← Magnum Opus

Chapter Thirty Nine

Bagaimana Kau Tahu

POV: Theo


GUILD PUSAT — LAPORAN INSIDEN LEMBAH UTARA (LU-01)
Status: DISAHKAN TANPA PERUBAHAN

Personel terlibat:

  1. Roan Ferrant — Rank S — Ordo Perak
  2. Bhaltair Vorn — Rank S
  3. Seris Ovelle — Rank S — Katedral Vireln
  4. Cael Nyx — Rank S
  5. Hanne Dural — Rank B — Cabang Marrow
  6. Theo — Rank F — Cabang Marrow

Peran personel no. 6: koordinasi operasional.


CATATAN PENYUSUN LAPORAN:
Saya diberitahu oleh Guild Kecamatan bahwa personel Rank F tidak memenuhi syarat pencatatan operasional dan bahwa nama tersebut harus dihapus.

Saya menolak.

Saya menolak dua kali secara lisan dan satu kali secara tertulis, dan pada penolakan ketiga saya menyertakan pernyataan bahwa apabila nama tersebut dihapus, saya akan menarik seluruh laporan ini dan menolak menandatangani versi apa pun.

Laporan ini disahkan tanpa perubahan pada tanggal 121.

Saya lampirkan juga daftar dua puluh tiga orang dari empat party sebelumnya yang tidak kembali dari lembah tersebut. Guild Kecamatan tidak pernah menyusun daftar itu. Saya menyusunnya sendiri.
Aldric Vane, Rank A, ketua party Silverline


Aku menyusun selama sembilan belas detik.

Itu terdengar cepat. Itu tidak cepat — sembilan belas detik adalah waktu yang sangat lama ketika ada tiga orang berjalan di antara empat puluh satu Anomali, dan aku ingin mencatat bahwa aku merasakan setiap satu dari sembilan belas detik itu.

Empat puluh satu Anomali. Tersusun dalam pola cincin, tiga lapis.

Tidak ada satu pun yang bergerak ke arah tiga orang di tengah.

Aku menurunkan teropong.

Dan aku mengucapkan hal yang membuat lima orang di punggungan itu menoleh sekaligus.

“Mereka tidak menyerang.”

“Apa?”

“Empat puluh satu Anomali,” kataku. “Tiga manusia di tengahnya. Tidak ada yang bergerak.”

Roan Ferrant sudah setengah turun ke lembah. Dia berhenti.

“Kalau mereka tidak menyerang,” katanya, “kenapa tiga orang mati?”

“Karena mereka menyerang tadi,” kataku.

Dan begitu aku mengucapkannya, seluruhnya terbuka, dan aku berharap tidak.

“Mereka berhenti,” kataku. “Bukan mundur. Berhenti. Setelah mendapatkan sesuatu.”

“Mendapatkan apa?”

Aku memandangi lembah itu.

Empat puluh satu Anomali dalam pola cincin tiga lapis, mengelilingi tiga orang yang masih hidup dan tiga yang tidak, dan tidak satu pun bergerak.

“Aku tidak tahu,” kataku. “Dan itu jauh lebih buruk.”


Kami turun dalam formasi yang kususun dalam sembilan belas detik itu.

Bhaltair di depan — bukan di tengah cincin, tapi di celah antara lapis kedua dan ketiga di sisi barat, di titik di mana jarak antar Anomali paling lebar.

Roan di belakangnya, tidak menyerang, karena aku melarangnya menyerang.

“Kau melarangku menyerang.”

“Selama empat menit,” kataku. “Aku butuh empat menit untuk tahu apakah mereka akan bergerak.”

“Kalau mereka bergerak?”

“Kalau mereka bergerak, kau boleh menyerang, dan kita semua akan mati,” kataku. “Jadi mari kita berharap mereka tidak bergerak.”

Cael Nyx, di sebelahku, mengeluarkan bunyi.

“Aku merindukan pengarahan pagimu,” katanya.

“Kau tidak merindukannya.”

“Tidak,” katanya. “Tapi aku merindukan bahwa aku pernah membencinya.”


Kami masuk ke dalam cincin.

Aku ingin menuliskan berapa lama itu berlangsung dan aku tidak bisa, karena aku tidak menghitungnya, karena kepalaku sedang penuh.

Empat puluh satu Anomali.

Kami berjalan di antara mereka pada jarak antara empat dan sembilan meter.

Tidak satu pun bergerak.

Dan pada suatu titik — sekitar setengah jalan, di antara lapis kedua dan pertama — aku menyadari kenapa mereka tidak bergerak, dan aku hampir berhenti berjalan.

Mereka semua menghadap ke satu arah.

Bukan ke tengah cincin.

Ke selatan.

Ke arah Desa Marrow.

Empat puluh satu makhluk tanpa pola, tanpa titik depan, tanpa arah pandang — dan setiap satu dari mereka menghadap ke arah yang sama, dan arah itu adalah arah rumahku.

Aku terus berjalan, karena berhenti tidak akan membantu siapa pun, dan karena Aldric Vane ada dua puluh meter di depan.


Aldric Vane menyeret dua orang.

Yang ketiga sudah dibawa ranger-nya, dan ranger-nya sudah tidak bisa berjalan lurus, dan anak berumur tujuh belas tahun itu berjalan di belakang mereka sambil memegang pedang dengan dua tangan dan menangis tanpa suara.

Dia melihat kami.

Dia melihat Bhaltair Vorn keluar dari celah lapis kedua dengan perisai di punggung.

Dan Aldric Vane melepaskan kedua orang yang dia seret, dan berlutut di tanah lembah, dan tidak bergerak.


Kami keluar dari lembah dalam waktu satu jam empat puluh menit.

Tidak ada satu pun Anomali yang bergerak.

Seris Ovelle bekerja di punggungan selama enam jam.

Tiga orang selamat: Aldric, ranger-nya, dan anak berumur tujuh belas tahun bernama Ovin Kase yang tidak berbicara sama sekali selama dua hari sesudahnya.

Tiga tidak.

[ Grace Unending ] tidak berhasil pada ketiganya, dan Seris memeriksa mereka empat kali sebelum menerimanya, dan aku menonton perempuan itu memeriksa mayat yang sama empat kali dan tidak menghentikannya karena ada hal-hal yang harus dilakukan orang sampai selesai.

“Tidak ada sebab,” katanya, akhirnya.

Aku menutup mataku.

“Sama seperti Vireln?”

“Tidak,” katanya. “Di Vireln tidak ada sebab yang tertulis. Di sini—“

Dia berhenti.

“Di sini ada sebab,” katanya. “Aku bisa merasakannya. Aku bisa menyentuhnya.”

“Lalu kenapa gagal?”

Seris Ovelle mengangkat wajah, dan wajahnya adalah wajah yang belum pernah kulihat pada perempuan itu dalam sepuluh tahun.

“Karena sebabnya sudah dipakai,” katanya.


Aldric Vane berbicara pada malam hari.

Kami berkemah di punggungan, karena tidak ada satu pun dari kami yang bersedia menempuh tiga puluh satu kilometer dalam gelap dengan tiga orang terluka.

Dia duduk di sebelah api dengan selimut di bahunya dan tangan kanan yang tidak berhenti gemetar, dan dia mulai bicara tanpa ditanya.

“Kami masuk jam enam pagi.”

Tidak ada yang menyela.

“Formasi baji, sayap kiri diperpendek dua orang.” Dia menatap api. “Rotasi cooldown ditetapkan sebelum masuk. Tidak ada perintah lisan.”

Aku merasakan sesuatu turun di dadaku.

“Kami bertahan dua puluh dua menit,” katanya. “Aku sudah memperkirakan tujuh.”

Dia mengangkat wajah, dan matanya menemukan aku di seberang api.

“Dua puluh dua menit,” katanya lagi. “Karena tiga hal yang kau sebutkan kepadaku di alun-alun tiga bulan lalu, dan satu hal yang kau sebutkan di depan tokomu sebelum aku pergi.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Dua orangku hidup karena kalimat yang kau ucapkan sambil membungkus tinta,” katanya.

Dan lalu Aldric Vane menutup wajahnya dengan tangan yang tidak gemetar dan menangis di depan sembilan orang, dan tidak seorang pun berpura-pura tidak melihat, karena itu akan lebih buruk.


Dia bertanya pertanyaannya jam dua pagi.

Semua orang sudah tidur kecuali Cael, yang tidak pernah tidur, dan aku, yang sedang menggambar peta lembah itu di tanah dengan ranting karena kepalaku tidak mau berhenti.

Aldric Vane duduk di seberang api.

“Theo.”

“Ya.”

“Bagaimana kau tahu?”

Aku berhenti menggambar.

“Tahu apa?”

“Semuanya,” katanya. “Sayap kiri. Cooldown. Empat party sebelumnya. Jumlah hari perjalanan yang kubohongi.” Suaranya sangat rata. “Empat puluh satu Anomali yang tidak akan menyerang.”

“Aku tidak tahu mereka tidak akan menyerang,” kataku. “Aku menghitung bahwa mereka belum bergerak selama sembilan belas detik pengamatan, dan bahwa sembilan belas detik adalah data yang buruk, dan bahwa data yang buruk lebih baik daripada tidak ada.”

“Itu bukan jawaban.”

“Itu jawaban yang jujur.”

“Theo.” Dia mencondongkan badan ke depan. “Aku sudah tiga bulan mencoba melakukan yang kau lakukan. Aku menghitung. Aku benar-benar menghitung, setiap hari, sampai kepalaku sakit. Aku menghitung kecepatan pertumbuhan Anomali dan aku benar. Aku menghitung waktu perjalanan dan aku benar.”

Dia mengangkat tangannya.

“Dan kau melihatku selama empat menit di kedai dan tahu bahwa aku berbohong soal tiga hari.”

Api itu berderak.

“Bagaimana kau tahu,” katanya lagi.

Dan aku duduk di punggungan Lembah Utara jam dua pagi dan menyadari bahwa aku tidak punya jawaban, dan bahwa aku tidak pernah punya jawaban, dan bahwa dua puluh dua tahun tidak memberiku satu pun kalimat yang muat.

“Aku tidak tahu,” kataku.

“Jangan—“

“Aku tidak tahu, Aldric,” kataku. “Aku sungguh tidak tahu. Kepalaku menghitung. Ia sudah begitu sejak aku umur sembilan tahun. Aku tidak menyalakannya dan aku tidak bisa mematikannya, dan aku tidak bisa mengajarkannya, dan aku sudah mencoba.”

“Kau sudah mencoba?”

“Sepuluh tahun,” kataku. “Dengan lima orang yang mempercayaiku sepenuhnya dan yang mau melakukan apa pun yang kuminta.” Aku memandangi peta di tanah. “Tidak satu pun dari mereka bisa melakukannya. Bukan karena mereka kurang pintar. Karena tidak ada yang bisa diajarkan.”

Aldric Vane memandangi api.

“Kalau begitu apa gunanya,” katanya.

“Apa?”

“Apa gunanya aku menghitung,” katanya, dan suaranya pecah. “Kalau ada orang seperti kau, dan aku tidak akan pernah—“

“Aldric.”

Dia berhenti.

“Kau bertahan dua puluh dua menit,” kataku. “Aku memperkirakan sebelas.”

Dia mengangkat wajah.

“Aku menghitungnya di punggungan sebelum kami turun,” kataku. “Enam orang rank A, formasi baji, empat puluh satu Anomali, medan cekung. Sebelas menit sebelum formasi pecah.”

Aku menatapnya.

“Kau bertahan dua puluh dua,” kataku. “Dua kali lipat dari perhitunganku. Dan tiga orangmu hidup karena sebelas menit tambahan itu.”

“Karena kau memberitahuku tiga hal—“

“Aku memberitahumu tiga hal,” kataku. “Kau melatihnya selama tiga bulan dengan enam orang yang berbeda di medan yang berbeda sampai mereka bisa melakukannya tanpa perintah.”

Aku meletakkan rantingku.

“Aku menghitung,” kataku. “Kau membangun. Itu bukan hal yang sama, dan yang kedua tidak lebih rendah.”


Aldric Vane menulis laporannya di Marrow, empat hari kemudian, di meja ruang arsip cabang guild, dengan Lyra Vandell duduk di seberangnya menyediakan dokumen pendukung.

Butuh sebelas jam.

Guild Kecamatan menolaknya dua kali.

Dia mengirimnya ulang dua kali.

Dan pada penolakan ketiga, dia menulis pernyataan bahwa apabila nama personel keenam dihapus, dia akan menarik seluruh laporan dan menolak menandatangani versi apa pun — yang, dalam sistem guild, berarti tidak akan ada catatan resmi sama sekali tentang apa yang terjadi di Lembah Utara, dan berarti dua puluh tiga orang dari empat party sebelumnya akan tetap tercatat sebagai “gagal memperoleh sampel”.

Guild Pusat mengesahkannya tanpa perubahan pada tanggal seratus dua puluh satu.

Lyra membawa salinannya ke rumahku malam itu.

Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya meletakkannya di meja kerjaku, di sebelah lilin, dan berdiri di sana.

Aku membacanya.

Baris keenam.

6. Theo — Rank F — Cabang Marrow
Peran: koordinasi operasional

Aku membacanya sekitar dua puluh kali.

“Ini laporan operasional resmi pertama,” kata Lyra, akhirnya, “dalam dua puluh dua tahun, yang mencantumkan namamu sebagai personel.”

“Ya.”

“Bukan sebagai aset tidak dikenal. Bukan sebagai catatan pinggir.” Suaranya bergetar sedikit dan dia jelas membencinya. “Sebagai orang yang ada di sana.”

Aku memandangi kertas itu.

Dan aku menyadari bahwa aku tidak bisa membaca baris ketujuh, karena mataku tidak bekerja dengan benar.

“Lyra.”

“Hm.”

“Aku menulis wasiat lima orang,” kataku, “dan tidak pernah menulis punyaku sendiri.”

Dia berlutut di sebelah kursiku.

“Kenapa tidak?”

“Karena wasiat butuh saksi,” kataku, “dan tiga tahun lalu aku tidak punya satu pun.”


━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
[ Official Record — First Instance ]

Document : LU-01, Guild Pusat
Designation : Theo (Rank F)
Status : PERSONNEL

Note : First operational record in registry
history bearing this designation.

Witnesses : 9
Cumulative : 6.083
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Aku memandangi kotak itu untuk waktu yang sangat lama.

Lalu aku membuka laci, dan mengeluarkan selembar kertas bagus, dan menulis empat baris di atasnya dari kanan ke kiri.

Wasiatku sendiri.

Aku menandatanganinya.

Lyra Vandell menjadi saksinya, jam satu pagi, di rumah kayu satu ruangan di Desa Marrow, tiga puluh dua hari sebelum langit di atas benua ini terbelah.


Bersambung — Bab 40: Draf Terakhir

Jumlah kata: 2.487