Chapter Seven
Tulisan Tangan
POV: Theo
ARSIP GUILD PUSAT — CATATAN INVENTARIS MRW-041
Penerima: Cabang Marrow
Isi kiriman: 9 peti — Duplikat Arsip Operasional, Tahun 815–822Keterangan: Duplikat tingkat tiga. Tidak bernilai rujukan. Dikirim ke cabang perbatasan untuk penyimpanan jangka panjang sesuai kebijakan pengosongan gudang pusat.
Catatan Arbiter Vesk: Kirim ke tempat yang tidak akan ada yang membacanya.
“Saya butuh bantuan.”
Lyra berdiri di ambang pintu tokoku jam sembilan pagi dengan lingkaran hitam di bawah mata dan sebuah map di tangan.
“Bantuan apa?”
“Sembilan peti itu berisi arsip. Duplikat operasional delapan tahun. Kira-kira empat ribu dokumen.” Dia menyandarkan diri ke kusen pintu. “Tuan Belden memberi saya waktu dua minggu untuk mengklasifikasi semuanya. Sendirian.”
“Empat ribu dokumen dalam dua minggu.”
“Dua ratus delapan puluh enam per hari.”
“Kau sudah menghitungnya.”
“Saya arsiparis, Theo, tentu saja saya sudah menghitungnya.” Dia mengusap wajahnya. “Saya sudah mengerjakan tiga hari dan saya baru sampai dua ratus empat puluh dokumen. Total. Bukan per hari.”
“Kenapa dua minggu?”
“Karena saya bertanya kenapa harus dua minggu, dan Tuan Belden bilang karena dua minggu terdengar wajar.”
Aku mengambil celemek dari paku.
“Tunggu, saya belum—“
“Kau sudah bilang butuh bantuan.”
“Saya belum menawarkan bayaran.”
“Kau tidak punya bayaran,” kataku, sambil mengunci pintu depan. “Gaji arsiparis tingkat dua di cabang perbatasan adalah tiga koin perak sebulan. Aku tahu karena Tuan Belden mengeluh tentang anggaran setiap kali aku mengantar tinta.”
Dia berdiri di jalan berdebu itu dan membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi.
“Anda tidak harus melakukan ini.”
“Aku tahu.”
Ruang arsip cabang Marrow dulunya kandang, dan sembilan peti terbuka membuatnya terlihat persis seperti kandang yang dijarah.
Kami mulai jam sepuluh.
Sistem Lyra bagus — aku mengakuinya dengan tulus, dan itu bukan hal yang sering kukatakan tentang sistem orang lain. Dia memisahkan berdasarkan tahun, lalu jenis, lalu tingkat kerahasiaan, dan dia melakukan verifikasi silang tiap seratus dokumen agar kesalahan tidak menumpuk terlalu jauh.
Aku mengambil peti keempat dan mulai menyortir.
Kami tidak banyak bicara.
Itu bagian yang paling kuingat dari hari itu, sebenarnya. Bukan apa yang ditemukannya. Tapi enam jam sunyi di ruangan berbau tiga puluh tahun kuda, dengan dua orang menyortir kertas, dan tidak satu pun dari kami merasa harus mengisi keheningannya.
Jam empat sore dia berkata, tanpa mengangkat wajah, “Anda menyortir tiga kali lebih cepat dari saya.”
“Aku sudah lama menyortir kertas.”
“Sebagai penjual tinta.”
“Antara lain.”
Dia mendengus dan kembali bekerja.
Jam enam, Tuan Belden lewat, melihat ke dalam, dan berkata, “Bagus, bagus. Kalian berdua rajin,” dengan nada orang yang baru saja menghemat gaji satu pegawai, lalu pergi.
Lyra memegang pena di tangannya dengan cara yang membuatku sedikit khawatir untuk pena itu.
“Kalau kau mematahkannya,” kataku, “kau harus beli lagi dariku.”
“Berapa?”
“Enam koin tembaga.”
“Sepadan.”
Itu lelucon pertamanya sejak dia tiba di Marrow, dan aku tertawa — bunyinya keluar sebelum aku sempat memutuskan apa-apa tentangnya, satu tawa pendek yang terdengar asing di telingaku sendiri.
Lyra mengangkat wajah dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca.
“Apa?” kataku.
“Tidak ada.” Dia kembali ke dokumennya, terlalu cepat. “Tidak ada apa-apa.”
Dia menemukannya jam sembilan malam.
Kami sudah menyelesaikan lima peti. Peti keenam berisi tahun 819, dan tahun 819 berisi dokumen operasional yang lebih tebal dari yang lain, karena 819 adalah tahun Kampanye Utara dan setiap orang di dunia ini tahu itu.
Aku sedang di sisi lain ruangan ketika bunyi kertas berhenti.
Bukan berhenti seperti orang selesai. Berhenti seperti orang berhenti bernapas.
“Theo.”
Aku tidak menoleh.
“Theo, kemari.”
Aku menoleh.
Dia berdiri di bawah lentera dengan selembar kertas di tangan. Kertasnya tua, kuning di tepinya, jenis yang dipakai untuk lampiran teknis karena murah dan tidak menyerap tinta dengan baik.
Aku tahu kertas apa itu dari jarak enam langkah.
“Lampiran Empat,” kata Lyra. “Laporan Raid 61. Kampanye Utara, tahun 819.” Suaranya sangat rata, dan kerataan itu jauh lebih menakutkan daripada kalau dia berteriak. “Diagram formasi. Gambar tangan. Tidak ditandatangani.”
“Ya.”
“Anda tidak bertanya diagram apa.”
Aku diam.
Lyra meletakkan kertas itu di atas meja panjang di tengah ruangan. Lalu, dari saku roknya, dia mengeluarkan sesuatu yang jelas sudah dia bawa selama beberapa hari.
Sebuah label botol tinta.
Kecil. Kotak. Dua deret angka — tanggal pembuatan di depan, tanggal stabilitas di belakang.
Dia meletakkannya di sebelah lampiran itu.
“Angka delapan,” katanya.
Aku tidak melihat ke bawah.
“Semua orang menulis angka delapan dengan menutup lingkaran atasnya,” lanjut Lyra. “Semua orang. Itu diajarkan begitu di seluruh benua. Anda tidak menutupnya. Anda meninggalkan celah sekitar sepertiga milimeter di sisi kanan atas, konsisten, di setiap angka delapan yang pernah Anda tulis.”
“Banyak orang menulis begitu.”
“Tidak ada,” katanya. “Saya arsiparis, Theo. Saya sudah membaca tulisan tangan sekitar sebelas ribu orang. Ada empat variasi umum angka delapan. Yang ini bukan salah satunya.”
Ruangan itu sangat sunyi.
“Dan bukan cuma delapan,” katanya, lebih pelan sekarang. “Garis pemisah kolom. Anda menariknya dari kanan ke kiri. Orang kidal menarik begitu — tapi Anda menulis dengan tangan kanan. Saya melihat Anda menulis dengan tangan kanan selama enam jam hari ini.”
Aku memandangi meja.
“Kenapa dari kanan ke kiri?” tanyanya.
Dan pertanyaan itu — bukan pertanyaan besar, bukan siapa kau, bukan apa kau anggota keenam itu — pertanyaan kecil yang bodoh dan teknis itulah yang membongkar sesuatu di dadaku.
“Karena aku menggambar diagram sambil bicara,” kataku.
“Apa?”
“Kalau kau menggambar dari kiri ke kanan, tanganmu menutupi apa yang baru kau gambar. Orang yang berdiri di seberang meja tidak bisa melihatnya sampai tanganmu lewat.” Aku mendengar suaraku sendiri, sangat jauh. “Kalau kau menariknya dari kanan ke kiri, garisnya terbuka ke arah mereka begitu selesai. Mereka bisa membaca sambil kau menggambar. Menghemat sekitar empat detik per diagram.”
“Empat detik.”
“Kalau kau menggambar dua puluh diagram sebelum satu raid, itu delapan puluh detik,” kataku. “Dan kadang delapan puluh detik itu penting.”
Lyra tidak bergerak selama waktu yang terasa sangat lama.
Lalu dia menarik kursi dan duduk, dengan gerakan orang yang kakinya menyerah lebih dulu daripada pikirannya.
“Saya tidak akan bertanya,” katanya. “Saya sudah janji.”
“Kau baru saja bertanya empat kali.”
“Saya bertanya tentang garis.” Dia menekan pangkal hidungnya dengan jari. “Saya tidak bertanya tentang Anda. Itu berbeda dan Anda tahu itu berbeda.”
“Ya,” kataku. “Aku tahu.”
Kami duduk di sana, dua orang di ruang bekas kandang, dengan sebuah diagram formasi berumur tujuh tahun dan sebuah label botol tinta berdampingan di atas meja.
“Boleh saya simpan ini?” tanyanya akhirnya. “Lampirannya. Bukan untuk dilaporkan. Untuk saya sendiri.”
“Itu properti guild.”
“Duplikat tingkat tiga,” katanya. “Tidak bernilai rujukan. Tertulis di catatan inventaris. Kalau hilang satu lembar, tidak akan ada yang tahu selama seratus tahun.”
“Kau melanggar peraturan arsip.”
“Ya.”
“Untuk selembar kertas yang tidak ada tanda tangannya.”
Lyra mengangkat wajah, dan matanya merah, dan aku tidak tahu sejak kapan.
“Selama tiga tahun,” katanya, “semua orang bilang saya menyimpulkan keberadaan seseorang dari ketiadaan bukti.”
Dia menyentuh sudut lampiran itu dengan ujung jari.
“Ini bukti.”
Aku pulang jam sebelas.
Seratus delapan puluh dua langkah. Aku menghitungnya, seperti selalu, dan sampai di angka seratus delapan puluh dua tepat di depan pintuku, seperti selalu.
Di dalam gelap. Aku tidak menyalakan lilin.
Aku duduk di meja kerja dan meletakkan kedua tanganku di atas kayunya dan tidak bergerak selama mungkin sepuluh menit.
Empat detik per diagram.
Aku tidak pernah memberitahu siapa pun soal itu. Bukan rahasia — hanya tidak pernah relevan. Roan pernah bertanya sekali, delapan tahun lalu, kenapa garisku selalu terbalik, dan aku menjawab “kebiasaan”, dan dia menerimanya karena dia menerima semua yang kukatakan.
Lima orang. Sepuluh tahun. Sembilan puluh enam raid.
Dan yang bertanya kenapa dari kanan ke kiri adalah seorang arsiparis di ruang bekas kandang di ujung dunia, tiga tahun setelah semuanya berakhir.
Aku menarik laci.
Kertas itu masih di sana. Empat baris nama. Aku memandanginya, lalu mengembalikannya, lalu menutup laci tanpa menambahkan apa-apa.
Open Status Window.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
[ Theo ]
Lv. 95 / 99
Registered Rank : F
Registered Party : —
Party Affiliation (Archived) :
[ ASHEN CROWN ] — Disbanded, Year 822
Members : 5
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Lima.
Tiga tahun aku memandangi angka itu dan menerimanya seperti orang menerima cuaca.
Malam ini, untuk pertama kalinya, aku memandangi angka itu dan merasa marah.
Bukan pada sistem. Sistem hanya mencatat.
Pada diriku sendiri, karena selama tiga tahun aku menganggap angka itu benar.
“Close.“
Di seberang halaman belakang, lentera ruang arsip menyala sampai subuh.
Aku tahu apa yang dia lakukan di sana. Aku tahu persis.
Dia sedang menyalin ulang lampiran itu dengan tangannya sendiri — bukan karena butuh salinan, tapi karena arsiparis yang menemukan sesuatu tidak bisa berhenti menyentuhnya. Dia sedang mencocokkan setiap angka delapan. Dia sedang menghitung berapa lampiran serupa yang mungkin ada di tiga peti yang belum kami buka.
Dan sekitar jam tiga pagi, dia akan berhenti menyalin, dan duduk diam, dan menyadari bahwa dia sekarang punya satu-satunya bukti fisik di dunia untuk hal yang membuatnya diusir dari ibu kota.
Dan bahwa dia tidak bisa menunjukkannya kepada siapa pun.
Karena menunjukkannya berarti menunjuk seseorang.
Aku berdiri di jendela belakang lebih lama dari yang bisa kubenarkan pada diriku sendiri, memandangi satu titik kuning kecil di ujung halaman.
Lalu aku menutup tirai dan pergi tidur.
Tiga hari kemudian, tambang timah di lereng barat runtuh dengan enam orang di dalamnya.
Bersambung — Bab 8: Empat Puluh Menit
Jumlah kata: 2.187
- 1 Penjual Tinta
- 2 Garam
- 3 Anak yang Berbohong
- 4 Arsiparis
- 5 Sesuatu yang Tidak Punya Kebiasaan
- 6 Sembilan Peti
- 7 Tulisan Tangan reading
- 8 Empat Puluh Menit
- 9 Yang Mengenaliku
- 10 Surat yang Salah Alamat
- 11 Silverline
- 12 Tiga Kesalahan
- 13 Hujan
- 14 Empat Halaman
- 15 Tiga Ratus Sepuluh
- 16 Gerbang Utara
- 17 Anggota Keenam
- 18 Berangkat
- 19 Gerbang Ordo
- 20 Peringkat Empat Puluh Tiga
- 21 Komandan
- 22 Ruang Nomor Empat
- 23 Jalan ke Kaldrass
- 24 Seribu Dua Ratus
- 25 Empat Puluh Tiga Wasiat
- 26 Fajar Kedua
- 27 Kota yang Tidak Sakit
- 28 Bekas Luka yang Tidak Pernah Terjadi
- 29 Sebab Kematian
- 30 Yang Tidak Bisa Dibalas
- 31 Ratu yang Tidak Bisa Membaca Peta
- 32 Tujuh Belas Menit
- 33 Pasir
- 34 Kota Tanpa Nama
- 35 Delapan Detik
- 36 Lima
- 37 Pulang
- 38 Sarang
- 39 Bagaimana Kau Tahu
- 40 Draf Terakhir
- 41 Kota Selatan
- 42 Tiga Puluh
- 43 Yang Tidak Kuucapkan
- 44 Sembilan Hari
- 45 Evaluasi Kelayakan
- 46 Jendela
- 47 Kalimat Terpanjang
- 48 Menara Vessel
- 49 Yang Kubeli
- 50 Prosesi
- 51 Lima Izin
- 52 Magnum Opus
- 53 EXTRA 01 — Tiga Puluh Satu Menit