Chapter Eighteen
Berangkat
POV: Theo
ARSIP GUILD PUSAT — PETA SEBARAN ANOMALI
Periode: 60 hari terakhirKemunculan tercatat: 41
Distrik terdampak: 9
Korban jiwa tercatat: 206Pola sebaran: tidak ada.
Pola waktu: tidak ada.
Titik pusat: tidak dapat ditentukan.Catatan Dewan Formulasi: Klasifikasi ditunda. Tidak ada kerangka yang berlaku.
CATATAN ARSIPARIS:
Saya memplot 41 titik itu di peta benua dengan tanggalnya masing-masing.
Dewan benar bahwa tidak ada pola sebaran.
Dewan tidak menyebutkan hal lain yang saya temukan: jarak rata-rata dari setiap kemunculan ke Desa Marrow menyusut 3,1% per minggu.
Saya sudah menghitungnya empat kali.
Surat itu berangkat bersama kurir tanggal dua puluh delapan.
Aku menyerahkannya sendiri, di gerbang selatan, jam enam pagi. Kurir itu memasukkannya ke karung tanpa melihat, karena tidak ada alasan untuk melihat, karena surat yang dikirim seorang penjual tinta ke kantor komandan Ordo Perak terlihat persis seperti surat lain.
Lalu keretanya pergi.
Aku berdiri di gerbang selatan sekitar dua menit setelah debunya turun.
Sembilan hari perjalanan ke ibu kota. Dua hari penyortiran di kantor pusat pos. Satu hari ke kantor ordo.
Dua belas hari sampai dia membacanya.
Kalau dia membalas hari itu juga, dua belas hari lagi.
Dua puluh empat hari.
Kepala ini menghitung tanpa bertanya izin.
Ternyata ia salah, karena ia menghitung berdasarkan asumsi bahwa Roan Ferrant akan membalas surat.
Lyra memplot peta itu di lantai ruang arsip.
Seluruh lantai. Peta benua ukuran besar, empat puluh satu paku kecil, dan benang merah yang menghubungkan tiap paku ke tanggalnya.
Aku berdiri di ambang pintu dan melihatnya selama mungkin dua puluh detik sebelum berkata apa-apa.
“Kau memakai paku.”
“Saya memakai paku.”
“Di lantai guild.”
“Tuan Belden sedang ke kecamatan selama enam hari,” katanya, tanpa mengangkat wajah. “Saya sudah menghitung berapa lama menambal lubang paku. Empat jam. Saya punya lima hari sisa.”
Aku masuk dan berjongkok di tepi peta.
Dan kepala ini mulai bekerja sebelum aku sempat memutuskan apa pun tentangnya.
Empat puluh satu titik. Tersebar dari pesisir barat sampai perbatasan timur.
Tidak ada pola geografis. Benar.
Tidak ada pola musiman. Benar.
Tidak ada—
Aku berhenti.
“Ini bukan sebaran,” kataku.
Lyra mengangkat wajah.
“Ini penyempitan.”
“Ya,” katanya pelan. “Tiga koma satu persen per minggu.”
Aku menelusuri benang merah itu dengan mata, dari titik tertua di pesisir barat, ke titik terbaru di lembah dua distrik dari sini.
Empat puluh satu kemunculan dalam enam puluh hari, di sembilan distrik, tanpa satu pun pola yang bisa dikenali sistem mana pun di dunia.
Kecuali satu.
Semuanya, perlahan, sedang mendekat.
“Mereka mencari sesuatu,” kataku.
“Atau seseorang.”
Aku tidak menjawab itu.
Aku duduk di lantai ruang arsip cabang Marrow, di tengah peta benua yang dipaku ke papan kayu, dan memandangi satu titik kecil di ujung timur yang bertuliskan nama desa tempat aku menjual tinta selama tiga tahun.
“Berapa lama,” kataku.
“Kalau tren berlanjut linear?” Dia sudah punya angkanya. Tentu saja dia sudah punya angkanya. “Kemunculan pertama di Marrow dalam sebelas sampai tiga belas minggu.”
“Dan kalau tidak linear?”
Lyra tidak menjawab, yang merupakan jawaban.
Aku menghabiskan tiga hari berikutnya melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan selama tiga tahun.
Aku membuka arsipku sendiri.
Bukan [ Marginalia ] — itu daftar bahan, dan aku sudah hafal daftar bahan. Yang kubuka adalah enam ratus dua puluh resep, satu per satu, di ruang tamu yang gelap, malam demi malam.
Dan aku mencari sesuatu yang bisa membunuh sesuatu yang tidak punya pola.
Hasilnya, setelah tiga malam, adalah ini:
Nol.
Enam ratus dua puluh resep. Sebagian besar Rare. Empat puluh satu Supreme. Tujuh God.
Dan tidak satu pun dari mereka yang berguna melawan sesuatu yang tidak bisa dibaca — karena setiap resep yang pernah kubuat, tanpa kecuali, dibangun di atas asumsi yang sama.
Bahwa lawan punya kebiasaan.
Bahwa kau bisa mempelajarinya.
Bahwa setelah kau mempelajarinya, kau bisa memakainya.
[ Requiem Formation ] bekerja dua kali, dan bekerja karena kecelakaan — Dissonance yang tidak menemukan apa pun untuk dirampas lalu menempel. Itu bukan rancangan. Itu keberuntungan mekanis, dan keberuntungan mekanis berhenti bekerja begitu skalanya berubah.
Aku menghitungnya.
Satu Anomali di ladang terbuka: berhasil.
Sepuluh Anomali sekaligus: kemungkinan berhasil turun ke sekitar sebelas persen.
Sesuatu yang lebih besar dari sepuluh Anomali—
Aku menutup jendela status di titik itu dan tidak melanjutkan perhitungannya, dan aku ingin mencatat bahwa itu adalah pertama kalinya dalam hidupku aku menolak menyelesaikan sebuah perhitungan.
Malam keempat, aku duduk di kedai Nenek Odel dan meletakkan sesuatu di meja.
Lima nama, ditulis di selembar kertas.
Roan Ferrant. Bhaltair Vorn. Seris Ovelle. Ilvera Draconis. Cael Nyx.
Lyra membacanya.
Lalu membacanya lagi.
Lalu meletakkan sendoknya dengan sangat hati-hati.
“Kau serius.”
“Ya.”
“Kau mau mencari mereka.”
“Ya.”
“Semuanya.”
“Ya.”
Dia menyandarkan punggungnya.
“Roan Ferrant adalah Komandan Ordo Perak,” katanya. “Ilvera Draconis adalah Ratu Vaelmoor. Seris Ovelle adalah Pendeta Agung Katedral Vireln. Bhaltair Vorn — aku bahkan tidak tahu di mana Bhaltair Vorn, tidak ada catatan tentangnya selama dua tahun. Dan Cael Nyx tidak terdaftar sebagai warga negara mana pun di benua ini.”
“Aku tahu.”
“Kau menjual tinta.”
“Aku tahu.”
“Theo—“
“Empat puluh satu kemunculan,” kataku. “Dua ratus enam korban. Dua ratus enam dalam enam puluh hari, dan angkanya naik, dan tidak ada satu pun kerangka di dunia ini yang berlaku.”
Aku menyentuh kertas itu dengan dua jari.
“Aku tidak bisa melawan ini sendirian. Aku sudah menghitungnya tiga malam dan jawabannya tidak berubah.” Aku mengangkat wajah. “Dan aku tidak butuh lima orang terkuat di benua karena mereka kuat, Lyra. Aku butuh mereka karena aku tahu cara memakai mereka.”
Kedai itu sunyi.
“Enam ratus dua puluh resepku tidak berguna,” kataku. “Tapi enam ratus dua puluh resepku bukan senjata terbaikku. Tidak pernah.”
“Lalu apa?”
“Lima orang,” kataku, “yang bergerak dalam urutan yang benar.”
Aku pergi ke gerbang selatan besok paginya untuk menanyakan jadwal kereta.
Nenek Odel menahanku di depan kedai dengan bungkusan kain di tangan.
“Roti. Empat hari. Kalau lebih dari empat hari kau harus beli sendiri, aku tidak bisa membuat roti yang tahan lebih lama dari itu.”
“Nek—“
“Jangan.” Dia menyodorkannya. “Aku tujuh puluh satu tahun dan aku sudah menampar orang minggu lalu. Aku sedang tidak mau berdebat.”
Aku mengambil bungkusan itu.
“Kau akan kembali?”
“Ya.”
“Jangan janji kalau kau tidak yakin.”
“Aku tidak pernah berbohong,” kataku.
Dia memandangiku lama.
“Tidak,” katanya akhirnya. “Kau tidak pernah. Itu masalahnya dengan kau, Nak. Kau tidak pernah bohong dan kau juga tidak pernah bilang apa-apa. Aku tidak tahu mana yang lebih menyebalkan.”
Pip datang jam sembilan.
Dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya menyodorkan botol tinta encer — yang kuberikan padanya lima minggu lalu, yang sekarang tinggal seperempat.
“Kau butuh tinta,” katanya.
“Aku penjual tinta, Pip.”
“Kau butuh tinta ini.”
Dan dia mendorongnya ke tanganku dengan kedua tangan, dengan wajah anak sepuluh tahun yang tahu persis apa yang dilakukannya, dan aku berdiri di depan tokoku dan menerima seperempat botol tinta gagal dari seorang anak yang berutang dua puluh tiga botol kepadaku.
“Dua puluh dua,” katanya.
“Dua puluh tiga.”
“Dua puluh dua, karena aku baru mengembalikan satu.”
Aku memandanginya.
“Dua puluh dua,” kataku.
Dia mengangguk sekali, sangat puas, dan lari.
Lyra sudah berdiri di gerbang selatan jam sepuluh dengan dua kotak arsip.
Aku berhenti berjalan.
“Kau tidak ikut.”
“Saya arsiparis Cabang Marrow,” katanya, “dan Cabang Marrow adalah cabang asal dari dokumen 4471-C, dan seluruh kegiatan lapangan yang berkaitan dengan dokumen tersebut berada di bawah kewenangan dokumentasi saya.”
“Kau mengarang itu.”
“Sebagian besar.” Dia mengangkat dagunya. “Tapi Tuan Belden tidak akan memeriksanya, karena Tuan Belden tidak pernah memeriksa apa pun.”
“Lyra.”
“Jangan.”
“Ini bukan perjalanan aman.”
“Saya tahu.”
“Aku tidak bisa menjagamu di setiap—“
“Theo.” Dia meletakkan kedua kotak arsipnya di tanah dan menghadapku sepenuhnya. “Kau akan berjalan ke lima orang paling berkuasa di benua ini dan berkata ‘aku pernah jadi ketua kalian’, dengan kartu guild rank F di lehermu dan tanpa satu pun nama tercatat di dokumen mana pun.”
Dia menepuk kotak arsip di kakinya.
“Dan di sini ada empat ratus tujuh belas edaran, satu Lampiran Empat, enam puluh empat kesaksian, satu peta empat puluh satu titik, dan satu lembar Guild Pusat yang menyebut namamu.”
“Itu tidak akan cukup.”
“Belum,” katanya. “Tapi kalau kau berdiri di depan Komandan Ordo Perak dan dia menatapmu dan tidak menemukan apa-apa—“
Dia berhenti.
Dan kemudian dia mengatakannya, di gerbang selatan Desa Marrow, jam sepuluh pagi, dengan suara yang sangat tenang:
“—maka aku akan berdiri di sebelahmu dan membacakan seluruh isi kotak ini keras-keras sampai dia ingat.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa selama beberapa saat.
Kepala ini menghitung terus-menerus. Sepanjang hidupku. Setiap ruangan, setiap orang, setiap angka.
Dan pada saat itu, di gerbang selatan, kepala itu berhenti sepenuhnya untuk kedua kalinya dalam sejarahnya.
Yang pertama karena ketakutan.
Yang kedua bukan.
“Kotaknya berat,” kataku akhirnya, karena itu satu-satunya kalimat yang tersedia.
“Empat puluh empat kilogram.”
“Kau membawanya delapan belas langkah waktu turun dari kereta.”
Lyra Vandell menoleh sangat cepat.
“Kau menghitungnya?”
“Aku menghitung semuanya,” kataku, dan mengangkat kedua kotak itu.
Kereta pos berangkat jam sebelas.
Aku duduk di bangku belakang dengan bungkusan roti empat hari, seperempat botol tinta gagal, dan dua kotak arsip yang berisi seluruh bukti keberadaanku di dunia.
Marrow mengecil di belakang kami.
Di pagar utara, dua alur sepanjang dua ratus enam puluh meter masih tergores di tanah, dan akan tetap ada sampai hujan musim berikutnya.
Open Status Window.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
[ Theo ]
Lv. 95 / 99
Registered Rank : F
Registered Party : —
Cumulative Witnesses : 81
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Baris terakhir itu tidak pernah ada di sana sebelumnya.
Sistem ini mencatat segalanya, dan tiga tahun ia mencatat angka itu diam-diam, di suatu tempat yang tidak pernah ditampilkannya kepadaku.
Delapan puluh satu.
Aku memandanginya sampai desa itu hilang di balik bukit.
“Close.“
Sebelas hari kemudian, kereta itu berhenti di depan gerbang batu Ordo Perak, dan seorang ksatria menghentikanku di pos jaga, dan menanyakan peringkat guildku.
Bersambung — Bab 19: Gerbang Ordo
Jumlah kata: 2.318
- 1 Penjual Tinta
- 2 Garam
- 3 Anak yang Berbohong
- 4 Arsiparis
- 5 Sesuatu yang Tidak Punya Kebiasaan
- 6 Sembilan Peti
- 7 Tulisan Tangan
- 8 Empat Puluh Menit
- 9 Yang Mengenaliku
- 10 Surat yang Salah Alamat
- 11 Silverline
- 12 Tiga Kesalahan
- 13 Hujan
- 14 Empat Halaman
- 15 Tiga Ratus Sepuluh
- 16 Gerbang Utara
- 17 Anggota Keenam
- 18 Berangkat reading
- 19 Gerbang Ordo
- 20 Peringkat Empat Puluh Tiga
- 21 Komandan
- 22 Ruang Nomor Empat
- 23 Jalan ke Kaldrass
- 24 Seribu Dua Ratus
- 25 Empat Puluh Tiga Wasiat
- 26 Fajar Kedua
- 27 Kota yang Tidak Sakit
- 28 Bekas Luka yang Tidak Pernah Terjadi
- 29 Sebab Kematian
- 30 Yang Tidak Bisa Dibalas
- 31 Ratu yang Tidak Bisa Membaca Peta
- 32 Tujuh Belas Menit
- 33 Pasir
- 34 Kota Tanpa Nama
- 35 Delapan Detik
- 36 Lima
- 37 Pulang
- 38 Sarang
- 39 Bagaimana Kau Tahu
- 40 Draf Terakhir
- 41 Kota Selatan
- 42 Tiga Puluh
- 43 Yang Tidak Kuucapkan
- 44 Sembilan Hari
- 45 Evaluasi Kelayakan
- 46 Jendela
- 47 Kalimat Terpanjang
- 48 Menara Vessel
- 49 Yang Kubeli
- 50 Prosesi
- 51 Lima Izin
- 52 Magnum Opus
- 53 EXTRA 01 — Tiga Puluh Satu Menit