← Magnum Opus

Chapter Twenty Six

Fajar Kedua

POV: Theo


ARSIP GUILD PUSAT — LAMPIRAN 4471-C.26
KESAKSIAN — Duvo Halen, Sersan Garnisun Kaldrass, 29 tahun masa dinas
Diambil lima bulan setelah kejadian.

Kalian mau tahu soal pertempurannya. Aku akan cerita soal yang lain dulu, karena yang lain itu yang penting.

Aku sudah dua tahun bertugas di bawah Vorn. Dua tahun aku memanggilnya Komandan dan dia menjawab dengan satu kata dan itu saja.

Dua tahun aku tidak pernah melihat orang itu duduk.

Aku serius. Tidur — ya, kadang, bersandar di dinding. Tapi duduk, dengan lutut ditekuk, seperti orang biasa duduk? Tidak pernah. Aku sudah memperhatikan karena setelah dua tahun kau memperhatikan hal-hal aneh.

Pagi itu, orang dari Marrow itu berkata sesuatu kepadanya. Aku tidak dengar apa.

Dan Komandan Vorn mundur enam langkah dari celah.

Enam langkah. Itu saja.

Tiga puluh sembilan orang di halaman itu berhenti melakukan apa yang sedang mereka lakukan.


“Aku tidak bisa mundur.”

“Aku tahu.”

“Kau tidak tahu.” Suara Bhaltair sudah bukan suara lagi; itu bunyi yang keluar dari kerongkongan yang enam hari tidak minum cukup. “Bukan tidak mau. Tidak bisa. Skill ini—“

“[ Immovable Dawn ] mengunci posisi selama aktif,” kataku. “Aku tahu. Aku yang mengukurnya.”

“Kalau aku melepasnya, celah ini terbuka.”

“Selama sebelas detik,” kataku. “Waktu reaktivasi [ Immovable Dawn ] adalah sebelas detik. Bukan dua belas, bukan sepuluh. Aku mengukurnya juga.”

“Sebelas detik cukup untuk delapan puluh orang masuk.”

“Ya,” kataku. “Kalau tidak ada apa-apa di celah itu selama sebelas detik.”

Aku membuka tas kanvasku.


Ini yang kususun jam tiga pagi, di antara wasiat kedua puluh dan kedua puluh satu, sambil mendengarkan seorang prajurit mendiktekan resep sup.

Masalahnya bukan seribu dua ratus orang.

Masalahnya adalah celah selebar empat puluh meter yang menyempit jadi enam, dan satu orang yang berdiri di enam meter itu selama enam hari, dan fakta bahwa satu-satunya cara dia bisa berhenti adalah kalau enam meter itu berhenti menjadi satu-satunya jalan masuk.

Kau tidak bisa menyelamatkan orang yang tidak bisa mundur dengan menyuruhnya mundur.

Kau harus memindahkan garisnya.

[ Marginalia ].

Entri 0287. Chalk Line. Level satu. Skill tukang batu. Menandai satu garis lurus di permukaan apa pun, sepanjang maksimal enam meter, yang tidak hilang sampai dihapus.

Entri 0031. Anchor. Level dua. Skill pelaut. Menahan satu benda di satu titik terhadap arus, selama maksimal sembilan puluh detik.

Dua skill sampah.

Kusalin dari seorang tukang batu di kota Ferren yang sedang membangun tembok gereja, dan dari seorang pelaut tua di dermaga Halvern yang menukar skill-nya dengan dua gelas minuman karena dia bilang skill itu tidak berguna di darat.

Aku berjalan ke celah itu dan berjongkok, dan menggambar dengan tinta di batu.

Bukan satu garis.

Empat.

Empat garis pendek, masing-masing enam meter, disusun bukan melintang tapi menyudut — dua dari sisi utara, dua dari sisi selatan, saling tumpang tindih di tengah.

Empat puluh meter celah itu, secara geometris, berubah menjadi sebuah koridor berbelok.

Aku berdiri.

“Bhaltair. Berdiri di garis kedua.”

“Itu enam langkah di belakang.”

“Ya.”

“Kalau aku pindah, celah pertama terbuka.”

“Celah pertama akan terbuka,” kataku. “Dan mereka akan masuk ke dalamnya, dan mereka akan menemukan bahwa masuk ke celah pertama membawa mereka ke sisi buta garis kedua.”

Aku menunjuk.

“Kau tidak menahan pintu, Bhaltair. Kau menahan satu-satunya pintu. Itu dua hal yang berbeda dan kau sudah enam hari mengira mereka sama.”

Dia memandangi empat garis tinta itu di atas batu.

“Kalau ini gagal—“

“Kalau ini gagal, aku berdiri di garis pertama,” kataku.

“Kau akan mati.”

“Ya,” kataku. “Jadi jangan gagal.”


[ SECOND DAWN ]

Recipe : Chalk Line (Lv.1) + Anchor (Lv.2) Tier : SUPREME

Yang dilakukannya sederhana, dan itulah kenapa ia bekerja.

Chalk Line menandai garis yang tidak bisa dihapus. Anchor menahan sesuatu di satu titik.

Digabung: sebuah garis yang menahan dirinya sendiri di tempat.

Bukan dinding. Bukan penghalang. Tidak ada yang menghentikan siapa pun secara fisik.

Yang dilakukan [ Second Dawn ] adalah membuat empat garis itu terlihat, di mata siapa pun yang berniat menyeberanginya, sebagai batas — dan menahan batas itu di tempatnya walaupun orang yang menjaganya sudah pindah.

Orang yang berlari ke dalam pertempuran tidak berhenti karena tembok.

Mereka berhenti karena mereka melihat garis dan otak mereka, dalam waktu kurang dari sepersepuluh detik, memutuskan bahwa di balik garis itu ada sesuatu.

Sembilan hari kemudian Roan Ferrant bertanya kepadaku apakah [ Second Dawn ] itu ilusi.

Aku bilang bukan. Aku bilang itu tata letak.

Dia bertanya apa bedanya.

Aku bilang: ilusi membuatmu melihat sesuatu yang tidak ada. Tata letak membuatmu berjalan ke arah yang sudah kupilih, sambil mengira kau yang memilih.


Serangan pagi itu datang jam enam lewat empat.

Kapten Ordas Vetrick mengirim dua ratus orang lewat celah dinding barat, karena celah dinding barat adalah satu-satunya jalan masuk yang masuk akal, dan karena selama enam hari celah itu dijaga oleh satu orang yang bisa ditunggu sampai kelelahan.

Dua ratus orang masuk ke celah pertama.

Celah pertama kosong.

Aku menonton dari puing di sisi utara, dan aku menonton dua ratus orang berhenti berlari.

Bukan karena ada yang menghalangi. Karena tidak ada yang menghalangi, dan itu jauh lebih menakutkan bagi pasukan yang sudah enam hari menabrak dinding yang sama.

Baris depan melambat.

Baris kedua menabrak baris depan.

Dan lalu mereka melihat garis kedua — tinta hitam di atas batu, enam meter, menyudut — dan di belakangnya berdiri sesuatu yang mereka kenali.

Menit satu.

Mereka masuk ke koridor berbelok itu, karena itu satu-satunya arah yang tersisa, karena aku sudah menyusunnya sedemikian rupa sehingga hanya ada satu arah yang tersisa.

Dan koridor berbelok mengubah dua ratus orang yang berlari dalam formasi lebar menjadi dua ratus orang yang berjalan dalam barisan selebar empat.

Menit dua.

“Roan,” kataku.

Dia sudah berdiri di sudut belokan.

“Tiga detik,” kataku.

Roan Ferrant menutup matanya, diam total, dan aku menghitung tiga detik untuknya seperti yang kulakukan sembilan puluh enam kali sebelumnya.

[ Ninth Sunder ]

Sembilan tebasan mendarat sebagai satu.

Empat orang di barisan depan itu tidak sempat mengangkat perisai.

Menit tiga.

“Bhaltair. Maju satu garis.”

Dan Bhaltair Vorn — yang tidak bisa mundur, dan yang tidak pernah punya masalah dengan maju — melangkah dari garis kedua ke garis pertama, dan [ Immovable Dawn ] menutup di belakang dua ratus orang yang sudah masuk.

Yang terjadi selanjutnya memakan waktu dua puluh dua menit.

Aku tidak akan menuliskannya.


Kompi Vetrick mundur jam sembilan pagi.

Bukan hancur — mereka kehilangan sekitar seratus enam puluh orang dari seribu dua ratus, dan seribu empat puluh tentara bayaran masih seribu empat puluh tentara bayaran.

Mereka mundur karena Kapten Ordas Vetrick adalah orang yang kompeten, dan orang yang kompeten menghitung.

Dan yang dia hitung pagi itu adalah bahwa sesuatu di dalam benteng itu sudah berubah, dan bahwa dia tidak tahu apa, dan bahwa dia sudah kehilangan kendali atas pasukannya sendiri selama empat puluh menit malam sebelumnya tanpa penjelasan.

Kadipaten Hollen membayarnya untuk merebut celah.

Kadipaten Hollen tidak membayarnya cukup untuk terus menyerang sesuatu yang tidak bisa dia baca.

Aku menonton mereka membongkar tenda dari menara selatan, dan aku menghitung, dan aku tahu mereka akan pergi tiga jam sebelum mereka tahu.


Bhaltair Vorn duduk jam sebelas siang.

Di halaman. Di atas batu. Dengan lutut ditekuk, seperti orang biasa duduk.

Tiga puluh sembilan orang di halaman itu berhenti melakukan apa yang sedang mereka lakukan, dan Sersan Duvo Halen berdiri memegang ember dan tidak meletakkannya selama hampir satu menit.

Aku duduk di sebelahnya.

Kami tidak bicara selama sekitar dua puluh menit.

Lalu Bhaltair Vorn berbicara, dan ini adalah kalimat terpanjang yang pernah dia ucapkan dalam hidupnya, dan aku menuliskannya di sini persis seperti yang kuingat karena aku tidak akan mempercayai ingatanku sendiri dalam sepuluh tahun.

“Tiga tahun lalu kita pulang dari menara,” katanya.

“Ya.”

“Aku tidak ingat menaranya. Aku ingat berangkat dan aku ingat pulang.”

“Aku juga.”

“Waktu kami pulang, aku merasa aku sudah gagal melindungi seseorang.” Dia memandangi tangannya. “Aku tidak tahu siapa. Aku menghitung kami semua — Roan, Seris, Ilvera, Cael. Semua hidup. Semua utuh.”

Dia diam sebentar.

“Tapi rasanya seperti aku menurunkan perisaiku dan seseorang lewat.”

Aku tidak bisa berkata apa-apa.

“Jadi aku minta ditugaskan ke gerbang terjauh,” katanya. “Kaldrass. Sembilan hari dari mana pun.”

“Kenapa yang terjauh?”

“Karena kalau aku berdiri cukup lama di satu tempat,” katanya, “orang yang aku gagal lindungi itu akan lewat suatu hari. Dan kali ini aku akan ada di sana.”

Halaman itu sangat sunyi.

“Rotasi pertama datang setelah sembilan puluh hari,” katanya. “Aku menolaknya.”

“Bhaltair—“

“Yang kedua tidak pernah datang. Yang ketiga juga tidak. Lalu anggarannya dicabut, lalu posnya dihapus dari daftar.” Dia mengangkat bahu, satu gerakan kecil. “Aku tetap di sini. Tiga tahun.”

Dia menoleh kepadaku.

“Tadi malam kau berdiri di belakang bahu kiriku,” katanya.

“Ya.”

“Dan aku menyadari sesuatu yang membuatku ingin berteriak, dan aku tidak berteriak karena aku tidak bisa.”

Dia menatapku dengan mata yang merah dan tidak berair, karena Bhaltair Vorn tidak menangis dan tidak pernah menangis dan itu justru membuatnya jauh lebih buruk.

“Aku berdiri di gerbang selama tiga tahun menunggu orang yang aku gagal lindungi,” katanya. “Dan orang itu berjalan menembus seribu dua ratus tentara di malam hari, sendirian, untuk sampai ke aku.”

Dia mengucapkan kalimat terakhirnya dengan sangat pelan.

“Aku bahkan gagal di bagian menunggunya.”


Aku tidak menghiburnya. Aku sudah belajar dari Roan.

Yang kulakukan adalah duduk di sebelahnya di halaman Benteng Kaldrass sampai matahari pindah, dan lalu aku berkata:

“Ada empat lagi.”

“Aku tahu.”

“Seris di Vireln.”

“Aku tahu.”

Bhaltair Vorn berdiri.

Dia memungut perisainya — dan aku melihat sesuatu yang membuatku harus memalingkan wajah: dia mengangkatnya ke punggung, bukan menancapkannya ke tanah.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, perisai itu jadi sesuatu yang dibawa, bukan sesuatu yang berdiri.

“Aku ikut,” katanya.

“Kaldrass—“

“Kaldrass sudah dihapus dari daftar aktif dua tahun lalu,” katanya. “Aku menjaga pos yang secara resmi tidak ada, untuk kerajaan yang tidak mengirim penggantiku, terhadap musuh yang sudah pergi.”

Dia memasang tali perisainya.

“Aku sudah selesai menjaga tempat,” katanya. “Sekarang aku menjaga orang.”


━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
[ Fusion Record Updated ]

Entry #622
Name : Second Dawn
Recipe : Chalk Line (Lv.1) + Anchor (Lv.2)
Tier : SUPREME
Method : LIVE DRAFT

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
[ Party Formation — Pending ]

Requesting Members : Roan Ferrant, Bhaltair Vorn
Status : ACCEPTED (2)

Registration DENIED.
Reason : Party leader must hold Rank C or above.

Witnesses : 47
Cumulative : 250
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Registration DENIED.

Dua kali sekarang.

Aku memandanginya di kamar jaga Benteng Kaldrass jam sebelas malam, dengan Roan tidur di lantai di sebelah kiri dan Bhaltair duduk bersandar di dinding di sebelah kanan — duduk, dengan lutut ditekuk — dan Lyra menulis surat pengantar untuk empat wasiat di meja di sudut.

Party leader must hold Rank C or above.

Aku hampir tertawa.

Dua puluh dua tahun. Sembilan puluh enam raid. Enam ratus dua puluh dua resep yang belum pernah ada di dunia.

Dan sistem ini menolakku karena sebuah huruf di kartu kuningan yang tidak pernah kuperbarui.

Close.

Vireln sebelas hari ke barat daya.


Bersambung — Bab 27: Kota yang Tidak Sakit

Jumlah kata: 2.571