Chapter Forty
Draf Terakhir
POV: Theo
ARSIP GUILD PUSAT — LAMPIRAN 4471-C.40
CATATAN ARSIPARIS — L. Vandell
Ditulis dan disegel. Dibuka tujuh tahun kemudian atas permintaan penyusun.Saya menuliskan ini karena saya seorang arsiparis dan seorang arsiparis tidak boleh menyimpan sesuatu hanya di kepalanya.
Saya juga tidak akan menunjukkannya kepada siapa pun.
Kedua kalimat di atas bertentangan. Saya sadar. Saya tetap menulis keduanya.
Hari ini saya mengindeks 617 resep dan saya menemukan satu yang tidak seharusnya ada.
Saya tidak akan menuliskan isinya di sini.
Saya akan menuliskan satu hal saja: dia tidak tahu.
Dia menulis halaman itu dengan tangannya sendiri, dan dia tidak tahu.
Aku menyerahkan buku catatanku kepada Lyra pada tanggal seratus dua puluh dua.
Sebelas buku. Empat ribu dua ratus halaman. Dua puluh dua tahun.
Setiap resep yang pernah kususun, ditulis tangan, karena aku tidak pernah mempercayai sistem untuk menyimpan sesuatu yang penting — sistem mencatat, tapi sistem tidak menjelaskan, dan resep tanpa penjelasan adalah resep yang mati bersama pemiliknya.
“Kau yakin,” katanya.
“Ya.”
“Theo, ini—“ Dia membuka buku pertama, dan tangannya berhenti di halaman pertama. “Ini tulisanmu waktu umur sembilan tahun.”
“Sepuluh.”
“Kau menyimpan buku catatan sejak umur sepuluh tahun.”
“Aku menyimpan segalanya,” kataku. “Aku tidak membakar arsip.”
Lyra Vandell memandangi sebelas buku di meja ruang arsip cabang Marrow.
“Kenapa sekarang?”
Dan aku memberikan jawaban yang jujur, karena aku selalu memberikan jawaban yang jujur, dan karena aku tidak tahu betapa penting jawaban itu akan menjadi.
“Karena ada empat puluh satu Anomali di lembah utara yang menghadap ke desa ini,” kataku, “dan aku tidak tahu kenapa. Dan aku sudah mencari jawabannya di kepalaku selama sembilan belas hari dan tidak menemukannya.”
Aku menyentuh tumpukan itu.
“Jadi mungkin jawabannya bukan di kepalaku,” kataku. “Mungkin jawabannya di sini, dan aku tidak bisa melihatnya karena aku yang menulisnya.”
Dia bekerja enam hari.
Aku tidak ada di sana untuk sebagian besarnya, karena aku menghabiskan enam hari itu di pagar utara Desa Marrow bersama Bhaltair Vorn dan tiga puluh orang, membangun sesuatu yang bukan pagar.
Aku akan menuliskan itu dulu, karena itu adalah enam hari terbaik yang pernah kuhabiskan dalam hidupku dan aku tidak menyadarinya waktu itu.
Hari pertama: Bhaltair Vorn dan aku mengukur seluruh perimeter Desa Marrow. Empat ratus enam puluh satu meter. Dia berjalan; aku menghitung. Kami tidak bicara sekali pun selama lima jam dan itu adalah bentuk percakapan yang paling nyaman yang pernah kualami.
Hari kedua: Roan Ferrant tiba dengan dua puluh empat ksatria Ordo Perak dan Ferran Deyl, yang sekarang berumur dua puluh satu tahun dan yang berjabat tangan denganku di gerbang selatan tanpa berkata apa-apa selama sekitar lima detik.
Hari ketiga: Cael Nyx menghilang selama sebelas jam dan kembali dengan peta seluruh Lembah Utara yang digambar dari jarak empat ratus meter, akurat sampai lima meter, karena dia menghabiskan sebelas jam berpindah di antara delapan titik pengamatan dengan [ Zero Hour ] seperti orang membaca buku.
Hari keempat: Seris Ovelle memeriksa lima puluh delapan penduduk desa satu per satu dan menemukan empat orang dengan kondisi yang belum mereka ketahui, termasuk Tuan Belden, yang menangis lagi.
Hari kelima: Nenek Odel memberi makan tiga puluh dua ksatria Ordo Perak, dan Ferran Deyl mengajukan permohonan resmi kepada komandannya untuk memperpanjang penugasan di Marrow, yang ditolak Roan dengan alasan yang, menurut Cael, adalah “karena dia juga mau tinggal dan tidak boleh iri”.
Hari keenam: Pip Harn mengajari Bhaltair Vorn cara membuat jerat tikus.
Aku menonton laki-laki berumur empat puluh satu tahun yang menahan gerbang Kaldrass selama enam hari berlutut di tanah selama satu jam lima belas menit belajar membuat jerat tikus dari anak berumur sepuluh tahun, dan tidak sekali pun mengatakan bahwa dia sudah tahu caranya.
Aku pergi ke balik gudang setelah itu dan berdiri di sana selama beberapa menit.
Lyra memanggilku pada malam hari keenam.
Aku tahu ada yang salah sebelum masuk ke ruang arsip, karena lentera di dalamnya menyala tunggal — satu lentera, di tengah meja, bukan tiga seperti biasa kalau dia sedang bekerja.
Dia duduk di ujung meja dengan sebelas buku catatanku tersusun rapi.
Dan matanya merah.
“Lyra.”
“Selesai,” katanya.
“Kau menangis.”
“Ya.”
Aku berhenti di ambang pintu.
“Aku akan bertanya sekali,” kataku. “Dan kalau kau bilang jangan, aku tidak akan bertanya lagi.”
Dia mengangkat wajah.
“Kenapa?” kataku.
Dan Lyra Vandell — yang menulis empat puluh tiga wasiat dalam lima setengah jam, yang berjalan sendirian melewati koridor perkemahan seribu dua ratus tentara, yang tidak pernah sekali pun memintaku berhenti bertanya — berkata:
“Jangan.”
Aku tidak bertanya lagi.
Itu adalah keputusan tersulit yang kubuat sepanjang tahun itu, dan aku membuatnya dalam waktu dua detik, dan aku tidak pernah menyesalinya.
Yang kulakukan adalah duduk di kursi di seberangnya.
“Kau menemukan sesuatu.”
“Ya.”
“Sesuatu yang berkaitan dengan Marrow?”
“Tidak.”
“Sesuatu yang berkaitan dengan Anomali?”
“Tidak.”
“Sesuatu yang akan membunuh seseorang kalau aku tidak tahu?”
Lyra Vandell memikirkan itu untuk waktu yang lama, dan aku menghargai bahwa dia memikirkannya, karena itu berarti dia menganggap pertanyaannya serius.
“Tidak,” katanya. “Aku sudah memeriksanya empat kali.”
“Baik,” kataku.
“Baik?”
“Kau arsiparis,” kataku. “Kalau kau bilang sudah memeriksanya empat kali, kau sudah memeriksanya empat kali.”
Dan Lyra Vandell menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis untuk kedua kalinya malam itu, dan aku tidak mengerti kenapa, dan aku duduk di seberangnya sampai selesai.
Yang dia serahkan kepadaku adalah indeksnya.
Enam ratus tujuh belas resep, disusun dalam empat indeks silang: berdasarkan bahan, berdasarkan tier, berdasarkan tanggal penyusunan, dan berdasarkan — dan ini yang membuatku duduk lebih tegak — berdasarkan masalah yang dipecahkan.
“Aku menambahkan yang keempat,” katanya. Suaranya sudah stabil lagi. “Kau menyusun resep berdasarkan bahan. Itu cara pembuat berpikir. Tapi kalau kau sedang berdiri di medan dan butuh sesuatu, kau tidak bertanya ‘apa bahanku’. Kau bertanya ‘apa masalahku’.”
Aku membuka indeks keempat.
Masalah: lawan tidak bisa dibaca → 4 resep Masalah: perlu memindahkan orang tanpa menyentuhnya → 11 resep Masalah: perintah tidak sampai → 3 resep Masalah: garis pertahanan salah tempat → 6 resep
Aku membacanya selama sekitar sepuluh menit tanpa berkata apa-apa.
Dua puluh dua tahun aku menyusun enam ratus tujuh belas resep, dan aku menyusunnya seperti tukang menyusun perkakas.
Dan seorang arsiparis menyusun ulang seluruhnya dalam enam hari, seperti orang menyusun jawaban.
“Lyra.”
“Hm.”
“Ini akan menyelamatkan orang.”
“Aku tahu,” katanya. “Itu sebabnya aku mengerjakannya.”
Dan pada halaman terakhir indeks itu ada satu baris yang tidak cocok dengan yang lain.
Masalah: [tidak diketahui] → 1 resep
Aku mengangkat wajah.
“Entri 617,” kataku.
Lyra Vandell tidak bergerak.
“Ada satu resep yang tidak masuk ke satu pun kategorimu,” kataku.
“Ya.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak tahu masalah apa yang dipecahkannya,” katanya.
Aku memandanginya.
Dan aku menghitung — karena tentu saja aku menghitung — dan yang kudapat adalah bahwa perempuan ini baru saja memberiku jawaban yang sepenuhnya jujur dan sepenuhnya tidak lengkap, dan bahwa dia melakukannya dengan sengaja, dan bahwa dia tahu aku akan tahu.
Dan bahwa dia melakukannya tetap.
“Baik,” kataku.
Aku membuka buku kesebelas malam itu, sendirian, di rumahku.
Halaman 4.198.
Aku sudah pernah membukanya sebelumnya. Belasan kali, dalam tiga tahun. Dan setiap kali aku membacanya dan menutupnya lagi, karena isinya tidak berarti apa-apa bagiku.
Entri 617
Nama : Final Draft
Bahan : —
Tier : GOD
Dipakai : 1×
Bahan kosong.
Itu satu-satunya halaman dari empat ribu dua ratus yang kolom bahannya kosong, dan tiga tahun aku menganggap itu kesalahan tulis — halaman yang belum selesai, resep yang kususun setengah jalan lalu kutinggalkan.
Malam itu aku memandanginya lebih lama.
Dan aku menyadari sesuatu yang seharusnya kusadari tiga tahun lalu, dan yang tidak kusadari karena aku tidak pernah punya alasan untuk melihat halaman ini dengan mata seorang arsiparis.
Tinta di halaman 4.197 adalah tinta batch tahun 822 bulan enam.
Tinta di halaman 4.199 juga.
Tinta di halaman 4.198 bukan.
Aku mengangkat halaman itu ke lilin.
Warnanya lebih gelap. Kandungan besinya lebih tinggi. Itu bukan tintaku — itu tinta murah, jenis yang dijual di pos perbekalan, jenis yang akan kau beli kalau kau kehabisan di tengah perjalanan dan tidak punya pilihan.
Dan tanggalnya, di sudut kanan atas, ditulis dengan tangan yang jelas milikku:
822 / 08 / 14.
Tiga hari setelah tanggal terakhir yang bisa kuingat.
Di tengah tiga hari yang tidak ada isinya.
Aku duduk di rumah kayu satu ruangan di Desa Marrow, jam dua pagi, memegang selembar kertas yang kutulis sendiri dan tidak kuingat menulisnya.
Aku memiringkannya ke arah lilin lagi.
Dan di bagian bawah halaman, di bawah kolom “Dipakai: 1×”, ada satu baris lagi.
Sangat pucat. Ditulis dengan tinta yang sudah hampir habis, dengan pena yang jelas kering, dengan tekanan yang berbeda dari seluruh halaman — seperti orang yang menulis satu kalimat terakhir setelah memutuskan untuk berhenti menulis.
Empat kata.
Biaya: satu nama. Lunas.
Aku memandangi empat kata itu untuk waktu yang sangat lama.
Aku tidak menangis. Aku ingin mencatat itu dengan jujur — aku tidak menangis, dan bukan karena tegar. Karena kepala ini melakukan hal yang selalu dilakukannya ketika menemukan data baru:
Ia mulai menghitung.
“Satu nama.”
Namaku tidak ada di kodeks. Tidak ada di monumen. Tidak ada di daftar keanggotaan. Tidak ada di empat ratus tujuh puluh buku.
Lima orang lupa wajahku.
Bukan kutukan. Bukan kecelakaan.
Aku membayarnya.
Aku yang membayarnya, dengan tangan ini, di halaman ini, tanggal empat belas bulan delapan tahun delapan dua dua, dengan tinta murah yang kubeli di pos perbekalan.
Dan lalu kepala ini sampai ke pertanyaan berikutnya, dan berhenti.
Untuk membeli apa?
Aku tidak tidur malam itu.
Jam empat pagi aku berjalan ke ruang arsip cabang guild, dan lentera di sana masih menyala, karena tentu saja masih menyala.
Lyra Vandell duduk di meja yang sama, dengan sebelas buku catatanku masih tersusun, dan dia melihat wajahku waktu aku masuk dan langsung berdiri.
“Theo—“
“Aku sudah baca,” kataku.
Dia berhenti.
“Empat kata di bawah halaman,” kataku. “Tinta hampir habis.”
Lyra Vandell menutup matanya.
“Aku tidak bermaksud menyembunyikannya,” katanya. “Aku cuma—“
“Aku tahu.”
“Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya.”
“Aku tahu.”
Aku duduk di kursi di seberangnya.
“Aku tidak marah,” kataku. “Aku datang karena aku menyadari sesuatu jam tiga pagi dan aku butuh mengatakannya keras-keras kepada seseorang.”
“Apa?”
Aku meletakkan kedua tanganku di meja.
“Aku tahu apa yang kubayar,” kataku. “Aku tidak tahu apa yang kubeli.”
Ruang arsip itu sangat sunyi.
“Dan orang,” kataku, “tidak membayar dengan seluruh keberadaannya untuk sesuatu yang kecil.”
Kami duduk di sana sampai subuh.
Dan sekitar jam lima pagi, Lyra Vandell mengucapkan satu kalimat yang mengubah arah seluruh tiga bulan berikutnya.
“Empat puluh satu Anomali menghadap ke desa ini,” katanya.
“Ya.”
“Dan kau berpikir mereka mencarimu.”
“Ya.”
“Theo.” Dia mencondongkan badan ke depan. “Bagaimana kalau mereka tidak mencari kau?”
Aku mengangkat wajah.
“Bagaimana kalau mereka mencari yang kau beli?” katanya.
Empat hari kemudian, kabar dari selatan sampai ke Marrow lewat kurir yang kudanya mati di gerbang.
Kota Vench. Populasi empat puluh ribu. Sembilan puluh satu kilometer selatan.
Dua ratus tiga belas Anomali di lembah luar kota.
Dan pasukan kerajaan tiba di sana empat hari lalu, di bawah komando seorang bangsawan bernama Harlow, dengan seribu delapan ratus prajurit dan sebuah rencana yang, ketika Cael Nyx membacanya di atas atap tenda komando pada malam kesembilan dan melaporkannya kepadaku kata per kata, membuatku berdiri dari kursi sebelum dia menyelesaikan kalimat ketiga.
Bersambung — Bab 41: Kota Selatan
Jumlah kata: 2.503
- 1 Penjual Tinta
- 2 Garam
- 3 Anak yang Berbohong
- 4 Arsiparis
- 5 Sesuatu yang Tidak Punya Kebiasaan
- 6 Sembilan Peti
- 7 Tulisan Tangan
- 8 Empat Puluh Menit
- 9 Yang Mengenaliku
- 10 Surat yang Salah Alamat
- 11 Silverline
- 12 Tiga Kesalahan
- 13 Hujan
- 14 Empat Halaman
- 15 Tiga Ratus Sepuluh
- 16 Gerbang Utara
- 17 Anggota Keenam
- 18 Berangkat
- 19 Gerbang Ordo
- 20 Peringkat Empat Puluh Tiga
- 21 Komandan
- 22 Ruang Nomor Empat
- 23 Jalan ke Kaldrass
- 24 Seribu Dua Ratus
- 25 Empat Puluh Tiga Wasiat
- 26 Fajar Kedua
- 27 Kota yang Tidak Sakit
- 28 Bekas Luka yang Tidak Pernah Terjadi
- 29 Sebab Kematian
- 30 Yang Tidak Bisa Dibalas
- 31 Ratu yang Tidak Bisa Membaca Peta
- 32 Tujuh Belas Menit
- 33 Pasir
- 34 Kota Tanpa Nama
- 35 Delapan Detik
- 36 Lima
- 37 Pulang
- 38 Sarang
- 39 Bagaimana Kau Tahu
- 40 Draf Terakhir reading
- 41 Kota Selatan
- 42 Tiga Puluh
- 43 Yang Tidak Kuucapkan
- 44 Sembilan Hari
- 45 Evaluasi Kelayakan
- 46 Jendela
- 47 Kalimat Terpanjang
- 48 Menara Vessel
- 49 Yang Kubeli
- 50 Prosesi
- 51 Lima Izin
- 52 Magnum Opus
- 53 EXTRA 01 — Tiga Puluh Satu Menit