Chapter Thirty Four
Kota Tanpa Nama
POV: Theo
GUILD PUSAT — DAFTAR INDIVIDU TANPA KEWARGANEGARAAN TERDAFTAR
Kategori: Kekuatan Tingkat DewaNYX, CAEL
Kelas: Assassin
Skill Unik: [ Zero Hour ] — Tingkat Dewa
Kewarganegaraan: tidak ada
Alamat terakhir: tidak ada
Terlihat terakhir: tidak dapat ditentukanCatatan: Subjek tidak dianggap buronan. Subjek tidak dianggap ancaman. Subjek tidak dianggap apa pun.
Berkas ini dipertahankan semata karena penghapusan berkas atas individu Tingkat Dewa memerlukan persetujuan tiga kerajaan.CATATAN ARSIPARIS:
Ini satu-satunya berkas di seluruh Guild Pusat yang lebih kosong daripada berkas Theo.
Kota itu tidak punya nama.
Itu bukan kiasan. Ia berdiri di rawa muara sungai Vench, di tanah yang secara hukum milik tiga kerajaan sekaligus dan karena itu tidak diurus satu pun, dan penduduknya sekitar sebelas ribu orang, dan ia tidak muncul di peta mana pun karena mencantumkannya berarti mengklaimnya.
Orang menyebutnya Rawa. Atau Bawah. Atau, kalau mereka sedang ingin terdengar puitis, Tempat Itu.
Kami tiba tanggal tujuh puluh dua.
Berempat, kali ini. Ilvera tidak bisa ikut — ratu yang baru membubarkan dewannya tidak bisa meninggalkan negaranya selama enam minggu, dan kami menghabiskan satu jam penuh membicarakan itu sebelum dia menerimanya, dan sebagian besar dari satu jam itu adalah dia berteriak.
Seris juga tidak. Enam ribu orang di Vireln butuh pemantauan tujuh puluh dua jam selama enam minggu ke depan, dan Seris Ovelle adalah satu-satunya orang di dunia yang bisa melakukannya.
Jadi berempat: aku, Lyra, Roan, Bhaltair.
Dan hal pertama yang kupelajari tentang berburu Cael Nyx adalah bahwa aku tidak punya satu pun metode.
“Jelaskan lagi,” kata Roan, di penginapan malam pertama.
“[ Zero Hour ] menghapus keberadaannya selama delapan detik,” kataku. “Bukan menyembunyikan. Bukan tak terlihat. Menghapus. Selama delapan detik, tidak ada Cael Nyx di dunia ini.”
“Dan sesudahnya?”
“Sesudahnya dia ada lagi, di tempat yang dia pilih.”
“Berapa jauh?”
“Tidak ada batas jarak,” kataku. “Aku sudah mengukurnya. Batasnya adalah dia harus pernah berdiri di tempat itu sebelumnya.”
Bhaltair Vorn, dari sudut kamar, berkata satu kata:
“Berapa sering?”
“Cooldown-nya empat menit.”
Roan meletakkan cangkirnya.
“Jadi kalau dia tidak mau ditemukan,” katanya.
“Kalau dia tidak mau ditemukan, dia tidak akan ditemukan,” kataku. “Tidak oleh aku, tidak oleh ordomu, tidak oleh tiga kerajaan sekaligus.”
Aku memandangi meja.
“Aku sudah menghitungnya selama sebelas hari perjalanan,” kataku. “Setiap metode yang bisa kususun mengasumsikan bahwa lawan berada di suatu tempat. Cael tidak berada di suatu tempat. Cael berada di suatu tempat untuk sementara, dan sementaranya dia yang tentukan.”
Lyra, dari meja di sudut, mengangkat wajah.
“Kalau begitu jangan cari dia,” katanya.
Aku menoleh.
“Cari bekasnya,” katanya.
Aku tidak tidur malam itu.
Bukan karena cemas. Karena kepala ini menemukan sesuatu jam dua pagi dan menolak melepaskannya.
Delapan detik.
Selama delapan detik, tidak ada Cael Nyx di dunia ini.
Dan sesuatu yang tidak ada di dunia ini tidak bisa dicatat oleh apa pun.
Aku duduk di ranjang penginapan kota tanpa nama, jam dua pagi, dan berkata sesuatu yang tidak pernah kukatakan dalam dua puluh dua tahun.
“Open Witness Log.“
Kotak biru itu muncul lebih lambat dari biasanya.
Bukan lebih lambat karena rusak. Lebih lambat karena panjang.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
[ Witness Log ]
Entries : 623
Total recorded witnesses : 5.962
Display mode : IDENTITY
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Aku belum pernah membuka ini.
Enam ratus dua puluh tiga entri, dan tiga tahun aku hanya melihat angka di baris bawah dan menutupnya lagi, seperti orang yang membaca sampul buku setiap malam selama tiga tahun tanpa pernah membuka halamannya.
Aku menggulirnya ke entri paling awal yang bisa kuingat.
Entry #618 — Strikethrough
Witnesses : 0
[ UNRECORDED ]
Aku berhenti bernapas.
Entry #619 — Lantern Step
Witnesses : 1
Pip Harn (10)
[ UNRECORDED ]
Satu.
Tapi ada dua baris.
Entry #620 — Gutter
Witnesses : 64
[ 64 entries — expand? ]
[ UNRECORDED ]
Aku menggulirnya turun. Terus. Enam puluh hari terakhir. Delapan puluh hari. Seratus.
Di setiap entri sejak aku pindah ke Marrow — setiap satu, tanpa kecuali — ada satu baris terakhir yang tidak dihitung dalam jumlah total.
[ UNRECORDED ]
Aku membangunkan semua orang jam tiga pagi.
“Ada yang menontonku,” kataku.
Roan sudah berdiri sebelum aku menyelesaikan kalimat.
“Berapa lama?”
“Aku sedang memeriksa.”
Aku duduk di lantai kamar penginapan dengan tiga orang di sekelilingku dan menggulirkan enam ratus dua puluh tiga entri ke belakang, satu per satu, dan menyebutkan hasilnya keras-keras sementara Lyra menulis.
Entri 623: ada. Entri 600: ada. Entri 570: ada. Entri 520: ada.
Aku terus mundur.
Dan pada suatu titik, aku berhenti.
“Entri 511,” kataku.
“Kenapa?”
“Tidak ada.”
Aku menggulirnya maju satu.
“Entri 512: ada.”
Mundur lagi.
“511: tidak ada. 510: tidak ada. 509: tidak ada.”
Lyra sudah menulis.
“Kapan entri 512?” katanya.
Aku memandangi tanggal di sudut kotak itu.
Dan aku duduk di lantai kamar penginapan di kota tanpa nama dan merasakan sesuatu yang sangat dingin naik dari perutku.
“Tahun 822,” kataku. “Bulan delapan.”
Roan Ferrant berkata, dengan suara yang sangat rata:
“Menara Vessel.”
“Dua minggu setelah kami pulang dari Menara Vessel,” kataku.
Aku menutup jendela status.
Kamar itu sangat sunyi.
“Tiga tahun,” kata Lyra.
“Tiga tahun,” kataku.
“Setiap kali kau memakai skill.”
“Setiap kali aku memakai skill,” kataku. “Enam ratus dua puluh tiga entri, seratus dua belas di antaranya dalam tiga tahun terakhir. Semuanya punya baris itu.”
“Termasuk—“
“Termasuk di jalan setapak utara Marrow jam sebelas malam,” kataku. “Termasuk di ladang timur waktu serigala. Termasuk di gerbang utara.”
Aku memandangi lantai kayu penginapan.
“Termasuk di dasar cekungan hutan,” kataku, “waktu aku menghadapi Anomali pertama dengan seorang pemburu rank B dan dua orang desa.”
Bhaltair Vorn berdiri dari kursinya.
“Dia ada di sana,” katanya.
“Ya.”
“Dia melihatmu hampir mati.”
“Aku tidak hampir mati.”
“Dia melihatmu berdiri sendirian di gerbang,” kata Bhaltair Vorn, dan suaranya adalah bunyi yang belum pernah kudengar darinya, “melawan tiga ratus sepuluh.”
Aku tidak menjawab.
Karena kepala ini sudah selesai sejak dua menit lalu, dan yang dipegangnya adalah sesuatu yang tidak ingin kupegang.
“Kenapa dia tidak muncul,” kata Roan.
Dan aku menjawab dengan satu-satunya jawaban yang muat, dan aku benci setiap kata di dalamnya.
“Karena aku tidak pernah memanggilnya,” kataku.
Kami menghabiskan hari berikutnya dengan cara yang salah.
Roan menyebar enam pengawal ke seluruh kota tanpa nama. Bhaltair berdiri di jembatan utama dan mengawasi sebelas jam. Lyra membongkar catatan pelabuhan.
Nol.
Tentu saja nol. Kau tidak menemukan seseorang yang bisa berhenti ada selama delapan detik dengan cara mencarinya, dan aku tahu itu sejak awal, dan aku membiarkan mereka melakukannya karena aku belum punya cara yang lebih baik dan karena orang yang menunggu tanpa pekerjaan akan mulai berpikir.
Malam kedua, aku duduk di tepi dermaga kota tanpa nama dan berhenti mencoba.
Lyra duduk di sebelahku dengan dua bungkus makanan yang dia beli dari kios, dan menyerahkan satu, dan tidak berkata apa-apa selama sekitar dua puluh menit.
Lalu dia berkata:
“Kau marah.”
“Ya.”
Itu keluar sebelum aku sempat memeriksanya, dan aku sedikit terkejut mendengarnya, karena aku tidak menyadari bahwa itu benar sampai aku mengucapkannya.
“Tiga tahun,” kataku.
“Ya.”
“Tiga tahun dia ada di sana. Setiap kali. Dan aku duduk di ruang tamu gelap setiap malam memandangi kolom yang bertuliskan lima.”
Aku memandangi air rawa yang hitam.
“Aku bisa menerima dunia yang tidak mencatatku,” kataku. “Aku sudah bilang itu kepadamu di kedai. Aku cukup baik dalam hal itu.”
“Tapi.”
“Tapi ada seseorang yang duduk di atap rumah seberang selama tiga tahun,” kataku, “dan tahu bahwa aku sendirian, dan tidak turun.”
Lyra Vandell tidak membelanya.
Itu salah satu hal yang paling kusyukuri tentangnya: dia tidak pernah membela seseorang yang tidak ada di ruangan hanya supaya percakapannya lebih nyaman.
“Kau akan bertanya kepadanya,” katanya.
“Ya.”
“Bagus,” katanya. “Tanya.”
Lalu dia menyandarkan bahunya ke bahuku dan memakan makanannya, dan kami duduk di dermaga kota yang tidak punya nama sampai lewat tengah malam.
Aku menemukan caranya jam satu pagi.
Bukan cara mencari Cael.
Cara membuatnya tidak bisa tidak muncul.
Aku berdiri di dermaga dan memandangi air, dan kepala ini bekerja seperti selalu, dan yang dikatakannya adalah ini:
Kau tidak bisa menemukan orang yang bisa berhenti ada.
Tapi orang yang berhenti ada selama delapan detik tidak bisa berhenti ada selamanya.
Dia ada selama tiga tahun. Di dekatku. Setiap hari.
Yang berarti dia makan. Yang berarti dia tidur. Yang berarti dia berdiri di suatu tempat yang punya atap.
Dan yang paling penting: dia sudah tiga tahun tidak pernah dipanggil.
Aku berbalik dan berjalan kembali ke penginapan.
“Roan.”
Dia bangun dalam waktu kurang dari dua detik, seperti selalu.
“Aku butuh sesuatu,” kataku. “Dan aku butuh kau tidak bertanya kenapa.”
“Baik.”
“Aku butuh seluruh kota ini tahu, dalam waktu enam jam, bahwa Komandan Ordo Perak sedang mencari Cael Nyx.”
Roan berkedip.
“Itu—“
“Kau bilang tidak bertanya.”
“Aku tidak bertanya,” katanya. “Aku cuma mau memastikan kau sadar bahwa itu kebalikan dari cara mencari assassin.”
“Aku sadar.”
Aku duduk di kursi di seberangnya.
“Aku tidak mencari assassin,” kataku. “Aku mencari orang yang sudah tiga tahun tidak dipanggil siapa pun.”
Berita menyebar dalam empat jam, karena kota tanpa nama adalah kota yang seluruh ekonominya dibangun di atas informasi.
Komandan Ordo Perak, di Rawa, mencari Cael Nyx.
Pada tengah hari, tiga orang datang ke penginapan mengaku tahu di mana dia.
Ketiganya berbohong. Aku mengetahuinya dalam masing-masing sembilan detik, dua belas detik, dan empat detik, dan aku membayar ketiganya tetap, karena orang yang dibayar meskipun berbohong akan menceritakan hal itu kepada orang lain, dan itu membuat beritanya bergerak lebih cepat.
Pada sore hari, seluruh sebelas ribu orang di kota itu membicarakannya.
Dan jam sembilan malam, aku melakukan bagian terakhirnya.
Aku berjalan sendirian ke alun-alun pasar kota tanpa nama — yang bukan alun-alun, cuma pelataran kayu di atas rawa tempat orang berjualan ikan — dan berdiri di tengahnya.
Dan aku berkata, dengan suara biasa, tidak keras:
“Cael.”
Pelataran itu penuh orang. Tidak satu pun menoleh.
“Aku tahu kau di sana,” kataku. “Aku tidak tahu di mana, dan aku sudah berhenti mencoba menghitungnya, karena kau satu-satunya hal di dunia ini yang tidak bisa kuhitung.”
Angin rawa bergerak di antara tiang-tiang kayu.
“Aku sudah membaca witness log-ku,” kataku. “Seratus dua belas entri dalam tiga tahun. Kau ada di semuanya.”
Aku menunggu.
Tidak ada apa-apa.
“Aku tidak akan berterima kasih,” kataku.
Dan aku menunggu lagi, dan aku ingin mencatat dengan jujur bahwa aku menunggu selama dua menit penuh, dan bahwa selama dua menit itu aku memikirkan segala hal yang bisa kukatakan dan membuang semuanya.
Lalu aku mengucapkan satu kalimat yang tersisa.
“Kau boleh turun sekarang,” kataku.
Dan di belakangku, sekitar empat langkah, sebuah suara berkata:
“Akhirnya.”
Bersambung — Bab 35: Delapan Detik
Jumlah kata: 2.412
- 1 Penjual Tinta
- 2 Garam
- 3 Anak yang Berbohong
- 4 Arsiparis
- 5 Sesuatu yang Tidak Punya Kebiasaan
- 6 Sembilan Peti
- 7 Tulisan Tangan
- 8 Empat Puluh Menit
- 9 Yang Mengenaliku
- 10 Surat yang Salah Alamat
- 11 Silverline
- 12 Tiga Kesalahan
- 13 Hujan
- 14 Empat Halaman
- 15 Tiga Ratus Sepuluh
- 16 Gerbang Utara
- 17 Anggota Keenam
- 18 Berangkat
- 19 Gerbang Ordo
- 20 Peringkat Empat Puluh Tiga
- 21 Komandan
- 22 Ruang Nomor Empat
- 23 Jalan ke Kaldrass
- 24 Seribu Dua Ratus
- 25 Empat Puluh Tiga Wasiat
- 26 Fajar Kedua
- 27 Kota yang Tidak Sakit
- 28 Bekas Luka yang Tidak Pernah Terjadi
- 29 Sebab Kematian
- 30 Yang Tidak Bisa Dibalas
- 31 Ratu yang Tidak Bisa Membaca Peta
- 32 Tujuh Belas Menit
- 33 Pasir
- 34 Kota Tanpa Nama reading
- 35 Delapan Detik
- 36 Lima
- 37 Pulang
- 38 Sarang
- 39 Bagaimana Kau Tahu
- 40 Draf Terakhir
- 41 Kota Selatan
- 42 Tiga Puluh
- 43 Yang Tidak Kuucapkan
- 44 Sembilan Hari
- 45 Evaluasi Kelayakan
- 46 Jendela
- 47 Kalimat Terpanjang
- 48 Menara Vessel
- 49 Yang Kubeli
- 50 Prosesi
- 51 Lima Izin
- 52 Magnum Opus
- 53 EXTRA 01 — Tiga Puluh Satu Menit