Chapter Twenty One
Komandan
POV: Theo
ARSIP GUILD PUSAT — LAMPIRAN 4471-C.21
KESAKSIAN — Marren Voss, Ksatria Senior, wasit duel
Diambil delapan bulan setelah kejadian.Saya sudah tiga puluh satu tahun di Ordo. Saya melayani tiga komandan. Saya belum pernah melihat satu pun dari mereka berlari.
Komandan Ferrant berlari melintasi lapangan itu.
Bukan berlari cepat. Itu yang aneh. Dia berjalan sangat cepat, lalu setengah berlari, lalu berhenti sepuluh langkah dari orang itu seperti seseorang yang mendekati sesuatu yang bisa hilang kalau dia bergerak terlalu tiba-tiba.
Dan lalu dia berdiri di sana dan tidak mengenalinya.
Saya akan menuliskan bagian ini pelan-pelan karena bagian ini penting dan karena saya sudah mendengar tujuh versi yang salah.
Komandan Ferrant menatap wajah orang itu selama kira-kira sepuluh detik, dan wajahnya kosong. Tidak ada pengenalan. Tidak ada apa-apa.
Saya melihat orang itu — orang dari Marrow itu — melihat wajah Komandan menjadi kosong.
Dan orang itu tersenyum sedikit, seperti seseorang yang perhitungannya baru saja terbukti benar.
Itu adalah hal paling buruk yang pernah saya lihat di lapangan itu, dan saya sudah melihat orang mati di lapangan itu.
Roan Ferrant berhenti sepuluh langkah dariku.
Dia lebih tua.
Itu hal pertama yang kupikirkan, dan itu bodoh, karena tiga tahun memang membuat orang lebih tua. Tapi ada perbedaan antara mengetahui sesuatu dan melihatnya: ada garis di sudut matanya yang tidak ada dulu, dan rambutnya lebih pendek, dan dia memakai jubah komandan yang tidak pernah kubayangkan akan cocok untuknya dan yang ternyata cocok sekali.
Dia menatapku.
Dan tidak terjadi apa-apa.
Aku menghitung.
Aku tidak bisa berhenti menghitung; itu bukan pilihan, dan malam-malam sesudahnya aku berharap sekali saja itu adalah pilihan.
Sepuluh detik.
Pupilnya tidak berubah.
Otot di sekitar mata tidak bergerak. Pengenalan wajah memicu kontraksi di orbicularis dalam waktu kurang dari nol koma empat detik, tidak bisa ditahan secara sadar.
Tidak ada.
Sebelas detik.
Dia sedang mencari. Matanya bergerak dari kiri ke kanan di wajahku. Itu pencarian, bukan pengenalan.
Tiga belas detik.
Tidak ada.
Dan aku merasakan sesuatu yang sangat aneh, yang sampai sekarang tidak bisa kuberi nama dengan benar.
Bukan patah hati.
Lega.
Karena selama tiga tahun aku menghitung dua kemungkinan, dan salah satunya jauh lebih menakutkan dari yang lain, dan sekarang aku tahu yang mana yang benar dan aku bisa berhenti menghitungnya.
Aku merasakan sudut mulutku bergerak.
Aku tidak bermaksud tersenyum. Itu hanya yang dilakukan wajah ketika sebuah perhitungan panjang akhirnya selesai.
“Tidak apa-apa,” kataku.
Roan Ferrant tidak bergerak.
“Aku sudah memperkirakan ini,” kataku. “Aku menulisnya di surat. Kalau kau tidak mengenaliku, tolong jangan berpura-pura.” Aku mengangguk sekali. “Terima kasih sudah tidak berpura-pura.”
Aku berbalik untuk pergi.
“Ulangi yang tadi.”
Aku berhenti.
“Yang kau katakan pada Deyl,” kata Roan. Suaranya rata dan aneh. “Tentang pembukaan lima. Ulangi.”
“Untuk apa?”
“Ulangi.”
Aku berbalik.
Seratus dua puluh ksatria di tribun batu. Seorang wasit berlutut satu kaki di pasir. Seorang anak dua puluh tahun dengan pedang latihan yang ujungnya masih menyentuh tanah.
“Pembukaan nomor lima membuka lambung selama nol koma tiga detik,” kataku. “Melawan lawan bersenjata itu bunuh diri. Melawan lawan tanpa senjata, tidak ada cara menghindarinya.”
“Lebih pelan.”
“Kenapa—“
“Lebih pelan.“
Dan aku menyadari sesuatu.
Dia tidak mendengarkan isinya.
Dia mendengarkan iramanya.
Jadi aku mengucapkannya seperti aku mengucapkan segalanya selama sepuluh tahun: dalam kalimat pendek, satu informasi per klausa, jeda seperempat detik di antara klausa supaya orang yang sedang bergerak bisa menyerap satu bagian sebelum bagian berikutnya datang.
Aku tidak melakukannya dengan sengaja. Aku tidak tahu caranya melakukannya dengan sengaja. Itu cara bicaraku sejak umur sembilan tahun dan aku baru menyadari bahwa itu bukan cara bicara orang lain ketika aku berumur tiga puluh satu tahun dan berdiri di lapangan pasir di depan seorang laki-laki yang wajahnya sedang runtuh.
“Nol koma tiga detik,” kataku. “Jeda. Lambung terbuka. Jeda. Lawan tanpa senjata—“
Roan Ferrant jatuh berlutut.
Bukan seperti orang yang memberi hormat.
Seperti orang yang lututnya berhenti bekerja.
Lapangan itu meledak.
Aku tidak punya kata lain. Seratus dua puluh ksatria berdiri sekaligus; ada yang berteriak; wasit senior itu berlari maju dan berhenti karena tidak tahu harus berbuat apa.
Roan tidak mendengar satu pun dari itu.
Dia berlutut di pasir dengan kedua tangan di tanah dan bahunya bergerak dengan cara yang tidak seharusnya dilihat seratus dua puluh anak buahnya.
Aku berjalan mendekat.
“Roan.”
“Jangan bicara.” Suaranya hancur. “Tolong. Sebentar. Jangan bicara.”
Aku berhenti empat langkah darinya dan menunggu.
Butuh sekitar empat puluh detik.
Lalu dia mengangkat wajah, dan matanya merah, dan dia menatapku — dan aku menghitung lagi, karena tentu saja aku menghitung lagi.
Pupil melebar.
Orbicularis berkontraksi.
Pengenalan.
Bukan wajah.
“Aku tidak kenal wajahmu,” katanya.
“Aku tahu.”
“Aku tidak kenal wajahmu, dan aku sudah mendengar suaramu selama sepuluh tahun.” Dia menekan telapak tangannya ke matanya. “Tiga tahun. Tiga tahun aku bangun tiap pagi tahu ada lubang berbentuk orang di kepalaku dan tidak bisa melihat pinggirannya.”
“Roan—“
“Setiap kali aku memberi perintah,” katanya, “aku memberikannya dalam kalimat pendek dengan jeda. Setiap kali. Aku tidak tahu kenapa. Pelatihku tidak mengajarkan begitu. Tidak ada di manual mana pun.”
Dia menurunkan tangannya.
“Aku mengajarkan itu ke delapan puluh empat ksatria,” katanya. “Aku bilang ke mereka itu doktrin ordo. Aku tidak tahu dari mana aku mendapatkannya.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
“Dan tadi kau bicara,” katanya, “dan aku mendengar sesuatu yang sudah tiga tahun keluar dari mulutku sendiri, dan aku menyadari bahwa aku sudah meniru seseorang selama tiga tahun tanpa tahu siapa.”
Dia menatap tanah.
“Siapa kau,” katanya. “Tolong. Aku minta tolong.”
Ini bagian yang tidak pernah bisa kuceritakan dengan benar.
Aku sudah menyiapkan sebuah kalimat. Aku menyiapkannya selama sebelas hari di kereta pos, dan aku merevisinya empat kali, dan versi terakhirnya adalah: Aku Theo. Aku menyusun formasi kalian selama sepuluh tahun.
Kalimat itu ada di mulutku dan aku tidak bisa mengeluarkannya.
Karena kalimat itu adalah klaim. Dan klaim harus dibuktikan. Dan aku sudah tiga tahun tidak punya satu pun bukti, dan seribu delapan ratus orang sudah mengucapkan kalimat serupa di kantor ini, dan empat di antaranya berdiri di gerbang ini dan berbohong ke wajah laki-laki ini.
Jadi yang keluar bukan itu.
Yang keluar adalah:
“Kuda pertamamu namanya Belati,” kataku. “Kau menamainya begitu waktu umur enam belas karena kau pikir itu terdengar keras. Kau menyesalinya selama sembilan tahun dan tidak pernah menggantinya karena kau bilang mengganti nama kuda itu tidak sopan.”
Roan Ferrant berhenti bernapas.
“Kau mengeja ‘koordinasi’ dengan dua i,” kataku. “Selama enam tahun. Aku tidak pernah mengoreksinya karena kau akan malu.”
“Berhenti.”
“Kau tidak bisa tidur sebelum raid. Tidak sekali pun, sepuluh tahun. Jadi aku memindahkan pengarahan pagi dari jam lima ke jam tujuh, dan aku bilang itu karena Ilvera susah bangun.” Aku menelan sesuatu. “Ilvera bangun jam empat setiap hari sejak umur empat belas.”
“Berhenti. Berhenti.”
“Dan kau bertanya kepadaku, delapan tahun lalu, kenapa garis diagramku selalu terbalik,” kataku. “Dan aku bilang ‘kebiasaan’. Dan kau menerimanya.”
Aku mengangkat wajah.
“Aku seharusnya menjawab yang sebenarnya,” kataku. “Aku minta maaf. Butuh delapan tahun untuk seseorang bertanya lagi.”
Roan Ferrant berlutut di pasir lapangan latihan Ordo Perak.
Dia sudah berlutut sejak tadi. Tapi ada perbedaan antara lutut yang berhenti bekerja dan lutut yang memilih, dan pada saat itu, di depan seratus dua puluh anak buahnya, dia menegakkan punggungnya dan meletakkan tinjunya di dada.
Hormat penuh Ordo Perak.
Yang menurut peraturan hanya diberikan kepada tiga hal: kepada Raja, kepada Panji Ordo, dan kepada komandan yang gugur.
“Komandan,” katanya.
Kata itu terdengar di seluruh lapangan.
“Roan, jangan—“
“Aku tidak tahu namamu,” katanya, tanpa menurunkan tinjunya. “Aku tidak tahu wajahmu. Aku tidak tahu berapa lama kau ada di ruangan yang sama denganku.”
Suaranya mulai stabil.
“Tapi aku tahu ke mana aku harus melangkah kalau kau bicara,” katanya. “Tubuhku tahu. Tubuhku sudah tahu sejak tadi, waktu kau bilang ‘lebih pelan’ dan aku hampir menjawab ‘siap’.”
Dia mengangkat wajah.
“Delapan puluh empat ksatria di ordo ini bertarung dengan doktrin yang aku curi dari lubang di kepalaku sendiri,” katanya. “Kalau kau bilang lubang itu kau, maka aku sudah berutang tiga tahun kepadamu, dan itu sebelum kita bicara tentang sepuluh tahun sebelumnya.”
Dia menahan hormat itu.
“Katakan namamu,” katanya. “Kumohon.”
Dan aku berdiri di tengah lapangan pasir, di bawah matahari jam tujuh dengan sudut sembilan belas derajat, dan mengucapkan sesuatu yang tidak pernah kuucapkan kepada siapa pun selama tiga tahun karena tidak ada yang pernah menanyakannya dengan cara ini.
“Theo,” kataku.
Roan Ferrant menutup matanya.
“Theo,” ulangnya, pelan, seperti orang mencoba rasa sesuatu.
Lalu dia mengucapkannya lagi, lebih keras, ke arah lapangan.
Dan seratus dua puluh ksatria Ordo Perak — yang tidak tahu apa yang baru saja terjadi, yang tidak akan mengerti sampai berminggu-minggu kemudian, yang hanya tahu bahwa komandan mereka berlutut memberi hormat penuh kepada seorang laki-laki berjubah kerja tanpa senjata — meletakkan tinju mereka di dada secara bersamaan.
Bunyinya seperti satu benda jatuh.
Aku menoleh ke tribun.
Lyra Vandell berdiri di baris paling bawah dengan kedua tangan menutup mulutnya dan buku catatannya jatuh di kakinya.
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dia tidak mencatat apa-apa.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
[ Recognition Event ]
Subject : Roan Ferrant
Recognition Type : NOT VISUAL
Recognition Source : CADENCE / INSTRUCTION PATTERN
Witnesses : 122
Cumulative : 203
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Aku membaca kotak itu berdiri di tengah lapangan, dan aku membacanya tiga kali.
Recognition Source : CADENCE.
Sistem ini tidak pernah menjawab pertanyaan. Tiga tahun aku bertanya dan tiga tahun ia hanya mencatat.
Tapi ia tahu.
Sepanjang waktu, ia tahu bahwa yang tersisa dariku di dunia ini bukan nama, bukan wajah, bukan catatan.
Melainkan cara seseorang memberi perintah — dalam kalimat pendek, satu informasi per klausa, dengan jeda seperempat detik di antaranya.
Aku meninggalkan itu di kepala lima orang.
Dan tiga tahun kemudian, satu dari lima itu mengajarkannya kepada delapan puluh empat orang lain, dan menyebutnya doktrin, dan tidak tahu kenapa.
Aku menutup jendela status.
Roan berdiri, dan menyeka wajahnya dengan lengan seragam komandan, yang mungkin merupakan pelanggaran peraturan, dan berkata:
“Ada yang harus kutunjukkan padamu.”
Bersambung — Bab 22: Ruang Nomor Empat
Jumlah kata: 2.483
- 1 Penjual Tinta
- 2 Garam
- 3 Anak yang Berbohong
- 4 Arsiparis
- 5 Sesuatu yang Tidak Punya Kebiasaan
- 6 Sembilan Peti
- 7 Tulisan Tangan
- 8 Empat Puluh Menit
- 9 Yang Mengenaliku
- 10 Surat yang Salah Alamat
- 11 Silverline
- 12 Tiga Kesalahan
- 13 Hujan
- 14 Empat Halaman
- 15 Tiga Ratus Sepuluh
- 16 Gerbang Utara
- 17 Anggota Keenam
- 18 Berangkat
- 19 Gerbang Ordo
- 20 Peringkat Empat Puluh Tiga
- 21 Komandan reading
- 22 Ruang Nomor Empat
- 23 Jalan ke Kaldrass
- 24 Seribu Dua Ratus
- 25 Empat Puluh Tiga Wasiat
- 26 Fajar Kedua
- 27 Kota yang Tidak Sakit
- 28 Bekas Luka yang Tidak Pernah Terjadi
- 29 Sebab Kematian
- 30 Yang Tidak Bisa Dibalas
- 31 Ratu yang Tidak Bisa Membaca Peta
- 32 Tujuh Belas Menit
- 33 Pasir
- 34 Kota Tanpa Nama
- 35 Delapan Detik
- 36 Lima
- 37 Pulang
- 38 Sarang
- 39 Bagaimana Kau Tahu
- 40 Draf Terakhir
- 41 Kota Selatan
- 42 Tiga Puluh
- 43 Yang Tidak Kuucapkan
- 44 Sembilan Hari
- 45 Evaluasi Kelayakan
- 46 Jendela
- 47 Kalimat Terpanjang
- 48 Menara Vessel
- 49 Yang Kubeli
- 50 Prosesi
- 51 Lima Izin
- 52 Magnum Opus
- 53 EXTRA 01 — Tiga Puluh Satu Menit