Chapter Twenty Eight
Bekas Luka yang Tidak Pernah Terjadi
POV: Theo
KATEDRAL VIRELN — CATATAN MEDIS PRIBADI PENDETA AGUNG
Berkas tidak bernomor. Tidak masuk arsip katedral.PASIEN TANPA NAMA — Tahun 822, bulan 8
Pemeriksaan dilakukan pada seluruh anggota party sepulang dari Menara Vessel.
Empat dari lima: normal dalam batas kelelahan wajar.Subjek kelima: saya tidak dapat mencatat namanya.
Saya menulis kalimat itu dan saya sadar bagaimana bunyinya. Saya tetap menulisnya karena saya tidak punya kalimat lain yang jujur. Saya memeriksa seseorang. Saya ingat memeriksanya. Saya tidak dapat mengingat siapa.
Temuan pada subjek kelima:
— 14 bekas luka, seluruhnya sudah matang (usia lebih dari 2 tahun)
— 1 bekas luka tidak dapat dijelaskanLokasi: punggung, sisi kiri, sepanjang 11 cm.
Jenis: luka tembus.
Usia jaringan: kurang dari 12 jam.Tidak ada catatan cedera semacam itu dalam seluruh riwayat party.
Tidak ada darah pada pakaian subjek.
Subjek menyatakan tidak merasakan apa pun.Saya tidak melaporkan temuan ini kepada siapa pun.
Saya menuliskan alasannya di sini karena saya tidak akan pernah mengatakannya keras-keras: saya takut kalau saya bertanya, saya akan mendapat jawaban.
— S.O.
Ruang bawah Katedral Vireln adalah ruang penyimpanan gandum sebelum jadi ruang penyimpanan mayat, dan sekarang jadi ruang penyimpanan kertas.
Empat puluh ribu lembar.
Roan dan Bhaltair mengangkutnya dalam waktu dua jam empat puluh menit. Bhaltair mengangkat lebih banyak; Roan mengangkat lebih cepat; keduanya menyadari hal itu sekitar kotak keenam dan berhenti bicara sepenuhnya, yang merupakan bentuk paling murni dari persahabatan mereka.
Lyra tiba di ruang bawah jam empat sore, melihat empat puluh ribu lembar kertas, dan berkata:
“Berapa lama.”
“Sampai subuh.”
“Baik.”
Dan dia melepas jubahnya, menggulung lengan bajunya, dan duduk.
Aku tidak pernah mencintai siapa pun sebelum perempuan itu, jadi aku tidak punya pembanding, tapi aku cukup yakin bahwa dua kata itu adalah hal paling romantis yang pernah dikatakan siapa pun kepadaku.
Kami mulai jam empat lewat sepuluh.
Metodenya sederhana, dan Lyra yang menyusunnya dalam empat menit sementara aku masih membaca papan pertama.
“Pisahkan berdasarkan waktu munculnya,” katanya. “Bukan berdasarkan gejala, karena tidak ada gejala. Berdasarkan kapan orang itu berhenti berfungsi.”
“Itu tidak ada di catatan.”
“Ada,” katanya. “Bukan di kolom medis. Di kolom keterangan keluarga.”
Dia membuka satu berkas.
KETERANGAN KELUARGA:
“Dia sedang menjahit. Lalu dia berhenti menjahit.”
Dan berkas berikutnya.
KETERANGAN KELUARGA:
“Sedang makan malam. Sendoknya masih di tangan.”
Dan berikutnya.
KETERANGAN KELUARGA:
“Dia sedang bicara dengan saya. Di tengah kalimat.”
Aku memandangi tiga lembar itu di atas meja panjang.
“Di tengah kalimat,” kataku.
“Ya.”
“Bukan pingsan. Bukan lemas.”
“Berhenti,” kata Lyra.
Aku duduk perlahan.
Dan kepala ini mulai bekerja, dan yang dikerjakannya membuatku ingin berhenti bekerja.
Enam ribu seratus empat belas orang berhenti di tengah kalimat.
Tidak ada gejala. Tidak ada sebab. Tidak ada penularan.
Bukan penyakit.
Kalimat yang tidak diselesaikan.
Seris Ovelle datang ke ruang bawah jam delapan malam.
Dia membawa nampan — roti, air, dan sesuatu yang berbau seperti obat penguat — dan meletakkannya di ujung meja tanpa berkata apa-apa, lalu berdiri di sana memandangi tumpukan kertas kami.
“Berapa yang sudah?”
“Sebelas ribu lembar,” kata Lyra.
“Dalam empat jam?”
“Kami tidak membaca semuanya,” kataku. “Kami membaca kolom keterangan keluarga.”
Aku menyodorkan tiga lembar kepadanya.
Dia membacanya berdiri.
Lalu dia duduk, yang jelas bukan rencananya.
“Aku sudah membaca semua ini,” katanya pelan. “Sembilan belas hari. Aku membaca setiap catatan.”
“Kau membacanya sebagai tabib.”
“Ya.”
“Tabib membaca kolom gejala,” kataku. “Kolom gejala kosong, jadi kau menganggap catatannya kosong.”
Seris Ovelle memandangi tiga lembar kertas itu.
“Arsiparis membaca kolom yang tidak dipakai siapa pun,” kata Lyra, tanpa mengangkat wajah dari pekerjaannya.
Jam sepuluh malam, Seris menyuruhku berdiri.
“Apa?”
“Berdiri. Aku mau memeriksamu.”
“Aku tidak sakit.”
“Kau sudah tujuh jam duduk tanpa minum, tanganmu bergetar, dan kau baru saja salah membaca angka dua kali.” Dia sudah berdiri. “Aku Pendeta Agung dan ini katedralku. Berdiri.”
Lyra mengangkat wajahnya dari kertas dengan ekspresi yang jelas geli, dan aku memutuskan untuk tidak melihat ke arahnya.
Aku berdiri.
Pemeriksaan Seris Ovelle memakan waktu dua menit dua puluh detik pada orang normal.
Aku tahu itu karena aku mengukurnya empat belas kali selama sepuluh tahun, karena aku menyusun jadwal pemulihan party berdasarkan angka itu.
Dia meletakkan dua jari di pergelangan tanganku.
Dan berhenti.
Empat detik.
Delapan.
Dua belas.
Aku menoleh.
Wajah Seris Ovelle kosong.
Bukan bingung. Kosong — seperti seseorang yang sedang mendengarkan sesuatu di ruangan lain dan tidak berani bergerak karena takut suaranya hilang.
“Seris.”
Dia tidak menjawab.
Tangannya bergerak dari pergelangan tanganku ke lengan bawah. Lalu ke siku. Lalu berhenti lagi.
Empat puluh detik.
Satu menit.
“Seris.”
“Diam,” katanya.
Tangannya bergerak ke bahuku. Lalu — tanpa meminta izin, tanpa penjelasan, dengan gerakan tabib yang sudah tiga puluh tahun tidak perlu meminta izin kepada siapa pun — dia memutar bahuku dan menarik kerah jubah kerjaku ke bawah.
Ruang bawah katedral itu sangat sunyi.
Aku merasakan dua jari menyentuh punggungku, sisi kiri.
Dan aku merasakan tangan itu mulai gemetar.
“Berapa panjangnya,” kata Seris Ovelle.
“Apa?”
“Bekas luka di punggungmu. Berapa panjangnya.”
“Aku tidak punya bekas luka di punggungku.”
Hening tiga detik.
“Sebelas sentimeter,” katanya. “Sisi kiri. Luka tembus.”
Aku tidak bisa melihat punggungku sendiri.
Itu terdengar bodoh sekali ketika kutuliskan sekarang, tapi itu adalah pikiran pertama yang muncul di kepalaku dan aku memegangnya seperti orang memegang pegangan tangga.
Aku tidak bisa melihat punggungku sendiri.
Tiga tahun.
Aku mandi di sungai belakang rumah. Aku tidak punya cermin. Aku tidak punya siapa pun.
“Theo,” kata Lyra.
Aku tidak menjawab.
Seris Ovelle melangkah mundur satu langkah, dan lalu satu langkah lagi, dan lalu dia menabrak kursi dan duduk di atasnya tanpa bermaksud duduk.
“Aku sudah melihat bekas luka ini sebelumnya,” katanya.
Aku berbalik.
“Tiga tahun lalu,” katanya. Suaranya sangat pelan dan sangat cepat. “Bulan delapan, tahun delapan dua dua. Aku memeriksa seluruh party sepulang dari Menara Vessel. Empat orang normal.”
Dia mengangkat wajah.
“Dan orang kelima punya bekas luka tembus sebelas sentimeter di punggung sisi kiri, dengan jaringan berusia kurang dari dua belas jam, dari cedera yang tidak pernah tercatat dalam sepuluh tahun riwayat party.”
Roan Ferrant berdiri di ambang pintu ruang bawah.
Aku tidak tahu sejak kapan dia di sana.
“Seris,” katanya.
“Tidak ada darah di pakaiannya,” lanjut Seris, ke arah lantai. “Aku memeriksa pakaiannya. Tidak ada robekan. Tidak ada darah.”
“Seris.”
“Dan aku tidak bisa mencatat namanya,” katanya.
Dia mengangkat wajah, dan matanya basah, dan suaranya masih lembut karena tiga puluh tahun latihan tidak hilang dalam satu malam.
“Aku menulis ‘pasien tanpa nama’ di catatan medis pribadiku,” katanya. “Aku menyimpannya di laci selama tiga tahun. Aku membacanya kembali sekitar dua puluh kali dan setiap kali aku berpikir: aku memeriksa seseorang, dan aku tahu aku memeriksanya, dan aku tidak tahu siapa.”
Dia menatapku.
“Aku tidak bertanya kepada siapa pun,” katanya. “Selama tiga tahun.”
“Kenapa tidak?”
Dan Seris Ovelle mengucapkan sesuatu yang, menurutku, adalah kalimat paling jujur yang diucapkan siapa pun di seluruh perjalanan itu.
“Karena aku takut kalau aku bertanya, aku akan mendapat jawaban.”
Ruang bawah itu sangat sunyi untuk waktu yang lama.
Bhaltair Vorn muncul di belakang Roan, karena Bhaltair Vorn selalu muncul, dan berdiri di sana tanpa berkata apa-apa.
Empat orang di ruang bawah Katedral Vireln.
Dan satu perempuan yang sedang memegang catatan medis berumur tiga tahun tentang seseorang yang tidak bisa dia namai.
“Seris,” kataku.
“Ya.”
“Luka tembus sebelas sentimeter di punggung sisi kiri.”
“Ya.”
“Kalau seseorang menerimanya,” kataku, “dia mati?”
Dia menutup matanya.
“Ya,” katanya. “Kecuali ada healer di sana dalam waktu kurang dari satu menit.”
“Kau ada di sana?”
“Aku tidak ingat menaranya,” katanya. “Aku ingat berangkat. Aku ingat pulang.”
Roan Ferrant, dari ambang pintu, berkata dengan suara yang sangat rata:
“Aku ingat kami kalah.”
Semua orang menoleh.
“Aku menuliskannya malam pertama setelah kami pulang,” kata Roan. “Empat baris. Aku menempelnya di dinding kamar dan tidak menyentuhnya selama tiga tahun.”
Dia menatap Seris.
“’Aku ingat kami kalah. Aku ingat aku mati. Lalu aku ingat kami pulang.’”
Seris Ovelle berdiri sangat cepat.
“Kau juga?”
“Aku juga apa?”
“Kau juga menuliskannya,” katanya, dan suaranya akhirnya, akhirnya, pecah. “Kau juga menuliskannya dan menyimpannya dan tidak memberitahu siapa pun selama tiga tahun.”
Dan lalu Bhaltair Vorn, dari sudut ruangan, mengucapkan satu kata.
“Ya.”
Tiga orang menoleh kepadanya.
“Aku tidak menulis,” katanya. “Aku tidak bisa menulis dengan baik.”
Dia mengangkat bahu, satu gerakan kecil.
“Aku berdiri di gerbang selama tiga tahun.”
Aku duduk di lantai ruang bawah katedral.
Bukan karena drama. Karena kakiku memberi tahu bahwa ini bukan lagi negosiasi.
Empat orang.
Empat orang yang tidak ingat tiga hari yang sama, yang masing-masing menyimpan satu potongan bukti selama tiga tahun, dan yang tidak satu pun pernah bertanya kepada yang lain — karena bertanya berarti mendapat jawaban.
Dan satu orang kelima, dengan bekas luka sebelas sentimeter di punggung yang tidak pernah dilihatnya sendiri, dari cedera yang tidak pernah terjadi.
“Kita akan membicarakan ini,” kataku.
“Theo—“
“Kita akan membicarakan ini,” kataku lagi, “setelah enam ribu seratus empat belas orang di atas kepala kita berhenti mati.”
Aku berdiri.
Dan aku berjalan kembali ke meja panjang, dan mengangkat satu lembar catatan medis dengan empat baris kosong di tengahnya, dan meletakkannya di depanku.
GEJALA : —
DIAGNOSIS : —
PENYEBAB : —
“Seris,” kataku. “Skill-mu butuh sebab untuk digenggam.”
“Ya.”
Aku mengambil pena dari tangan Lyra.
“Kalau begitu aku akan menulisnya,” kataku.
Bersambung — Bab 29: Sebab Kematian
Jumlah kata: 2.446
- 1 Penjual Tinta
- 2 Garam
- 3 Anak yang Berbohong
- 4 Arsiparis
- 5 Sesuatu yang Tidak Punya Kebiasaan
- 6 Sembilan Peti
- 7 Tulisan Tangan
- 8 Empat Puluh Menit
- 9 Yang Mengenaliku
- 10 Surat yang Salah Alamat
- 11 Silverline
- 12 Tiga Kesalahan
- 13 Hujan
- 14 Empat Halaman
- 15 Tiga Ratus Sepuluh
- 16 Gerbang Utara
- 17 Anggota Keenam
- 18 Berangkat
- 19 Gerbang Ordo
- 20 Peringkat Empat Puluh Tiga
- 21 Komandan
- 22 Ruang Nomor Empat
- 23 Jalan ke Kaldrass
- 24 Seribu Dua Ratus
- 25 Empat Puluh Tiga Wasiat
- 26 Fajar Kedua
- 27 Kota yang Tidak Sakit
- 28 Bekas Luka yang Tidak Pernah Terjadi reading
- 29 Sebab Kematian
- 30 Yang Tidak Bisa Dibalas
- 31 Ratu yang Tidak Bisa Membaca Peta
- 32 Tujuh Belas Menit
- 33 Pasir
- 34 Kota Tanpa Nama
- 35 Delapan Detik
- 36 Lima
- 37 Pulang
- 38 Sarang
- 39 Bagaimana Kau Tahu
- 40 Draf Terakhir
- 41 Kota Selatan
- 42 Tiga Puluh
- 43 Yang Tidak Kuucapkan
- 44 Sembilan Hari
- 45 Evaluasi Kelayakan
- 46 Jendela
- 47 Kalimat Terpanjang
- 48 Menara Vessel
- 49 Yang Kubeli
- 50 Prosesi
- 51 Lima Izin
- 52 Magnum Opus
- 53 EXTRA 01 — Tiga Puluh Satu Menit