← Magnum Opus

Chapter Nineteen

Gerbang Ordo

POV: Theo


ORDO PERAK — CATATAN POS JAGA, GERBANG SELATAN
Tanggal 39. Jaga siang.

11.20 — Dua orang sipil meminta audiensi dengan Komandan. Tidak ada surat pengantar. Tidak ada janji temu.
Pemohon 1: perempuan, Arsiparis Tingkat Dua, Cabang Marrow. Identitas sah.
Pemohon 2: laki-laki, Rank F, Cabang Marrow. Identitas sah.

Alasan permohonan yang dinyatakan: “berkaitan dengan Edaran 0417.”

Tindakan: ditolak di pos jaga. Pemohon diberitahu bahwa tanggapan atas Edaran 0417 diproses melalui jalur surat, bukan kunjungan langsung.

Catatan petugas jaga: pemohon tidak membuat keributan. Keduanya berterima kasih dan pergi.


CATATAN ARSIPARIS:
Kami tidak pergi.


Markas Ordo Perak dibangun di atas bukit batu di luar kota Halvern, dan yang pertama kau lihat dari jalan bukanlah gerbangnya melainkan lapangan latihannya.

Enam ratus meter persegi tanah rata, dikelilingi tribun batu rendah, dan pada jam sebelas siang itu ada kira-kira delapan puluh ksatria di sana bergerak dalam formasi.

Aku menghentikan langkah tanpa memutuskan untuk berhenti.

“Theo?”

Aku tidak menjawab.

Baji Ganda. Modifikasi.

Sayap kiri lebih pendek dua orang dari sayap kanan — itu bukan kesalahan, itu disengaja, untuk mengimbangi kemiringan lapangan.

Rotasi cooldown ditetapkan sebelum mulai, bukan lewat perintah lisan.

Titik tumpu ada di orang kelima, bukan di ujung baji.

Aku berdiri di jalan berdebu di luar pagar lapangan latihan Ordo Perak dan menonton delapan puluh orang menjalankan sesuatu yang kususun di ruangan sewaan di kota pelabuhan sembilan tahun lalu, dengan lima orang dan sebuah peta yang digambar di atas kain.

Mereka menjalankannya dengan buruk.

Bukan salah mereka. Ada tiga penyesuaian yang tidak bisa mereka ketahui karena tiga penyesuaian itu tidak pernah kutuliskan di mana pun — aku menyampaikannya lisan, kepada lima orang, di lima kesempatan yang berbeda.

Jadi yang mereka jalankan adalah kerangkanya. Tulangnya tanpa ototnya.

Dan mereka menjalankannya delapan puluh kali sehari, setiap hari, selama tiga tahun.

“Theo,” kata Lyra lagi, lebih pelan. “Kau menangis.”

“Tidak.”

“Baik,” katanya. “Kau tidak menangis.”

Dia tidak mengatakan apa-apa lagi selama sisa jalan menuju pos jaga, dan aku berterima kasih kepadanya untuk itu selama sisa hidupku.


Petugas jaga itu sopan.

Aku ingin mencatat itu, karena mudah sekali menceritakan bab ini dengan membuatnya jadi orang jahat, dan dia bukan orang jahat.

Dia laki-laki tiga puluhan dengan seragam bersih dan buku catatan, dan dia mendengarkan seluruh permintaan Lyra sampai selesai tanpa memotong.

Lalu dia meminta kartu guild kami.

Lyra menyerahkan miliknya. Dicatat.

Aku menyerahkan milikku.

Dia melihatnya. Dan wajahnya melakukan hal yang sudah kulihat seratus kali — tapi kali ini dengan satu perbedaan yang membuatnya lebih buruk.

Dia mencoba menyembunyikannya.

“Baik,” katanya, dan menulis. “Rank... F.”

“Ya.”

“Dan Anda menanggapi Edaran 0417.”

“Ya.”

Dia meletakkan penanya dengan hati-hati.

“Tuan, saya harus jujur kepada Anda supaya Anda tidak menunggu sia-sia.” Dia menyandarkan sikunya di meja pos jaga. “Edaran itu sudah dikirim empat ratus tujuh belas kali dalam tiga tahun. Kami menerima tanggapan setiap minggu.”

“Berapa banyak?”

“Sejauh ini? Sekitar seribu delapan ratus.”

Lyra mengeluarkan bunyi kecil di sebelahku.

“Seribu delapan ratus orang mengaku mengenali tulisan tangan itu,” kata petugas jaga itu. “Beberapa mengaku sebagai penulisnya. Dua belas orang datang langsung ke gerbang ini.” Dia memandangku, dan matanya lelah dengan cara yang bukan salahnya. “Komandan menemui empat orang pertama secara pribadi. Empat-empatnya palsu.”

“Dan setelah itu?”

“Setelah itu kami membuat prosedur.” Dia menepuk buku catatannya. “Semua tanggapan diverifikasi di kantor administrasi lebih dulu. Silang-periksa dengan daftar keanggotaan Ashen Crown.”

Aku diam.

“Tuan,” katanya, “nama Anda ada di daftar itu?”

Ruangan pos jaga itu sangat sempit dan sangat sunyi.

“Tidak,” kataku.

Dia mengangguk sekali, dengan wajah orang yang sudah tahu jawabannya dan berharap salah.

“Kalau begitu saya tidak bisa meloloskan Anda,” katanya. “Saya minta maaf. Saya benar-benar minta maaf, dan saya tidak mengatakan itu untuk basa-basi.”

“Aku mengerti.”

“Anda bisa kirim surat—“

“Aku sudah kirim surat,” kataku. “Sebelas hari lalu.”

Sesuatu bergerak di wajahnya.

“Dari Marrow?”

“Ya.”

Dia membuka mulut. Lalu menutupnya. Lalu melihat ke bawah, ke bukunya, dan tidak melihat ke atas lagi.

“Surat dari cabang perbatasan butuh dua belas hari,” katanya, ke arah mejanya. “Ditambah tiga hari verifikasi administrasi.”

“Berarti besok.”

“Berarti besok,” katanya. “Kalau lolos verifikasi.”

Kami berdua tahu jawabannya untuk itu.


Kami tidak pergi.

Ada padang rumput rendah di sisi timur bukit, dua ratus meter dari gerbang, dan ada pohon di sana, dan pohon adalah tempat yang cukup baik untuk menunggu.

Lyra membuka kotak arsipnya dan mulai bekerja seolah kami sedang di ruang arsip Marrow dan bukan duduk di rumput.

“Apa yang kau kerjakan?”

“Surat pengantar.”

“Kepada siapa?”

“Kepada Komandan Ordo Perak.” Penanya bergerak. “Dengan lampiran. Lampiran Empat, dua puluh dua kesaksian terpilih, dan ringkasan analisis limbah operasional Ashen Crown.”

“Mereka akan memverifikasinya di administrasi.”

“Ya.”

“Dan mereka akan menolaknya.”

“Ya,” katanya. “Lalu aku akan menulisnya lagi besok, dengan lampiran yang berbeda.”

Aku memandanginya.

“Berapa lama kau berniat melakukan ini?”

“Aku menulis empat ratus tujuh belas kali dalam kepalaku selama tiga tahun untuk membuktikan seseorang yang bahkan belum pernah kutemui,” katanya, tanpa mengangkat wajah. “Aku rasa aku bisa menulis beberapa kali lagi sekarang setelah aku mengenalnya.”


Kami di sana selama tiga hari.

Hari pertama: surat ditolak di administrasi.

Hari kedua: surat kedua ditolak di administrasi. Petugas jaga yang sama memberikannya kembali kepada kami secara pribadi, dengan wajah yang jelas tidak nyaman, dan berkata bahwa dia sudah mencoba menyampaikannya ke atas.

Hari ketiga adalah hari yang berbeda.

Karena hari ketiga, delapan ksatria muda keluar dari gerbang untuk latihan lari pagi di jalan bukit, dan mereka lewat pohon kami, dan salah satu dari mereka melihat kotak arsip berlambang guild dan berhenti.

“Kalian yang menunggu tiga hari?”

Lyra menutup bukunya. “Ya.”

“Untuk Komandan?”

“Ya.”

Dia bertolak pinggang. Dua puluh tahun, mungkin dua puluh satu. Wajah yang belum pernah kalah.

“Kalian tahu tidak sopan menunggu di luar gerbang ordo?”

“Kami di tanah umum,” kata Lyra. “Aku sudah memeriksa peta kadaster kota Halvern.”

Ksatria itu berkedip.

Tujuh yang lain tertawa, dan itu jenis tawa yang bagus — tawa orang muda yang menikmati temannya kalah bicara.

“Baiklah,” katanya, sambil mengangkat tangan. “Baiklah. Kalian menunggu untuk apa, kalau boleh tahu?”

“Edaran 0417.”

Tawa itu berhenti.

Delapan wajah berubah sekaligus, dengan cara yang tidak kuduga sama sekali.

Bukan mengejek.

Muak.

“Ah,” kata ksatria itu. Suaranya jatuh datar. “Salah satu dari itu.”

“Salah satu dari apa?”

“Kalian tidak tahu apa yang kalian lakukan,” katanya, dan sekarang tidak ada senangnya lagi sama sekali. “Seribu delapan ratus surat. Komandan membaca setiap satu. Setiap satu, kalian tahu itu? Dia menyuruh administrasi menyaring, lalu dia membaca yang disaring, lalu dia membaca yang dibuang juga karena dia tidak percaya penyaringnya.”

“Aku tidak—“

“Empat orang datang ke gerbang ini di tahun pertama,” katanya. “Empat-empatnya mengaku. Empat-empatnya palsu. Dan aku ada di halaman waktu yang keempat pergi, dan aku melihat wajah Komandan setelah pintu ditutup.”

Dia melangkah maju satu langkah.

“Jadi kalau kalian datang ke sini untuk uang, atau untuk nama, atau karena kalian pikir lucu—“

“Ferran.” Salah satu rekannya memegang lengannya.

“—kalian sedang mempermainkan satu-satunya hal yang tersisa dari orang itu.”

Padang rumput itu sangat sunyi.

Aku berdiri.

Aku ingin mencatat bahwa aku tidak marah. Sungguh tidak. Kalau ada, yang kurasakan lebih dekat ke hal yang berlawanan — karena delapan anak muda ini baru saja marah atas nama Roan Ferrant kepada dua orang asing di padang rumput, dan itu berarti mereka menyayanginya, dan itu berarti tiga tahun terakhirnya tidak dilewati sendirian.

Itu hal yang bagus untuk diketahui.

“Namamu Ferran?” kataku.

“Ya.”

“Ferran, aku tidak akan meyakinkanmu,” kataku. “Aku tidak punya bukti yang bisa kau terima. Aku hanya akan menunggu sampai surat itu sampai.”

“Suratmu tidak akan lolos verifikasi.”

“Aku tahu.”

“Kalau begitu kau akan menunggu selamanya.”

“Mungkin.”

Dan anak itu — dua puluh tahun, terlalu muda untuk marah selama ini, terlalu muda untuk tahu bahwa dia sedang melakukan hal yang paling setia yang pernah dilakukan siapa pun untuk Roan Ferrant — mengeluarkan napas panjang lewat hidung.

“Kau tahu apa yang paling menyebalkan?” katanya. “Kau bahkan tidak terlihat seperti penipu. Penipu bicara lebih banyak.”

Dia berbalik.

Lalu berhenti.

Dan berkata, ke arah rekan-rekannya, dengan nada orang yang baru menemukan cara menyelesaikan masalah:

“Duel.”


“Apa?”

“Duel kehormatan,” kata Ferran, sambil berbalik lagi. “Peraturan Ordo, pasal dua belas. Siapa pun yang mengklaim hubungan dengan Ordo Perak boleh diuji di lapangan terbuka oleh anggota manapun.”

“Ferran, dia sipil—“

“Dia mengaku sebagai perancang formasi Ashen Crown,” kata Ferran. “Kalau dia benar, dia tidak akan kalah dari ksatria peringkat empat puluh tiga.”

Dia menatapku.

“Kalau kau menolak, kau pergi. Hari ini. Dan tidak kembali.”

Lyra sudah berdiri. “Ini konyol—“

“Baik,” kataku.

Semua orang menoleh.

“Theo.”

“Kapan?” kataku.

Ferran memandangiku dengan ekspresi yang mulai berubah menjadi sesuatu yang tidak nyaman.

“...Besok pagi,” katanya. “Lapangan latihan. Jam tujuh.”

“Aku akan datang.”

Dia berdiri di sana beberapa saat lebih lama, jelas menunggu aku menarik kata-kataku.

Lalu dia dan tujuh rekannya berlari kembali ke bukit.


“Kau tidak bisa berkelahi,” kata Lyra.

“Aku tahu.”

“Kau rank F. Kau bilang sendiri kau bisa mati oleh goblin.”

“Aku bilang aku bisa mati oleh goblin kalau aku sendirian di ruangan kosong tanpa apa pun,” kataku. “Lapangan latihan Ordo Perak bukan ruangan kosong.”

“Apa maksudnya itu?”

Aku duduk kembali di rumput dan memandangi bukit batu itu.

Delapan puluh ksatria. Enam ratus meter persegi tanah rata. Tribun batu rendah di tiga sisi. Kemiringan lapangan, satu banding tiga puluh, dari utara ke selatan. Matahari terbit di timur, jam tujuh pagi, sudut rendah.

Dan satu anak berumur dua puluh tahun, peringkat empat puluh tiga, yang marah, dan yang setia, dan yang sudah menghabiskan tiga tahun berlatih formasi yang kutulis sendiri.

“Artinya,” kataku, “besok aku tidak akan menyentuhnya.”


Bersambung — Bab 20: Peringkat Empat Puluh Tiga

Jumlah kata: 2.243