatat itu di sini karena aku sudah berjanji akan adil kepadanya.


Lyra menanyakannya di hari kesembilan.

Kami di ruang arsip. Lantainya sudah kering; dindingnya masih bernoda garis air setinggi sembilan sentimeter yang tidak akan pernah hilang.

Empat ribu seratus satu dokumen sudah kembali ke rak.

Dia sedang menutup peti terakhir ketika dia berkata, tanpa menoleh:

“Kau anggota keenam itu, kan.”

Bukan pertanyaan. Dan bukan Anda — pertama kalinya dalam tiga puluh delapan hari.

Aku berdiri di sisi lain ruangan dengan setumpuk map di tangan.

Aku tidak menjawab.

Dia menutup peti itu, mengunci gemboknya, dan berbalik.

“Aku tidak menuntut jawaban,” katanya. “Aku cuma perlu mengucapkannya sekali, dengan suara keras, di ruangan yang ada kau di dalamnya. Karena aku sudah mengucapkannya di dalam kepalaku sekitar empat ribu kali dan itu mulai membuatku gila.”

Ruangan itu sangat sunyi.

“Aku tidak bisa mengatakannya,” kataku.

“Aku tahu.”

“Bukan karena aku tidak mau.”

“Aku tahu itu juga.” Dia menyandarkan pinggangnya ke peti. “Aku sudah memikirkannya sembilan hari. Kau tidak pernah berbohong. Bukan sekali pun, sejak hari pertama. Jadi kalau kau tidak bisa bilang ya, itu bukan berarti tidak.”

“Lalu apa artinya?”

“Artinya kau juga tidak tahu,” katanya.

Dan itu — diucapkan begitu saja, di ruang bekas kandang, oleh seorang arsiparis tingkat dua yang tidak punya satu pun bukti — adalah pertama kalinya seseorang di dunia ini menyebutkan hal yang paling kutakutkan dengan tepat.

Aku meletakkan tumpukan map itu di meja karena tanganku tidak stabil.

“Aku ingat sepuluh tahun,” kataku.

Suaraku terdengar aneh di ruangan itu.

“Aku ingat sembilan puluh enam raid. Aku ingat setiap formasi, setiap ruangan, setiap kali salah satu dari mereka hampir mati dan tidak jadi.” Aku memandangi meja. “Aku ingat nama kuda Roan. Aku ingat bahwa Ilvera tidak bisa membaca peta waktu umur empat belas dan aku mengajarinya dengan menggambar di pasir karena kertas terlalu mahal.”

“Theo—“

“Dan aku tidak bisa membuktikan satu pun dari itu,” kataku. “Tidak satu pun. Tidak ada namaku di kodeks, tidak ada di monumen, tidak ada di daftar keanggotaan. Sistem bilang lima orang.”

Aku mengangkat wajah.

“Jadi kalau kau bertanya apakah aku anggota keenam Ashen Crown, jawaban jujurnya adalah: aku ingat begitu. Dan seluruh dunia mencatat sebaliknya. Dan aku tidak punya cara untuk tahu siapa yang salah.”

Lyra Vandell berjalan melewati ruangan itu.

Dia berhenti di depanku, dan mengambil selembar kertas dari saku roknya — kertas tua, kuning di tepinya, jenis yang dipakai untuk lampiran teknis karena murah.

Lampiran Empat.

Dia meletakkannya di meja, di antara kami.

“Angka delapan,” katanya. “Celah sepertiga milimeter, sisi kanan atas. Garis pemisah ditarik dari kanan ke kiri, empat detik lebih cepat, supaya orang di seberang meja bisa membaca sambil kau menggambar.”

Dia menekan kertas itu dengan dua jari.

“Ini bukan ingatanmu, Theo. Ini benda. Ini ada di dunia, di luar kepalamu, dan aku bisa memegangnya.”

“Itu satu lembar kertas.”

“Ya,” katanya. “Dan tiga minggu lalu aku tidak punya apa-apa selain kepercayaan, dan mereka mengusirku dari ibu kota karenanya.”

Dia menatapku.

“Sekarang aku punya satu lembar kertas, tiga ratus sepuluh ekor hewan yang berbelok, enam puluh empat saksi, dan satu dokumen Guild Pusat yang menyebut namamu untuk pertama kalinya dalam sejarah.”

“Itu masih bukan bukti.”

“Belum,” katanya. “Itu arsip.”

Dia mengambil kertas itu kembali dan melipatnya dengan hati-hati.

“Kau tahu perbedaan antara bukti dan arsip?”

“Tidak.”

“Bukti dipakai sekali untuk memenangkan satu argumen,” katanya. “Arsip dikumpulkan selama bertahun-tahun sampai tidak ada lagi argumen yang bisa dimenangkan siapa pun terhadapnya.”

Dia memasukkan lampiran itu ke sakunya.

“Aku tidak akan berdebat dengan dunia soal kau,” katanya. “Aku akan mengarsipkanmu.”


Aku pulang jam sepuluh malam.

Seratus delapan puluh dua langkah.

Aku duduk di meja kerja dan menarik laci dan mengeluarkan dua benda: kertas berisi nama-nama saksi, dan selembar kertas bagus yang di atasnya hanya tertulis satu kata.

Roan,

Aku memandanginya.

Tiga puluh delapan hari lalu aku menulis kata itu dan tidak sanggup menulis kata kedua.

Aku mencelupkan pena.

Dan aku menulis empat baris, dari kanan ke kiri, dengan angka delapan yang tidak pernah kututup:

Roan,

Tulisan di Edaran 0417 itu punyaku.

Aku di Desa Marrow, Distrik Perbatasan Timur. Aku menjual tinta.

Kalau kau datang dan tidak mengenaliku, tolong jangan berpura-pura.

— Theo

Aku memandangi empat baris itu untuk waktu yang sangat lama.

Lalu aku melipatnya, dan menyegelnya dengan lilin toko biasa karena aku tidak punya segel, dan menuliskan alamat kantor komandan Ordo Perak di bagian depan.

Kurir berikutnya datang dalam enam hari.

Open Status Window.

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
[ Theo ]
Lv. 95 / 99

Registered Rank : F
Registered Party : —

Party Affiliation (Archived) :
[ ASHEN CROWN ] — Disbanded, Year 822
Members : 5
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Lima.

Aku memandangi angka itu, seperti setiap malam selama tiga tahun.

Lalu, untuk pertama kalinya, aku berkata sesuatu kepadanya yang bukan pertanyaan.

“Enam,” kataku.

Sistem tidak menjawab.

Sistem tidak pernah menjawab.

Tapi malam itu aku tidur delapan jam penuh, dan itu tidak pernah terjadi sejak Menara Vessel.


Bersambung — Bab 18: Berangkat

Jumlah kata: 2.284