Chapter Forty Three
Yang Tidak Kuucapkan
POV: Theo
PASUKAN KERAJAAN — LAPORAN AKHIR OPERASI LEMBAH VENCH
Disusun: Komandan Lapangan Harlow Vessend
Panjang: 34 halamanRingkasan kerugian: 31 tewas, 141 luka, 0 hilang.
Ringkasan penyebab kerugian:
Seluruh kerugian dalam operasi ini terjadi antara jam 06.26 dan 07.04 tanggal 131.
Nol kerugian tercatat setelah jam 07.04.
Perbedaan antara kedua periode tersebut bukan taktik, bukan cuaca, dan bukan kekuatan lawan.
Perbedaannya adalah bahwa pada periode pertama, komando lapangan dipegang oleh saya.
Saya menerima sembilan halaman peringatan pada tanggal 130 jam 14.20. Saya membacanya pada tanggal 131 jam 03.00. Saya memahaminya. Saya tetap melaksanakan serangan.
Saya melaksanakannya karena penyusun dokumen tersebut berperingkat guild F, dan karena saya tidak bersedia mencantumkan peringkat tersebut dalam laporan operasi saya.
Tiga puluh satu prajurit di bawah komando saya meninggal karena saya menganggap satu huruf lebih penting daripada sembilan halaman.
Saya melampirkan kesembilan halaman tersebut secara utuh sebagai Lampiran A.
Saya mengajukan pengunduran diri saya bersama laporan ini.
Kami tinggal di Vench selama sembilan hari.
Seris Ovelle bekerja tujuh dari sembilan hari itu, dan pada hari kedelapan Roan Ferrant secara harfiah mengangkatnya dari tenda medis dan membawanya ke tenda tidur sementara dia memprotes seluruh perjalanan dengan suara yang sangat lembut dan sangat marah.
Seratus empat puluh satu orang. Semuanya hidup.
Aku menyusun jadwalnya — siapa lebih dulu, siapa bisa menunggu, kapan Seris harus berhenti sebelas menit supaya tidak jatuh — dan itu adalah pekerjaan yang sama persis dengan yang kulakukan di Katedral Vireln, dan aku melakukannya dengan tangan yang sama, dan aku merasakan sesuatu yang tidak kurasakan di Vireln.
Aku merasa berguna.
Bukan sebagai perancang. Bukan sebagai orang yang menghitung.
Sebagai orang yang membuat daftar.
Dan aku menyadari, sekitar hari keempat, bahwa aku belum pernah merasa begitu dalam dua puluh dua tahun — karena selama dua puluh dua tahun aku selalu menjadi orang yang menyusun hal yang tidak bisa disusun siapa pun, dan tidak sekali pun menjadi orang yang mengerjakan hal yang bisa dikerjakan siapa saja.
Ternyata yang kedua terasa jauh lebih baik.
Aku belum selesai memikirkan kenapa.
Harlow Vessend menulis laporannya selama enam hari.
Aku tidak membantunya. Dia tidak memintanya.
Yang dia minta, pada hari ketiga, adalah satu hal.
“Sembilan halaman Anda.”
“Ya.”
“Saya ingin melampirkannya secara utuh.”
“Ambil.”
“Utuh,” katanya. “Termasuk halaman sembilan.”
Aku memandanginya.
Halaman sembilan berisi satu paragraf. Saya tidak meminta rencana saya dipakai. Saya meminta serangan ditunda tujuh hari.
“Kenapa halaman sembilan?”
“Karena tanpa halaman sembilan,” katanya, “laporan saya akan terbaca seperti orang yang menolak rencana yang lebih baik.”
Dia berdiri sangat tegak.
“Dan itu terlalu ringan,” katanya. “Saya tidak menolak rencana yang lebih baik. Saya menolak tujuh hari.”
Dia mengajukan pengunduran dirinya pada hari kedelapan.
Aku mengetahuinya dari Kapten Marlow, yang datang ke tendaku pada malam hari dengan wajah orang yang tidak tahu harus berbuat apa.
“Tuan,” katanya. “Anda bisa menghentikannya.”
“Tidak bisa.”
“Kalau Anda menulis surat—“
“Kapten,” kataku. “Kalau aku menulis surat yang mengatakan bahwa Komandan Vessend tidak perlu mundur, apa yang terjadi pada laporannya?”
Kapten Marlow membuka mulut.
Lalu menutupnya.
“Laporannya jadi lebih lunak,” katanya.
“Ya.”
“Dan kalau laporannya lebih lunak, kalimat tentang peringkat guild—“
“Akan dihapus di kecamatan dalam waktu satu minggu,” kataku. “Ya.”
Aku memandangi lilin di mejaku.
“Laki-laki itu menulis tiga puluh empat halaman,” kataku, “dan di dalamnya ada satu kalimat yang mengatakan bahwa tiga puluh satu prajurit mati karena sistem peringkat guild membuat komandan lapangan malu membaca dokumen.”
Aku mengangkat wajah.
“Itu kalimat yang tidak pernah ditulis siapa pun dalam sejarah guild,” kataku. “Dan satu-satunya cara kalimat itu bertahan adalah kalau orang yang menulisnya membayar sesuatu untuk itu.”
Kapten Marlow berdiri di tendaku untuk waktu yang lama.
“Itu tidak adil,” katanya.
“Tidak,” kataku. “Tidak adil.”
Harlow Vessend datang ke tendaku pada malam terakhir.
Dia membawa dua hal.
Yang pertama adalah salinan laporannya. Tiga puluh empat halaman.
Yang kedua adalah selempang komandonya, dilipat.
“Saya tidak bisa memberikan ini kepada siapa pun,” katanya. “Secara aturan ia kembali ke Kementerian.”
Dia meletakkannya di mejaku tetap.
“Tapi saya ingin ia ada di ruangan ini selama satu malam,” katanya, “supaya saya bisa mengatakan kepada diri saya sendiri bahwa saya pernah menyerahkannya kepada orang yang benar.”
Aku memandangi kain itu.
“Komandan Vessend.”
“Saya bukan Komandan lagi.”
“Kau masih Komandan sampai Kementerian menandatangani,” kataku. “Itu delapan sampai sebelas minggu.”
Dia hampir tersenyum.
“Anda menghitung waktu birokrasi.”
“Aku menghitung semuanya,” kataku.
Dan aku menarik kursi di seberang mejaku dan menunjuknya, dan Harlow Vessend duduk.
“Aku punya tiga kalimat,” kataku.
Dia mengangkat wajah.
“Waktu kau berlutut di lumpur,” kataku. “Aku punya tiga kalimat di kepalaku. Aku menyusunnya dalam empat detik dan aku membuang ketiganya.”
“Kenapa Anda mengatakan ini sekarang?”
“Karena aku sudah memikirkannya selama sembilan hari,” kataku, “dan aku menyadari bahwa membuangnya bukan kebaikan.”
Harlow Vessend tidak bergerak.
“Kalau aku mengucapkannya,” kataku, “kau akan hancur dan itu tidak menolong siapa pun. Jadi aku membuangnya. Itu perhitungan yang benar.”
Aku meletakkan kedua tanganku di meja.
“Tapi aku tidak membuangnya karena perhitungan,” kataku. “Aku membuangnya karena aku takut.”
“Takut?”
“Aku sudah tiga tahun menyusun kalimat seperti itu,” kataku. “Untuk semua orang yang menyuruhku mengangkat peti. Ratusan. Aku menyimpannya seperti orang menyimpan pisau.”
Aku menatapnya.
“Dan pagi itu aku punya kesempatan pertama untuk memakai salah satunya,” kataku, “dan aku menyadari bahwa kalau aku memakainya, aku akan tahu untuk sisa hidupku bahwa aku menyimpannya selama tiga tahun untuk dipakai.”
Tenda itu sangat sunyi.
“Jadi aku tidak mengucapkannya,” kataku. “Dan aku menyuruhmu menyusun daftar seratus empat puluh satu nama.”
Harlow Vessend memandangi mejaku.
“Anda bisa saja mengatakan bahwa Anda mengampuni saya,” katanya.
“Aku tidak mengampunimu,” kataku.
Dia mengangkat wajah dengan sangat cepat.
“Tiga puluh satu orang,” kataku. “Aku tidak punya kewenangan untuk mengampuni apa pun, karena tidak satu pun dari tiga puluh satu itu adalah milikku.”
Aku berdiri.
“Yang bisa kulakukan,” kataku, “adalah tidak memakai mereka untuk membuat diriku merasa lebih baik.”
Kami berangkat kembali ke Marrow tanggal seratus empat puluh.
Sembilan puluh satu kilometer, empat hari, karena kali ini tidak ada yang mengejar dan kudanya perlu hidup.
Dan sepanjang empat hari itu, aku menghitung.
Dua ratus tiga belas Anomali di Lembah Vench. Menghadap utara.
Empat puluh satu di Lembah Utara Marrow. Menghadap selatan.
Kedua kelompok menghadap ke titik yang sama.
Titik itu bukan Marrow.
Aku berhenti di jalan pada hari ketiga dan turun dari kuda dan membentangkan peta Lyra di tanah, dan mengukur dengan tali, dan mengukurnya lagi, dan menghitung sudutnya empat kali.
Roan Ferrant berjongkok di sebelahku.
“Kau salah?”
“Aku tidak salah.”
“Kau tidak pernah mengukur empat kali kalau kau tidak salah.”
“Aku mengukur empat kali,” kataku, “karena aku tidak mau ini benar.”
Aku meletakkan taliku.
Garis dari Lembah Vench ke utara.
Garis dari Lembah Utara ke selatan.
Keduanya berpotongan di satu titik.
Dan titik itu bukan Desa Marrow.
Titik itu ada dua puluh tiga kilometer di sebelah barat laut Desa Marrow, di sebuah tempat yang tidak ada di peta kadaster mana pun, karena tidak ada satu pun kerajaan yang mengklaim tanah di sana, karena tanah di sana tidak berguna untuk apa pun.
Ada reruntuhan di sana.
Sebuah menara.
“Vessel,” kata Roan Ferrant.
Aku tidak menjawab.
“Menara Vessel ada dua puluh tiga kilometer dari desamu,” katanya. Suaranya sangat rata. “Theo.”
“Aku tahu.”
“Kau pindah ke Marrow tiga tahun lalu.”
“Aku tahu.”
“Kau memilih desa berpenduduk lima puluh delapan orang,” katanya, “yang jaraknya dua puluh tiga kilometer dari tempat yang tidak bisa kau ingat.”
Aku duduk di tanah di tepi jalan raya selatan dengan peta terbentang dan tali pengukur di tangan.
“Aku tidak memilihnya,” kataku.
Roan menoleh.
“Aku berjalan,” kataku. “Setelah semuanya. Aku berjalan selama sebelas hari dan lalu aku berhenti berjalan, dan tempat aku berhenti adalah Marrow.”
Aku memandangi peta itu.
“Aku pikir aku berhenti karena lelah,” kataku.
Kami sampai di Marrow pada malam tanggal seratus empat puluh tiga.
Bhaltair Vorn berdiri di gerbang selatan.
Aku tidak tahu berapa lama dia sudah berdiri di sana. Aku tidak menanyakannya. Aku menghitung debu di bahunya dan mendapat jawaban yang tidak ingin kutuliskan.
“Marrow?” kata Roan.
“Aman,” kata Bhaltair Vorn.
“Anomali?”
“Empat puluh satu. Tidak bergerak.”
Dan lalu dia menambahkan sesuatu, dan itu adalah kalimat kedua terpanjang yang pernah dia ucapkan kepadaku:
“Mereka berputar. Tanggal seratus tiga puluh satu, pagi. Sekitar jam enam lewat dua puluh.”
Aku berhenti.
“Berputar ke mana?”
“Barat laut,” kata Bhaltair Vorn.
Dan seluruh perutku turun.
“Berapa lama?”
“Tiga puluh enam menit,” katanya. “Lalu kembali menghadap selatan.”
Tiga puluh enam menit.
Enam lewat dua puluh tiga sampai enam lewat lima puluh sembilan.
Dari saat dua ratus tiga belas Anomali di Lembah Vench berputar, sampai saat Harlow Vessend meletakkan selempangnya di atas meja peta.
Aku berdiri di gerbang selatan Desa Marrow dan menghitung, dan yang kudapat adalah sesuatu yang membuatku harus memegang tiang gerbang.
Mereka tidak merespons pertempuran.
Mereka merespons satu sama lain.
Dua ratus lima puluh empat Anomali di dua lembah yang berjarak sembilan puluh satu kilometer, bergerak serentak, dalam waktu yang sama, tanpa satu pun cara untuk saling melihat.
Itu bukan kawanan.
Itu satu benda.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
[ Anomaly Convergence — Projection UPDATED ]
Data points : 254
Convergence target : REVISED
Previous : Marrow, Eastern Frontier
Current : Unnamed structure, 23 km NW of Marrow
Local designation : Vessel Tower (ruins)
Confidence : 99,1%
Estimated arrival : 9 days
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Sembilan hari.
Aku memandangi kotak itu di ruang tamu rumahku, di rumah kayu satu ruangan yang kutempati selama tiga tahun karena aku berhenti berjalan di sana.
Dua puluh tiga kilometer barat laut.
“Close.“
Dan aku berjalan ke ruang arsip cabang guild, di mana lentera masih menyala seperti selalu, dan berdiri di ambang pintu sampai Lyra Vandell mengangkat wajah.
“Aku akan ke Menara Vessel,” kataku.
Dan dia meletakkan penanya, dan berdiri, dan berkata satu kata:
“Kapan?”
Bukan jangan.
Bukan sendirian?
Dan aku sudah menyiapkan jawaban untuk kedua pertanyaan itu selama empat hari perjalanan, dan tidak menyiapkan apa pun untuk yang ini.
Bersambung — Bab 44: Sembilan Hari
Jumlah kata: 2.531
- 1 Penjual Tinta
- 2 Garam
- 3 Anak yang Berbohong
- 4 Arsiparis
- 5 Sesuatu yang Tidak Punya Kebiasaan
- 6 Sembilan Peti
- 7 Tulisan Tangan
- 8 Empat Puluh Menit
- 9 Yang Mengenaliku
- 10 Surat yang Salah Alamat
- 11 Silverline
- 12 Tiga Kesalahan
- 13 Hujan
- 14 Empat Halaman
- 15 Tiga Ratus Sepuluh
- 16 Gerbang Utara
- 17 Anggota Keenam
- 18 Berangkat
- 19 Gerbang Ordo
- 20 Peringkat Empat Puluh Tiga
- 21 Komandan
- 22 Ruang Nomor Empat
- 23 Jalan ke Kaldrass
- 24 Seribu Dua Ratus
- 25 Empat Puluh Tiga Wasiat
- 26 Fajar Kedua
- 27 Kota yang Tidak Sakit
- 28 Bekas Luka yang Tidak Pernah Terjadi
- 29 Sebab Kematian
- 30 Yang Tidak Bisa Dibalas
- 31 Ratu yang Tidak Bisa Membaca Peta
- 32 Tujuh Belas Menit
- 33 Pasir
- 34 Kota Tanpa Nama
- 35 Delapan Detik
- 36 Lima
- 37 Pulang
- 38 Sarang
- 39 Bagaimana Kau Tahu
- 40 Draf Terakhir
- 41 Kota Selatan
- 42 Tiga Puluh
- 43 Yang Tidak Kuucapkan reading
- 44 Sembilan Hari
- 45 Evaluasi Kelayakan
- 46 Jendela
- 47 Kalimat Terpanjang
- 48 Menara Vessel
- 49 Yang Kubeli
- 50 Prosesi
- 51 Lima Izin
- 52 Magnum Opus
- 53 EXTRA 01 — Tiga Puluh Satu Menit