Chapter Thirty Six
Lima
POV: Theo
KERAJAAN VAELMOOR — DEKRIT MAHKOTA (RANCANGAN, TIDAK DISAHKAN)
Dengan ini Mahkota Vaelmoor menganugerahkan gelar Adipati Vaelmoor Timur kepada:
Nama: Theo
Bersama gelar tersebut diberikan peringkat guild kehormatan Rank A, berlaku di seluruh wilayah yang mengakui Piagam Vaelmoor.
CATATAN DI PINGGIR, TULISAN TANGAN YANG MULIA:
Dia menolaknya.
Aku memaksanya selama empat puluh menit dan dia tetap menolak, dan lalu dia menjelaskan alasannya, dan aku menangis di depan tiga orang stafku.
Rancangan ini kusimpan. Aku tidak akan mengesahkannya.
Aku juga tidak akan membakarnya.
— I.D.
Kami kembali ke Vaelmoor tanggal delapan puluh satu, dan Ilvera Draconis menunggu kami di halaman berkerikil.
Dia melihat Cael Nyx turun dari kuda.
Dan Ratu Vaelmoor, dua puluh empat tahun, berjalan melintasi halaman dengan langkah yang sangat teratur, berhenti di depan laki-laki itu, dan menamparnya.
“Aduh.”
“Tiga tahun,” katanya.
“Ya.”
“Tiga tahun, Cael.”
“Ya.”
Dia menamparnya lagi.
“Kau boleh berhenti,” kata Cael Nyx.
“Aku belum selesai.”
“Kau sudah dua kali.”
“Aku belum selesai,” kata Ilvera Draconis, dan lalu dia memeluknya dan menangis ke dadanya selama sekitar empat menit sementara Cael Nyx berdiri dengan tangan setengah terangkat dan tidak tahu ke mana harus meletakkannya.
Aku menonton dari kuda.
Dan aku menyadari, dengan cara yang sangat pelan dan sangat tidak nyaman, bahwa aku pernah berdiri seperti itu.
Di gerbang utara Desa Marrow, dengan seorang perempuan tujuh puluh satu tahun menangis di jubahku.
Seris Ovelle tiba dari Vireln tiga hari kemudian.
Dan pada tanggal delapan puluh empat, di ruang perpustakaan Istana Vaelmoor, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun dua bulan, enam orang berada di ruangan yang sama.
Aku ingin mencatat apa yang terjadi, dan aku menyadari bahwa yang terjadi hampir tidak ada.
Tidak ada pidato.
Roan berdiri di kepala meja karena Roan selalu berdiri di kepala meja. Bhaltair di sudut, membelakangi dinding, karena Bhaltair selalu membelakangi dinding. Seris duduk di sisi kiri dan langsung mulai memeriksa pergelangan tangan orang yang paling dekat dengannya, yang kebetulan Cael, yang mengeluh selama sembilan menit tanpa menarik tangannya.
Ilvera duduk di kursi yang terlalu besar untuknya dan mengayunkan kakinya seperti anak empat belas tahun.
Dan aku berdiri.
Aku baru menyadarinya setelah beberapa menit: aku berdiri, di sisi kanan meja, sedikit di belakang bahu kiri Bhaltair.
Kebiasaan sepuluh tahun.
Lyra Vandell, yang duduk di ujung meja dengan tiga tumpukan berkas, mengangkat wajah dan melihat di mana aku berdiri.
Dan lalu dia menarik kursi kosong ke sebelahnya dan mendorongnya ke arahku dengan kakinya, tanpa berkata apa-apa, tanpa mengangkat wajah dari pekerjaannya.
Aku duduk.
Dan enam orang di ruangan itu tidak berkomentar sama sekali, dan aku tahu — aku tahu dengan pasti, karena aku menghabiskan sepuluh tahun membaca lima orang ini — bahwa kelimanya melihatnya.
Ilvera menawarkan gelar itu pada hari kelima.
Bukan di ruang resmi. Di dapur istana, jam sebelas malam, sambil makan roti dingin, karena Ratu Vaelmoor ternyata masih tidak bisa tidur sebelum jam dua dan masih makan berdiri.
“Aku sudah menyuruh mereka menyusun rancangannya,” katanya. “Adipati Vaelmoor Timur. Wilayahnya kecil, tanahnya berbatu, tidak ada yang mau. Sempurna.”
“Ilvera.”
“Dan gelar adipati otomatis membawa peringkat guild kehormatan Rank A,” katanya, sambil mengunyah. “Yang berarti kau bisa mendaftarkan party. Yang berarti sistem berhenti menolakmu. Yang berarti—“
“Tidak.”
Dia berhenti mengunyah.
“Apa?”
“Tidak,” kataku.
Kami berdebat selama empat puluh menit.
Aku tidak akan menuliskan seluruhnya, karena sebagian besarnya adalah Ilvera Draconis berteriak dan aku menunggu dia selesai, yang merupakan bentuk percakapan yang sudah kami sempurnakan sejak dia berumur empat belas tahun.
Tapi aku akan menuliskan bagian terakhirnya.
“Kenapa,” katanya, akhirnya. Dia sudah duduk di lantai dapur, dengan punggung ke lemari, seperti anak yang kelelahan. “Berikan aku satu alasan yang bukan omong kosong tentang kerendahan hati.”
“Ini bukan tentang kerendahan hati.”
“Kalau begitu apa?”
Aku duduk di lantai di seberangnya.
“Kau ingat waktu kau berumur lima belas,” kataku, “dan kau bertanya kepadaku kenapa aku tidak pernah menandatangani laporan raid.”
“...Ya.”
“Apa jawabanku?”
Dia mengerutkan kening. Tiga tahun lupa. Tapi ini bukan wajah; ini kalimat, dan kalimat bertahan lebih lama.
“Kau bilang...” Dia berhenti. “Kau bilang tanda tangan itu bukan bukti.”
“Ya.”
“Kau bilang tanda tangan cuma klaim orang tentang dirinya sendiri.”
“Ya.”
Aku memandangi lantai dapur.
“Ilvera,” kataku. “Kalau kau memberiku gelar besok, aku akan jadi Adipati Vaelmoor Timur. Sistem akan berhenti menolakku. Party akan terdaftar. Kolom keanggotaan akan berubah dari lima jadi enam.”
“Ya! Itu—“
“Dan itu akan menjadi kebohongan,” kataku.
Dapur itu sangat sunyi.
“Bukan gelarnya,” kataku. “Gelarnya sah, kau ratu, kau berhak. Yang bohong adalah angkanya.”
Aku mengangkat wajah.
“Kolom itu akan berbunyi enam karena seorang ratu menandatangani kertas,” kataku. “Bukan karena aku ada di sana selama sepuluh tahun.”
“Apa bedanya—“
“Bedanya adalah aku akan tahu,” kataku.
Ilvera Draconis membuka mulutnya. Lalu menutupnya.
“Tiga tahun aku duduk di ruang tamu gelap memandangi kolom yang bertuliskan lima,” kataku, “dan aku bertahan karena aku tahu angka itu salah. Itu satu-satunya hal yang kupegang. Bahwa angkanya salah, dan aku benar.”
Aku menyandarkan punggungku ke lemari.
“Kalau kau mengubahnya dengan dekrit,” kataku, “aku kehilangan itu. Karena mulai besok aku tidak akan pernah bisa tahu lagi apakah angka enam itu benar, atau cuma hadiah.”
Ilvera Draconis menangis di lantai dapur istananya sendiri, jam dua belas malam, di depan tiga orang stafnya yang berpura-pura sangat sibuk mencuci sesuatu.
“Aku benci kau,” katanya.
“Aku tahu.”
“Aku benci bahwa itu masuk akal.”
“Aku tahu.”
“Kau tidak boleh menjelaskan sesuatu dengan masuk akal waktu aku sedang berusaha memberimu sesuatu yang bagus.”
“Maaf.”
“Kau tidak menyesal.”
“Tidak,” kataku. “Tapi aku menghargai bahwa kau mencoba.”
Dia menyeka wajahnya dengan lengan gaun tidur kerajaan, yang mungkin merupakan pelanggaran protokol yang lebih serius daripada apa pun yang dilakukan Halvorne.
“Aku akan menyimpan rancangannya,” katanya.
“Ilvera—“
“Aku tidak akan mengesahkannya,” katanya. “Aku juga tidak akan membakarnya. Itu keputusanku dan kau tidak boleh menghitungnya.”
Kami tinggal di Vaelmoor selama sebelas hari.
Dan hari-hari itu adalah hari-hari terbaik dalam tiga tahun terakhir hidupku, dan aku menuliskannya di sini karena aku tahu apa yang datang setelahnya.
Bhaltair Vorn makan tujuh kali sehari selama sebelas hari, atas perintah medis Seris Ovelle, dan naik empat kilogram, dan tidak berkomentar sama sekali kecuali satu kali ketika Cael menyebutnya “gerbang berjalan” dan dia menjawab “ya”.
Cael Nyx tidur di dalam ruangan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun. Dia bilang itu tidak nyaman. Dia tetap melakukannya selama sebelas malam.
Roan Ferrant mengirim empat belas surat ke ordonya dan menerima tujuh balasan dari Ferran Deyl, yang ternyata memimpin latihan pagi dengan sangat baik dan yang menulis surat resmi dengan gaya yang membuat Roan tertawa setiap kali.
Seris Ovelle memeriksa kami semua, satu per satu, dan menulis catatan medis lengkap untuk enam orang.
Enam berkas.
Dengan nama di kolom nama.
Dia menunjukkan berkasku kepadaku pada hari kesembilan, dan aku memandangi satu kata di baris paling atas untuk waktu yang cukup lama.
THEO.
“Ini berkas pertamamu yang bernama,” kataku.
“Yang kedua puluh tiga,” katanya. “Yang pertama bernama.”
Dan Ilvera Draconis, pada malam kesepuluh, mengumpulkan kami di halaman berkerikil dan berkata:
“Aku mau kalian mengajariku.”
“Mengajari apa?”
“Membaca peta,” katanya. “Peta yang benar. Peta kartografer kerajaan.”
Dia mengangkat dagunya, dan wajahnya persis wajah anak berumur empat belas tahun yang bertanya sesuatu yang memalukan.
“Aku ratu,” katanya. “Aku tidak boleh cuma bisa membaca peta satu orang.”
Dan yang terjadi selanjutnya adalah salah satu hal terkonyol yang pernah kulihat:
Ratu Vaelmoor duduk bersila di kerikil halaman timur pada jam sepuluh malam, dengan enam orang mengelilinginya, sementara Roan Ferrant menjelaskan tanda ketinggian standar Ordo Perak dan Cael Nyx menyanggah segalanya dan Bhaltair Vorn sesekali mengucapkan satu kata yang selalu benar dan Seris Ovelle mengingatkan semua orang untuk minum air.
Dan Lyra Vandell — yang tidak mengenal satu pun dari mereka delapan puluh empat hari lalu — duduk di antara Sword Saint benua dan Pendeta Agung Katedral Vireln, dan mengoreksi tata bahasa mereka berdua.
Aku duduk agak jauh dan tidak ikut.
Bukan karena tersisih.
Karena aku sudah mengajarinya sekali, sebelas bulan, di atas pasir. Dan malam itu bukan giliranku.
Aku duduk di tepi halaman berkerikil Istana Vaelmoor dan menonton lima orang yang tidak mengingat wajahku mengajari orang keenam membaca peta, dan aku menghitung — karena tentu saja aku menghitung —
Lima orang.
Satu arsiparis.
Satu.
Tujuh.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
[ Party Formation — Pending ]
Requesting Members :
Roan Ferrant [ ACCEPTED ]
Bhaltair Vorn [ ACCEPTED ]
Seris Ovelle [ ACCEPTED ]
Ilvera Draconis [ ACCEPTED ]
Cael Nyx [ ACCEPTED ]
Status : 5 / 5
Registration DENIED.
Reason : Party leader must hold Rank C or above.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Lima dari lima.
Aku memandangi kotak itu di menara timur pada malam terakhir kami di Vaelmoor.
Registration DENIED.
Empat kali sekarang.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak marah kepadanya.
Karena kotak itu, dengan segala kebodohan birokratisnya, sedang mengatakan sesuatu yang benar: kolom itu belum boleh berbunyi enam.
Belum.
Bukan karena aku tidak layak. Karena belum ada yang menuliskannya, dan menulis adalah pekerjaanku, dan aku belum menyelesaikannya.
“Close.“
Kami berangkat ke Marrow tanggal sembilan puluh dua.
Tujuh orang, empat belas kuda, dan satu ratu yang mengantar sampai gerbang kota dan menolak menangis lagi dan gagal.
Di jalan keluar, Lyra menyerahkan sesuatu kepadaku.
Selembar kertas. Peta.
Empat puluh satu titik Anomali — tapi bukan yang lama. Diperbarui.
Delapan puluh tiga titik sekarang.
“Kapan?” kataku.
“Aku menerima laporan dari kurir Vaelmoor kemarin,” katanya. “Aku memplotnya semalam.”
Aku memandangi peta itu.
Delapan puluh tiga titik di sembilan distrik dalam sembilan puluh dua hari.
Dan tren penyempitannya tidak lagi tiga koma satu persen per minggu.
“Berapa sekarang?” kataku.
Lyra Vandell tidak menjawab dengan cepat.
“Sebelas koma empat,” katanya.
Aku menghentikan kudaku di tengah jalan raya keluar kota Vaelmoor.
Dan aku menghitung, dan aku menghitungnya tiga kali, dan ketiga kali hasilnya sama.
“Berapa lama,” kata Roan, dari belakangku.
Aku memandangi peta itu.
Delapan puluh tiga titik, menyempit ke satu desa perbatasan berpenduduk lima puluh delapan orang, di mana ada seorang anak berumur sepuluh tahun yang berutang dua puluh dua botol tinta kepadaku dan seorang perempuan berumur tujuh puluh satu tahun yang menaruh sup di sudut yang sama setiap malam.
“Enam minggu,” kataku.
Bersambung — ARC 3 — Bab 37: Pulang
Jumlah kata: 2.503
- 1 Penjual Tinta
- 2 Garam
- 3 Anak yang Berbohong
- 4 Arsiparis
- 5 Sesuatu yang Tidak Punya Kebiasaan
- 6 Sembilan Peti
- 7 Tulisan Tangan
- 8 Empat Puluh Menit
- 9 Yang Mengenaliku
- 10 Surat yang Salah Alamat
- 11 Silverline
- 12 Tiga Kesalahan
- 13 Hujan
- 14 Empat Halaman
- 15 Tiga Ratus Sepuluh
- 16 Gerbang Utara
- 17 Anggota Keenam
- 18 Berangkat
- 19 Gerbang Ordo
- 20 Peringkat Empat Puluh Tiga
- 21 Komandan
- 22 Ruang Nomor Empat
- 23 Jalan ke Kaldrass
- 24 Seribu Dua Ratus
- 25 Empat Puluh Tiga Wasiat
- 26 Fajar Kedua
- 27 Kota yang Tidak Sakit
- 28 Bekas Luka yang Tidak Pernah Terjadi
- 29 Sebab Kematian
- 30 Yang Tidak Bisa Dibalas
- 31 Ratu yang Tidak Bisa Membaca Peta
- 32 Tujuh Belas Menit
- 33 Pasir
- 34 Kota Tanpa Nama
- 35 Delapan Detik
- 36 Lima reading
- 37 Pulang
- 38 Sarang
- 39 Bagaimana Kau Tahu
- 40 Draf Terakhir
- 41 Kota Selatan
- 42 Tiga Puluh
- 43 Yang Tidak Kuucapkan
- 44 Sembilan Hari
- 45 Evaluasi Kelayakan
- 46 Jendela
- 47 Kalimat Terpanjang
- 48 Menara Vessel
- 49 Yang Kubeli
- 50 Prosesi
- 51 Lima Izin
- 52 Magnum Opus
- 53 EXTRA 01 — Tiga Puluh Satu Menit