Chapter Twenty Five
Empat Puluh Tiga Wasiat
POV: Theo
ARSIP GUILD PUSAT — LAMPIRAN 4471-C.25
DOKUMEN: Berkas Wasiat Garnisun Kaldrass
Disusun: malam tanggal 48, antara jam 23.40 dan 05.10.
Jumlah: 43 dokumen
Pencatat: L. Vandell (Arsiparis, Cabang Marrow) — hadir di lokasi, tidak dijelaskan bagaimana
Saksi tanda tangan: Theo (Rank F)Catatan penyusun: Empat puluh tiga wasiat dibuat malam itu. Tiga puluh sembilan tidak pernah perlu dieksekusi.
Empat sisanya sudah dikirimkan kepada keluarga masing-masing beserta surat pengantar yang saya tulis sendiri.
Saya menolak permintaan Kementerian Perbatasan untuk memperingkas surat-surat itu.
Lyra sampai di gerbang barat empat puluh menit setelah aku.
Aku tidak tahu itu sampai dia sudah berdiri di halaman dalam benteng dengan kotak arsip di kedua tangan dan wajah yang jelas mengatakan jangan mulai.
Aku mulai.
“Kau tidak seharusnya—“
“Blok dua sampai empat semuanya ada di sisi selatan,” katanya. “Koridor barat kosong sepanjang tiga ratus meter. Aku menghitungnya sendiri dari punggungan selama empat puluh menit sambil menghitung waktumu. Aku tahu persis kapan jalur itu aman dan berapa lama.”
“Kau—“
“Aku memakai perhitunganmu, Theo,” katanya. “Kalau perhitunganmu benar untuk kau, dia benar untuk aku.”
Dan tidak ada satu pun kalimat di dunia ini yang bisa kujawab untuk itu.
Roan datang lima menit kemudian dengan enam pengawal dan Ferran Deyl, karena begitu Lyra bergerak, tidak ada satu pun dari mereka yang bersedia tetap di punggungan.
Delapan orang, satu arsiparis, dan seorang penjual tinta masuk ke Benteng Kaldrass pada malam kelima pengepungan.
Dan garnisun yang tersisa — tiga puluh sembilan orang, bukan empat puluh, karena satu meninggal sore itu — berdiri di halaman dan memandangi kami seperti orang memandangi cuaca yang tidak masuk akal.
Bhaltair tidak meninggalkan celah barat.
Dia berjalan mundur enam langkah dan duduk di puing, dengan perisai masih dalam jangkauan tangan, menghadap ke luar.
Itu sejauh yang bisa dia lakukan.
Aku duduk di sebelahnya. Bukan di sudut mati kali ini — di sebelah, sejajar, seperti dua orang di bangku.
Kami tidak bicara selama sekitar sepuluh menit.
“Aku tidak kenal wajahmu,” katanya akhirnya.
“Aku tahu.”
“Aku kenal tempatmu berdiri.”
Aku memandangi tanah.
“Sepuluh tahun aku merasa ada yang berdiri di situ,” katanya. “Tiga tahun terakhir tidak ada.”
Dia mengucapkan itu dalam empat kalimat pendek, dengan jeda panjang di antaranya, karena Bhaltair Vorn selalu bicara seperti orang yang membayar per kata.
“Enam hari,” kataku.
“Ya.”
“Kau tahu [ Immovable Dawn ] punya batas dua puluh dua menit.”
“Dua puluh empat.”
“Dua puluh dua,” kataku. “Dua puluh empat itu di kondisi terbaik, dengan mana penuh, setelah tidur delapan jam. Aku mengukurnya tujuh belas kali.”
Bhaltair Vorn menoleh untuk pertama kalinya.
“Kau mengukurnya tujuh belas kali.”
“Ya.”
“Kenapa tujuh belas.”
“Karena enam belas belum cukup untuk memastikan variasinya di bawah tiga persen,” kataku.
Dia memandangiku dalam gelap.
Lalu dia berkata, sangat pelan:
“Aku selalu tahu ada yang menghitung.”
Aku menemukan Lyra di aula bawah jam satu pagi.
Aula itu dulunya ruang makan garnisun. Sekarang ada dua puluh delapan orang tidur di lantainya dan sebelas yang tidak bisa tidur, dan Lyra duduk di ujung meja panjang dengan lilin, tinta, dan tumpukan kertas.
Seorang prajurit duduk di seberangnya, berbicara pelan.
Lyra menulis.
Aku berdiri di ambang pintu selama mungkin dua menit sebelum aku mengerti apa yang kulihat.
Aku berjalan mendekat.
“Kau membuat wasiat.”
“Ya.”
“Lyra—“
“Tiga puluh sembilan orang,” katanya, tanpa berhenti menulis. “Enam hari pengepungan. Serangan besok pagi jam enam.” Dia mencelupkan pena. “Tidak satu pun dari mereka punya wasiat tertulis, karena pos ini dicabut anggarannya dua tahun lalu dan tidak ada juru tulis di sini sejak itu.”
Prajurit di seberang meja — dua puluh delapan tahun, lengan kanan dibalut, wajah yang sudah lama tidak tidur — memandangiku.
“Dia bilang dia arsiparis,” katanya.
“Dia arsiparis.”
“Aku belum pernah ketemu arsiparis.”
“Sekarang sudah,” kataku, dan menarik kursi.
Kami mengerjakannya sampai jam lima lewat sepuluh.
Empat puluh tiga wasiat. Tiga puluh sembilan garnisun, dan empat lagi karena Ferran Deyl datang jam tiga pagi dengan lima pengawal Ordo Perak dan berkata, dengan wajah orang yang sudah memutuskan, bahwa mereka juga mau.
Aku menjadi saksi tanda tangan, karena wasiat butuh saksi, dan karena rank F ternyata cukup untuk itu — satu-satunya hal di seluruh sistem guild yang tidak mensyaratkan peringkat.
Aku mencatat itu dengan pahit dan dengan syukur secara bersamaan.
Ini yang kupelajari malam itu, dan yang tidak pernah kupelajari dalam sepuluh tahun bersama lima orang terkuat di benua:
Orang tidak mewariskan hal besar.
Empat puluh tiga wasiat, dan tidak ada satu pun yang menyebut tanah atau uang.
Seorang prajurit mewariskan pisau lipat kepada adiknya, dengan catatan bahwa mata pisaunya sudah miring dan harus diasah dari sisi kiri saja.
Seorang lagi mewariskan hutang. Delapan koin perak kepada seorang perempuan bernama Mira di kota Vench, dan dia meminta Lyra menuliskan dengan tepat bahwa itu hutang, bukan hadiah, karena Mira akan menolaknya kalau disebut hadiah.
Sersan garnisun, laki-laki lima puluhan bernama Duvo, mewariskan resep sup.
Dia mendiktekannya selama sebelas menit. Takarannya. Urutannya. Berapa lama api besar sebelum dikecilkan.
Lyra menuliskan semuanya. Setiap kata. Tanpa sekali pun mengangkat wajah, dan tanpa sekali pun mempersingkat.
Dan ketika laki-laki itu selesai dan bertanya apakah itu terlalu bodoh untuk dimasukkan ke wasiat resmi, Lyra Vandell meletakkan penanya dan berkata:
“Tuan Duvo, saya arsiparis. Pekerjaan saya adalah memastikan hal-hal yang benar-benar terjadi tidak hilang.”
Dia menyerahkan kertas itu untuk ditandatangani.
“Anda memasak sup itu selama dua puluh tahun,” katanya. “Itu benar-benar terjadi.”
Aku menyaksikan tanda tangan yang keempat puluh tiga jam lima lewat sepuluh.
Lalu aku dan Lyra duduk di ujung meja panjang di aula yang penuh orang tidur, dengan empat puluh tiga lembar kertas tersusun di antara kami, dan tidak berkata apa-apa selama beberapa menit.
Tangannya bergetar. Bukan dari takut — dari lima jam memegang pena tanpa berhenti.
“Kau menulis empat puluh tiga dokumen dalam lima setengah jam,” kataku.
“Jangan.”
“Itu tujuh menit empat puluh detik per dokumen, termasuk dikte.”
“Theo, aku bersumpah—“
“Itu lebih cepat dari juru tulis pengadilan,” kataku.
Lyra Vandell menutup wajahnya dengan kedua tangan dan mengeluarkan bunyi yang setengah tawa dan setengah bukan.
“Kau memuji orang dengan menyebutkan angka,” katanya, dari balik tangannya.
“Ya.”
“Kau sadar itu aneh?”
“Ya.”
“Tidak, kau tidak sadar.”
“Aku sadar,” kataku. “Aku cuma tidak punya cara lain.”
Dia menurunkan tangannya.
Dan kami saling memandang di ujung meja panjang, di aula batu Benteng Kaldrass, jam lima lewat lima belas pagi, dengan empat puluh tiga wasiat tersusun di antara kami dan tiga puluh sembilan orang tidur di lantai.
“Aku tahu,” katanya.
“Kau tahu apa?”
“Aku tahu itu carannya,” katanya. “Aku sudah tahu sejak label botol tinta.”
Dia mengambil tumpukan kertas itu dan merapikannya dengan mengetukkan sisinya ke meja, tiga kali, seperti yang dilakukan arsiparis.
“Sembilan puluh sembilan koma delapan tiga persen,” katanya. “Empat detik per diagram. Tujuh belas kali pengukuran. Tujuh menit empat puluh detik per dokumen.”
Dia meletakkan tumpukan itu.
“Kau bilang ‘aku memperhatikanmu’ dalam angka,” katanya, “dan aku bisa membacanya, dan itu—“
Dia berhenti.
“Itu apa,” kataku.
Lyra Vandell tidak menjawab.
Dia hanya menggeser tangannya di atas meja sampai jari-jarinya menyentuh jari-jariku, dan meninggalkannya di sana.
Dan kami duduk seperti itu sampai langit di luar berubah kelabu, tanpa mengatakan apa pun lagi, karena tidak ada satu pun yang tersisa untuk dikatakan yang tidak akan merusaknya.
Bhaltair Vorn menonton dari menara.
Aku baru tahu itu jam enam pagi, saat aku naik untuk melihat perkemahan dan menemukannya berdiri di jendela menara selatan — yang menghadap ke dalam, ke halaman dan aula, bukan ke luar.
Dia melihatku datang dan tidak menoleh.
“Berapa lama kau di sini?” kataku.
“Empat jam.”
“Kau seharusnya tidur.”
“Ya.”
Hening.
“Perempuan itu,” katanya.
“Lyra.”
“Dia menulis empat puluh tiga wasiat.”
“Ya.”
Bhaltair Vorn memandangi halaman di bawahnya.
“Tidak ada yang pernah melakukan itu untuk kami,” katanya.
Aku menoleh.
“Sepuluh tahun,” katanya. “Sembilan puluh enam raid. Kami masuk ke tempat-tempat itu dan tidak ada satu pun dari kami yang punya wasiat.” Dia mengucapkannya dalam kalimat-kalimat pendek dengan jeda panjang, seperti selalu. “Aku tidak pernah memikirkannya sampai malam ini.”
“Aku memikirkannya,” kataku.
Dia menoleh.
“Aku menulis wasiat kalian,” kataku. “Berlima. Tahun 817, setelah Raid 44 waktu Seris hampir tidak keluar. Aku menulisnya sendiri, semuanya, berdasarkan apa yang kutahu tentang kalian.”
“Kami tidak pernah menandatanganinya.”
“Aku tidak pernah menunjukkannya,” kataku. “Kalau aku menunjukkannya, kalian akan berpikir aku memperkirakan kalian mati. Dan orang yang tahu ketuanya memperkirakan dia mati akan bertarung dengan cara yang berbeda.”
Bhaltair Vorn berdiri di jendela menara selatan Benteng Kaldrass untuk waktu yang sangat lama.
“Di mana wasiat itu sekarang,” katanya.
“Di rumahku. Di laci.”
“Kau menyimpannya tiga tahun.”
“Ya.”
Dia menutup matanya.
Dan lalu dia mengucapkan kalimat terpanjang yang pernah kudengar keluar dari mulutnya dalam sepuluh tahun — dan ini bahkan belum kalimat panjangnya yang sebenarnya; itu baru datang besok:
“Kau menyimpan wasiat lima orang yang lupa wajahmu,” katanya. “Selama tiga tahun. Di laci.”
Dia membuka matanya.
“Kau seharusnya membakarnya.”
“Aku tidak membakar arsip,” kataku.
Serangan pertama datang jam enam lewat empat.
Aku sudah berdiri di celah barat sejak jam setengah enam, dengan delapan halaman catatan, Roan Ferrant di sebelah kiriku, dan sebuah rencana yang sudah kuselesaikan jam tiga pagi di antara wasiat kedua puluh dan kedua puluh satu.
“Bhaltair,” kataku.
Dia sudah berdiri di celah, perisai ditancapkan, seperti enam hari terakhir.
“Ya.”
“Aku akan meminta sesuatu yang belum pernah kuminta darimu.”
Dia menunggu.
“Aku akan memintamu mundur,” kataku.
Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Bhaltair Vorn menoleh sepenuhnya, dan aku melihat wajahnya, dan wajah itu adalah wajah orang yang baru saja mendengar sesuatu yang dia tidak percaya boleh didengarnya.
Bersambung — Bab 26: Fajar Kedua
Jumlah kata: 2.463
- 1 Penjual Tinta
- 2 Garam
- 3 Anak yang Berbohong
- 4 Arsiparis
- 5 Sesuatu yang Tidak Punya Kebiasaan
- 6 Sembilan Peti
- 7 Tulisan Tangan
- 8 Empat Puluh Menit
- 9 Yang Mengenaliku
- 10 Surat yang Salah Alamat
- 11 Silverline
- 12 Tiga Kesalahan
- 13 Hujan
- 14 Empat Halaman
- 15 Tiga Ratus Sepuluh
- 16 Gerbang Utara
- 17 Anggota Keenam
- 18 Berangkat
- 19 Gerbang Ordo
- 20 Peringkat Empat Puluh Tiga
- 21 Komandan
- 22 Ruang Nomor Empat
- 23 Jalan ke Kaldrass
- 24 Seribu Dua Ratus
- 25 Empat Puluh Tiga Wasiat reading
- 26 Fajar Kedua
- 27 Kota yang Tidak Sakit
- 28 Bekas Luka yang Tidak Pernah Terjadi
- 29 Sebab Kematian
- 30 Yang Tidak Bisa Dibalas
- 31 Ratu yang Tidak Bisa Membaca Peta
- 32 Tujuh Belas Menit
- 33 Pasir
- 34 Kota Tanpa Nama
- 35 Delapan Detik
- 36 Lima
- 37 Pulang
- 38 Sarang
- 39 Bagaimana Kau Tahu
- 40 Draf Terakhir
- 41 Kota Selatan
- 42 Tiga Puluh
- 43 Yang Tidak Kuucapkan
- 44 Sembilan Hari
- 45 Evaluasi Kelayakan
- 46 Jendela
- 47 Kalimat Terpanjang
- 48 Menara Vessel
- 49 Yang Kubeli
- 50 Prosesi
- 51 Lima Izin
- 52 Magnum Opus
- 53 EXTRA 01 — Tiga Puluh Satu Menit