Chapter Two
Garam
POV: Theo
ARSIP GUILD PUSAT — LAMPIRAN 4471-C.02
KESAKSIAN — Hanne Dural, Pemburu Rank B, Cabang Marrow
Diambil enam hari setelah kejadian.Aku sudah melihat bangkai Chimera sebelumnya. Dua kali. Keduanya berantakan — itulah cara kau membunuh benda seperti itu, kau merusaknya sampai berhenti.
Yang ini tidak rusak.
Tidak ada luka. Tidak ada darah di tanah. Tidak ada tanda perkelahian dalam radius dua puluh langkah. Benda itu hanya berbaring di tengah jalan setapak seperti sesuatu yang duduk lalu memutuskan untuk berhenti.
Aku memeriksa jejak. Ada jejak Chimera datang dari utara. Dan ada satu jejak kaki manusia yang lewat dari selatan ke utara.
Lewat. Bukan berhenti. Jarak antar langkahnya sama rata dari ujung ke ujung, termasuk di titik tempat benda itu jatuh.
Aku menghitung jejak itu tiga kali karena aku tidak percaya. Siapa pun orangnya, dia tidak pernah berhenti berjalan.
Mereka kembali jam empat pagi.
Aku tahu karena aku sudah bangun — hari keempat sebuah batch adalah hari kau tidak menyentuhnya, tapi bukan berarti kau tidak menungguinya — dan bunyi itu terdengar dari jauh sebelum masuk gerbang. Bukan derap enam kuda. Derap tiga.
Aku membuka pintu dan keluar ke jalan tanpa jubah.
Tiga kuda. Dua tandu yang diseret di belakangnya, dibuat dari tombak dan kain tenda, cara paling buruk untuk memindahkan orang terluka dan satu-satunya cara yang tersedia kalau kau kehilangan setengah timmu. Aldric berjalan kaki menuntun kuda paling depan. Baju zirahnya penyok di sisi kanan, dari dada sampai pinggul, satu tekanan besar dan tunggal.
Desa bangun dalam waktu kurang dari dua menit. Marrow selalu begitu. Tidak ada yang bertanya apa-apa; orang-orang hanya keluar sambil membawa apa yang ada di tangan mereka — lentera, kain, air, satu bilah pisau dapur yang tidak akan berguna untuk apa pun.
“Mundur,” kata Aldric. Suaranya sudah habis. “Beri jalan. Ada healer di desa ini?”
Tidak ada.
Nenek Odel membuka pintu kedainya dan berteriak agar tandu dibawa masuk ke sana karena lantainya bersih dan tungkunya menyala, dan itu keputusan terbaik yang dibuat siapa pun malam itu.
Aku ikut mengangkat.
Tidak ada yang menyuruhku dan tidak ada yang menghentikanku. Aku memegang ujung salah satu tandu dan itu terasa lebih ringan dari yang seharusnya, dan aku sengaja melangkah lebih pelan agar tidak terlihat.
Orang di tandu itu adalah healer mereka. Perempuan, mungkin dua puluh dua tahun, wajahnya kelabu. Kaki kanannya salah bentuk mulai dari lutut.
Yang di tandu kedua adalah tank mereka. Dia sudah tidak perlu ditandu lagi.
Aku menghitung sambil berjalan, karena kepalaku tidak pernah bertanya izin.
Zirah Aldric penyok satu kali, sisi kanan, dari luar ke dalam. Berarti dia yang menerima serangan yang seharusnya diterima tank. Berarti tank-nya sudah jatuh lebih dulu.
Perisai menara. Sudah kubilang.
Kaki healer patah di dua tempat, jenis patahan memutar. Itu bukan dari pukulan. Itu dari terseret. Berarti formasi mereka pecah dan dia terputus di belakang — persis di posisi keempat yang terlalu depan itu.
Empat orang selamat dari enam. Sebenarnya itu hasil yang bagus. Sangat bagus, untuk formasi seburuk itu.
Aku meletakkan ujung tandu di lantai kedai Nenek Odel dan mundur ke dinding, dan berdiri di sana seperti perabot.
Ranger mereka duduk di lantai dengan punggung ke tungku, memandang ke satu titik di udara.
“Sebelas menit,” katanya, entah kepada siapa. “Kami bertahan sebelas menit. Lalu aku meleset.”
Aku tidak bergerak.
“Aku tidak pernah meleset.”
Salah satu rekannya menyentuh bahunya dan berkata sesuatu yang lembut dan tidak berguna.
Aku menatap lantai kayu Nenek Odel dan menghitung papannya. Ada tiga puluh empat.
Menjelang subuh keadaan sudah cukup tenang untuk berubah menjadi pekerjaan.
Kaki healer itu perlu dibelat. Nenek Odel punya kayu, tapi tidak punya cara menahan pembengkakan sampai tabib dari kota kecamatan datang — dua hari perjalanan, kalau kudanya bagus.
Aku pergi mengambil garamku.
Sekantong penuh, yang kubeli kemarin sore dan belum kusentuh sama sekali. Garam bukan obat. Tapi garam yang dilarutkan pekat dan dibalut kain bisa menahan bengkak cukup lama, dan itu satu-satunya hal yang tersedia dalam radius dua hari perjalanan, dan aku tahu itu karena aku sudah pernah melakukannya untuk orang lain, di tempat lain, sangat lama sekali.
Nenek Odel memandangi kantong itu.
“Itu garam bulananmu.”
“Aku bisa beli lagi.”
“Toko tutup sampai lusa, Nak.”
“Kalau begitu aku akan makan tanpa garam sampai lusa.”
Dia mengambil kantong itu dari tanganku dengan cara yang mengatakan dia sedang marah padaku dan tidak tahu kenapa.
“Kau ini,” katanya, “orang aneh.”
“Kau sudah bilang itu kemarin.”
“Aku akan bilang lagi besok.”
Dan itu — anehnya — adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa lebih baik sepanjang pagi itu.
Aldric menemukanku di luar, saat matahari sudah naik.
Aku sedang duduk di anak tangga depan tokoku, tidak melakukan apa-apa, yang belakangan ini adalah kegiatan yang cukup sering kulakukan. Dia berdiri di jalan tanpa zirahnya, dan tanpa zirah dia terlihat persis seperti apa adanya: laki-laki dua puluh empat tahun yang baru kehilangan dua orang untuk pertama kalinya.
“Kau yang mengangkat tandu.”
“Ya.”
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Dia berdiri di sana. Aku menunggu, karena orang yang berdiri seperti itu biasanya belum selesai.
“Benda itu tidak mati,” katanya akhirnya. “Kami membuatnya mundur. Itu saja. Dia masih di hutan utara, dan dia sudah tahu jalan ke sini sekarang.”
“Kau akan kembali ke sana?”
“Besok. Kalau bisa berdiri.” Dia mengusap wajahnya. “Guild kecamatan akan kirim orang dalam empat hari. Empat hari terlalu lama.”
“Ya,” kataku. “Terlalu lama.”
Dia menatapku. Untuk pertama kalinya sejak kemarin, benar-benar menatap — dan aku bisa melihat pikirannya bergerak, mencari sesuatu di wajahku, tidak menemukan apa-apa, lalu menyerah.
“Kau tidak takut,” katanya. Bukan pertanyaan. Nadanya heran.
“Aku sudah tua.”
“Kau tidak setua itu.”
“Rasanya begitu.”
Dia mendengus, hampir tertawa, lalu berjalan pergi dengan langkah yang jelas menyakitinya di sisi kanan.
Aku duduk di anak tangga itu cukup lama setelah dia hilang di tikungan.
Empat hari, kata kepalaku.
Aku sudah bilang pada diriku sendiri bahwa ini bukan urusanku. Aku bilang itu kemarin malam, di tengah jalan setapak, sambil mendengarkan hutan yang menahan napas. Aku bilang itu lagi pagi ini sambil menghitung papan lantai.
Masalahnya, aku tidak pernah pandai membohongi diri sendiri. Terlalu banyak menghitung. Angka tidak bisa dibujuk.
Aku masuk, mengambil satu botol tinta gagal dari rak, dan keluar lagi.
Malamnya aku bilang pada Nenek Odel bahwa aku pergi mengambil garam dari gudang pos, di ujung utara desa.
Itu setengah benar. Gudang pos memang ada garam. Gudang pos juga ada di ujung jalan setapak yang menuju hutan utara, dan aku tahu itu, dan aku memilih kalimat itu karena kalimat itu tidak mengharuskanku berbohong.
“Sendirian? Malam-malam?”
“Seratus delapan puluh dua langkah ke gudang.”
“Kau menghitung jarak ke gudang.”
“Aku menghitung jarak ke mana-mana.”
Dia mengibaskan tangannya ke arahku, yang berarti pergi sana, yang berarti hati-hati.
Jalan setapak itu dingin. Bulan cukup. Aku berjalan dengan kecepatan yang sama seperti biasa, karena berjalan lebih cepat tidak membuat apa pun lebih cepat selesai, dan sepanjang jalan aku memegang botol tinta gagal itu di tangan kiri dengan tutup yang sudah kulonggarkan.
Hutan utara masih diam.
Lalu, di langkah keseratus tiga puluh, hutan itu berhenti diam.
Aku tidak berhenti berjalan.
Benda itu keluar dari sisi kanan jalan.
Ia lebih besar dari kuda dan bergerak dengan cara yang salah — bukan lari lurus, tapi berbelok di tengah lari, tiga kali, cepat, seperti sesuatu yang tidak setuju dengan bentuk tubuhnya sendiri. Aku bisa melihat kenapa perisai menara jadi peti mati. Kau tidak bisa memasang dinding di depan sesuatu yang tidak berniat berjalan lurus.
Aku menuang tinta dari botol di tangan kiriku.
Bukan gerakan besar. Hanya membalik pergelangan tangan, dan cairan hitam itu jatuh ke udara dan tidak sampai ke tanah.
[ Marginalia ] — dua entri. Straight Line, Lv. 2. Skill tukang kayu untuk menandai papan. Negate, Lv. 4. Skill pelayan kuil untuk memadamkan lilin tanpa asap.
Dua skill sampah. Kusalin sembilan tahun lalu dari dua orang yang tidak pernah tahu namaku.
[ Fusion Magic ].
Tinta itu memanjang.
Satu garis hitam, setinggi dada, membentang dari sisi kiri jalan ke sisi kanan. Tidak menyala. Tidak berdengung. Hanya sebuah garis, lurus sempurna, seperti seseorang menarik pena di atas kertas dan kebetulan kertasnya adalah malam.
Chimera itu menabraknya di kecepatan penuh.
[ Strikethrough ]
Tidak ada ledakan. Tidak ada bunyi. Benda itu tidak terpotong, tidak terbakar, tidak terlempar.
Ia hanya berhenti dihitung.
Otot-otot di kaki depannya berhenti menerima perintah, karena perintah itu sekarang dicoret. Paru-parunya berhenti dianggap sebagai paru-paru. Jantungnya masih di sana, utuh, sempurna, dan tidak lagi berlaku.
Momentumnya membawanya maju empat langkah lagi, lalu ia menekuk, lalu ia berbaring di tengah jalan setapak seperti sesuatu yang duduk dan memutuskan untuk berhenti.
Aku melewatinya.
Aku tidak melihat ke bawah. Bukan karena kejam — karena tidak ada yang perlu dilihat. Aku sudah tahu hasilnya sebelum garis itu selesai terbentuk. Melihat hanya akan membuang waktu, dan gudang pos masih lima puluh dua langkah lagi.
Tujuh detik. Dari botol dimiringkan sampai aku melewatinya.
Aku menghitung itu juga, karena tentu saja aku menghitungnya.
Aku pulang jam setengah dua belas dengan sekantong garam.
Nenek Odel sudah tidur. Kedai gelap. Aku menaruh kantong itu di depan pintunya, di tempat yang tidak akan basah kalau embun turun, lalu berjalan pulang.
Seratus delapan puluh dua langkah.
Di dalam rumah, aku menyalakan satu lilin dan duduk di meja kerja. Kertas-kertas masih di sana. Draf jimat pengusir tikus untuk keluarga Harn, delapan koin tembaga, belum kusentuh.
Tanganku kiri masih ada sisa tinta.
Aku memandanginya cukup lama.
Sebuah kotak kecil berkedip di sudut penglihatanku, biru pucat, seperti selalu.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
[ Fusion Record Updated ]
Entry #618
Name : Strikethrough
Recipe : Straight Line (Lv.2) + Negate (Lv.4)
Tier : GOD
Witnesses : 0
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Witnesses: 0.
Sistem ini selalu mencatat bagian itu, dan aku tidak pernah tahu kenapa. Dari enam ratus delapan belas entri, tidak ada satu pun yang angkanya lebih dari lima.
Aku menutup jendela status, meniup lilinnya, dan pergi tidur.
Besok pagi Hanne kembali dari utara. Besok siang seseorang akan menemukan bangkai itu. Besok sore seluruh desa akan bicara tentang keberuntungan, atau tentang penyakit, atau tentang dewa.
Dan aku akan mengaduk batch baru. Dua puluh tujuh kali searah, sembilan kali berlawanan.
Itu urusanku.
Bersambung — Bab 3: Anak yang Berbohong
Jumlah kata: 2.184
- 1 Penjual Tinta
- 2 Garam reading
- 3 Anak yang Berbohong
- 4 Arsiparis
- 5 Sesuatu yang Tidak Punya Kebiasaan
- 6 Sembilan Peti
- 7 Tulisan Tangan
- 8 Empat Puluh Menit
- 9 Yang Mengenaliku
- 10 Surat yang Salah Alamat
- 11 Silverline
- 12 Tiga Kesalahan
- 13 Hujan
- 14 Empat Halaman
- 15 Tiga Ratus Sepuluh
- 16 Gerbang Utara
- 17 Anggota Keenam
- 18 Berangkat
- 19 Gerbang Ordo
- 20 Peringkat Empat Puluh Tiga
- 21 Komandan
- 22 Ruang Nomor Empat
- 23 Jalan ke Kaldrass
- 24 Seribu Dua Ratus
- 25 Empat Puluh Tiga Wasiat
- 26 Fajar Kedua
- 27 Kota yang Tidak Sakit
- 28 Bekas Luka yang Tidak Pernah Terjadi
- 29 Sebab Kematian
- 30 Yang Tidak Bisa Dibalas
- 31 Ratu yang Tidak Bisa Membaca Peta
- 32 Tujuh Belas Menit
- 33 Pasir
- 34 Kota Tanpa Nama
- 35 Delapan Detik
- 36 Lima
- 37 Pulang
- 38 Sarang
- 39 Bagaimana Kau Tahu
- 40 Draf Terakhir
- 41 Kota Selatan
- 42 Tiga Puluh
- 43 Yang Tidak Kuucapkan
- 44 Sembilan Hari
- 45 Evaluasi Kelayakan
- 46 Jendela
- 47 Kalimat Terpanjang
- 48 Menara Vessel
- 49 Yang Kubeli
- 50 Prosesi
- 51 Lima Izin
- 52 Magnum Opus
- 53 EXTRA 01 — Tiga Puluh Satu Menit