← Magnum Opus

Chapter Thirty Three

Pasir

POV: Theo


KERAJAAN VAELMOOR — RISALAH SIDANG DEWAN BANGSAWAN
Tanggal 64. Sidang luar biasa. Dipimpin langsung oleh Mahkota.

Hadir: 8 dari 24 anggota.
Tidak hadir: 16 anggota, seluruhnya dalam tahanan Pengawal Mahkota.

Agenda tunggal: pembubaran Dewan Bangsawan Vaelmoor.

Risalah lengkap pernyataan Yang Mulia (dicatat kata per kata atas permintaan beliau sendiri):

“Selama tiga tahun kalian meletakkan peta di depanku dan menunggu aku salah membacanya.

Kemarin sore seseorang menggambar peta di kerikil dengan jarinya, dan aku membacanya dalam tiga detik.

Aku tidak membubarkan Dewan ini karena kalian berkhianat. Enam belas orang berkhianat; itu urusan pengadilan.

Aku membubarkannya karena delapan dari kalian tidak berkhianat, dan selama tiga tahun tidak satu pun dari delapan itu bertanya kenapa ratu kalian butuh empat detik untuk membaca peta perbatasan.

Kalian melihat aku tidak bisa. Kalian semua melihatnya.

Dan kalian memutuskan bahwa itu bukan sesuatu yang perlu ditanyakan.”

Sidang ditutup 14 menit setelah dibuka.


Ilvera Draconis tidak tidur malam itu, dan besok paginya dia membubarkan pemerintahannya sendiri dalam waktu empat belas menit.

Aku tidak ada di ruangan.

Aku ada di halaman timur, membersihkan peta kerikil, karena hujan akan turun sore itu dan aku tidak ingin peta itu meleleh menjadi lumpur di depan orang.

Aku sedang meratakan sudut terakhirnya ketika sebuah suara di belakangku berkata:

“Jangan.”

Aku berbalik.

Ratu Vaelmoor berdiri di pintu halaman dengan mahkota kerja di kepalanya dan wajah orang yang baru saja membakar sesuatu yang besar.

“Akan hujan,” kataku.

“Aku tahu akan hujan.”

“Kerikilnya akan—“

“Aku sudah menyuruh empat orang menggambar salinannya di kertas,” katanya. “Semalaman. Skala satu banding satu.”

Dia berjalan mendekat dan berdiri di tepi peta itu.

“Dan aku akan menyimpan yang aslinya sampai hujan menghapusnya,” katanya, “karena aku ingin ada satu hal di kerajaan ini yang boleh hilang secara wajar.”


Dia duduk di kerikil.

Dengan gaun kerajaan. Di halaman terbuka. Seperti anak berumur empat belas tahun di halaman penginapan murah.

Aku duduk di seberangnya.

“Aku tidak ingat kau,” katanya.

“Aku tahu.”

“Aku ingat pasir.” Dia menyentuh salah satu garis dengan ujung jari. “Aku ingat tangan yang menggambar. Aku ingat suara yang bilang ‘lagi’ waktu aku salah, dan tidak pernah bilang ‘salah’. Sekali pun, sebelas bulan.”

Aku memandangi kerikil.

“Kau bilang ‘lagi’,” katanya. “Ratusan kali. Aku ingat itu lebih jelas daripada wajah ibuku.”

“Ilvera.”

“Aku dua puluh empat tahun dan aku baru tahu kemarin bahwa aku tidak bodoh,” katanya. “Kau boleh biarkan aku bicara.”

Aku membiarkannya bicara.


Yang dia ceritakan memakan waktu satu jam, dan sebagian besarnya adalah hal-hal yang tidak akan kutuliskan karena bukan milikku.

Tapi ini bagiannya yang penting.

Dia tidak merebut takhta.

Dia diberi takhta.

Vaelmoor kehilangan garis keturunannya dalam wabah tahun 822 — raja, dua anak, dan adik raja, dalam sebelas hari — dan yang tersisa adalah seorang perempuan berumur dua puluh satu tahun yang lahir di kampung penambang Vaelmoor dan yang, secara kebetulan yang sangat buruk, adalah orang paling terkenal yang pernah lahir di kerajaan itu.

“Mereka datang ke penginapan tempat aku tinggal,” katanya. “Enam bulan setelah party bubar. Aku sedang tidak melakukan apa-apa. Aku benar-benar tidak melakukan apa-apa selama enam bulan, aku cuma duduk.”

“Kenapa kau terima?”

“Karena mereka bilang kerajaan akan pecah kalau tidak ada yang duduk di kursi itu,” katanya. “Dan karena aku pikir—“

Dia berhenti.

“Aku pikir kalau aku memegang sesuatu yang besar,” katanya, “aku akan berhenti merasa ada yang hilang.”

Dia mengangkat wajah.

“Tidak berhasil,” katanya.


Kami duduk di kerikil untuk waktu yang lama.

“[ Starfall Verdict ],” kataku akhirnya.

“Aku tidak pernah memakainya.”

“Tiga tahun?”

“Tiga tahun,” katanya. “Aku tidak bisa memilih di mana bintangnya jatuh. Di lapangan terbuka itu tidak masalah. Di dalam kota—“

Dia mengangkat bahu.

“Halvorne tahu,” katanya. “Semua orang tahu. Itu sebabnya mereka tidak takut.”

“Mereka takut,” kataku.

Dia menoleh.

“Mereka menunggu tiga tahun, Ilvera,” kataku. “Empat puluh dua orang bersenjata diimpor selama empat belas bulan. Enam belas bangsawan dikoordinasikan. Sembilan pengawal di koridor kamarmu setiap malam.”

Aku menunjuk peta kerikil itu.

“Orang tidak melakukan itu kepada seseorang yang tidak mereka takuti,” kataku. “Mereka melakukannya karena mereka tahu kau bisa meratakan istana ini kalau kau memutuskan bahwa istana ini pantas diratakan.”

Ilvera Draconis memandangi peta itu.

“Dan mereka menghabiskan tiga tahun,” kataku, “memastikan kau tidak pernah cukup marah.”


Roan datang jam sebelas.

Dan yang terjadi selanjutnya adalah satu-satunya bagian dari seluruh perjalanan itu yang benar-benar lucu, dan aku mencatatnya di sini karena kami tidak punya banyak.

Ilvera Draconis melihat Komandan Ordo Perak masuk ke halaman timur.

Dan Ratu Vaelmoor — yang empat jam sebelumnya membubarkan Dewan Bangsawan dengan pidato empat belas menit yang sudah disalin dan dikirim ke enam kerajaan — berdiri, mengangkat gaunnya, dan berlari.

Roan Ferrant menangkapnya dengan cara orang menangkap adik.

“Kau lebih tinggi,” katanya.

“Aku tidak lebih tinggi, Ilvera, aku sudah tiga puluh delapan tahun.”

“Kau lebih tinggi dan kau lebih tua dan rambutmu jelek.”

“Kau ratu sekarang.”

“Aku tahu aku ratu sekarang, aku baru membubarkan seluruh dewanku, kau tidak perlu memberitahuku—“

Dan lalu dia melihat Bhaltair Vorn di pintu halaman.

Dan berhenti bicara sepenuhnya.

Dan berjalan ke arahnya, sangat pelan, dan berdiri di depan laki-laki itu dan berkata, dengan suara yang sangat kecil:

“Kau kurus.”

“Ya,” kata Bhaltair Vorn.

“Kenapa kau kurus.”

“Kaldrass.”

“Apa itu Kaldrass?”

“Gerbang,” katanya.

Ilvera Draconis memandanginya, dan aku melihat dua puluh empat tahun kembali menjadi empat belas tahun untuk sekitar tiga detik.

“Kau berdiri di gerbang,” katanya. “Selama tiga tahun.”

“Ya.”

“Kenapa?”

Dan Bhaltair Vorn, yang membayar per kata, memandangi ratu kerajaan Vaelmoor dan berkata:

“Aku menunggu.”


Ilvera menemukan Lyra jam satu siang.

Aku tidak ada di sana untuk bagian awalnya, dan aku bersyukur untuk itu.

Yang kutemukan, waktu masuk ke ruang perpustakaan istana, adalah Ratu Vaelmoor duduk di meja panjang di seberang seorang arsiparis tingkat dua dari cabang perbatasan, dengan tiga tumpukan berkas di antara mereka, sedang berbicara dengan sangat cepat.

“—jadi kau menyusun kesaksiannya berdasarkan tanggal pengambilan, bukan tanggal kejadian?”

“Keduanya,” kata Lyra. “Dua indeks silang.”

“Kenapa dua?”

“Karena kesaksian yang diambil terlalu dekat dengan kejadian cenderung salah di bagian urutan,” kata Lyra, “dan kesaksian yang diambil terlalu jauh cenderung salah di bagian detail. Kalau kau punya dua indeks, kau bisa melihat mana yang bergeser.”

Ilvera Draconis menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Itu cerdas sekali,” katanya, ke telapak tangannya.

“Ini pekerjaan standar arsiparis—“

“Tidak ada yang standar,” kata Ilvera, sambil menurunkan tangannya. “Aku punya empat puluh arsiparis kerajaan dan tidak satu pun dari mereka yang pernah menyebutkan kata ‘bergeser’.”

Lalu dia melihat aku di ambang pintu.

Dan wajahnya berubah menjadi sesuatu yang membuatku ingin mundur keluar dan menutup pintu.

“Theo,” katanya, manis sekali.

“Tidak.”

“Aku belum bilang apa-apa.”

“Aku tahu wajah itu,” kataku. “Aku sudah melihat wajah itu selama sepuluh tahun dan setiap kali wajah itu muncul, sesuatu terbakar.”

“Nona Vandell,” kata Ilvera Draconis, sambil berbalik dengan anggun, “boleh saya bertanya sesuatu sebagai kepala negara?”

“...Silakan, Yang Mulia.”

“Sudah berapa lama kalian bersama?”

Lyra Vandell menjatuhkan penanya.

“Yang Mulia—“

“Karena aku mengamati kalian sejak kemarin sore,” lanjut Ilvera, dengan kepuasan seorang perempuan yang baru menemukan mainan baru, “dan orang ini menghitung berapa jam kau tidur. Keras-keras. Di depan Komandan Ordo Perak.”

“Aku tidak—“

“’Enam jam empat puluh menit, itu kurang dua puluh menit dari kemarin,’” kata Ilvera, menirukan suaraku dengan akurasi yang menghina. “Kau mengucapkan itu jam tujuh pagi di ruang makan istana dan kau tidak menyadari bahwa empat orang berhenti makan.

Bhaltair Vorn, dari sudut perpustakaan tempat aku bahkan tidak tahu dia berada, mengeluarkan satu bunyi.

Aku menoleh sangat cepat.

Bhaltair Vorn sedang tertawa.

Aku belum pernah mendengar Bhaltair Vorn tertawa dalam sepuluh tahun.

Bunyinya seperti pintu batu yang diseret dan itu adalah bunyi paling indah yang pernah kudengar dalam hidupku.


Kami tinggal di Vaelmoor selama lima hari.

Ilvera menolak melepaskan kami lebih cepat, dan alasan resminya adalah pemulihan pasca-krisis, dan alasan sebenarnya adalah bahwa dia belum siap dan tidak ada satu pun dari kami yang tega mengatakannya.

Pada hari keempat, Lyra dan aku duduk di menara timur perpustakaan istana, di jendela yang menghadap halaman berkerikil, di mana hujan sudah menghapus separuh peta.

Dia sedang bekerja. Aku sedang tidak.

“Kau memandangiku,” katanya, tanpa mengangkat wajah.

“Ya.”

“Kenapa.”

“Aku sedang menghitung.”

“Menghitung apa?”

Aku memandangi halaman itu.

“Dua ratus empat puluh tujuh hari,” kataku. “Sejak kereta pos berhenti di gerbang selatan Marrow.”

Penanya berhenti.

“Kau menghitung sejak hari pertama?”

“Aku menghitung sejak hari pertama.”

Lyra Vandell meletakkan penanya dengan sangat hati-hati.

Lalu dia menarik salah satu berkasnya — yang paling tebal, yang paling tua, yang sampulnya sudah lusuh karena dibawa dari ibu kota ke Marrow ke Halvern ke Kaldrass ke Vireln ke sini — dan membukanya di halaman pertama.

Dokumen 4471-C Hipotesis Anggota Keenam Penyusun: Lyra Vandell

Di bawahnya ada satu baris yang ditulis tiga tahun lalu.

Subjek penelitian: tidak teridentifikasi.

Dia mengambil penanya kembali.

Dan dia mencoret baris itu — satu garis lurus, ditarik dari kanan ke kiri, karena dia sudah mulai melakukannya sekitar dua bulan lalu tanpa menyadarinya — dan menulis di bawahnya.

Subjek penelitian: Theo.

Lalu dia menutup berkas itu.

“Sudah,” katanya.

“Itu saja?”

“Aku arsiparis,” kata Lyra Vandell. “Kalau ada yang berubah, aku memperbarui catatannya. Itu memang saja.”

Dia mengangkat wajah, dan telinganya merah, dan dia jelas sangat berusaha untuk tidak terlihat begitu.

“Kau mau aku menulis pidato?”

“Tidak.”

“Bagus, karena aku tidak akan.”

Aku memandanginya.

“Dua ratus empat puluh tujuh hari,” kataku.

“Aku dengar yang pertama.”

“Aku cuma mau memastikan angkanya masuk ke arsip.”

Dan Lyra Vandell — yang sudah tiga puluh dua jam tidak tidur di Vireln, yang berjalan sendirian lewat koridor barat perkemahan seribu dua ratus orang, yang menulis empat puluh tiga wasiat dalam lima setengah jam — meletakkan kepalanya di meja perpustakaan Istana Vaelmoor dan tertawa sampai bahunya bergetar.


━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
[ Party Formation — Pending ]

Requesting Members :
Roan Ferrant
Bhaltair Vorn
Seris Ovelle
Ilvera Draconis

Status : ACCEPTED (4)

Registration DENIED.
Reason : Party leader must hold Rank C or above.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Empat.

Aku memandangi kotak itu di menara timur Istana Vaelmoor pada malam terakhir kami di sana.

Registration DENIED.

Tiga kali sekarang.

Dan setiap kali, daftarnya bertambah panjang.

Aku duduk di jendela dan memandangi halaman berkerikil di mana hujan sudah menghapus seluruh peta kecuali satu sudut kanan bawah, tempat masih ada satu angka delapan dengan celah sepertiga milimeter di sisi kanan atas.

Satu nama lagi.

Dan satu nama itu adalah orang yang bisa menghapus keberadaannya sendiri dari dunia selama delapan detik.

Close.


Bersambung — Bab 34: Kota Tanpa Nama

Jumlah kata: 2.487