← Magnum Opus

Chapter Thirteen

Hujan

POV: Theo


ARSIP GUILD PUSAT — LAMPIRAN 4471-C.13
CATATAN ARSIPARIS — L. Vandell
Tidak diminta oleh siapa pun. Dilampirkan atas inisiatif penyusun.

Malam badai tanggal 14, ruang arsip Cabang Marrow tergenang setinggi delapan sentimeter.

Dari 4.108 dokumen di ruangan itu, 4.101 selamat.

Tujuh dokumen yang hilang adalah lampiran teknis tanpa nilai rujukan.

Saya mencatat di sini bahwa penyelamatan tersebut dilakukan oleh dua orang, dan bahwa hanya satu dari mereka yang tercatat sebagai personel guild.

Saya juga mencatat, tanpa penjelasan lebih lanjut, bahwa jubah kerja saya kering sepanjang malam itu dan saya tidak pernah memintanya.


Anjing-anjing berhenti menggonggong jam empat sore.

Semuanya sekaligus. Aku sedang melabeli botol ketika seluruh desa tiba-tiba kehilangan satu lapis suara yang tidak pernah kau sadari ada sampai ia hilang.

Aku keluar.

Angin dari utara. Berat, basah, dan membawa sesuatu yang bukan bau busuk — lebih tajam dari itu, lebih seperti logam dan tanah yang dibalik.

Nenek Odel berdiri di depan kedainya menghadap utara dengan tangan di pinggang.

“Enam puluh tahun,” katanya. “Aku belum pernah cium yang ini.”

“Kau pernah cium yang mirip?”

“Sekali. Tahun kelaparan besar.” Dia menoleh. “Waktu itu tiga hari sesudahnya hutan turun ke desa.”

“Hutan turun?”

“Semuanya,” katanya. “Rusa, babi, ular. Semuanya lari ke selatan dalam satu malam. Waktu itu tidak ada yang menyerang kami, mereka cuma lewat. Tapi mereka menginjak dua ladang sampai rata.”

Aku memandangi utara.

“Berapa banyak?”

“Aku tujuh tahun waktu itu, Nak. Aku cuma ingat suaranya.”


Badai datang jam sembilan malam.

Bukan hujan biasa. Marrow di musim ini biasanya dapat hujan sore yang sopan, dua jam, lalu selesai. Yang datang malam itu adalah dinding air yang jatuh dari utara dan tidak berhenti.

Aku sudah tidur sekitar setengah jam ketika seseorang menggedor pintuku.

“THEO!”

Lyra basah sepenuhnya. Bukan basah kehujanan — basah seperti orang yang berjalan di sungai. Rambutnya menempel di wajahnya dan dia bahkan tidak mencoba memperbaikinya.

“Ruang arsip,” katanya. “Air masuk.”

“Berapa tinggi?”

“Sudah lima senti waktu saya keluar.”

Aku sudah mengambil jubahku dari paku.


Ruang arsip cabang guild dulunya kandang, dan kandang dibangun dengan lantai lebih rendah dari tanah sekitarnya supaya kotoran bisa dibilas keluar.

Tidak ada yang memikirkan itu ketika mengubahnya jadi arsip.

Air masuk dari sisi utara, di bawah dinding, dalam garis lebar dan tenang yang jauh lebih menakutkan daripada kalau ia menyembur.

Delapan sentimeter. Naik.

Empat ribu dokumen. Dua ratus dua puluh di antaranya sudah diklasifikasi dan disusun di rak bawah, karena rak bawah adalah tempat kau menaruh yang sudah selesai.

“Rak bawah dulu,” kataku.

“Rak bawah yang sudah selesai—“

“Rak bawah yang sudah basah, Lyra. Sekarang.”

Kami bekerja.


Aku tidak akan menuliskan seluruh enam jam itu, karena sebagian besarnya adalah dua orang memindahkan kertas.

Tapi aku akan mencatat beberapa hal.

Yang pertama: Lyra Vandell tidak pernah sekali pun panik.

Aku sudah melihat banyak orang di ruangan yang sedang runtuh. Sebagian besar bergerak lebih cepat daripada yang berguna. Lyra tidak. Dia berhenti selama tiga detik di ambang pintu, membaca ruangan, dan berkata, “819 sampai 822 di rak utara, itu paling berharga. Yang lain duplikat tingkat tiga.”

Lalu dia bekerja dari sana, berurutan, tanpa satu gerakan terbuang.

Aku sudah bekerja dengan lima orang terkuat di benua selama sepuluh tahun. Aku tahu seperti apa bentuknya orang yang berpikir jernih di bawah tekanan.

Ini bentuknya.

Yang kedua: kami menemukan sistem dalam waktu sekitar dua puluh menit tanpa membicarakannya.

Dia menyortir, aku mengangkat. Dia menyebut tahun, aku sudah memegang petinya. Sekitar jam sebelas dia berhenti menyebut tahun sama sekali karena aku sudah bisa membaca ke mana tangannya bergerak.

Jam dua belas, dia menyodorkan setumpuk dokumen ke belakang tanpa menoleh, karena dia tahu tanganku akan ada di sana.

Tanganku ada di sana.

Dia berhenti setengah detik.

Lalu melanjutkan, dan tidak berkata apa-apa, dan aku tidak berkata apa-apa.

Yang ketiga: atap mulai bocor jam satu pagi.


Bocornya di sudut timur laut, tepat di atas meja panjang tempat kami menumpuk dokumen yang sudah diselamatkan.

Delapan ratus lembar. Tumpukan tertinggi malam itu. Termasuk seluruh tahun 819.

Aku melihatnya lebih dulu — satu tetes, lalu tiga, lalu garis.

Tidak ada terpal. Tidak ada kain. Ruangan itu berisi kertas, rak, dan dua orang basah.

Aku melepas jubahku.

Aku membentangkannya di atas tumpukan itu, menekan sudut-sudutnya dengan empat botol tinta kosong dari rak, dan kembali bekerja.

Butuh sekitar empat menit sebelum Lyra menyadarinya.

“Theo.”

“Ya.”

“Jubah Anda.”

“Ya.”

Dia berdiri di tengah ruangan dengan setumpuk dokumen tahun 817 di tangan dan air setinggi sembilan sentimeter di sekitar betisnya, dan menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca sama sekali.

“Kenapa,” katanya, sangat pelan.

“Karena tumpukan itu delapan ratus lembar.”

“Saya tahu berapa lembar. Saya yang menumpuknya.”

“Kalau begitu kau tahu kenapa.”

Dan sesuatu di wajahnya berubah.

Aku masih tidak mengerti apa yang salah. Aku sungguh tidak mengerti — aku menghitungnya, itu keputusan yang benar, delapan ratus dokumen tidak tergantikan dan sebuah jubah bisa dibeli seharga empat koin perak di kota kecamatan.

“Kembalikan,” katanya.

“Apa?”

“Ambil jubah Anda.”

“Kertasnya akan—“

“AMBIL JUBAH ANDA, THEO.”

Suaranya memantul di dinding kandang tua itu.

Aku berdiri di air setinggi sembilan sentimeter, jam satu pagi, basah sampai ke tulang, dan tidak punya satu pun perhitungan yang muat.

“Aku tidak mengerti,” kataku.

“Saya tahu.” Dia mengusap wajahnya dengan lengan yang sama basahnya. “Itu masalahnya. Anda betul-betul tidak mengerti.”

“Lyra—“

“Anda tidak sekali pun berpikir untuk memakainya sendiri.” Dia menunjuk jubah itu. “Bukan ‘berpikir lalu memutuskan tidak’. Anda tidak berpikir. Pilihan itu tidak pernah ada di kepala Anda.”

“Itu cuma jubah.”

“Ya,” katanya. “Dan besok akan cuma sembilan peti. Dan minggu depan akan cuma empat puluh menit di mulut tambang, dan bulan depan akan cuma sesuatu yang lebih besar, dan Anda akan menghitungnya dengan sangat teliti dan hasilnya akan selalu sama, karena Anda tidak pernah memasukkan diri Anda ke dalam perhitungan.

Ruangan itu sangat sunyi kecuali air.

“Saya tidak marah soal jubahnya,” katanya, lebih pelan sekarang. “Saya marah karena saya baru sadar Anda sudah melakukan ini selama sepuluh tahun dan tidak ada satu pun dari lima orang itu yang menghentikan Anda.”

Aku tidak punya jawaban untuk itu.

Aku betul-betul tidak punya, dan aku berdiri di sana cukup lama untuk membuktikannya kepada kami berdua.

Lyra menghela napas. Lalu dia melepas jubah kerjanya sendiri — jubah arsiparis, wol tebal, jauh lebih baik daripada punyaku — dan menaruhnya di atas tumpukan kedua, yang lebih kecil, di ujung lain meja.

“Sekarang seimbang,” katanya. “Sekarang kita berdua bodoh.”

“Itu bukan—“

“Kerja, Theo.”

Kami bekerja.


Jam empat pagi hujannya berhenti seperti seseorang menutup keran.

Kami sudah memindahkan segalanya ke rak atas dan ke ruang depan dan ke atas meja Tuan Belden, yang menurutku merupakan penggunaan terbaik meja itu sejak dibuat.

Air mulai surut jam setengah lima.

Kami duduk di anak tangga ruang arsip, di luar, karena di dalam masih ada air dan di luar ada langit yang mulai kelabu.

Basah. Kedinginan. Terlalu lelah untuk bergerak.

Lyra mengambil jubahku dari tumpukan dan menyodorkannya kepadaku.

“Sudah kering?” kataku.

“Tidak. Sama sekali tidak. Ini basah kuyup dan tidak berguna.” Dia tetap menyodorkannya. “Pakai.”

Aku memakainya.

Kami duduk di sana.

“Tujuh dokumen hilang,” katanya akhirnya. “Saya sudah hitung. Lampiran teknis, duplikat, tidak ada nilai rujukan.”

“Empat ribu seratus satu selamat.”

“Ya.”

“Itu sembilan puluh sembilan koma delapan tiga persen.”

Dia menoleh perlahan.

“Anda menghitung persentasenya.”

“Ya.”

“Kapan?”

“Barusan.”

“Anda menghitung persentase penyelamatan arsip sambil duduk di tangga jam setengah lima pagi setelah enam jam mengangkat kertas.”

“Ya.”

Lyra Vandell mulai tertawa.

Bukan tawa sopan. Tawa yang keluar dari orang yang terlalu lelah untuk mengatur wajahnya, yang membuatnya membungkuk ke depan dan menutup mata dan mengeluarkan bunyi yang sama sekali tidak anggun.

Aku duduk di sebelahnya dan tidak mengerti apa yang lucu, dan setelah sekitar sepuluh detik aku menyadari bahwa aku juga tertawa.

Langit di atas Marrow berubah dari kelabu jadi keperakan.

“Theo.”

“Ya.”

“Sembilan puluh sembilan koma delapan tiga,” katanya. “Itu limbah nol koma satu tujuh.”

Aku berhenti tertawa.

“Lebih baik dari sembilan puluh enam raid Ashen Crown,” katanya, tanpa menoleh, sangat pelan. “Saya cuma ingin mencatat itu.”


Aku pulang jam lima pagi.

Seratus delapan puluh dua langkah, dan aku menghitungnya, dan aku salah dua kali karena kepalaku sedang sibuk dengan hal lain.

Aku berdiri di depan pintuku dan tidak langsung masuk.

Angin sudah berganti arah. Setelah badai selalu begitu — udara jadi bersih, tajam, dan kau bisa mencium apa yang ada di baliknya.

Aku menghadap utara dan menarik napas.

Bau itu masih ada.

Lebih kuat.

Dan sekarang, setelah dua puluh jam angin utara dan dinding air yang jatuh selama tujuh jam di hutan yang tanahnya sudah jenuh, aku tahu persis apa artinya.

Aku masuk ke dalam, dan aku tidak tidur.

Aku menyalakan lilin dan mengeluarkan kertas dan mulai menulis, dan jam sembilan pagi aku sudah punya empat halaman.

Halaman pertama: catatan migrasi hewan Distrik Perbatasan Timur, tahun 815 sampai 822. Aku hafal sebagian besarnya karena aku membacanya semalam suntuk tiga minggu lalu, sambil menyortir peti keempat.

Halaman kedua: curah hujan. Data cabang Marrow, delapan tahun.

Halaman ketiga: perhitungan.

Halaman keempat, satu paragraf, di bagian paling atas, ditulis dari kanan ke kiri:

Hutan utara akan turun ke Marrow dalam waktu antara empat puluh dan enam puluh jam. Jumlah perkiraan: dua ratus sampai empat ratus. Mereka tidak menyerang. Mereka lari. Yang membunuh bukan taringnya — kakinya.

Desa ini punya pagar setinggi satu meter dua puluh di sisi utara.

Itu tidak cukup.

Aku memandangi empat halaman itu.

Lalu aku memakai jubahku yang masih setengah basah, dan berjalan ke cabang guild, dan menyerahkannya kepada seorang laki-laki yang tidak pernah sekali pun dalam tiga tahun membaca sesuatu yang kuberikan.


Bersambung — Bab 14: Empat Halaman

Jumlah kata: 2.264