Chapter Four
Arsiparis
POV: Theo
ARSIP GUILD PUSAT — SURAT MUTASI 0918
Kepada: Lyra Vandell, Arsiparis Tingkat DuaSehubungan dengan penolakan Dokumen 4471-C dan penggunaan waktu kerja untuk penelitian yang tidak ditugaskan, Saudari dipindahtugaskan ke Cabang Marrow, Distrik Perbatasan Timur, terhitung awal bulan depan.
Seluruh materi penelitian pribadi diperkenankan dibawa.
Catatan Arbiter Vesk: Bawa saja semuanya. Di sana tidak ada yang akan keberatan.
Kereta pos ke Marrow datang setiap sebelas hari dan biasanya membawa tiga hal: surat, tepung, dan tidak ada orang.
Hari itu ia membawa seorang perempuan dan dua kotak arsip.
Aku melihatnya dari jendela tokoku, karena tokoku menghadap ke gerbang selatan dan karena tidak ada hal lain yang layak dilihat pada jam sepuluh pagi di Desa Marrow. Perempuan itu turun dengan cara orang yang tidak pernah naik kereta pos sebelumnya, yaitu terlalu cepat, dan hampir jatuh, dan kemudian berpura-pura tidak hampir jatuh.
Lalu dia mengangkat sendiri kedua kotak arsipnya, satu di tiap tangan, meskipun jelas terlalu berat, meskipun kusir kereta menawarkan bantuan dua kali.
Aku menghitung.
Kotak arsip standar guild. Berisi penuh, berat sekitar dua puluh dua kilogram masing-masing. Dia membawa empat puluh empat kilogram sejauh delapan belas langkah sebelum menyerah dan menurunkannya.
Delapan belas langkah lebih jauh dari yang seharusnya sanggup.
Dia berdiri di tengah jalan berdebu, di antara dua kotak arsipnya, dan memandang berkeliling ke desa yang akan jadi tempatnya sekarang.
Aku tidak bisa membaca ekspresinya. Itu jarang terjadi.
Dia masuk ke tokoku jam dua siang.
“Selamat siang. Saya dari cabang guild. Tuan Belden bilang di sini tempat membeli tinta.”
“Ya.”
“Saya perlu—“ Dia berhenti. Matanya sudah pindah ke rak di belakangku, dan sisa kalimatnya tidak pernah selesai.
Rak itu berisi dua puluh empat botol, disusun dari kiri ke kanan menurut usia batch.
“Kenapa labelnya begitu?”
“Begitu bagaimana?”
“Anda menulis tanggal pembuatan.” Dia melangkah lebih dekat, membungkuk, membaca. “Tinta besi-galat menua. Sifatnya berubah. Yang penting bukan kapan dibuat, tapi kapan dia mencapai stabilitas — dan itu berbeda untuk tiap batch tergantung suhu perendaman. Kalau Anda menulis tanggal pembuatan, pembeli akan mengira dua botol dengan tanggal sama punya kualitas sama. Padahal tidak.”
Aku memandanginya.
“Maaf.” Dia menegakkan tubuh. “Itu tidak sopan. Saya baru datang dan saya langsung mengkritik dagangan orang.”
“Tidak apa-apa.”
“Tidak, itu memang tidak sopan. Ibu saya akan bilang begitu.”
“Kau benar, kok.”
Dia berkedip. “...Apa?”
“Kau benar. Label itu memang salah.” Aku mengambil botol paling kiri dan memutarnya. Di sisi bawah, dengan tulisan yang jauh lebih kecil, ada satu deret angka lain. “Yang ini tanggal stabilitas. Aku menulisnya di bawah karena kalau kutulis di depan, orang bertanya, dan menjelaskan tinta besi-galat kepada petani yang hanya ingin menandai karung gandum memakan waktu dua puluh menit.”
Dia mengambil botol itu dari tanganku tanpa minta izin.
Membaliknya. Membaca. Diam.
“Ada dua puluh empat botol di rak ini,” katanya pelan.
“Ya.”
“Anda menulis tanggal stabilitas di dua puluh empat botol yang tidak akan pernah dibaca siapa pun.”
“Aku yang membacanya.”
Dia mengangkat wajah, dan untuk pertama kalinya sejak masuk, dia benar-benar melihat ke arahku dan bukan ke rak.
“Lyra Vandell,” katanya. “Arsiparis. Saya ditempatkan di sini.”
“Theo. Aku menjual tinta.”
“Saya tahu. Itu tertulis di papan depan.” Dia mengerutkan kening. “Papannya salah eja, omong-omong. ‘Peralatan tulis-menulis’ pakai tanda hubung.”
“Aku tahu.”
“Kenapa tidak diperbaiki?”
“Yang membuatnya sudah meninggal.”
Wajahnya jatuh sepenuhnya, dalam waktu kurang dari sedetik.
“Oh.”
“Tukang kayu tua di ujung barat. Dia bangga sekali dengan papan itu.”
“Saya minta maaf. Saya—“ Dia menutup mulutnya dengan telapak tangan. “Saya melakukan ini. Kalau gugup saya mengoreksi tata bahasa orang. Itu kebiasaan buruk dan saya tahu itu kebiasaan buruk dan mengetahuinya sama sekali tidak membantu.”
“Kau gugup?”
“Saya baru dipindahkan sejauh sembilan hari perjalanan dari rumah karena menulis sesuatu yang tidak disukai orang. Ya, saya gugup.”
Dia mengatakan itu dengan cepat, seluruhnya dalam satu tarikan napas, dan begitu selesai dia terlihat seperti seseorang yang baru saja menjatuhkan piring.
Aku mengambil botol kosong dari rak bawah dan mendorongnya ke ujung meja.
“Batch minggu lalu terlalu encer,” kataku. “Tidak akan bertahan setahun. Tapi cukup untuk catatan harian.”
“Saya bisa membayar.”
“Kau tidak akan mau membayar untuk tinta yang gagal.”
“Saya akan menilai sendiri apakah saya mau.”
Dan dia meletakkan satu koin tembaga di mejaku, dengan gerakan yang jauh lebih keras dari yang diperlukan.
Dia kembali dua jam kemudian.
Aku sedang menutup tirai depan ketika pintu terbuka lagi, dan Lyra Vandell berdiri di sana dengan buku catatan terbuka di satu tangan dan ekspresi orang yang sudah mengarang seluruh kalimatnya di sepanjang jalan.
“Tinta ini tidak gagal.”
“Encernya empat persen di atas—“
“Tinta ini tidak gagal, ia hanya bukan tinta arsip. Untuk penyalinan cepat justru lebih baik karena tidak menyumbat mata pena, dan saya menyalin dua belas halaman dalam waktu yang biasanya cukup untuk delapan.” Dia menutup bukunya. “Anda menjualnya sebagai barang rusak. Itu salah harga.”
“Kau datang ke sini untuk memarahiku soal harga.”
“Ya.”
“Baik.”
“Baik?”
“Kau benar lagi.” Aku menarik kursi dari balik meja dengan kaki. “Duduk. Kau berdiri sejak tadi seperti orang yang mau lari.”
Dia duduk. Meletakkan buku catatannya di meja, terbuka, dan aku rasa dia tidak sadar melakukannya.
Aku melihat halaman itu selama mungkin dua detik. Bukan sengaja. Angka yang terbuka di depan mata akan dibaca kepalaku entah aku mau atau tidak; itu bukan pilihan, itu seperti mendengar orang menyebut namamu.
Perhitungan mana efficiency. Tiga kolom. Konsumsi per skill, durasi, sisa cadangan.
Kolom ketiga salah.
Aku memalingkan wajah dan tidak berkata apa-apa.
Dia berbicara sekitar lima menit tentang cabang guild — tentang bagaimana ruang arsipnya dulu kandang, tentang Tuan Belden yang menyambutnya dengan bertanya apakah dia bisa mengetik, tentang bagaimana dia menjawab bahwa arsiparis tidak mengetik, arsiparis mengklasifikasi, dan Tuan Belden menjawab ya sudah kalau begitu klasifikasi saja peti-peti itu.
Aku mendengarkan. Aku bagus dalam mendengarkan. Itu bukan kebajikan, itu kebiasaan kerja lama.
Lalu dia berhenti, di tengah kalimat, dan menatapku.
“Anda melihat catatan saya tadi.”
“Sedikit.”
“Ada yang salah?”
“Tidak apa-apa.”
“Tuan Theo.” Dia menutup buku catatannya dan meletakkan kedua tangannya di atasnya. “Saya dipindahkan ke ujung dunia karena saya menolak berhenti bertanya. Anda betul-betul mengira saya akan berhenti sekarang?”
Aku memandanginya cukup lama.
Tiga tahun. Tiga tahun tidak ada yang bertanya dua kali. Tuan Belden berhenti di pertanyaan pertama. Seluruh desa berhenti sebelum pertanyaan pertama.
“Kolom ketigamu salah,” kataku.
“Kolom cadangan?”
“Kau menghitung cadangan mana sebagai sisa setelah pemakaian. Itu benar untuk satu skill. Tapi untuk skill berurutan, tubuh manusia mengisi ulang paling cepat justru di tiga detik pertama setelah pengeluaran besar — bukan di kondisi istirahat.” Aku mengangkat bahu. “Jadi urutan pemakaian mengubah totalnya. Skill besar dulu, baru kecil, hasilnya berbeda sekitar sebelas persen dibanding sebaliknya.”
Ruangan itu jadi sangat sunyi.
“Itu dua kalimat,” kata Lyra.
“Tiga.”
“Itu—“ Dia membuka bukunya lagi. Menatap kolom ketiganya. Menatapku. Menatap kolomnya. “Ini bertentangan dengan seluruh manual pelatihan guild.”
“Ya.”
“Manual pelatihan guild disusun oleh Dewan Formulasi.”
“Aku tahu.”
“Bagaimana Anda tahu ini?”
Dan di sanalah aku seharusnya berhenti.
Aku sudah berhenti ribuan kali sebelumnya. Ada satu kalimat yang selalu bekerja — aku pernah dengar dari pemburu — dan kalimat itu sudah ada di ujung lidahku, sudah terbentuk, siap.
Tapi aku tidak pernah berbohong. Tiga tahun, tidak sekali pun. Dan kalimat itu adalah kebohongan.
Jadi yang kukatakan adalah:
“Aku pernah menghitungnya.”
“Menghitungnya untuk siapa?”
Aku berdiri dan mulai menurunkan tirai.
“Sudah sore. Kedai Nenek Odel tutup jam sembilan, dan kalau kau belum makan sejak turun dari kereta, kau harus ke sana sekarang.”
Dia tidak bergerak selama beberapa saat.
Lalu dia mengambil bukunya, berdiri, dan berjalan ke pintu. Berhenti di ambangnya.
“Tuan Theo.”
“Theo saja.”
“Theo.” Dia tidak menoleh. “Terima kasih untuk tintanya.”
“Kau sudah bayar.”
“Satu koin tembaga,” katanya. “Itu bukan harga yang benar. Saya akan hitung ulang.”
Lalu dia pergi.
Aku tahu dia tidak tidur karena lentera di ruang arsip cabang guild menyala sepanjang malam, dan ruang arsip cabang guild bisa dilihat dari jendela belakang rumahku.
Aku bangun jam dua untuk minum air. Menyala.
Jam empat. Masih menyala.
Jam setengah enam, saat langit mulai kelabu, aku berdiri di jendela belakang lebih lama dari yang bisa kubenarkan pada diriku sendiri.
Lentera itu masih menyala.
Aku tahu apa yang sedang terjadi di sana. Aku tahu persis. Seseorang sedang duduk di meja dengan tiga kolom angka di depannya, menghitung ulang, lalu menghitung ulang lagi, lalu menyadari bahwa hasilnya konsisten, lalu menyadari bahwa kalau hasilnya konsisten maka ada seseorang di desa ini yang mengetahui sesuatu yang tidak diketahui Dewan Formulasi.
Dan orang seperti itu tidak akan tidur.
Aku pernah jadi orang seperti itu. Sangat lama sekali.
Open Status Window.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
[ Theo ]
Lv. 95 / 99
Skills Owned : 1.284
Fusion Records : 619
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Tidak ada yang berubah. Tentu saja tidak. Tidak ada yang pernah berubah.
Aku menutupnya dan berdiri di sana dalam gelap, memandangi satu titik cahaya kuning di seberang halaman belakang.
Sebelas persen, pikirku. Aku memberitahunya sebelas persen.
Aku tidak memberitahu siapa pun apa-apa selama tiga tahun.
Dan pagi ini, dalam waktu kurang dari satu hari, aku memberi seorang arsiparis yang baru turun dari kereta pos sebuah angka yang tidak ada di manual mana pun di dunia.
Aku memikirkan itu sampai matahari naik.
Lalu aku pergi mengaduk batch baru. Dua puluh tujuh kali searah, sembilan kali berlawanan.
Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku salah hitung, dan harus mengulang dari awal.
Bersambung — Bab 5: Sesuatu yang Tidak Punya Kebiasaan
Jumlah kata: 2.203
- 1 Penjual Tinta
- 2 Garam
- 3 Anak yang Berbohong
- 4 Arsiparis reading
- 5 Sesuatu yang Tidak Punya Kebiasaan
- 6 Sembilan Peti
- 7 Tulisan Tangan
- 8 Empat Puluh Menit
- 9 Yang Mengenaliku
- 10 Surat yang Salah Alamat
- 11 Silverline
- 12 Tiga Kesalahan
- 13 Hujan
- 14 Empat Halaman
- 15 Tiga Ratus Sepuluh
- 16 Gerbang Utara
- 17 Anggota Keenam
- 18 Berangkat
- 19 Gerbang Ordo
- 20 Peringkat Empat Puluh Tiga
- 21 Komandan
- 22 Ruang Nomor Empat
- 23 Jalan ke Kaldrass
- 24 Seribu Dua Ratus
- 25 Empat Puluh Tiga Wasiat
- 26 Fajar Kedua
- 27 Kota yang Tidak Sakit
- 28 Bekas Luka yang Tidak Pernah Terjadi
- 29 Sebab Kematian
- 30 Yang Tidak Bisa Dibalas
- 31 Ratu yang Tidak Bisa Membaca Peta
- 32 Tujuh Belas Menit
- 33 Pasir
- 34 Kota Tanpa Nama
- 35 Delapan Detik
- 36 Lima
- 37 Pulang
- 38 Sarang
- 39 Bagaimana Kau Tahu
- 40 Draf Terakhir
- 41 Kota Selatan
- 42 Tiga Puluh
- 43 Yang Tidak Kuucapkan
- 44 Sembilan Hari
- 45 Evaluasi Kelayakan
- 46 Jendela
- 47 Kalimat Terpanjang
- 48 Menara Vessel
- 49 Yang Kubeli
- 50 Prosesi
- 51 Lima Izin
- 52 Magnum Opus
- 53 EXTRA 01 — Tiga Puluh Satu Menit