Chapter Twenty Three
Jalan ke Kaldrass
POV: Theo
ORDO PERAK — CATATAN ROTASI PENJAGA GERBANG KALDRASS
Tahun 823, bulan 4 — Penugasan: B. Vorn. Masa tugas: 90 hari.
Tahun 823, bulan 7 — Rotasi dijadwalkan. Tidak ada penggantian tersedia.
Tahun 823, bulan 10 — Rotasi dijadwalkan. Tidak ada penggantian tersedia.
Tahun 824, bulan 1 — Permohonan penggantian diajukan ke Kementerian Perbatasan. Tidak ada tanggapan.
Tahun 824, bulan 4 — Permohonan diajukan ulang. Tidak ada tanggapan.
Tahun 824, bulan 8 — Pos Kaldrass diturunkan statusnya menjadi “tidak strategis”. Anggaran dicabut.
Tahun 825, bulan 2 — Pos Kaldrass dihapus dari daftar aktif.Catatan: personel yang bertugas tidak pernah menarik diri.
Catatan tambahan (tulisan tangan, tinta berbeda): Aku sudah mengirim empat surat memintanya pulang. Tidak satu pun dibalas. — R.F.
Sembilan hari berkuda ke timur laut, dan hari kedua adalah hari aku menyadari bahwa Roan Ferrant sedang mempelajariku.
Bukan dengan bertanya. Roan tidak pernah bertanya banyak; itu salah satu hal yang membuatnya mudah bekerja sama selama sepuluh tahun.
Dia mengamati.
Hari kedua, dia memindahkan kudanya ke sisi kiriku dan tetap di sana selama sisa perjalanan.
Hari ketiga, dia berhenti bertanya berapa lama sampai pos berikutnya dan mulai menunggu — dan aku menyebutkan angkanya tanpa diminta, seperti selalu, karena kepala ini menghitung tanpa izin.
Hari keempat, saat kami berkemah, dia memberikan mangkuk pertama kepadaku sebelum kepada dirinya sendiri.
Aku menghitung itu juga. Empat malam berturut-turut.
“Kau melakukan itu dulu,” kataku.
“Melakukan apa.”
“Mangkuk pertama.”
Roan memandangi api.
“Aku tidak sadar,” katanya. “Aku baru sadar sekarang kau bilang.”
“Kau juga memperlambat langkahmu di lorong.”
“Itu juga aku tidak sadar.”
Dia melemparkan ranting ke api.
“Ini yang membuatku hampir gila,” katanya. “Tiga tahun aku pikir aku punya kebiasaan aneh. Ternyata aku cuma punya kebiasaan yang kehilangan alasannya.”
Ferran Deyl ikut, karena dia meminta, dan karena Roan mengizinkannya dengan alasan yang tidak dia jelaskan kepada siapa pun.
Anak itu tidak bicara kepadaku selama tiga hari.
Hari keempat dia menghampiriku saat aku mengisi kantong air di sungai.
“Aku mau tanya sesuatu.”
“Silakan.”
“Kalau aku memakai pembukaan lima,” katanya, “aku benar-benar akan mengenaimu?”
“Ya.”
“Kau tidak berbohong untuk membuatku merasa lebih baik?”
“Aku tidak pernah berbohong.”
Dia berjongkok di sebelahku dan memandangi air.
“Kenapa kau memberitahuku.”
“Sudah kubilang.”
“Kau bilang kau tidak datang untuk mengalahkanku.” Dia menggeleng. “Itu bukan jawaban. Itu cuma kalimat yang terdengar bagus.”
Aku memandanginya.
Dua puluh tahun. Dan cukup keras kepala untuk mengejar sebuah jawaban selama empat hari perjalanan.
“Kau tahu berapa banyak orang di lapangan itu?” kataku.
“Seratus dua puluh.”
“Seratus dua puluh dua. Kau lupa wasit dan komandanmu.” Aku menutup kantong air. “Dan kalau aku mengalahkanmu dengan cara yang membuatmu malu, seratus dua puluh dua orang akan belajar sesuatu hari itu.”
“Belajar apa?”
“Bahwa peringkat empat puluh tiga tidak berarti apa-apa,” kataku. “Bahwa dua belas tahun latihan bisa dihabiskan orang asing dalam tiga kalimat. Bahwa yang menentukan bukan kerja keras.”
Aku berdiri.
“Itu pelajaran yang salah,” kataku, “dan aku sudah melihat apa yang dilakukannya kepada party yang mempercayainya. Jadi aku memberimu pelajaran yang lain.”
“Yang mana?”
“Bahwa aku tahu cara mengalahkanmu, dan aku tahu cara kau mengalahkanku, dan yang kedua tetap ada di tanganmu.”
Ferran Deyl berdiri di tepi sungai dan memandangiku dengan wajah orang yang baru saja diberi sesuatu yang terlalu besar untuk dipegang.
Dia tidak mengucapkan terima kasih.
Tapi malam itu dia memindahkan gulungan tidurnya ke sisi luar kemah, di antara kami dan hutan, tanpa berkata apa-apa kepada siapa pun.
Lyra dan Roan mulai bicara di hari kelima.
Aku sengaja membiarkannya, dan aku sengaja berkuda agak jauh, karena aku tahu apa yang akan mereka bicarakan dan aku tidak ingin ada di sana untuk itu.
Aku tetap mendengar sebagian, karena angin di padang terbuka membawa suara jauh lebih baik daripada yang diperkirakan orang.
“—empat ratus tujuh belas edaran, dan tidak satu pun menyebut untuk apa,” kata Lyra. “Kalau Anda menuliskan konteksnya, tingkat tanggapan palsu Anda akan turun sekitar delapan puluh persen.”
“Aku tidak bisa menuliskan konteksnya.”
“Kenapa tidak?”
“Karena konteksnya adalah ‘aku tidak ingat siapa yang kucari’,” kata Roan. “Coba tulis itu di surat resmi dengan lambang ordo di atasnya.”
Hening beberapa saat.
“Ya,” kata Lyra. “Baik. Poin diterima.”
“Kau menemukannya lewat tulisan tangan.”
“Lewat angka delapan.”
“Aku tidak akan pernah memikirkan angka delapan.”
“Anda komandan ordo,” kata Lyra. “Anda tidak dibayar untuk memikirkan angka delapan. Saya arsiparis. Saya tidak dibayar untuk hal lain.”
Aku mendengar Roan Ferrant tertawa untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.
Kami mencium asapnya di hari kedelapan.
Kaldrass berada di mulut celah gunung — satu-satunya jalan darat antara dataran timur laut dan lembah pedalaman, dan alasan tunggal kenapa benteng itu pernah dibangun.
Roan menghentikan kudanya di punggungan terakhir.
Dia tidak berkata apa-apa.
Aku maju ke sebelahnya, dan melihat ke bawah, dan mulai menghitung sebelum aku sempat memutuskan apa pun.
Benteng Kaldrass. Dinding luar sepanjang dua ratus meter, menutup celah selebar seratus delapan puluh.
Dinding sisi barat runtuh. Sekitar empat puluh meter.
Menara utara: hilang.
Api di tiga titik di dalam benteng. Dua di antaranya sudah padam sendiri — artinya sudah lama.
Di dataran di bawah benteng: perkemahan.
Aku berhenti menghitung dan mulai lagi dari awal karena angka pertamaku terasa salah.
Angka keduaku sama.
Seribu dua ratus.
Tenda tersusun dalam empat blok. Blok yang rapi berarti kompi bayaran, bukan milisi. Ada bendera di tiang tengah — aku tidak bisa membacanya dari sini.
Mesin pengepung: dua. Satu rusak.
Parit galian di tiga sisi. Galian yang bagus. Ini bukan perampok.
“Berapa lama mereka di sana?” kata Roan.
“Lihat paritnya,” kataku. “Kedalaman kira-kira satu setengah meter, tanah galian sudah mengendap dan mulai ditumbuhi rumput di sisi luar.”
“Berapa lama, Theo.”
“Enam hari.”
Roan Ferrant menarik napas lewat hidung.
“Dan benteng itu masih berdiri.”
“Sebagian.”
“Sebagian sudah lebih dari yang seharusnya,” katanya. “Dinding barat runtuh di hari keberapa?”
Aku memandangi puing itu. Warna batu di patahannya. Jumlah puing yang sudah dipindahkan ke dalam.
“Hari ketiga,” kataku.
“Berarti tiga hari terakhir mereka bertahan tanpa dinding barat.”
“Ya.”
“Berapa yang tersisa di dalam menurutmu?”
Aku menghitung asap dapur. Jumlah titik jaga di dinding yang masih berdiri. Jarak antar titik jaga — karena kau bisa menghitung sisa pasukan dari seberapa lebar mereka merentangkan diri.
Jaraknya sangat lebar.
“Tiga puluh,” kataku. “Mungkin empat puluh.”
“Empat puluh melawan seribu dua ratus. Enam hari.”
“Ya.”
Roan Ferrant memandangi benteng itu, dan lalu dia mengucapkan sesuatu dengan suara yang sangat pelan dan sangat rata, dan aku tahu persis apa yang dirasakannya karena aku merasakan hal yang sama.
“Dia belum mundur.”
Kami turun ke punggungan yang lebih rendah dan mengamati sampai gelap.
Dan pada jam empat sore, aku melihat hal yang membuatku harus duduk di tanah.
Serangan keempat hari itu datang lewat celah dinding barat — tentu saja lewat celah dinding barat, itu satu-satunya tempat masuk yang masuk akal. Sekitar delapan puluh orang bergerak masuk dengan formasi kolom.
Dan di mulut celah itu, ada satu titik yang tidak bergerak.
Aku meminjam teropong Ferran.
Satu orang.
Perisai menara — bukan yang biasa; sesuatu yang lebih besar dari perisai menara standar, jenis yang harus dibuat khusus. Ditancapkan ke tanah di celah selebar empat puluh meter, di titik tersempit dari puing runtuhan, di tempat di mana empat puluh meter itu menyempit jadi enam.
Delapan puluh orang menabraknya.
Dan berhenti.
Aku menonton delapan puluh orang mencoba melewati enam meter selama dua puluh dua menit, dan gagal, dan mundur.
[ Immovable Dawn ].
Menjadi garis yang tidak bisa dilewati apa pun.
Aku menurunkan teropong dan menyadari bahwa tanganku gemetar.
“Berapa kali sehari mereka menyerang?” kataku.
“Dari jejaknya di tanah?” Roan menyipitkan mata. “Empat. Mungkin lima.”
“Enam hari.”
“Ya.”
“Roan,” kataku. “Immovable Dawn punya batas waktu.”
Dia menoleh.
“Dua puluh empat menit,” kataku. “Itu batas absolutnya, dan itu di kondisi terbaik, dengan mana penuh, setelah tidur delapan jam. Aku yang mengukurnya. Aku mengukurnya tujuh belas kali selama tiga tahun pertama supaya aku tidak pernah salah menyusun jadwalnya.”
“Dia bertahan dua puluh dua menit barusan.”
“Aku tahu.”
“Setelah enam hari.”
“Aku tahu,” kataku.
Aku memandangi satu titik kecil di mulut celah dinding barat Benteng Kaldrass.
“Roan, dia tidak bisa melakukan itu.”
“Dia sedang melakukannya.”
“Dia tidak bisa melakukan itu,” kataku, dan suaraku keluar dengan bentuk yang salah. “Tidak ada di angka mana pun yang kupunya. Aku sudah menghitung tubuh orang itu selama sepuluh tahun dan tidak ada satu pun perhitunganku yang mengizinkan apa yang barusan kulihat.”
Roan Ferrant diam untuk waktu yang lama.
“Kalau begitu,” katanya akhirnya, “ada sesuatu yang menahannya di sana yang tidak masuk ke dalam angka.”
Malam itu aku tidak bisa tidur, jadi aku bekerja.
Aku duduk di balik punggungan dengan satu lilin dan mulai menulis, dan Lyra duduk di sebelahku dan memegang lilin itu supaya angin tidak memadamkannya, dan tidak berkata apa-apa selama empat jam.
Jam dua pagi aku punya delapan halaman.
Kompi bayaran. Bendera: tiga garis miring — Kompi Vetrick, terdaftar di Kadipaten Hollen. Empat ratus dua puluh berkuda, tujuh ratus delapan puluh infanteri.
Struktur komando: satu kapten, empat letnan blok, dua belas sersan.
Sistem sinyal: terompet untuk perintah besar, bendera untuk perintah blok, teriakan untuk perintah regu.
Terompet: enam nada standar. Aku sudah mendengarnya empat kali hari ini dan mencatat urutannya.
Bendera: sembilan pola. Aku sudah melihat tujuh.
Mereka menyerang jam enam, sepuluh, dua, empat, dan tujuh. Lima kali sehari. Jeda terpanjang: jam tujuh malam sampai jam enam pagi, sebelas jam.
Mereka tidak menyerang malam hari.
Kenapa?
Aku memandangi baris terakhir itu lama sekali.
Lalu aku menulis jawabannya, dan begitu aku menuliskannya, seluruh rencana itu terbuka sekaligus di kepalaku seperti pintu yang tidak terkunci.
Karena mereka tidak bisa melihat benderanya.
Kompi bayaran seribu dua ratus orang dengan empat blok tidak bisa bergerak tanpa sinyal bendera.
Dan sinyal bendera tidak berfungsi dalam gelap.
Sebelas jam setiap malam, seribu dua ratus orang itu adalah seribu dua ratus orang yang tidak bisa diperintah.
Aku meletakkan penaku.
“Kau menemukan sesuatu,” kata Lyra.
“Ya.”
“Apa?”
Aku memandangi delapan halaman itu.
“Aku menemukan cara berjalan menembus seribu dua ratus orang,” kataku.
Lyra Vandell tidak bergerak selama sekitar tiga detik.
Lalu dia meletakkan lilin itu di tanah, sangat hati-hati, dan berkata:
“Ulangi.”
Bersambung — Bab 24: Seribu Dua Ratus
Jumlah kata: 2.371
- 1 Penjual Tinta
- 2 Garam
- 3 Anak yang Berbohong
- 4 Arsiparis
- 5 Sesuatu yang Tidak Punya Kebiasaan
- 6 Sembilan Peti
- 7 Tulisan Tangan
- 8 Empat Puluh Menit
- 9 Yang Mengenaliku
- 10 Surat yang Salah Alamat
- 11 Silverline
- 12 Tiga Kesalahan
- 13 Hujan
- 14 Empat Halaman
- 15 Tiga Ratus Sepuluh
- 16 Gerbang Utara
- 17 Anggota Keenam
- 18 Berangkat
- 19 Gerbang Ordo
- 20 Peringkat Empat Puluh Tiga
- 21 Komandan
- 22 Ruang Nomor Empat
- 23 Jalan ke Kaldrass reading
- 24 Seribu Dua Ratus
- 25 Empat Puluh Tiga Wasiat
- 26 Fajar Kedua
- 27 Kota yang Tidak Sakit
- 28 Bekas Luka yang Tidak Pernah Terjadi
- 29 Sebab Kematian
- 30 Yang Tidak Bisa Dibalas
- 31 Ratu yang Tidak Bisa Membaca Peta
- 32 Tujuh Belas Menit
- 33 Pasir
- 34 Kota Tanpa Nama
- 35 Delapan Detik
- 36 Lima
- 37 Pulang
- 38 Sarang
- 39 Bagaimana Kau Tahu
- 40 Draf Terakhir
- 41 Kota Selatan
- 42 Tiga Puluh
- 43 Yang Tidak Kuucapkan
- 44 Sembilan Hari
- 45 Evaluasi Kelayakan
- 46 Jendela
- 47 Kalimat Terpanjang
- 48 Menara Vessel
- 49 Yang Kubeli
- 50 Prosesi
- 51 Lima Izin
- 52 Magnum Opus
- 53 EXTRA 01 — Tiga Puluh Satu Menit