Chapter Twenty
Peringkat Empat Puluh Tiga
POV: Theo
ARSIP GUILD PUSAT — LAMPIRAN 4471-C.20
KESAKSIAN — Ferran Deyl, Ksatria Ordo Perak
Diambil satu tahun setelah kejadian. Saksi mengajukan diri dan meminta kesaksiannya dicatat lengkap tanpa peringkasan.Saya yang menantang. Saya ingin itu tercatat lebih dulu, karena orang suka menceritakannya seolah saya diperintah.
Tidak. Saya yang menantang, dan saya menantang karena saya marah, dan kemarahan saya waktu itu adalah hal paling murni yang pernah saya rasakan.
Dia tidak membawa senjata. Tidak memakai pelindung. Dia berdiri di ujung utara lapangan dengan jubah kerja dan tangan kosong.
Sebelum aba-aba, dia berkata dia mau memberi tahu saya tiga hal.
Saya bilang silakan.
Dia bilang: gerakan pertama saya akan langkah serong kiri. Gerakan kedua akan tebasan atas. Gerakan ketiga, setelah saya sadar dua yang pertama gagal, saya akan mundur setengah langkah dan mengganti pegangan pedang.
Lalu dia bilang aba-aba boleh dimulai.
Saya tidak akan menuliskan berapa lama saya berdiri diam.
Saya akan menuliskan yang ini saja: setiap kali saya mencoba bergerak, saya sadar saya sedang melakukan salah satu dari tiga hal yang sudah dia sebutkan. Dan setiap kali saya memutuskan untuk melakukan hal lain, saya sadar saya tidak punya hal lain — karena tiga itu adalah seluruh pembukaan yang saya kuasai.
Saya berlatih dua belas tahun. Dan orang itu menghabiskan seluruh dua belas tahun saya dalam tiga kalimat, dari jarak dua puluh langkah, tanpa pernah melihat saya bertarung.
Aku bangun jam lima.
Lyra sudah bangun. Aku curiga dia tidak tidur, tapi aku tidak menanyakannya karena menanyakannya akan memaksanya berbohong.
“Aku sudah menulis surat protes,” katanya. “Kalau kau cedera, aku ajukan ke Dewan Kehormatan Ordo hari ini juga.”
“Baik.”
“Kalau kau mati, aku ajukan ke Guild Pusat.”
“Baik.”
“Kalau kau—“ Dia berhenti, dan menutup bukunya dengan bunyi keras. “Kau tidak takut sama sekali.”
“Aku takut,” kataku.
Dia menoleh.
“Bukan pada anak itu,” kataku. “Aku takut kalau aku menang dengan cara yang membuatnya malu.”
Aku naik ke bukit jam setengah tujuh.
Berita menyebar lebih cepat dari yang seharusnya. Ketika aku sampai di lapangan latihan, ada sekitar enam puluh ksatria di tribun batu rendah, dan jumlahnya naik jadi seratus dalam sepuluh menit, dan aku berhenti menghitung di seratus dua puluh karena kepalaku punya hal lain untuk dihitung.
Ferran Deyl sudah di sana.
Zirah latihan penuh. Pedang latihan berbilah tumpul — aku mencatat itu, dan aku bersyukur, karena itu berarti dia masih anak yang baik meskipun sedang marah.
“Kau datang,” katanya.
“Aku bilang aku akan datang.”
“Kau tidak bawa senjata.”
“Tidak.”
“Ambil satu dari rak.” Dia menunjuk dengan dagunya. “Aku tidak mau ada yang bilang aku menang karena kau tidak bersenjata.”
“Aku tidak akan memakainya.”
“Ambil saja.”
“Ferran,” kataku. “Kalau aku memegang pedang, kau akan bertarung melawan pedang. Kalau aku tidak memegang apa-apa, kau akan bertarung melawan sesuatu yang belum kau tentukan bentuknya.” Aku mengangkat bahu. “Yang kedua lebih sulit. Aku tidak akan berpura-pura sebaliknya.”
Seratus dua puluh orang di tribun mendengar itu.
Suara yang timbul sesudahnya bukan tawa.
Wasitnya seorang ksatria senior berumur lima puluhan yang jelas ada di sana untuk memastikan tidak ada yang mati.
Dia membacakan pasal dua belas. Dia menanyakan kepada kami berdua apakah kami memahami ketentuannya. Kami bilang ya.
Lalu dia bertanya kepadaku, dengan suara pelan yang hanya bisa didengar kami bertiga:
“Tuan, saya wajib bertanya sekali. Apakah Anda ingin membatalkan?”
“Tidak.”
“Peringkat guild Anda F.”
“Ya.”
Dia memandangiku beberapa saat.
“Baik,” katanya, dan mundur.
Aku melihat lapangan itu.
Aku sudah melihatnya kemarin, dari jalan, dan aku sudah menghitungnya kemarin malam sambil berbaring di rumput. Tapi aku melihatnya lagi sekarang, karena data yang tidak diperbarui adalah data yang salah.
Enam ratus meter persegi. Kemiringan satu banding tiga puluh dari utara ke selatan.
Aku berdiri di utara. Berarti Ferran menyerang menanjak. Setiap langkahnya akan sedikit lebih pendek dari yang dilatihnya.
Matahari jam tujuh, sudut sembilan belas derajat, dari timur. Aku berdiri sedemikian rupa sehingga bayanganku jatuh ke arah barat laut, di mana tidak ada apa-apa.
Tanah lapangan: pasir padat, disiram tiap pagi. Basah di lapisan atas, keras di bawah. Sepatu zirah akan mencengkeram; kaki telanjang akan tergelincir.
Aku memakai sepatu kerja bersol kulit. Cukup.
Ferran Deyl. Dua puluh tahun. Peringkat empat puluh tiga dari delapan puluh empat.
Berlatih dua belas tahun — dia bilang itu sendiri kemarin, tanpa sadar, waktu menyebut umur mulai latihannya.
Dua belas tahun di Ordo Perak berarti kurikulum standar Ordo Perak.
Kurikulum standar Ordo Perak berisi enam pembukaan resmi.
Ksatria peringkat empat puluhan menguasai tiga sampai empat dengan lancar.
Dan dari cara dia berdiri sekarang — berat di kaki belakang, bahu kanan sedikit lebih maju, jari kelingking di luar gagang — dia akan memakai pembukaan nomor dua.
Aku sudah tahu semua ini sebelum wasit mengangkat tangannya.
Dan aku menyadari, berdiri di lapangan latihan yang sama tempat delapan puluh orang melatih formasiku setiap hari selama tiga tahun, bahwa aku bisa memenangkan duel ini dalam empat detik dengan cara yang akan membuat anak itu berhenti percaya pada dirinya sendiri selama bertahun-tahun.
Aku memutuskan untuk tidak melakukan itu.
Aku memutuskan untuk melakukan hal lain, yang lebih lambat, dan yang lebih baik.
“Ferran,” kataku, sebelum aba-aba.
“Apa.”
“Aku akan memberitahumu tiga hal. Kalau kau mau.”
Tribun itu mendengar. Seratus dua puluh orang.
Dia menegakkan tubuh. “Silakan.”
“Gerakan pertamamu akan langkah serong kiri,” kataku. “Pembukaan nomor dua. Kau memilihnya karena aku tidak bersenjata dan pembukaan dua dirancang untuk menutup jarak tanpa membuka pertahanan.”
Dia tidak bergerak.
“Gerakan kedua akan tebasan atas,” kataku. “Bukan karena itu terbaik. Karena setelah langkah serong kiri, tebasan atas adalah satu-satunya lanjutan yang diajarkan di kurikulum.”
Seratus dua puluh orang sangat sunyi.
“Gerakan ketiga,” kataku, “akan terjadi setelah kau sadar dua yang pertama tidak mengenai apa pun. Kau akan mundur setengah langkah dan mengganti pegangan pedang, karena itu yang diajarkan pelatihmu untuk dilakukan saat kau kehilangan inisiatif.”
Aku mengangkat wajah.
“Silakan mulai.”
Wasit mengangkat tangannya.
Aba-aba diberikan.
Ferran Deyl tidak bergerak.
Aku ingin menuliskan ini seakurat mungkin, karena akan ada banyak versi yang salah: dia tidak membeku karena takut. Dia bukan pengecut, dan dia tidak pernah pengecut, dan setahun kemudian dia akan menjadi salah satu dari empat orang yang menyeberangi Lembah Kaldrass dalam gelap untuk mengantarkan sesuatu yang mustahil.
Dia tidak bergerak karena kakinya sudah setengah melangkah ke serong kiri.
Aku melihatnya. Otot betisnya sudah berkontraksi. Berat badannya sudah pindah.
Dan di tengah gerakan itu, dia mendengar suaranya sendiri di kepalanya menyebut langkah serong kiri, dan dia berhenti.
Dia berhenti selama tiga detik.
Lalu dia bergerak lagi — dan ini bagian yang membuatku menghormatinya — dia bergerak ke arah yang berbeda. Serong kanan. Bukan pembukaan resmi. Improvisasi.
Buruk, secara teknis. Membuka sisi kirinya sepenuhnya.
Tapi dia melakukannya.
Aku melangkah mundur satu langkah, ke arah barat daya, ke titik yang sudah kupilih sebelum aba-aba.
Bayanganku jatuh melintang di jalur langkahnya.
Ferran menginjaknya, melihat bayangan bergerak di bawah kakinya, dan matanya turun selama seperempat detik.
Dalam seperempat detik itu dia kehilangan sudut.
Dia menebas. Tebasan atas — gerakan kedua, seperti yang kusebutkan, karena tubuh yang panik kembali ke kurikulum.
Pedang itu lewat sekitar tiga puluh sentimeter dari bahuku, karena aku sudah tidak di sana sejak setengah detik sebelumnya, karena tanah miring satu banding tiga puluh dan langkah menanjaknya lebih pendek empat sentimeter dari yang dilatihnya di lapangan datar, dan empat sentimeter dikalikan tiga langkah adalah dua belas sentimeter, dan dua belas sentimeter adalah selisih antara mengenai dan tidak.
Dia mundur setengah langkah.
Dia mengganti pegangan pedang.
Dan lalu dia berhenti, dengan pedang di posisi baru dan napas yang sudah kacau, karena dia baru saja melakukan ketiganya sesuai urutan.
Lapangan itu sangat sunyi.
Ferran Deyl berdiri sepuluh langkah dariku dengan pedang latihan di tangan dan wajah yang seluruh warnanya sudah pergi.
“Aku belum kalah,” katanya.
Suaranya bergetar, tapi dia mengatakannya.
“Kau benar,” kataku. “Kau belum kalah.”
“Kau belum menyentuhku.”
“Aku tidak akan menyentuhmu.”
“Kalau begitu duel ini belum selesai.”
Dan aku memandangi anak itu — dua puluh tahun, berdiri di lapangan di depan seratus dua puluh rekannya setelah seluruh dua belas tahun latihannya dibongkar dalam tiga kalimat — dan menyadari bahwa dia benar-benar akan menyerang lagi.
Bukan karena bodoh.
Karena kalau dia berhenti sekarang, dia harus percaya bahwa yang barusan terjadi itu nyata.
“Ferran,” kataku.
“Jangan bicara.”
“Pembukaan nomor lima.”
Dia berhenti.
“Kau menguasainya, tapi kau tidak pernah memakainya dalam duel karena pelatihmu bilang terlalu berisiko,” kataku. “Pembukaan lima membuka lambung selama nol koma tiga detik. Melawan lawan bersenjata, itu bunuh diri.”
Aku mengangkat kedua tanganku, kosong.
“Aku tidak bersenjata.”
Ruangan udara terbuka itu terasa seperti ruangan tertutup.
“Kalau kau memakai pembukaan lima sekarang,” kataku, “kau akan mengenaiku. Aku tidak punya cara menghindarinya. Aku sudah menghitungnya empat kali dan tidak ada.”
Ferran Deyl memandangiku.
“Kenapa,” katanya, “kau memberitahuku itu.”
“Karena aku tidak datang ke sini untuk mengalahkanmu.”
“Lalu untuk apa?”
Aku menurunkan tanganku.
“Untuk membuktikan bahwa aku tahu isi kepala setiap orang yang pernah dilatih di lapangan ini,” kataku. “Termasuk cara mengalahkanku sendiri.”
Dia tidak memakai pembukaan lima.
Dia berdiri di sana selama waktu yang sangat lama, dengan seratus dua puluh orang menonton, dan lalu dia menurunkan pedangnya sampai ujungnya menyentuh pasir.
“Siapa kau,” katanya.
Kalimat yang sama dengan yang diucapkan Aldric Vane di gerbang utara Marrow.
Aku membuka mulut untuk menjawab dengan cara yang sama seperti yang selalu kulakukan.
Dan sebelum aku sempat, sebuah suara datang dari sisi selatan lapangan.
Bukan teriakan. Sesuatu yang jauh lebih pelan, dan yang membuat seratus dua puluh orang berbalik sekaligus seperti satu tubuh, dan yang membuat wasit berumur lima puluhan itu langsung berlutut satu kaki di pasir.
Sebuah suara yang tidak pernah kudengar selama tiga tahun, dan yang kudengar setiap hari selama sepuluh tahun sebelumnya, dan yang mengucapkan tiga kata:
“Ulangi yang tadi.“
Bersambung — Bab 21: Komandan
Jumlah kata: 2.401
- 1 Penjual Tinta
- 2 Garam
- 3 Anak yang Berbohong
- 4 Arsiparis
- 5 Sesuatu yang Tidak Punya Kebiasaan
- 6 Sembilan Peti
- 7 Tulisan Tangan
- 8 Empat Puluh Menit
- 9 Yang Mengenaliku
- 10 Surat yang Salah Alamat
- 11 Silverline
- 12 Tiga Kesalahan
- 13 Hujan
- 14 Empat Halaman
- 15 Tiga Ratus Sepuluh
- 16 Gerbang Utara
- 17 Anggota Keenam
- 18 Berangkat
- 19 Gerbang Ordo
- 20 Peringkat Empat Puluh Tiga reading
- 21 Komandan
- 22 Ruang Nomor Empat
- 23 Jalan ke Kaldrass
- 24 Seribu Dua Ratus
- 25 Empat Puluh Tiga Wasiat
- 26 Fajar Kedua
- 27 Kota yang Tidak Sakit
- 28 Bekas Luka yang Tidak Pernah Terjadi
- 29 Sebab Kematian
- 30 Yang Tidak Bisa Dibalas
- 31 Ratu yang Tidak Bisa Membaca Peta
- 32 Tujuh Belas Menit
- 33 Pasir
- 34 Kota Tanpa Nama
- 35 Delapan Detik
- 36 Lima
- 37 Pulang
- 38 Sarang
- 39 Bagaimana Kau Tahu
- 40 Draf Terakhir
- 41 Kota Selatan
- 42 Tiga Puluh
- 43 Yang Tidak Kuucapkan
- 44 Sembilan Hari
- 45 Evaluasi Kelayakan
- 46 Jendela
- 47 Kalimat Terpanjang
- 48 Menara Vessel
- 49 Yang Kubeli
- 50 Prosesi
- 51 Lima Izin
- 52 Magnum Opus
- 53 EXTRA 01 — Tiga Puluh Satu Menit