Chapter Twenty Seven
Kota yang Tidak Sakit
POV: Theo
KATEDRAL VIRELN — LAPORAN HARIAN KE MAJELIS TINGGI
Hari ke-19Jumlah terdampak: 6.114
Meninggal: 431
Sembuh: 0Agen penyebab: tidak teridentifikasi
Jalur penularan: tidak teridentifikasi
Gejala awal: tidak adaTindakan [ Grace Unending ] (Tingkat Dewa): dilakukan 47 kali. Berhasil: 0.
Catatan Pendeta Agung: Saya tidak dapat menyembuhkan orang yang tidak sakit. Saya menuliskan kalimat itu untuk keempat kalinya dalam sembilan belas hari dan Majelis terus menganggapnya kiasan.
Itu bukan kiasan.
— S. Ovelle
Vireln adalah kota enam puluh ribu orang di lembah sungai, dan hal pertama yang salah tentangnya adalah bahwa ia terlihat baik-baik saja.
Kami masuk lewat gerbang timur di hari kesebelas perjalanan.
Pasar buka. Anak-anak di jalan. Tidak ada pos karantina, tidak ada kain putih di pintu, tidak ada bau yang menyertai kota yang sedang mati.
Roan menghentikan kudanya.
“Laporannya bilang enam ribu.”
“Ya.”
“Ini bukan kota dengan enam ribu orang sekarat.”
“Ini persis kota dengan enam ribu orang sekarat,” kataku, “kalau mereka semua sekarat di dalam rumah, tanpa gejala, tanpa demam, tanpa bau.”
Dan itulah yang membuat perutku dingin sejak membaca laporan pertama di pos kurir empat hari lalu.
Wabah punya bentuk. Selalu. Itulah kenapa manusia bisa melawannya — kau melihat gejalanya, kau melacak penularannya, kau memutus rantainya.
Kota ini tidak punya bentuk apa pun.
Bhaltair, di belakang kami, mengucapkan satu kata.
“Sama.”
Aku menoleh.
“Sama seperti apa?” kata Roan.
Tapi aku sudah tahu, karena aku memikirkan hal yang sama sejak gerbang.
Sama seperti sesuatu yang tidak punya siklus napas.
Sama seperti sesuatu yang tidak punya titik depan.
Sama seperti sesuatu yang berdiri di dasar cekungan dan tidak bisa dilihat dengan bentuk yang sama oleh dua orang.
Katedral Vireln berdiri di tengah kota dengan halaman batu seluas alun-alun, dan halaman itu penuh.
Bukan penuh orang sakit.
Penuh orang menunggu.
Keluarga. Ribuan. Duduk di batu dengan bekal dan selimut, karena orang-orang mereka ada di dalam dan tidak ada yang tahu berapa lama.
Kami butuh empat puluh menit untuk melintasi halaman itu.
Dan di pintu masuk aula utama, seorang pendeta muda menghentikan kami dengan tangan terangkat dan wajah yang sudah kehilangan seluruh sopan santunnya karena kehabisan tenaga.
“Tidak ada kunjungan.”
“Aku Roan Ferrant.”
Pendeta itu berkedip. Dua kali.
Lalu dia berbalik dan berlari.
Seris Ovelle keluar dari aula utama enam menit kemudian.
Aku menghitung enam menit, dan aku menghabiskan enam menit itu memandangi lantai batu, karena aku sudah memutuskan sejak Kaldrass bahwa aku tidak akan menghitung wajah orang lagi.
Aku berbohong pada diriku sendiri. Aku menghitungnya juga.
Berat badan turun. Kira-kira enam kilogram dari yang kuingat.
Kulit di bawah mata: warna yang tidak berasal dari kurang tidur. Itu warna orang yang memakai skill penyembuhan melewati batas berulang kali.
Tangan kanan gemetar halus. Tremor pasca-kelelahan mana. Tingkat tiga.
Dia sudah begini selama sekitar dua minggu.
“Roan,” katanya.
Suaranya lembut. Selalu lembut. Sepuluh tahun aku bekerja dengan perempuan ini dan tidak sekali pun mendengarnya meninggikan suara, dan sepuluh tahun aku tahu bahwa itu adalah bentuk pengendalian diri paling brutal yang pernah kulihat pada manusia.
“Seris.”
Mereka tidak berpelukan.
Mereka berdiri berhadapan di ambang pintu katedral, dua orang yang pernah menyelamatkan nyawa satu sama lain empat belas kali, dan tidak menyentuh sama sekali.
Lalu Seris melihat ke sebelah kanan Roan.
Dan melihat Bhaltair Vorn.
Dan wajahnya, untuk sepersekian detik, retak sepenuhnya.
“Kalian bersama,” katanya.
“Ya.”
“Kalian tidak pernah bersama.”
“Aku tahu.”
Dia menutup matanya sebentar.
“Kenapa sekarang,” katanya. “Setelah tiga tahun. Kenapa sekarang.”
Dan Roan Ferrant, Komandan Ordo Perak, melakukan hal yang paling sederhana dan paling berani yang bisa dilakukan siapa pun pagi itu.
Dia menoleh ke arahku.
Seris Ovelle memandangiku.
Tidak ada pengenalan.
Aku sudah tahu. Aku bahkan tidak menghitungnya kali ini; aku hanya berdiri di sana dan menunggu bagian ini lewat, seperti orang menunggu hujan berhenti di bawah atap yang bocor.
“Namanya Theo,” kata Roan.
“Baik.”
“Seris—“
“Roan, aku punya enam ribu orang di dalam.” Suaranya masih lembut, dan itu jauh lebih buruk. “Empat ratus tiga puluh satu sudah meninggal. Aku sudah tidak tidur sembilan belas hari. Kalau kau datang membawa seseorang yang perlu kujelaskan sesuatu kepadanya, tolong lakukan besok.”
“Dia bukan—“
“Berapa yang meninggal hari ini?” kataku.
Seris berhenti.
Dia menoleh kepadaku dengan cara yang menandakan dia baru menyadari aku bisa bicara.
“Dua puluh tiga,” katanya.
“Kemarin?”
“Dua puluh enam.”
“Lusa?”
“...Dua puluh dua.”
“Empat hari lalu?”
“Tiga puluh satu.” Alisnya turun. “Kenapa?”
“Angkanya tidak naik,” kataku.
Halaman katedral itu terasa sangat lebar dan sangat sunyi.
“Wabah punya kurva,” kataku. “Selalu. Naik, puncak, turun. Yang menentukan bentuknya adalah tingkat penularan dan populasi rentan.” Aku menyebutkan angka-angka itu tanpa berpikir, karena mereka sudah ada di sana sejak pos kurir empat hari lalu. “Sembilan belas hari, dan angka kematian harianmu bergerak antara dua puluh dua dan tiga puluh satu. Datar.”
“Aku tahu.”
“Wabah tidak datar.”
“Aku tahu,“ kata Seris Ovelle.
Dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, aku mendengar suaranya naik.
Cuma sedikit. Cuma satu takik.
Lalu dia menutup matanya, dan menarik napas, dan mengembalikan suaranya ke tempatnya dengan cara yang jelas menyakitkan.
“Maaf,” katanya.
“Tidak apa-apa.”
“Tidak, itu tidak—“ Dia mengusap wajahnya. “Aku sudah mengatakan itu kepada Majelis Tinggi sebelas kali. Bahwa ini bukan wabah. Bahwa aku tidak bisa menyembuhkan orang yang tidak sakit.”
Dia menurunkan tangannya.
“Dan setiap kali, mereka mengangguk dengan sabar dan bertanya berapa banyak obat yang kubutuhkan.”
Dia menatapku.
“Kau orang pertama dalam sembilan belas hari,” katanya, “yang menyebutkan bahwa angkanya datar.”
Dia membawa kami masuk.
Aula utama Katedral Vireln panjangnya seratus meter dan lebarnya empat puluh, dan pada hari kesembilan belas, aula itu berisi delapan ratus tempat tidur.
Sisanya — lima ribu tiga ratus lagi — ada di aula samping, di ruang bawah, di dua belas bangunan yang disita di sekitar katedral, dan di rumah masing-masing.
Aku berjalan di antara tempat tidur itu selama satu jam.
Dan yang kutemukan lebih buruk daripada apa pun yang kuperkirakan.
Pasien 1: perempuan, kira-kira lima puluh tahun. Napas normal. Nadi normal. Suhu normal. Warna kulit normal.
Tidak sadar. Sudah enam hari.
Pasien 2: laki-laki, dua puluhan. Sadar. Bisa bicara. Bisa duduk.
Tidak bisa berdiri.
Kakinya tidak cedera. Ototnya tidak melemah. Tidak ada satu pun alasan medis kenapa dia tidak bisa berdiri.
Dia hanya berhenti bisa.
Pasien 3: anak, sembilan tahun. Semua tanda vital normal.
Meninggal tiga jam setelah aku lewat.
Aku berhenti di tengah aula.
“Seris.”
“Ya.”
“Apa yang tertulis di catatan medis mereka?”
Dia menyerahkan satu papan kepadaku.
NAMA : Hela Sorne
USIA : 52
KELUHAN: —
GEJALA : —
DIAGNOSIS : —
PENYEBAB : —
Empat baris kosong.
“Enam ribu seratus empat belas,” kata Seris. “Semuanya seperti itu.”
Aku memegang papan itu dan merasakan sesuatu naik di kerongkonganku yang bukan mual.
Karena aku sudah pernah melihat kekosongan berbentuk ini.
Aku melihatnya di ladang barat Desa Marrow, di dalam sesuatu yang tidak punya siklus napas dan tidak punya titik depan.
Dan aku melihatnya setiap malam selama tiga tahun, di kolom keanggotaan Ashen Crown yang bertuliskan lima.
Bukan sakit.
Tidak tertulis.
“[ Grace Unending ],” kataku. “Berapa kali?”
“Empat puluh tujuh.”
“Berhasil?”
“Nol.”
“Ceritakan apa yang terjadi waktu gagal.”
Seris Ovelle memandangiku.
Lalu dia melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Pendeta Agung Katedral Vireln kepada orang asing: dia duduk di ujung tempat tidur kosong dan mulai menjelaskan skill tingkat dewanya kepada seorang laki-laki berjubah kerja tanpa bertanya siapa dia.
“[ Grace Unending ] bekerja mundur,” katanya. “Aku menyentuh orangnya. Aku menemukan sebab kematiannya — luka, racun, penyakit, apa pun. Lalu aku menariknya kembali.”
“Kau membalik sebabnya.”
“Ya.”
“Dan di sini?”
“Aku menyentuh mereka,” katanya, “dan tidak ada apa-apa untuk ditarik.”
Dia menatap tangannya sendiri.
“Bukan ‘terlalu kuat’. Bukan ‘terlambat’. Aku sudah pernah gagal karena terlambat, dan rasanya seperti memegang tali yang putus.” Dia mengepalkan tangannya. “Ini rasanya seperti memegang tali yang tidak pernah ada.”
Aku duduk di tempat tidur kosong di seberangnya.
“Seris,” kataku. “Kalau seseorang mati karena racun, kau menarik racunnya.”
“Ya.”
“Kalau seseorang mati karena luka, kau menarik lukanya.”
“Ya.”
“Kalau seseorang mati tanpa sebab—“
Aku berhenti.
Karena kepala ini sudah selesai sejak tiga kalimat lalu, dan kepala ini sedang berdiri di depanku memegang jawabannya, seperti anjing yang membawa pulang sesuatu.
Dan jawabannya begitu sederhana sehingga aku harus mengucapkannya keras-keras untuk memeriksa apakah aku sudah gila.
“—maka yang perlu ditarik bukan sebabnya,” kataku.
Seris Ovelle mengangkat wajah.
“Yang perlu ditulis adalah sebabnya.”
Ruangan itu sangat sunyi.
“Apa,” kata Seris.
Aku berdiri.
“Skill-mu butuh sebab untuk digenggam,” kataku. “Enam ribu orang di kota ini tidak punya sebab. Bukan sebab yang tersembunyi. Bukan sebab yang belum ditemukan.” Aku mengangkat papan catatan itu. “Tidak ada. Empat baris kosong.”
“Itu tidak mungkin—“
“Aku tahu itu tidak mungkin,” kataku. “Aku sudah melihat tiga hal tidak mungkin dalam enam puluh hari terakhir dan aku sudah berhenti memakai kata itu.”
Aku menoleh ke Roan.
“Berapa lama sampai malam?”
Dia melihat ke jendela tinggi. “Tujuh jam.”
“Seris,” kataku. “Aku butuh tiga hal.”
“Tunggu—“
“Aku butuh ruang bawah katedral, kosong, dengan meja panjang.” Aku sudah berjalan. “Aku butuh seluruh catatan medis enam ribu seratus empat belas orang itu, termasuk yang meninggal.”
“Itu empat puluh ribu lembar—“
“Dan aku butuh Lyra Vandell,” kataku.
Aku berhenti di ujung barisan tempat tidur dan berbalik.
Seris Ovelle berdiri di tengah aula utama Katedral Vireln, di antara delapan ratus orang yang tidak sakit dan sedang mati, dan menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca sama sekali.
“Siapa kau,” katanya.
Kalimat yang sama dengan Aldric Vane di gerbang utara Marrow.
Kalimat yang sama dengan Ferran Deyl di lapangan pasir.
“Aku yang menghitung,” kataku.
Dan Seris Ovelle — yang tidak mengenali wajahku, yang tidak tahu namaku sampai empat menit lalu, yang sudah sembilan belas hari tidak tidur — mengeluarkan bunyi kecil yang tidak pernah bisa kujelaskan kepada siapa pun.
Bunyi orang yang mendengar sesuatu yang sudah lama dinantikannya tanpa tahu bahwa dia menantikannya.
Lalu dia berkata, sangat pelan:
“Ya. Baik.”
Dan dia mulai berjalan ke arah tangga bawah.
Bersambung — Bab 28: Bekas Luka yang Tidak Pernah Terjadi
Jumlah kata: 2.401
- 1 Penjual Tinta
- 2 Garam
- 3 Anak yang Berbohong
- 4 Arsiparis
- 5 Sesuatu yang Tidak Punya Kebiasaan
- 6 Sembilan Peti
- 7 Tulisan Tangan
- 8 Empat Puluh Menit
- 9 Yang Mengenaliku
- 10 Surat yang Salah Alamat
- 11 Silverline
- 12 Tiga Kesalahan
- 13 Hujan
- 14 Empat Halaman
- 15 Tiga Ratus Sepuluh
- 16 Gerbang Utara
- 17 Anggota Keenam
- 18 Berangkat
- 19 Gerbang Ordo
- 20 Peringkat Empat Puluh Tiga
- 21 Komandan
- 22 Ruang Nomor Empat
- 23 Jalan ke Kaldrass
- 24 Seribu Dua Ratus
- 25 Empat Puluh Tiga Wasiat
- 26 Fajar Kedua
- 27 Kota yang Tidak Sakit reading
- 28 Bekas Luka yang Tidak Pernah Terjadi
- 29 Sebab Kematian
- 30 Yang Tidak Bisa Dibalas
- 31 Ratu yang Tidak Bisa Membaca Peta
- 32 Tujuh Belas Menit
- 33 Pasir
- 34 Kota Tanpa Nama
- 35 Delapan Detik
- 36 Lima
- 37 Pulang
- 38 Sarang
- 39 Bagaimana Kau Tahu
- 40 Draf Terakhir
- 41 Kota Selatan
- 42 Tiga Puluh
- 43 Yang Tidak Kuucapkan
- 44 Sembilan Hari
- 45 Evaluasi Kelayakan
- 46 Jendela
- 47 Kalimat Terpanjang
- 48 Menara Vessel
- 49 Yang Kubeli
- 50 Prosesi
- 51 Lima Izin
- 52 Magnum Opus
- 53 EXTRA 01 — Tiga Puluh Satu Menit